ERANGAN TAKDIR

ERANGAN TAKDIR
S3 - Chapter 47


__ADS_3

Penantianku... Akan menjadi awal mula dalam kisahku yang sebenarnya. Dibagian ini waktu akan terasa sangat cepat untuk berlalu. Terima kasih atas kesetiaanmu padaku.


Riani melambaikan tangannya sambil berlari kecil pada laki-laki yang berdiri disebelah gerbang tunggu bandara dibawah lampu jalanan itu.


"Assalamualaikum mas, udah lama nunggu?" tanya Riani sambil menciumi tangan suaminya.


"Belum lama kok, lagian untuk istri tercinta apa sih yang gak bakal mas lakukan?" goda Albern sambil menciumi kening Riani. "Ya udah siniin kopernya" ucap Albern sambil mengambil koper yang ada ditangan Riani.


Albern merangkul Riani sampai ke parkiran dan membukakan mobil untuk Riani lalu menutupnya kembali.


"Ada apa nih? tumben-tumbenan romantis?" canda Riani sambil memasang sabuk pengamannya.


"Istri tercinta harus diperlakukan dengan baik loh, mas udah berjanji di janji pernikahan dulu kan? akan membuat istri mas selalu senang dan bahagia?" goda Albern kembali sambil memutar setir dengan cepat ke kanan.


Riani kembali masuk dalam dunia lamunannya, sambil memperhatikan dengan mata kosong pemandangan dari balik kaca mobil.


"Gimana kabarnya orang-orang di Indonesia?" tanya Albern yang masih fokus menyetir.


"Alhamdulillah semuanya baik kok" jawab Riani yang masih memandangi pemandangan langit malam dan suasana malam dari balik kaca mobil.


"Andi juga baik?" tanya Albern.


"Andi baik jug-- eh mas masih cemburu ya sama Andi? ayo ngaku, kok aku punya suami tukang cemburuan sih" ucap Riani sambil menghela panjang nafasnya.


"Hahaha orang kamu yang kayak gak ada semangat hidup gitu" ledek Albern tertawa kecil walau tetap masih fokus menyetir dengan pandangan kedepan dan sekali-sekali melirik kaca spion luar kiri-kanan saat berbelok.


"Yah bosan aja sih" jawab Riani.


"Bosan karena apa? gak bosan hidupkan? tapi jangan loh. Atau bosan sama mas?" tanya Albern yang kini melirik spion kiri sambil memutar setirnya ke kiri.


"Enggak lah, bosan bolak-balik Perancis - Indonesia, bosan ganti-ganti naik kendaraan, Pesawat - Mobil. Tapi aku harusnya bersyukur ya, masih diberi kesempatan untuk merasakan hal itu semua, padahal orang diluar sana banyak yang ingin dalam posisi aku sekarang" sambung Riani sambil segera beristighfar.


"Nah itu kamu tau, kita harus mensyukuri hidup ini. Apapun yang telah ditetapkan oleh Allah itu adalah hal terbaik bagi kita semua. Mungkin bukan terbaik yang kita inginkan, tapi terbaik dari Allah untuk kita. Dan yang perlu kamu syukuri juga, kamu bersyukur punya suami kayak mas" canda Albern setelah tadi habis saja mengatakan kata yang serius.


Riani mendengus sebal. "Iya aku beruntung punya suami kayak Sir Albern. Sir Albern aja yang gak beruntung punya istri kayak aku, suka seenaknya sendiri, gak romantis dan gak paruh sama suami, jarang melayani suami. Mungkin mas salah satu dari sekian banyak laki-laki yang ada di dunia ini" jelas Riani sambil mengambil tasnya yang ada di jok depan.


"Kamu marah? lagi-lagi kalau marah pasti manggilnya sir Albern. Mas ngomong gitu hanya ingin menghibur kamu, maaf kalau salah. Dan terlebih ucapan kamu itu sangat salah, justru mas beruntung punya istri seperti kamu, baik, Sholehah, cemburuan, pengertian, punya misteri dalam sisi romantisnya, dan yang pasti karena orang itu adalah kamu, Riani Putri" ucap Albern sambil menginjak rem mobil dan beringsut mendekat ke arah Riani sambil menciumi kening Riani.

__ADS_1


"Ya udah ayo turun" sambung Albern kembali pada Riani yang kini wajahnya memerah tiba-tiba.


"Mas..." gumam Riani sambil menarik lengan baju Albern, suaminya.


Albern yang hendak turun memalingkan wajahnya pada Riani, dan langsung terkejut karena untuk pertama kalinya Riani seagresif itu pada Albern. Riani langsung mencium bibir Albern dalam waktu yang tidak cukup lama, karena tergoda oleh nafsu dan saat Riani hendak mundur, Albern kembali menarik Riani dan mulai bermain dengan Riani untuk waktu yang tidak lama didalam mobil, menikmati waktu mereka sejenak di dalam mobil atau tepatnya di parkiran apartemen.


Bulan, bintang, dan langit malam kini menjadi saksi gelap kecintaan mereka pada malam itu. Mengikat erat hubungan yang dari dulu selalu longgar karena berbagai hal dan bermacam alasan itu.


"Mau lanjut dikamar?" bisik Albern ditelinga Riani.


***


Cahaya pagi yang merambat masuk melalui pantulan jendela kamar yang gordennya sedikit terbuka, setelah selesai mandi dan shalat subuh tadi kedua pasangan itu kembali tidur dan bangun tepat saat jam menunjukan waktu pagi 7.00 Perancis.


Riani mengerut kan dahinya dan membuka mata perlahan sambil beringsut dari kasur, kedua tangan Riani langsung menarik dengan cepat gorden jendela itu.


Riani melirik pada suaminya, Albern. "Mas ada jadwal ngajar pagi ini gak ya?" gumam Riani yang memilih untuk tidak membangun kan suaminya itu karena nampak tidur dengan sangat nyenyak.


Riani langsung menuju kamar mandi untuk mencuci muka dan berganti pakaian kerja.


Saat hendak memasang jilbabnya, Riani tersontak kaget merasakan pelukan Albern dari belakang. Tangan Albern melingkar di pinggang Riani yang ramping itu.


"Iya. Mas sekarang gak ada jadwal ngajar pagi?" tanya Riani.


"Ada, jam 9.00 entar, tapi mas masih ngantuk nih" ucap Albern yang menyandar kan kepalanya diatas bahu Riani.


"Udah cuci muka sana, kita sarapan dulu habis itu berangkat ke kampus, tapi anterin aku dulu ya" ucap Riani sambil menegakkan kepala Albern dengan memegangi bagian kepala dibelakang telinga Albern.


"Wah ada bidadari" gumam Albern yang masih melek.


"Ih! udah godanya ah! ayo cuci muka!" seru Riani kesal sambil menarik suaminya itu ke kamar mandi.


Selesai menarik Albern ke kamar mandi, Riani langsung bergegas menuju dapur dan membuka Rice Cooker untuk melihat apakah ada nasi atau tidak. Riani menghela panjang nafasnya kemudian. "Kalau masak sekarang gak bakal sempat nih, ya udah makan roti aja deh" gumam Riani sambil beralih ke lemari dapur.


Riani membuka lemari dan langsung mengeluarkan roti yang ada didalam lemari, lalu beringsut ke kulkas, selesai membuka pintu kulkas Riani langsung mengambil selai stroberi dan pandan yang ada di bagian pintu kulkas.


Albern muncul tepat dibelakang Riani yang hendak membalikkan badan.

__ADS_1


"Udah selesai?" tanya Riani diangguki Albern.


"Kamu pulang jam berapa nanti?" tanya Albern sambil mengambil selai yang ada di tangan Riani dan membawanya ke meja makan.


"Hmm gak tau, kabarnya sih nanti kami mau adain rapat habis kerja teman-teman yang lain kelas. Rapat tentang penambahan anggota baru untuk firma Confiance, yang kini sudah kami sepakati bersama Manquer Pamela maksimal sebanyak 15 orang termasuk kami, jadi ada di kampus mas anak jurusan hukum yang berbakat atau punya kualitas lebih untuk masuk ke dalam Firma?" tanya Riani yang membuat Albern diam untuk berpikir sejenak.


"Hmm... karena Firma Confiance itu perihal syarat masuknya cukup unik sih, lain dari yang lain. Seperti Pamela dulu yang menanyai mas tentang mahasiswi yang menarik perhatian mas, punya pengalaman hidup yang penuh perjuangan dan kebiasaan yang unik. Makanya mas memberikan nama dan riwayat dirimu pada Pamela, kalau untuk dikampus yang sekarang sih, mas gak tau detail" jawab Albern.


"Memang dulu yang menarik dari aku apa?" tanya Riani penasaran.


"Kamunya menarik semua di mata mas" jawab Albern sambil tertawa cengengesan.


***


Pukul 8.10 waktu Perancis mobil Albern berhenti tepat didepan gerbang Firma Confiance. Riani menyiumi tangan suaminya, Albern dan segera masuk ke dalam firma.


Riani langsung menuju ruangan Coty untuk memberikan surat kontrak Alisya.


"Hai Coty" sapa Riani.


"Owh lagi Riani" jawab Coty.


Riani membuka tasnya dan langsung menyodorkan surat itu pada Coty. "Udah, Alisya setuju mau lanjutin kontrak untuk 5 bulan ke depan ini" jelas Riani diangguki oleh Coty.


"Yang lain pada kemana?" tanya Riani yang dari tadi belum melihat siapapun anggota firma kecuali satpam dan sopir yang ada diluar.


"Owh, seperti yang aku bilang karena banyak yang bertugas jadi masih ada diluar. Kalau Manquer Elis sih datang telat kayaknya, Violette juga datang telat karena masih mengurus anak dirumah yang lagi nangis keras. Madam Mavey dan Cammy bentar lagi bakal sampai kok, mereka berencana dari bandara langsung ke sini" jelas Coty diangguki oleh Riani.


"Owh gitu, ya udah aku keluar dulu ya" ucap Riani sambil berdiri dari duduknya.


"Oh iya Riani, bisa bantu gak?" tanya Coty diangguki oleh Riani.


"Apa?"


"Ini ada beberapa lembaran calon anggota yang nantinya akan bergabung dalam firma Confiance, sebenarnya dirapat nanti sih bakal kita bahas, tapi karena yang lain masih banyak yang belum datang kamu coba deh beri penilaian. Itu semua udah aku review kembali dan hasil akhirnya tersisa 12 orang itu" jelas Coty.


"Ini dari Perancis semua?" tanya Riani sambil membalik-balik dokumen yang berisi data dan profil mengenai mahasiswi-mahasiswi jurusan hukum itu.

__ADS_1


"Gak kok, ada 3 dari Inggris, 5 dari Perancis, 3 dari Indonesia, dan 1 laginya dari Malaysia" jawab Coty. "Karena anggota kita rata-rata banyak dari Perancis, Inggris, dan Indonesia. Sebab proposal dari negara lain dulu banyak kurang dan kurang menarik minta bagi manquer Pamela, itu juga sudah aku konfirmasi balik kok sama Manquer Pamela" jelas Coty.


"Owh baiklah" jawab Riani sambil melangkah keluar dari ruangan.


__ADS_2