ERANGAN TAKDIR

ERANGAN TAKDIR
S3 - Chapter 41


__ADS_3

"Kalau begitu kami pamit duluan ya Ren!" ucap Riani ikut diangguki oleh Alisya.


"Eh... gak masuk dulu kak? Sya?" tanya Aren.


"Enggak usah Ren, kami takut ganggu keluarga kamu yang lagi tidur. Kalau gitu kamu pamit dulu ya! ayo Dimas!" ajak Alisya.


"Eh...?" tanya Dimas nampak heran.


"Woi! jangan bilang Lo mau nginap di rumah Aren?" tanya Alisya menatap sinis Dimas.


Dimas dan Aren saling melirik satu sama lain, wajah mereka tiba-tiba memerah.


"Ka... kalau gitu aku ikut Alisya ya Ren, sampai besok" ucap Dimas ragu-ragu diangguki oleh Aren.


Aren menatap lama mobil Alisya yang mulai menjauh dari jangkauan matanya. Lalu segera masuk ke dalam rumah setelah mengetok pintu rumah sebanyak 20 kali dan penungguan agar pintu dibuka selama 2 menit.


Riani yang kini duduk didepan bersama Alisya hanya diam sambil menatap pemandangan yang gelap itu dari balik kaca mobil, begitupun dengan Dimas yang duduk di belakang seorang diri ikut menatap pemandangan yang gelap itu dari balik kaca mobil.


Alisya mengernyitkan dahi nya melihat kedua orang yang ada di mobilnya kini seperti orang yang tidak punya lagi gairah untuk hidup.


"Hei... kalian udah bosan hidup ya? melamun mulu dari tadi? ajak aku bicara kek" ujar Alisya merasa tidak di anggap.


Riani dan Dimas hanya diam saja seperti tidak pernah mendengar Alisya berbicara. Dahi Alisya semakin berkerut, spontan Alisya langsung menginjak rem dikecepatan penuh mobil tadi.


"Aduh Sya! entar kalau kepala aku berdarah gimana!?" kesal Riani yang kepalanya hampir saja menghantam jok depan.


"Woi Alisya! Lo kenapa sih!?" kesal Dimas yang kepalanya sudah menghantam kursi depan. Dimas mengelus-elus kening dan hidungnya yang terasa sakit itu.


"Ya siapa suruh ngelamun, aku bukan supir kalian loh!" cemberut Alisya yang kembali menginjak gas mobil.


"Kak... kakak nginap di rumah aku aja ya!" ajak Alisya diangguki oleh Riani.


"Gue nginap di rumah Lo juga Sya?" tanya Dimas sambil menunjuk dirinya sendiri.


"Ya kagaklah! lo entar gue turunin di gang depan!" jawab Alisya yang masih fokus menyetir.


"Lah kok gitu sih!? jadi untuk apa Lo suruh gue masuk ke mobil tadi? mending gue nginap di rumah Aren saja!" kesal Dimas.


"Hahahah gue bercanda kok, gue gak sekeji itu kali" tawa Alisya puas.


Mobil berhenti tepat disebuah rumah yang dipenuhi oleh banyak tanaman hidup.


"Wah... udah berubah ya" kagum Riani menatap sekeliling.


"Hahaha iya kak, mama sering beli tanaman dan memperluas halaman rumahnya" jelas Alisya sambil memberi kode pada Dimas untuk mengambil koper Riani di bagasi belakang.


"Owh terima kasih Dimas" ucap Riani setelah melihat kopernya dibawakan oleh Dimas.


"Sama-sama kak" angguk Dimas.


"Ya udah ayo masuk!" ajak Alisya sambil memutar kunci di pintu rumahnya.

__ADS_1


Alisya melangkah masuk ke dalam rumah, diikuti oleh Riani dan Dimas.


"Dimas! Lo lurus aja ke depan habis itu belok kiri, ruangan pertama setelah belokan itu kamar loh ya, gak dikunci kok. Lo bisa langsung istirahat" jelas Alisya diangguki oleh Dimas.


"Jadi kak... kakak mau istirahat dulu kan? aku masih ada beberapa tugas lagi, pembicaraan tentang pengunduran diri aku bisa besok kan?" tanya Alisya mencoba negosiasi.


Riani menganguk mengiyakan "Iya, kakak besok juga harus menemui Serli, pasti setelah kasus waktu itu dia dimarahi besar-besaran oleh bos nya. Jadi pembicaraan kita nanti malam saja. Lusa aku juga harus segera kembali ke Perancis" jelas Riani.


"Hmm... baiklah kak, kakak bisa memakai kamar yang ada disebelah kamarnya Dimas. Ayo kak, aku bantu bawain koper" ucap Alisya sambil berjalan ke arah kamar yang ditujukan untuk Riani, tepatnya disebelah kamar Dimas tadi.


"Makasih ya Sya, jangan lupa jaga kesehatan juga" ucap Riani diangguki oleh Alisya sambil menutup pintu kamarnya.


Alisya menghela panjang nafasnya setelah Riani masuk ke kamar, sambil melirik pintu kamar yang ditempati oleh Dimas kini. "Sepertinya besok saja" gumam Alisya sambil melangkah kembali ke kamarnya yang ada di dekat pintu masuk.


Alisya menatap layar laptopnya yang jelas sudah gelap karena mati, tangan Alisya hendak menekan tombol dibagian atas keyboard laptop, tapi dia urungkan niatnya dan segera menghempas kan tubuhnya ke atas kasur. Alisya menghela sejenak nafasnya. Menatap candu langit-langit kamarnya, seperti sudah menjadi rutinitas sehari-hari sebelum tidur.


Aliya menutup matanya perlahan, sambil menghirup udara sejenak, kemudian terlelap dalam belenggu mimpi indah yang menemani tidurnya.


Jam di Alarm sudah menunjukkan pukul 05.00, bunyi Alarm yang disetel dengan keras membuat Alisya mengernyitkan keningnya, dia segera beranjak dari ranjang dan langsung menuju kamar mandi setelah mematikan Alarm.


Selesai mandi Alisya langsung menunaikan kewajibannya sebagai seorang muslim, shalat subuh. Tak lupa ia mengantarkan doa pada Allah SWT agar diberi keselamatan dunia dan akhirat, diampuni dosa kedua orang tua nya, dan agar hari ini berjalan dengan baik.


Alisya turun dari kamarnya sambil mengetuk pintu kamar Riani. Perlahan pintu kamar yang disinggahi Riani terbuka.


"Ada apa Sya?" tanya Riani yang nampak masih memakai mukena nya.


"Ayo kak kita sarapan dulu, tapi... bantu Alisya masak ya hehehe" ucap Alisya sambil tertawa cengengesan.


Alisya beranjak ke ruangan yang ada disebelah kamar Riani, dengan tenaga penuh Alisya mengetok pintu kamar itu, namun tak kunjung mendapatkan sahutan.


Riani keluar dari kamarnya sambil menatap Alisya yang sibuk mengedor-ngedor pintu.


"Kenapa Sya?" tanya Riani heran.


"Ini kebo kayaknya belum bangun kak" jawab Alisya yang masih mengetok pintu dengan keras.


"Tante Nadia dimana Sya?" tanya Riani menghiraukan Dimas yang masih ada di dalam kamar.


"Owh Mama lagi gak ada di rumah, mama nginap di kamar perusahaan, banyak yang harus dipelajari ulang oleh mama sama Manajer lama" jelas Alisya diangguki oleh Riani.


Alisya kembali mengetok pintu dibantu Riani yang bersorak membangun kan Dimas.


"Apa sih... berisik banget dah" ucap Dimas sambil mengucek-ngucek matanya.


"Cuci muka sana! sekalian shalat! entar kebelakang, kita sarapan dulu" jelas Alisya sambil berkacak pinggang.


"Aduh... cepat amat dah, emang udah jam berapa sih?" tanya Dimas yang masih mengucek-ngucek matanya.


"Woi sekarang udah jam 6 kurang seperempat tau!" jelas Alisya ngengas.


"Waduh! kamar mandi dimana!?" kaget Dimas.

__ADS_1


"Lo gak liat ada kamar mandi langsung di kamar!?" kesal Alisya makin bertambah.


"Lah iya iya" jawab Dimas sambil menutup kembali pintu kamarnya.


Baru Alisya dan Riani hendak melangkah, pintu kamar Dimas kembali terbuka. "Sya! Lo ada pakaian cowok gak?" tanya Dimas sambil menongolkan kepalanya dari balik pintu.


"Kagak lah! ini rumah baru gue tempatin sama mama beberapa hari yang lalu, lagian untuk apa pakaian cowok bagi gue?" ucap Alisya sambil berbalik pergi meninggalkan Dimas menyusul Riani yang kembali melanjutkan langkahnya.


"Eh... tapi kalo Lo gak ada baju, baju gue ada kok, celana dasar juga ada" jelas Alisya kembali berbalik menghadap Dimas.


"Eh gak usah dah! itu kan baju cewek!" ucap Dimas ikut kesal.


"Hahaha makanya jangan kabur-kaburan segala, ya udah nanti gue pesenin baju online di toko langganan papa dulu" jelas Alisya sambil berbalik pergi meninggalkan kamar yang dipake Dimas.


Riani sibuk memotong daun bawang, sedangkan Alisya sibuk mengocok telur dan mengiris bawang.


"Kak udah nih, apalagi yang harus aku lakuin?" tanya Alisya.


"Owh kalau udah letakkan kuali aja di atas kompor, sekalian isi minyak dan hidupin kompornya ya" jelas Riani yang kini memotong wortel.


"Ya udah kak, udah selesai nih. Aku ke kamar dulu ya, mau ngambil laptop buat pesanin baju online untuk si Dimas" ujar Alisya diangguki oleh Riani.


Riani mulai menggoreng telur dan setelah itu memasak nasi goreng sambil memotong-motong telur yang telah selesai digoreng nya tadi lalu dimasukkan ke dalam nasi goreng.


Riani menyicip nasi goreng telur yang dibikinnya sebentar setelah itu dia hidangkan di atas meja bersama air putih hangat.


Sedangkan Alisya duduk di kursi sambil memilih-milih pakaian dalam laptopnya. "Yang ini aja deh, sekalian sama jas, dasi, dan sepatu, owh iya kaos kaki satu lagi." Alisya bergumam sambil mengklik barang pilihannya itu.


Sebuah pesan langsung masuk ke akun Alisya.


Dikirim sekarang nona Alisya?


Iya mbak, pagi ini ya. Kalau bisa jam 7 udah sampai ya!


Siap nona, ditunggu ya!


Alisya menghela nafasnya sambil menutup layar laptopnya dan kembali ke dapur disebelah meja makan.


"Udah selesai kak?" tanya Alisya menjalan mendekat ke meja makan.


"Udah nih" jawab Riani.


"Maaf gak bisa bantu banyak ya kak, padahal kakak tamu" ucap Alisya dengan rasa bersalah.


"Santai aja, kayak sama siapa aja sih. Lagian kakak juga udah lama gak masak. Hahaha" ucap Riani sambil tertawa kecil.


"Kita makan duluan aja yuk kak!" ajak Alisya.


"Lah tapi Dimas gimana?" tanya Riani heran.


"Bodo amatlah itu orang, yang penting kita kenyang dulu" ucap Alisya sambil menyodorkan piring ke Riani dan mengambil piring untuk dirinya sambil mengisi nasi goreng telur ke dalam piring.

__ADS_1


__ADS_2