ERANGAN TAKDIR

ERANGAN TAKDIR
S2-CHAPTER 7


__ADS_3

Pemandangan dari langit biru itu begitu menakjubkan, dikelilingi oleh awan-awan yang putih dari balik kaca pesawat begitu membahagiakan hati Riani. Sudah menjadi impian Riani sedari kecil untuk bisa naik pesawat, walau sudah sering namun tetap saja Riani menyukai terbang dengan pesawat. Bahkan wanita ini pernah berharap untuk menjadi seekor burung.


Riani menatap Albern yang tengah tertidur dan langsung menyandarkan kepalanya dipundak Albern. Riani menutup matanya perlahan sebelum Albern bergerak dan melingkarkan tangannya pada pinggang Riani. Walau sudah setahun lebih pernikahan mereka, namun tetap saja sampai kini terkadang Riani masih menjaga jarak dengan Albern dan sering kaget saat Albern menyentuh dirinya.


"Kenapa?" heran Albern.


Riani tersenyum dan menggelengkan kepalanya.


Aku sungguh ingin tau alasanmu menerima lamaranku dan mau menjadi istriku Riani... Apa ada laki-laki yang kamu cintai? dan orang itu bukan aku? atau dugaan ku selama ini benar bahwa kamu punya perasaan pada adik iparmu itu? Apa selama ini kamu menganggap ku hanya sebagai pelarian? Pikir Albern sambil terus menatap Riani dengan mata sayu nya dan pancaran kecewa yang terlihat jelas di mata Albern.


Riani yang tadi refleks mengangkat kembali kepalanya dari pundak Albern dan memalingkan wajahnya ke arah luar Jendela, merasakan tatapan Albern sedari tadi.


"Ada apa?" tanya Riani.


Albern ikut tersenyum pada Riani seperti yang dilakukan Riani tadi saat menanggapi pertanyaan Albern "ada sesuatu yang ingin kubicarakan denganmu, tapi tidak sekarang..." jelas Albern.


"Kapan?" tanya Riani memastikan.


"Setelah datang dirumah kita" jawab Albern diangguki oleh Riani.


Apa ada hal penting yang ingin dibicarakan Albern padaku? hmm... nanti aku juga akan tau Pikir Riani sambil menutup matanya dan selang beberapa kepala Riani kembali menyandar dipundak Albern, namun kali ini Riani melakukannya secara tak sengaja, karena dia telah tertidur dan masuk ke dunia mimpinya sendiri.


Albern mengelus lembut kepala Riani dan ikut menutup matanya kembali.


Pesawat mendarat lancar di salah satu bandara di Perancis, Riani dan Albern turun dari pesawat dan setelah check out mereka segera memanggil taxi dan kembali pulang ke Apartemen.


"Jadi apa yang ingin kamu bicarakan sayang?" tanya Riani yang sudah diujung rasa penasarannya.


Albern menggeleng "tidak sekarang"


Nampak ekspresi cemberut diwajah Riani, membuat Albern tertawa sendiri melihat ekspresi wajah istrinya itu.


Setelah membereskan semua barang mereka, Albern menghempaskan tubuhnya ke atas kasur sambil menatap langit-langit kamarnya. Riani melirik ke arah Albern yang nampak banyak pikiran.


"Apa tugas di kampus begitu melelahkan?" tanya Riani membuka obrolan setelah sampai di apartemen mereka dan membereskan barang bawaan.


Albern menggelengkan kepalanya "kamu... yang melelahkan" gumam Albern.


Kening Riani terlipat saat mendengar ucapan Albern tadi, sambil memiringkan kepalanya sebanyak 60 derajat "hmm aku? kenapa?" heran Riani.


"Apa kamu tidak nyaman denganku?" terus terang Albern.


"Maksudnya?" heran Riani sambil berjalan dan duduk disamping Albern.


"Selama lebih dari setahun setelah pernikahan kita, aku sama sekali tak merasakan ada cinta darimu untukku" ujar Albern sambil masih dalam posisi berbaring dan menutup kedua matanya dengan lengan kiri.


Albern tak ingin mengetahui bagaimana reaksi dari Riani setelah mendengar ucapannya tadi. Sedangkan Riani terpana menatap Albern yang masih diam dari posisinya.


Riani menyingkirkan lengan Albern yang menutupi matanya, sambil menggenggam tangan Albern dengan erat, Riani mengubah posisi duduknya dan memeluk Albern.


Albern tersentak kaget melihat tindakan Riani dan balas balas memeluk pelukan Riani.


"Kita sudah terikat dalam satu hubungan yang diridhoi oleh Allah SWT, aku sudah menjadi istri sahmu, jika aku tidak mencintaimu... lantas kenapa aku menerima ajakanmu untuk hidup bersama? Jika mengingat kembali waktu dimana aku pertama kali bertemu denganmu, itu hari--bukan, tapi itu sejarah singkat yang tak akan pernah aku lupakan dari hidupku, hari dimana kita dipertemukan dalam suatu hubungan yang terikat hebat, kamu dosen pembimbing ku, yang tersenyum padaku di dalam sebuah ruangan yang kau atur sedemikian dinginnya agar suhu dingin itu merambat tulang-tulang ku, hari dimana saat itu aku sangat membencimu atas perlakuan pertamamu saat bertemu denganku, hari dimana aku berharap seandainya bukan kamu dosen pembimbing ku, hari dimana aku paling muak melihat senyuman seseorang, kamu tau? aku membencimu, bahkan dalam tenggat waktu kurang dari 20 menit di waktu subuh, kau menyuruh aku segera ke kampus, bagaimana bisa aku tidak membencimu atas semua perlakuanmu itu padaku? dan bahkan itu tidak sekali SIR ALBERN!" jelas Riani sambil melepas pelukannya dari Albern.


Albern tersenyum mendengar ucapan Riani, Albern bangkit dari posisi terlentangnya dan ikut duduk sambil mengenggam tangan Riani "aku bersyukur melakukan hal itu padaku Riani... ternyata pertemuan pertama kita membekas indah dalam ingatanmu"

__ADS_1


"Itu sama sekali tidak membekas indah Sir! itu sejarah singkat paling buruk!" tegas Riani.


"Bisakah kamu menghentikan panggilan sir itu? sekarang aku adakah suami mu" ucap Albern sambil mendekatkan wajahnya pada wajah Riani.


Tring... tring...


Riani beranjak dari duduknya dan mengangkat teleponnya yang berbunyi.


Albern berdecak sebal saat ada panggilan masuk dari hp Riani, menganggu waktu berduaan mereka.


"Halo manquer Pamela" sapa Riani dari balik telpon pada manquer pamela yang menelponnya.


"Halo Riani... maaf menganggu kamu malam-malam begini, saya hanya mau mengingatkan bahwa besok kamu tidak perlu datang ke Firma"


"Kenapa Manquer?"


"Saya memberi kamu waktu cuti 2 hari, saya tau kamu belum istirahat total setelah penerbangan dari Belanda-Jakarta kemaren, jadi habiskanlah waktu berduaanmu dengan suamimu yang suka mengeluh itu"


"Hmm... baiklah Manquer, terimakasih"


"Omong-omong kenapa malam ini kamu tidak tidur? apa saya menganggu tidurmu?"


"Owh tidak sama sekali Manquer, malah manquer secara tak langsung sudah membantu saya dari jeratan maut tadi, terimakasih manquer, Assalamualaikum" ucap Riani sambil memutuskan telpon.


Albern mengerutkan keningnya mendengar ucapan Riani tadi "jeratan maut apa?"


"Tidak... tidak ada hahaha" tawa Riani sambil bergegas ke kamar mandi.


Tak butuh waktu lama Riani kembali ke kamar dan membentang sajadah untuk sholat, Albern menghela nafas lelahnya dia benar-benar sedang mengelak dariku Pikir Albern sambil berjalan ke kamar mandi.


***


Albern memastikan apakah Riani masih tertidur atau tidak dengan mengecek hentakan jantung Riani, jika normal maka Riani memang sedang tertidur, namun jika tidak beraturan maka Riani sedang pura-pura tidur.


Albern mendekatkan telinganya ke arah dada Riani, dan mendengar bunyi hentakan jantung Riani yang normal pertanda Riani memang benar-benar sudah tertidur, Albern kembali menghela nafas lelahnya sambil menatap lama guling yang dipeluk Riani.


Albern menyunggingkan bibirnya tersenyum dan melepas pelan guling itu dari pelukan Riani, sebagai gantinya Albern mendekatkan tubuhnya agar jadi bantalan guling Riani sambil melingkarkan tangannya di pinggang Riani.


***


Riani membuka matanya perlahan dan merasakan sesak, kini didepan mata Riani nampak Albern yang tersenyum menatap istri tercintanya telah bangun.


"Pagi sayang" ucap Albern sambil mengelus lembut kepala Riani.


Riani tersenyum menatap Albern "pagi" sambil beranjak dari ranjang.


Namun sebelum kaki Riani menginjak lantai kamarnya, Albern menarik tangan Riani "bisa dilanjutkan pertanyaanku tadi malam sayang? aku sudah sabar menunggu jawaban dan penjelasan darimu" ucap Albern yang seketika membuat Riani mematung.


"Bisa nanti?" pinta Riani.


"Aku tidak akan menunggu sampai nanti, karena aku tidak ingin menebak lagi alasanmu untuk mengelak, jadi bisa diberi penjelasannya sekarang? wahai istri tercintaku" ujar Albern.


Riani menelan ludahnya menatap ekspresi Albern yang nampak sudah dilumuti rasa penasaran dan amarah yang berusaha dipendamnya.


Riani menghela nafasnya dan kembali menghirup udara sekitarnya dalam-dalam "baiklah, pertama izinkan aku cuci muka sebentar" ucap Riani diangguki Albern, Riani bergegas segera ke kamar mandi meninggalkan Albern yang masih diam di kamar.

__ADS_1


Riani menatap lama wajahnya dari balik kaca yang ada di kamar mandi, Riani kembali menghela panjang nafasnya "haruskah aku mengatakan hal itu padamu?" gumam Riani sambil menyirami wajahnya dengan air.


Riani melangkah pelan ke kamar, langkah Riani terhenti saat telah berada di depan pintu kamar, Riani ragu untuk menyentuh gagang pintu kamarnya, namun dia sudah berjanji akan memberi penjelasan pada Albern, Riani melirik jam yang ada dibelakangnya "sebentar lagi aku harus kerja" gumam Riani, sesaat Riani kembali sadar bahwa manquer Pamela memberi cuti untuknya selama 2 hari.


Riani segera bergegas ke ruang tamu dan mengetikkan dengan cepat sebuah nomor telepon.


"Halo Riani, ada apa?" tanya suara dibalik telpon.


"Chloe! bisa pesankan 2 pasang tiket pesawat untuk ke puy du fou sekarang?!"


"Eh... bisa, kenapa?" heran Chloe.


"Tolong ya!" ucap Riani sambil meletakkan telepon kembali.


Chloe yang saat ini sedang berada di apartemennya dan hendak menuju Firma heran mendengar ucapan Riani tadi, Chloe kembali duduk dimeja kamarnya sambil membuka laptop untuk memesankan tiket pesawat untuk Riani.


Setelah mendapatkan tiket, Chloe mengirimkan bukti tiket online itu ke e-mail Riani.


***


Riani berjalan cepat kembali ke kamarnya.


"Selama itukah dikamar mandi?" tanya Albern yang nampak sudah bosan menunggu Riani balik sedari tadi.


Riani tersenyum kepala Albern "ayo siap-siap, aku mau menghabiskan waktu berdua dengan suamiku, dan pastinya disana aku akan menjelaskan semuanya" ujar Riani sambal segera mengganti pakaiannya.


Albern yang nampak masih bingung hanya menuruti perkataan istrinya itu untuk bersiap-siap setelah mendengar Riani berkata ingin menghabiskan waktu berdua dengan suaminya yaitu Albern.


Mereka naik taxi menuju bandara dan setelah check in Riani dan Albern terbang menuju salah satu tempat wisata terbaik di Perancis.


***


Riani menatap lama dan kagum tempat perkemahan itu, sedangkan Albern terpana menatap tempat liburan pilihan Riani.


"Kamu serius disini?!" kaget Albern diangguki dengan senyum oleh Riani.


Albern menghela nafasnya "aku belum minta cuti di kampus" ucap Albern yang mengangetkan Riani.


"Kok?"


"Mana aku tau kamu akan mengajak berkemah saat ini, besok aku harus mulai mengajar kembali, jadi... apa kamu diberi izin oleh Pamela?" tanya Albern.


Riani menganguk dengan raut wajahnya yang nampak kecewa, Riani menatap jam tangannya "jadi... kita hanya 5 jam disini?" tanya Riani diangguki Albern.


Riani kembali menghela nafas lelahnya, sudah lama dia tidak merasakan dunia perkemahan, namun tak bisa dielakkan lagi, Riani juga harus memikirkan pekerjaan Albern.


"Baiklah... tapi sebelum itu aku ingin membangun tenda disana, bisa kamu bantu sayang?" pinta Riani dengan ekspresi manis yang ditampakkannya.


Albern tersenyum dan mengangguk melihat tindakan istrinya itu.


Mereka meminjam beberapa peralatan untuk membangun tenda kecil dipadang nan luas itu, setelah selesai Riani menuangkan kopi panasnya yang telah dibawanya ke dalam gelas untuk Albern.


"Kamu benar-benar niat" ucap Albern sambil menyeruput kopinya.


Riani tersenyum sambil memandangi langit-langit perkemahan itu.

__ADS_1


"Dunia... satu kata dengan definisi luas yang mencakup semuanya, tentang persinggahan sementara untuk seluruh makhluk hidup yang ada dibumi ini, seperti hati yang sementara berlabuh pada orang yang salah" ujar Riani yang membuat Albern berhenti menyeruput kopinya.


__ADS_2