ERANGAN TAKDIR

ERANGAN TAKDIR
S2-CHAPTER 25


__ADS_3

Jika melepasmu adalah awalan penyelesaian takdir untukku... aku ikhlas


Jika bersamamu adalah senjata tajam yang akan terus menyayat hati ku... bukankah lebih baik kulepaskan saja?


Bersamamu aku mencinta


Di dekatmu hatiku bersua


Namun jika takdir bukan atas nama kita


Lantas aku bisa apa?


Karena untuk mengenalmu saja... Dunia ku sudah amat berwarna


Apalagi untuk bersama lalu melepasmu kembali?


Selesai menunggu 3 jam lebih akhirnya Enne, Cammy, dan Alisya telah duduk manis di pesawat, berbeda dengan monsieur Elxin yang masih duduk santai kini di Indonesia, karena penerbangan untuk Helikopter di tunda untuk pagi gelap ini, jadi monsieur Elxin bisa terbang kembali ke Perancis sore nanti.


Cammy dan Enne tertidur lelap karena kecepekan, sedangkan Alisya menatap dari balik kaca pesawat langit yang masih gelap, tentu saja karena ini masih di Indonesia.


Seorang pramugari berjalan bersama kareta dorongnya untuk menawari kopi panas pada Alisya, Alisya tersenyum sambil menggelengkan kepalanya, pramugari itu lanjut berjalan kembali ke belakang.


Alisya menarik dalam nafasnya "tidak terasa saja kini hidupku akan berputar cepat 180 derajat" gumam Alisya sambil menutup matanya.


***


Cast Back to Aisyah


Aisyah menatap suaminya yang kini tengah tertidur lelap, Aisyah masih kepikiran dengan ending dari naskah novel yang dibuat Rini.


Aisyah membalikkan posisi tidurnya menerbelakangi Andi suaminya, Aisyah berusaha menutup matanya, namun dia masih tetap tidak bisa tidur, Aisyah menatap jam yang sudah menunjukkan pukul 03.00 pagi dan memilih untuk turun dari ranjangnya lalu ke kamar mandi.


Selesai mengerjakan shalat istikharah sambil menunggu waktu adzan subuh Aisyah membuka Al-Qur'an miliknya lalu membaca dengan suara pelan agar tidak mengganggu tidur Andi.


Allahu Akbar... Allahu Akbar


Aisyah menunggu adzan selesai sambil memahami dan menjawab panggilan adzan dalam hatinya beriringan.


Andi menepuk pundak Aisyah untuk mengajak shalat berjamaah, Andi berdiri di depan Aisyah dengan jarak sejengkal kaki sambil membentangkan sajadah dan melantunkan bacaan Iqamah nya, Aisyah terasa damai saat mendengar suara lantunan pembacaan Iqamah Andi yang amat membuat hati pendengar nya jadi tentram dan damai, setelah itu Aisyah mengikuti gerakan shalat Andi.


Selesai shalat dan membuka mukenahnya Aisyah bergegas ke dapur untuk membuat sarapan, lagi-lagi Andi merasa ada yang tidak beres dengan Aisyah hari ini.


Tiba-tiba telepon rumah berdering keras terdengar sampai ke bagian dapur, Andi langsung berjalan cepat menuju ruang depan untuk mengambil telepon rumah yang berbunyi.


"Halo Assalamualaikum" sapa Andi dibalik telpon.


"Oh Waalaikumsalam Andi" jawab suara di balik telpon.


"Riani? bukankah waktu di Perancis saat ini sudah tengah malam?" tanya Andi dibalik telpon.


Terdengar suara tawa kecil dari Riani "hahaha saat ini aku masih menuju Perancis, kini aku masih di awang-awang langit, kalau boleh tau... bisa aku berbicara dengan Aisyah?" tanya Riani.


"Hahaha baiklah orang sibuk, tunggu sebentar" jawab Andi.

__ADS_1


"Aku dapat gelar baru nih" tawa Riani yang masih terdengar di balik telpon.


Andi kembali berjalan dengan cepat menuju bagian dapur.


"Dek!" panggil Andi.


Aisyah menoleh ke arah Andi sambil kembali memotong bawang merah yang ada ditangannya. "Iya?"


"Ada panggilan dari kakakmu, aku sudah meminta dia untuk menunggu dulu, dia ingin berbicara denganmu" jelas Andi.


Aisyah menghentikan potongan bawangnya, dia diam sejenak tanpa pikiran apa-apa di kepalanya kini.


"Dek... ?" panggil Andi nampak heran melihat istrinya terdiam.


Aisyah mengangguk cepat pada Andi setelah kembali sadar dan langsung menuju ruang depan untuk mengangkat telepon.


Setelah telpon ada digenggamnya, Aisyah diam sejenak, entah kenapa mulutnya terasa berat untuk berbicara.


"Halo... kak?" ucap Aisyah di telpon.


"Halo Syah, Assalamualaikum" sapa Riani.


"Waalaikumsalam" jawab Aisyah.


"Apa apa Syah? kamu lagi ada masalah? kenapa rasanya saat ini kamu tidak banyak cakap? kamu bisa cerita ke kakak Syah" ucap Riani.


Aisyah kembali diam dalam waktu yang cukup lama.


"Oh maaf kak, apa ada hal penting yang ingin kakak bicarakan?" tanya Aisyah.


"Hmm tidak juga, kakak hanya ingin mendengar bagaimana keadaanmu" jelas Riani.


"Aisyah Alhamdulillah baik kak, kalau begitu Syah matiin telponnya dulu ya kak, nanti masakan Syah gosong" ucap Aisyah.


"Owh... ok" jawab Riani.


"Assalamualaikum" salam Aisyah.


"Waalaikumsalam" jawab Riani.


tet...


Aisyah menghela nafas panjang nya sambil merapikan kembali letak telpon, Aisyah menolehkan kepalanya ke sudut ruangan arah dapur, dan kembali menghela nafas beratnya seraya berjalan kembali ke dapur.


"Ada apa dek?" tanya Andi.


Aisyah menggelengkan kepalanya "biasa mas... nanya kabar" jawab Aisyah.


"Owh" guman Andi sambil mengangguk paham.


"Dek... kalau ada masalah cerita sama mas ya" pinta Andi tiba-tiba.


Aisyah diam karena teringat kembali akan perkataan Andi yang sama dengan yang dilontarkan Riani tadi padanya.

__ADS_1


***


Cast Back to Riani


Dibalik kaca Helikopter yang hendak mendarat, sambil berpegangan kuat Riani menghela dalam-dalam nafasnya.


"Ada apa dengan mu Syah?" gumam Riani heran.


Helikopter berhasil mendarat di salah satu bandara di Perancis sebagai letak markasnya istirahat helikopter milik Firma Confiance, sambil menunggu monsieur Jahad menyiapkan mobil untuk mengantar Riani pulang ke apartemennya, Riani mengecek kembali layar HP nya.


Riani kembali menghela nafas panjangnya "ada apa dengan mu Syah? kenapa kamu tidak mau cerita denganku?" gumam Riani sambil menutup kedua matanya untuk menenangkan pikiran.


Selesai monsieur Jahad menyiapkan mobil, mereka langsung menuju apartemen Riani, setelah sampai monsieur Jahad izin kembali pulang ke rumahnya.


Riani menekan bel apartemen, tak selang berapa lama Albern suami Riani keluar dengan tatapan dan pelukan kangennya.


"Assalamualaikum" salam Riani sambil melangkah masuk.


"Waalaikumsalam" jawab Albern sambil memandangi heran istrinya itu.


"Ada apa sayang?" tanya Albern sambil ikut duduk di sofa sebelah Riani.


"Apa aku ada salah ya selama ini?" tanya Riani.


"Salah? salah apa?" heran Albern yang tak mengerti akan keadaan.


"Oh iya sayang... misalnya nih kalau ada orang cuek dan ingin mengakhiri pembicaraan dengan cepat sama kamu gimana? padahal udah lama juga gak pernah ngobrol?" tanya Riani kembali.


Albern memikirkan lama pertanyaan istrinya itu, karena takut salah menjawab "hmm... bukankah itu tandanya dia ada masalah dengan kamu? atau dia sendiri punya problem yang tak bisa ia selesaikan dengan baik?" tanya Albern kembali.


Riani diam sejenak sambil beringsur dari sofa dan melangkah ke kamarnya.


"Aku mau mandi dulu" ucap Riani ke Albern.


"Mau ditemani?" goda Albern.


"Tidak!" jawab Riani cepat sambil berlari segera ke kamar mandi.


Albern tersenyum menatap tingkah manis istrinya itu.


***


Riani mencium tangan Albern setelah mengantarnya ke depan gerbang Firma Confiance.


"Aku masuk dulu ya, hati-hati suamiku tercinta" ucap Riani.


"Hahaha, kamu sudah pandai menggoda ya" ledek Albern.


Riani menyunggingkan senyumnya pada Albern sambil melangkah masuk segera ke dalam Firma.


Albern memundurkan mobilnya, lalu membelok setir untuk menuju kampusnya segera.


Riani menatap ruangan firma yang nampak masih kosong, wajar saja karena semuanya sedang dalam tugas, manquer Elis juga sudah terbang ke kota sebelah, ditambah Cammy dan Enne masih menuju Perancis bersama Alisya.

__ADS_1


__ADS_2