ERANGAN TAKDIR

ERANGAN TAKDIR
S2-CHAPTER 41


__ADS_3

Alisya mengikuti langkah kaki Fres dengan tatapan matanya yang kini nampak kosong karena nyatanya semua pencarian dan dugaannya salah, namun Alisya kembali cepat sadar, bisa saja ini adalah jebakan dari Fres.


Alisya segera mengambil HP di dalam tasnya yang berdering, ada 1 panggilan masuk dan 1 pesan masuk dari kontak baru di HP nya.


Alisya lebih memilih untuk mengangkat telepon duluan daripada membuka pesan masuk yang bisa dilihat nya kapan saja, beda ceritanya dengan panggilan masuk.


Alisya segera menaikkan tombol hijau di layar HP nya yang bertuliskan panggilan masuk dari makhluk kepo, nada suara itu terdengar tegas, pasti, membawakan kabar yang benar-benar menampar Alisya saat ini, ucapan Fres ternyata benar, pembunuhan berantai kembali terjadi dengan korban yang masih sama, yaitu mengenakan salah satu warna putih dari pakaiannya, terlebih kejadian baru 10 menitan yang lalu, saat itu Alisya masih bersama dengan Fres.


Jadi sebuah kemustahilan yang amat besar jika pelakunya adalah Fres, namun ada satu hal lagi yang memberatkan otak gadis itu 'Siapa sebenarnya pelaku pembunuhan berantai itu? apa motifnya?'


Alisya mengembalikan menu di telepon setelah terputus, dan mengklik pesan yang baru masuk di HP nya tadi, pesan itu dari adik perempuan jendral wanita yang mengawasi Alisya dalam ruangan Interogasi waktu itu.


Di pesan itu bertuliskan bahwa adik dari jendral sudah tau lokasi dan nomor mantan tunangan dari Fres, namun ini tak lagi di perlukan, karena sudah terbukti langsung oleh Alisya bahwa Fres bukanlah pelakunya.


Kabar ini seharusnya sudah perfect saat Alisya mendapatkan nomor dari mantan tunangan Fres, tapi malah jadi sangat buruk karena Fres positif bukan pelakunya.


Alisya menepuk keningnya seraya menghela nafas panjang, ditatap Fres dengan heran tindakan wanita di sebelahnya itu.


Fres terus fokus mengemudi untuk sampai di jalan Jan Ru X.


"Kasus pembunuhan berantai La Rochelle adalah kasus pembunuhan berantai paling menakutkan tahun ini, dan jika tidak segera di tutupi oleh aparat, bisa saja kasus ini telah trending tingkat internasional" ujar Fres memecah keheningan itu.


Alisya masih nampak tak berkutik, dia sedang berusaha menenangkan pikiran dan hatinya, dia tidak boleh tergesa-gesa atau depresi untuk saat ini, masih banyak hal yang perlu untuk dilakukan nya saat ini.


Selang beberapa jam mereka telah sampai di Jalan Jan Ru X, La Rochelle.


Alisya langsung melompat turun dari mobil, berbeda dengan Fres yang harus mengunci mobilnya dulu, Fres cukup terkejut melihat Alisya yang meloncat tiba-tiba.


Mayat masih terkapar, kondisi mayat sama dengan korban-korban sebelumnya, mayat memakai celana pendek bewarna putih dalam dresnya, padahal itu bukanlah sesuatu yang bisa diliat karena tertutupi oleh rok mini, lantas kenapa si pembunuh bisa tau? membuat kepala Alisya tambah runyam memikirkan nya.


Violette melirik sejenak Alisya yang nampak sedikit depresi, Violette tersenyum tipis menatap gadis itu.


"Angin" bisik Violette pada Alisya sambil berjalan mendekat ke arah Alisya.


Alisya terkejut mendengar suara yang berbisik tiba-tiba itu, dia menoleh dan melihat Violette yang tengah menyungginkan bibirnya tersenyum.


Alisya menghela nafasnya sejenak, dia berpikir mungkin angin menerbangkan rok gadis itu sehingga celana short nya kelihatan.


Suasana gelap perlahan menjadi terang, menandakan pagi telah tiba, mayat harus segera di pindahkan sebelum warga mulai berdatangan dan menyaksikan kembali kejadian itu.


Suara ambulance mulai terdengar mendekat dengan cepat, saksi yang menemukan korban tidak lain adalah seorang pedagang keliling yang baru pulang dari berdagang, dia ikut dibawa ke kantor polisi untuk menjadi saksi.


"Mau ikut dengan kami ke kantor polisi manquer?" tanya seorang polisi berbintang 2 pada Viollete dan Alisya.


Violette menatap Alisya sejenak, Alisya menggelengkan kepalanya pertanda dia tidak ingin ke kantor polisi dulu.


Mereka berdua berjalan menuju hotel kembali, tersisa satu malam lagi sampai kasus ini benar-benar tuntas.

__ADS_1


Dalam perjalan Alisya selalu memikirkan hal-hal yang aneh dari semua penjelasan dan masa lalu kelam para tersangka.


"Apa tersangka yang kamu duga salah?" tanya Violette tiba-tiba.


Alisya terkejut dan memilih untuk diam.


Violette kembali menatap gadis itu "kamu tau waktu kita hanya semalam lagi? jika kamu memang tidak bisa, katakanlah... biar aku bicarakan hal ini dengan Riani" ucap Violette.


Alisya kaget mendengar ucapan Violette barusan, bukan karena Violette menyebut nama Riani, tapi inti dari ucapan Violette tadi, bagaimana mungkin seorang penganalisis terbaik dari firma akan menyerahkan kembali kasus ini pada ketua nya begitu saja? pasti dia seharusnya mengatakan kamu bisa meminta bantuan ku untuk menyelesaikan kasus ini, tapi kenapa tidak?


Jawabnya tidak lain adalah karena Violette sudah tau siapa pembunuhnya, dia hanya tidak punya cukup bukti kuat.


Alisya teringat dengan foto yang diambilnya pertama kali di hotel, foto seorang pembunuh dengan seorang tersangka kemaren.


Jika dihitung dengan korban yang sekarang, maka pelaku itu sudah membunuh 15 orang, dia tidak pantas lagi untuk hidup jika menghabiskan banyak nyawa tidak berdosa itu.


Alisya mempercepat langkahnya menuju hotel, mungkin dengan sedikit berbaring dia bisa menemukan celah dalam kasus selama ini.


Setelah memasuki kamar hotel, Alisya mengambil charger untuk mengisi baterai HP nya yang sudah memerah, dia membuka menu foto sambil men-scroll foto pelaku pembunuhan berantai itu.


Alisya terpana menatap bagian salah satu tubuh pelaku, yaitu bagian dada. Jelas dada pelaku nampak sedikit menonjol, menandakan pelaku adalah seorang perempuan, tapi di dalam pesan terakhir dari Crania sahabat Geyaa yang merupakan salah satu dari 4 tersangka mengatakan pelaku adalah seorang laki-laki.


"Hahhhh...." Alisya membuang panjang nafasnya.


Jika kondisi itu benar, maka Geyaa telah berbohong padaku, tapi dengan alasan apa dia sampai berbohong? atau jangan-jangan... Alisya kembali men-scroll bagian pergelangan tangan yang cukup bersinar itu.


Alisya memukul meja di depannya dengan keras, dia menelungkup kan kepala di atas meja itu, dugaannya salah.


Alisya perlu menemukan seseorang lagi, seseorang yang mungkin bisa membuktikan semua dugaannya barusan ini.


Violette tersenyum melihat Alisya yang sepertinya sudah menemukan kembali titik terang.


Alisya melangkah cepat keluar dari pintu apartemen sambil mencabut kembali charger dari HP nya, Violette menyerahkan power bank milik nya pada Alisya.


Alisya terpana heran "kamu membutuhkan nya bukan?" tanya Violette.


Alisya tersenyum dan mengambil power bank milik Violette "aku akan mengembalikan nya" ucap Alisya sambil berlari meninggalkan ruangan.


Setelah tidak lagi melihat punggung Alisya, Violette kembali beranjak dari ranjang dan membuka layar laptopnya.


Dia sudah menemukan kembali titik terang, yang pastinya tanpa bantuanku, dia bukan orang yang mudah menyerah dan depresi begitu saja, sesuai janji... aku akan membantunya terhindar dari kasus pembalasan dendam dengan ayahnya, kamu tenang saja, aku pasti akan menepati janjiku.


Violette mengirim teks pendek itu ke e-mail seseorang dan langsung bergegas ke sebelah meja untuk mengambil HP nya.


Violette mengetik cepat nomor yang ada di layar HP nya, dan menunggu nomor yang dihubungi nya tadi menjawab panggilan.


Selesai berdiskusi cukup lama, kembali menghubungi seseorang dan langsung turun dari hotel segera.

__ADS_1


Jeda beberap menit menunggu, sebuah mobil yang sudah tidak asing lagi bagi Violette berhenti tepat di gerbang hotel, wanita itu melambaikan tangannya dari mobil tanpa penutup itu.


"Anda ingat lokasi mahasiswi yang jadi tersangka itu jendral?" tanya Violette diangguki oleh jendral wanita itu.


Mobil melaju dengan cepat menepis kan angin-angin pagi ke wajah Violette, Violette mendesis sebal karena harus menaiki mobil ini lagi.


***


Alisya turun dari taxi sambil menatap lama kost-an nomor 4 yang nampak sepi itu, seorang gadis keluar dari pintu nomor 3 sambil terperanjat kaget melihat Alisya yang tiba-tiba sudah berdiri dihadapan nya sambil menyunggingkan senyuman nya.


"Bisa bicara sebentar?" tanya Alisya.


"Eh...?" heran gadis itu.


Kini mereka sudah duduk di atas tikar dalam kamar kost-an gadis itu.


"Bisa aku tau namamu?" tanya Alisya.


"Desiree" jawab gadis itu singkat.


"Sebelumnya aku belum sempat mengucapkan terimakasih padamu karena telah membantuku menemukan Geyaa, jadi terimakasih Desiree" ucap Alisya sambil kembali menyungginkan bibirnya tersenyum.


Desiree tertawa kecil menanggapi ucapan Alisya sambil menatap sekali-kali jam dinding nya.


"Apa saat ini kamu sedang sibuk? aku menganggu mu?" tanya Alisya kembali.


Desiree menggelengkan kepalanya "hahaha aku hanya takut ketinggalan bus, uang bulanan ku sudah menipis jika harus naik taxi" jelas Desiree langsung.


Alisya menghela nafas cemasnya tadi "kamu tenang saja, aku akan membayarkan uang taxi untuk mu nanti, atau aku akan meminta tolong untuk seseorang mengantarmu sampai kampus nanti" jelas Alisya.


Desiree diam sejenak "baiklah, jadi ada apa kak?"


"Omong-omong sudah berapa lama kamu tinggal disini?" tanya Alisya kembali.


Desiree kembali diam sejenak sambil menatap langit-langit kost-annya "kalau tidak salah sudah 3 bulanan lebih" jawabnya.


"Kamu sudah kenal dekat dengan Geyaa? pernah ngobrol?" tanya Alisya kembali memastikan.


Desiree menggelengkan kepalanya "aku tidak kenal dengan dengan Geyaa, terlebih seperti yang aku bilang saat itu bahwa aku tau dia bekerja di minimarket ujung sana karena aku sempat belanja di minimarket itu, lagian kami juga beda kampus" jawab Desiree jelas.


"Kamu pernah melihat orang yang berkunjung ke kamar Geyaa?" tanya Alisya.


Desiree diam sejenak kemudian mengangguk kan kepalanya "sejauh yang aku tau, yang pernah berkunjung ke kamar Geyaa hanya seorang gadis yang sepantaran denganya, namun sejak beberapa Minggu ini gadis itu tidak muncul lagi" kelas Desiree.


Karena dia telah meninggal Bathin Alisya.


"Apa kamu sering melihat Geyaa?" tanya Alisya kembali.

__ADS_1


Desiree kembali diam sejenak "hmm... aku hanya melihatnya tadi pagi baru pulang dengan hentakan nafas yang ngos-ngosan, dihari lain aku hanya melihatnya saat hendak pergi ke kampus karena dia selalu mengenakan almamater kampus yang sama belakangan ini, dan sekali-kali saat terjaga di tengah malam aku melihatnya baru kembali dari kost-an, tapi mungkin itu karena dia bekerja part time" jelas Desiree kemudian diam sejenak karena bingung dengan penjelasan tadi "tunggu... Geyaa kerja part time baru kemaren lusa, jadi... selama ini kenapa di terus pulang malam?" tanya Desiree heran sambil menatap Alisya.


__ADS_2