
Apakah ini adalah sesuatu yang perlu untuk ditangisi? disesali? atau sesuatu yang akan membuat kita terjatuh? terpuruk sedalam-dalamnya?
Jelas bukan! bagi Alisya ini tidak lain adalah konflik dalam ceritanya yang berubah, walau dipupuk oleh rasa dendam dan tujuan hidup demi pembalasan dalam waktu yang cukup lama, tetap tidak menjadikan Alisya sebagai orang yang mudah terjatuh.
Sebagai seorang anak yang dulu pernah dilimpahi kasih sayang dan harta dari masa-masa kecil sampai masa remajanya, jelas perasaan itu akan selalu membekas untuk selama-lamanya, rasa terimakasih yang dalam untuk kedua orang tuanya.
Walau dijenjang masa-masa remajanya yang dikatakan oleh orang-orang sebagai masa-masa paling indah, yang sejatinya adalah masa yang paling suram bagi Alisya. Tapi tetap saja pupuk amarah, dendam, dan pembalasan yang ada dipikirkannya selama ini tidak bisa mengalahkan perasaannya sebagai seorang anak.
Bukan penyesalan yang membuat Alisya sampai keluar dari mobil ditengah malam dengan hujan yang deras ini, tapi rasa terimakasih, rasa terimakasih dan kecewa yang amat dalam. Rasa terimakasih pada kejadian ini yang telah menyadarkannya, tentang betapa dia mencintai keluarganya, mencintai mama dan papanya. Dan rasa kecewa yang amat dalam karena dia terlambat untuk menyadari ini semua.
Rasa ngilu akibat kedinginan telah merambat masuk ke dalam tubuh Alisya, pakaiannya yang dikenakannya cukup tipis sehingga menjadi tembus pandang.
Di jalanan yang sepi itu tidak ada bangunan, hanya rumput-rumput rendah yang ada disana, tidak ada bangku untuk duduk, tidak ada tempat berteduh. Tapi ini tempat sempurna bagi Alisya untuk situasinya kini.
Sebuah cahaya lampu menyilaukan mata Alisya, dia langsung refleks menutupi wajahnya dengan kedua tangan.
Suara dari mesin mobil yang mendekat itu berhenti ditelinga Alisya, sorotan lampu mobil tadi kini telah mati, sekarang tempat itu kembali hanya disinari oleh lampu jalanan saja.
Seorang pria berjalan mendekat ke arah Alisya.
"Hei! apa yang sedang kamu lakukan disini!?" suara yang terdengar lembut namun terasa sengaja dikeraskan itu agar mengalahkan suara hujan yang deras membuat Alisya kembali membuka matanya.
Tanpa disadari jas pria yang ada dihadapannya kini telah menempel ditubuh Alisya, menutupi bagian tubuhnya yang telah tembus pandang karena air hujan.
"Maaf... anda siapa?" tanya Alisya.
"Sudahlah nanti saja perkenalannya, ayo masuk ke mobil dulu!" ajak laki-laki itu.
"Maaf..."
"Saya tidak akan melakukan apapun padamu! ayo! tidak baik bagi seorang perempuan tengah malam saat hujan-hujan begini berada dijalanan sepi ini!" tegas laki-laki itu kembali.
Entah kenapa aku merasa seperti pernah melihat wajahnya, tapi dimana ya? pikir Alisya sambil mengikuti langkah laki-laki itu masuk ke dalam mobil.
"Kak, apakah kakak serius membawa wanita masuk kedalam mobil basah-basah begini?" tanya seorang pria yang duduk di samping sopir.
"Tidak apa-apa Randy... ayo pak jalankan mobilnya!" seru laki-laki itu.
Randy!? Alisya langsung menengadahkan kepalanya ke pria yang duduk di sebelah sopir itu.
Pria yang yang duduk di sebelah sopir kaget menatap wajah Alisya begitupun dengan Alisya.
"Alisya!?" seru pria bernama Randy itu.
"Kak! bisa turunkan saya sekarang!?" tanya Alisya yang ekspresinya kembali diselimuti oleh amarah.
"Eh jang--"
Sebelum laki-laki tadi menolak permintaan Alisya, Alisya sudah keluar dari mobil dan berlari cepat meninggalkan mobil itu.
__ADS_1
"Randy! kamu yang menyebabkan hal ini! kamu kejar dia dan kembali bawa masuk ke mobil ini!" tegas laki-laki tadi pada pria bernama Randy itu.
"Percuma kak, dia wanita yang keras kepala, apalagi saat ini kondisinya sedang dalam keadaan yang amat tidak baik" jawab Randy.
"Apa maksud mu!?" tanya laki-laki tadi.
"Kakak tau gubernur yang meninggal kabar-kabarnya karena kerancuan sianida itu?" tanya Randy diangguki oleh laki-laki itu.
"Wanita itu adalah anaknya" sambung Randy.
"Sebelum kamu melanjutkan penjelasanmu, kamu kejar wanita itu cepat! aku tidak yakin aku yang tidak dikenalnya ini akan dipercayai nya, cepat kamu temui dia sebelum terjadi apa-apa Randy, entah apa hubungan masa lalu mu dengan dia dulu! tapi setidaknya kamu temui dia sekarang! hanya kamu yang dia kenal untuk saat ini!" tegas laki-laki itu kembali.
"Sudah aku bilang itu percuma kak!" tegas Randy.
"Jadi... kamu tega membiarkan seorang wanita yang baru saja berduka sendirian ditengah malam begini dan dalam kondisi hujan-hujanan?" tanya laki-laki itu dengan suaranya yang terdengar lirih.
Randy berdecak sebal "ah! baiklah!" ucap Randy sambil keluar dari mobil dan langsung berlari ke arah Alisya tadi.
***
"Arghhh! sial! kenapa aku harus bertemu bajing*n itu untuk saat ini!" teriak Alisya yang sudah kehabisan nafas karena berlari dari tadi.
Alisya duduk disebuah bangku yang ada di jalan itu, sepertinya tempat Alisya berada kini sudah dekat dengan jalan besar.
"Hei!"
Suara itu langsung mengangetkan Alisya, refleks Alisya langsung menoleh dan menghela panjang nafasnya, karena dia tidak punya cukup tenaga untuk berlari menghindari pria itu kembali.
"Owh apa begini sikapmu setelah meninggalkanku? dan terlebih apa kamu sebegitu bencinya pada ku sampai mengucapakan kata 'Gue'?" tanya Randy.
"Hah!? meninggalkan!? begitukah!? tapi mohon maaf yang berbuat siapa dulu ya?" tanya Alisya dengan menatap sinis Randy.
"Sudah sekian kali aku bilang, kamu salah paham!" tegas Randy.
Alisya kembali menghela panjang nafasnya "sudahlah! Lo gak usah ngungkit masalah itu lagi! itu masa lalu! dan sejak saat itu kita sama sekali gak ada hubungan lagi! jadi gue harap untuk saat ini Lo beranjak dari hadapan Gue!" seru Alisya.
"Aku turut berduka cita" ucap Randy lirih.
Alisya terdiam mendengar kalimat yang dilontarkan Randy itu.
Randy tak enak hati menatap pakaian yang dikenakan Alisya tembus pandang dan memperlihatkan tubuhnya itu, Randy langsung melepas jasnya dan memakainya ke Alisya, karena jas yang diberikan orang yang dipanggil Randy kakak tadi telah dikembalikan oleh Alisya saat di mobil.
Alisya yang menyadari perlakuan Randy tersenyum tipis "mau mencoba bersikap romantis?" tanya Alisya dengan tatapan meledek ke arah Randy.
"Tidak sama sekali, aku hanya takut tidak bisa menahan nafsu melihat tubuhmu itu" jawab Randy.
Alisya langsung meregangkan jas yang dikenakan Randy agar menutupi seluruh tubuh bagian atasnya.
Randy tertawa kecil melihat tingkah Alisya.
__ADS_1
"Silahkan pergi! jas ini bakal gue kembalikan, dan tolong sampaikan ucapan terimakasih gue pada laki-laki yang ganteng tadi" ucap Alisya sambil memalingkan wajahnya dari Randy.
"Kenapa tidak ucapkan sendiri saja?" tanya Randy.
"Gue ogah semobil sama Lo!" tegas Alisya.
"Jadi sama kakak gue tadi gak ogah?" tanya Randy kembali.
"Gak!" jawab Alisya.
"Tapi untuk sekedar kamu tau, jangan sampai jatuh hati sama laki-laki tadi, dia sudah beristri loh" jelas Randy.
"Gue cuman bilang ganteng, bukan berarti gue suka sama dia, ya udah pergi Lo sana!" seru Alisya.
"Yakin gak mau barengan sama aku?" tanya Randy.
"Ogah!" jawab Alisya sambil berdiri dari bangku yang didudukinya dan memberhentikan taxi yang kebetulan lewat disana.
"Jangan lupa balikin jasnya ke apartemen aku! kamu ingatkan!? tapi boleh kok disimpan aja untuk kenang-kenangan" canda Randy.
Alisya menyunggin senyum tipisnya "terimakasih!"
Randy terpana kaget mendengar ucapan Alisya tadi "Aku gak salah dengarkan ya?" gumam Randy.
***
"Mana perempuan tadi?" tanya laki-laki yang dipanggil Randy dengan kakak itu.
"Udah naik taxi" jawab Randy.
"Jas kamu mana?"
"Di pakai dia"
"Hubungan kamu sama dia apa?"
"Aduh kepo amat sih kak, tapi tadi dia bilang terimakasih pada kakak" ujar Randy.
"Owh... sepertinya udah baikan ya" ledek laki-laki itu.
"Kak Andi! udah puas ngeledeknya! tenang aja entar sampai di rumah kakak bakal aku laporin aku istri kakak bahwa tadi kakak menggoda perempuan" ancam Randy.
"Lah? menggoda perempatan apanya?"
"Itu tadi kakak makein jas kakak ke Alisya tadi, sampai Alisya bilang tolong sampaikan ucapan terimakasih pada kakak ganteng tadi" jelas Randy.
"Owh jadi namanya Alisya? kok kayak pernah dengar ya?" tanya Andi.
"Yah... orang nama Alisya kan bukan cuman satu" sambung Randy.
__ADS_1
"Jadi dia tidak datang ke makam papanya? kenapa malah tengah malam keluhuran disini?" tanya Andi kembali.
Randy tidak menanggapi pertanyaan Andi, karena ini bukan sesuatu yang perlu dia bahas dengan Andi, seniornya di perusahaan.