ERANGAN TAKDIR

ERANGAN TAKDIR
S3 - Chapter 25


__ADS_3

Flashback masa SMA Alisya


Terpaan angin pagi menyerbakkan dedaunan gugur dibelakang taman sekolah.


Alisya yang hendak menenangkan diri di halaman belakang sekolah malah dihampiri oleh orang yang sangat tidak ingin dilihatnya saat ini. Sintia dan 2 orang teman lainnya yang kini berdiri dihadapan Alisya.


"Ngapain lo!? mau ngerjain gue lagi!?" ketus Alisya.


"Idih! pede banget sih! Lo tau gak pacar Lo lagi dibelakang sono sama Diandra?" tanya Sintia yang jelas meledek.


Sintia dan Diandra adalah 2 orang sahabat dekat Alisya dari dulu, mereka sangat akrab dan sering bersama setiap saat, namun setelah kasus tentang papa Alisya yang dikabarkan korupsi, kedua sahabat Alisya itu malah menjauhinya dan bahkan sampai mem-bully Alisya.


Alisya bukan gadis lemah yang menerima bully an dan hinaan begitu saja, saat hendak membalas dia jadi sadar dan ingat kembali kata mamanya, bahwa orang waras adalah orang yang lebih memilih untuk mengalah dari pada membalas perlakuan buruk orang yang menjahatinya.


Alisya memilih untuk beranjak dari duduknya dan langsung kembali ke kelas dengan melewati jalan pintas, yaitu sudut belakang halaman sekolah.


Langkah Alisya terhenti sebelum dia sempat berbelok, matanya terbelalak menatap kaget dan tidak percaya 2 orang pelajar yang kini memojok dan berciuman bibir dibalik dinding halaman belakang sekolah itu.


Kedua orang itu merasakan kehadiran Alisya dan langsung menoleh dengan ekspresi kaget juga, tapi berbeda dengan yang cewek malah tersenyum sinis menatap Alisya.


"Owh maaf Alisya, yang kamu lihat tadi hanya kesalahpahaman" ucap cewek itu yang tidak lain adalah Diandra, sahabat dekat Alisya dulu.


Alisya hendak menbentak dan berkata kasar, namun dia memilih untuk meredam amarahnya, mengingat ini adalah hari terakhir mereka disekolah, dan lagi mungkin ini juga pertemuan terakhir mereka.


"Oh hai Randy, Diandra, selamat ya!" ucap Alisya sambil melambaikan senyum tipisnya dan memutar arah untuk kembali ke kelas.


Randy mencoba mengejar Alisya namun langkah Randy tertahan oleh Diandra yang menatap sinis Randy.


"Alisya! kamu pulang sekarang?" tanya Aren yang sedang membawa tumpukan buku.


Alisya menganggukkan kepalanya. "Tunggu sebentar ya! aku ambil tas dulu!" seru Alisya sambil berlari cepat masuk ke dalam kelasnya.


"Sini bukunya! aku bantuin ya" ucap Alisya sambil mengambil setengah dari buku yang dibawa oleh Aren.


"Kelas kamu menampilkan apa untuk acara perpisahan?" tanya Aren digelengkan oleh Alisya.


"Ini mau diantar ke perpustakaan?" tanya Alisya diangguki oleh Aren.


"Terimakasih ya Sya udah bantu" ucap Aren.


"Hahaha gak masalah kok" jawab Alisya.


"Alisya, kayaknya di acara perpisahan sekaligus acara kelulusan aku tidak bisa hadir, aku harus menemani papa yang dirawat di rumah sakit" ucap Aren tiba-tiba.

__ADS_1


Alisya menyinggingkan bibirnya tersenyum tipis "aku juga, lebih baik aku bekerja dan mencari pekerjaan baru yang lebih baik lagi" jawab Alisya.


Aren tau betul alasan Alisya tidak mau pergi untuk acara kelulusan Minggu besok, namun Aren memilih diam dan terus melanjutkan langkahnya ke perpustakaan.


"Sya, bukanlah selama ini merepotkan harus ke sekolah dengan 3 kali bergantian angkutan umum?" tanya Aren kepada Alisya yang kini sedang sibuk membaca buku di perpustakaan.


Alisya menutup buku yang dibacanya "yah... mau bagaimana lagi, namanya juga hidup. Hahaha aku kayak orang tua aja ya, merasakan beban hidup yang amat berat. Tapi Ren... aku masih bersyukur dipertemukan oleh orang yang bersedia meminjamkan gubuk itu pada kami dengan gratis, yah... walau tidur di sana harus dilengkapi dengan kesabaran ekstra tapi aku masih bersyukur kok" jawab Alisya.


"Maaf ya Sya, aku gak bisa bantu banyak" ucap Aren.


"Hahaha jangan merasa bersalah gitu Ren, gak apa-apa kok, lagian ini bukan salah kamu, malah aku sangat berterima kasih padamu yang mau berteman dengan aku, yang rela ikut dibully sama mereka, kamu tau Ren... alasan aku kuat untuk tetap sekolah adalah karena disini masih ada temanku yang sangat baik dan berhati malaikat ini" jelas Alisya sambil tersenyum tipis pada Aren.


Cast back to Alisya


Alisya menatap lama wajahnya di depan kaca toilet perusahaan, setelah tadi meninggalkan Sarah yang dipanggil manajer.


"Sintia ya? kelihatannya hidup dia baik-baik saja, aku sampai lupa bahwa orang tuanya pemegang 20 persen saham perusahaan ini, mungkin bisa jadi suatu hari nanti dia akan ikut bekerja bersama kakaknya" gumam Alisya sambil memutar keran yang tadi hidup.


Alisya melangkah keluar meninggalkan perusahaan untuk menuju kantor polisi, menemui kembali Dina untuk pembahasan pembagian warisannya lebih lanjut, walau sebenarnya Alisya sudah terlampau ogah untuk hal itu.


"Sebaiknya aku harus menunda janji dengan produser itu" gumam Alisya sambil mengambil handphonenya yang ada di kursi samping mobil.


Alisya memberhentikan mobilnya sebenar dan mulai mengetik pesan untuk Nanun, produser yang saat konferensi ditemui Alisya itu. Alisya mengetikkan permintaan maafnya pada Nanun, dan menawarkan untuk ganti jadwal traktiran Nanun menjadi besok malam.


Alisya terkejut karena langsung mendapat kan balasan dari Nanun.


Tentu, dan ini alamat rumahku. @google.maps.jl....... Balas Alisya.


Siap tuan Putri. Balas Nanun cepat.


Alisya tersenyum tipis membaca balasan pesan dari Nanun kemudian meletakkan HP-nya ke kursi sebelah dan mulai menyetir kembali mobilnya.


Mobil Alisya kembali berhenti tepat di parkiran kantor polisi. Alisya turun dari mobil sambil membawa beberapa dokumen.


Alisya langsung masuk ke kantor polisi dan meminta izin untuk membezuk Dina.


Tak butuh waktu lama Dina datang sambil digandeng seorang polwan, Alisya menyinggingkan senyumnya ke Dina, tapi Dina malah memalingkan wajahnya dari Alisya.


"Hai, apa kabar?" tanya Alisya berbasa-basi.


"Puas kau meledekku?!" ketus Dina.


"Hahaha ini belum seberapa atas apa yang dulu kau lakukan pada aku dan mama, terlebih sampai kau membunuh suamimu sendiri yang bahkan rela mencampakkan istri dan anak kandungnya hanya demi PE.LA.CUR sepertimu" jelas Alisya menyeledek.

__ADS_1


Dina nampak menggepalkan tangannya.


"Mau memukul ku? silahkan saja, tapi aku akan membalasnya dua kali lipat dan surat ini tak akan ku serahkan padamu" ucap Alisya sambil membuka dokumen yang dipegangnya.


"Kau tau ini apa? ini adalah pembagian warisan dari papa untukmu, walau aku tidak yakin apakah kamu masih bisa untuk tetap menggunakan warisan ini, karena kurungan penjaramu, tapi karena aku tipe orang baik-baik, amanah, bertanggung jawab, berperikemanusiaan, rajin menabung, dan tidak sombong, aku akan menyampaikan warisan ini padamu langsung, atau boleh juga kalau aku melempar sekarang uangnya padamu, walau aku tidak yakin apa kau bisa mengunakannya" jelas Alisya.


"Berapa persentase warisanku?" tanya Dina berharap.


"Kerena aku dan mama orang baik, kami tidak akan memotong pembagian warisan untukmu, tapi sayangnya kamu hanya mendapat 20 persen dari total kekayaan papa diluar saham perusahaan" jelas Alisya.


Dina terperanjat kaget "20 persen katamu!? dan itu diluar saham!?" seru Dina lantang.


"Hah... jika kau memaki-maki seperti itu kau akan segera dimasukkan ke ruangan tahanan lagi, apa kau tidak bosan? atau... kau menyesal membunuh papa? tapi sayangnya itu adalah kenyataan, dan papa sendiri yang membuat aturan pembagian warisan ini, jadi kalau kau sudah bebas, kau bisa langsung mengunjungi ku, dan aku akan langsung melempar semua uangmu, kalau begitu sampai jumpa" ucap Alisya sambil berbalik pergi meninggalkan Dina yang mematung di kursinya.


Alisya menatap jam tangannya sambil berjalan keluar menuju parkiran. "Hah... sekarang aku harus mengurus barang-barang papa di kantor gubernur dulu" gumam Alisya sambil membuka pintu mobil.


Alisya mengendarai mobilnya kembali, namun kini tujuannya adalah ke kantor gubernur.


Mobil yang dikendarai Alisya bergerak laju membelah keramaian jalan, setelah masuk ke dalam gerbang kantor, untungnya Alisya berpapasan dengan wakil gubernur yang kini sudah menjabat sebagai gubernur kota XXX.


"Owh halo pak" sapa Alisya.


"Wah kamu Alisya anaknya almarhum ketua ya?"


"Iya pak" ucap Alisya menjawab pertanyaan gubernur baru itu sambil menutup pintu mobilnya.


"Ada keperluan apa?" tanya pak gubernur.


"Saya ingin mengambil barang-barang pribadi papa yang tertinggal diruangan nya pak" jawab Alisya.


"Owh kebetulan, padahal rencananya nanti sore bapak akan mengantar langsung ke rumahmu, tapi karena kamu sudah ada disini ya sudah, mari bapak antar" ucap pak gubernur itu.


"Maaf merepotkan pak" ucap Alisya.


"Hahaha tidak apa-apa" jawab pak gubernur.


Mereka sampai disebuah ruangan yang nampak kosong dengan aksesoris dan perabotan hiasan-hiasan, hanya ada kursi, meja, komputer, jam, lemari brankas, dan satu lukisan di dalam ruangan yang besar itu.


"Hahaha kamu tercengang menatapnya, ruangan ini belum saya dekorasi sama sekali, mengingat jabatan saya juga tidak cukup satu tahun lagi saya tidak akan memilih wakil baru, dan ruangan ini sama sekali tidak saya tempati, saya masih stay di ruangan saya yang ada disebelah, almarhum memang tidak pernah sekalipun memakai uang gajinya untuk dekorasi ruangan ini, dan saat dana daerah yang kami gunakan untuk dekorasi ruangan almarhum juga menolak, dia ingin ruangannya sepi seperti ini, entah apa alasan almarhum saya juga tidak tau, tapi barang-barang pribadi almarhum sudah saya simpan di dalam lemari ini" jelas pak gubernur sambil membuka lemari itu.


Alisya terpana kaget, dia hanya melihat sebuah foto dengan bingkai nya di dalam lemari.


"Hanya ini barang pribadi yang sangat penting untuk beliau" jawab pak gubernur yang menyadari kebengongan Alisya.

__ADS_1


Alisya mengambil bingkai foto itu, terpana kaget menatap foto yang ada didalam bingkai itu, foto masa kecilnya saat baru masuk SMP, foto dia, mama, dan almarhum papanya.


Tanpa sadar air matanya jatuh, Alisya semakin menyadari, berapa ia masih sangat menyayangi papanya. Dan betapa papanya masih sangat menyayangi dirinya dan mamanya.


__ADS_2