
Cast Back to Riani
"Ehm... Manquer, apa benar kalian berdua dari firma hukum Confiance?" tanya salah seorang pramugari dengan bahasa Perancis yang fasih dan raut wajah yang nampak pucat pada Riani dan Aren.
"Ya nona, ada yang bisa kami bantu?" tanya Riani menatap heran pramugari itu.
"Anda tidak apa - apa nona? sepertinya wajah anda pucat sekali" sahut Aren menatap cemas pramugari itu.
Pramugari itu menggelengkan pelan kepalanya "Bisa kalian ikut saya sebentar?" tanya pramugari itu menatap cemas pada Riani dan Aren.
Riani dan Aren saling melirik satu sama lainnyain kemudian mengangguk kan kepala mereka lalu mengikuti langkah Pramugari tadi.
Riani membelalakkan matanya nampak kaget melihat pemandangan yang ada di depannya kini sambil langsung membaca istighfar dan mengucap innalilahi.
Aren menutup mulutnya melihat tubuh seseorang yang terduduk di sudut WC pesawat itu dengan darah yang banyak masih mengalir di sela sela kakinya.
"Kenapa bisa seperti ini nona?" tanya Riani menatap cemas pada pramugari itu dan seorang lagi pramugari beserta 1 pramugara yang ada.
Mereka menggelengkan kepala mereka serentak.
"Kalau begitu siapa yang pertama kali menemukan mayat korban?" tanya Riani kembali.
Pramuga itu mengacung kan tangannya "Saat ke toilet tadi, saya melihat cairan merah keluar dari sela - sela bagian bawah pintu, saya mengedor pintu toilet tapi sama sekali tidak ada jawaban. Jadi saya mencoba mendobrak pintu takut terjadi sesuatu dan wanita ini ternyata sudah ada di toilet pria ini dengan posisi seperti itu" jelas pramugara itu.
"Apa ada yang menyentuh tubuh korban?" tanya Riani digelengkan oleh pramugara dan pramugari itu.
"Kalian sudah menghubungi polisi?" tanya Riani digelengkan oleh mereka bertiga.
"Kami hanya mengatakan hal ini pada beberapa petugas yang bekerja" jawab Pramugara itu.
"Kalau begitu bisa tolong hubungi polisi Perancis sekarang tuan? saya yakin mereka bisa melompat dari helikopter kepolisian dengan baik ke pesawat ini" jelas Riani segera diangguki oleh pramugara itu.
"Sebelumnya apa kalian melihat siapa saja yang mengunjungi toilet pria ini?" tanya Riani kembali sambil mengambil sapu tangan untuk menutupi mulutnya dan berjalan mendekati ke arah tubuh mayat wanita itu.
Pramugari dan Pramugara itu saling menatap satu sama lain kemudian menggelengkan kepala mereka.
"Saya tau" ucap seorang pria muda dengan bahasa Indonesia yang kental tiba - tiba ada di depan pintu masuk toilet.
"Maaf sebelumnya... bisa perkenalkan diri anda dulu tuan?" tanya Riani sambil mengernyitkan keningnya.
__ADS_1
"Owh maaf sebelumnya jika saya langsung menyosor, perkenalan nama saya Dimas Wibowo. Kalian bisa memanggil saya Dimas." ucap Pria muda itu kembali dengan masih menggunakan bahasa Indonesia yang lancar dan kental.
Para Pramugari dan Pramugara itu saling menatap satu sama lain dengan raut wajah mereka yang heran dengan bahasa yang digunakan oleh Dimas itu.
"Kalau begitu darimana anda mengetahui siapa saja yang mengunjungi toilet pria ini tuan Dimas?" tanya Riani kembali.
"Owh kebetulan saya duduk dibangku paling belakangan dan hanya memperhatikan orang - orang yang lewat dibalik kaca mata hitam saya, kalau anda tidak percaya bisa tanyakan pada Pramugari yang disana nona" jelas Dimas sambil menunjuk seorang pramugari yang berdiri diseberang pintu toilet kejadian.
"Nona... apakah benar anda melihat pria ini duduk di kursi belakang dengan mengenakan kaca mata hitam?" tanya Riani dengan bahasa Perancis yang fasih pada pramugari itu.
Pramugari itu diam sejenak sambil memperhatikan detail penampilan Dimas dari atas sampai ke bawah. "Sepertinya iya Manquer" jawab Pramugari itu sambil mengangguk kan kepalanya.
Riani menganggukkan kepalanya dan kembali menoleh ke arah Dimas. "Kalau begitu bisa anda sebutkan siapa saja orangnya tuan?" tanya Riani kembali.
"Owh tentu nona, jawabannya mudah sekali, selain ketiga orang ini tidak ada lagi yang memasuki toilet" jawab Dimas yang membuat mereka semua tersentak kaget.
"Anda sedang tidak bercanda dengan saya kan tuan Dimas?" tanya Riani menyelidik.
"Tentu nona, saya bukan tipe orang yang suka bercanda. Bukankah begitu Aren?" tanya Dimas sambil melirik ke arah Aren dan menyungginkan senyum manisnya untuk pertama kalinya.
Aren menepuk keningnya dengan pelan sambil menarik tangan Dimas menjauh dari toilet itu untuk sementara. "Permisi... saya pinjam orang ini dulu sebentar" ucap Aren dengan bahasa Perancis yang fasih.
"Hei, kamu sedang mengatakan apa?" tanya Dimas heran karena tidak bisa berbahasa Perancis.
Aren menghentikan langkah Dimas dengan menyenderkan tubuh Dimas dipojokan ruangan dalam pesawat itu. "Kenapa kamu bisa ada disini!?" seru Aren menatap Dimas dengan raut mata seperti ini menikam mangsanya.
Dimas kaget menatap ekspresi Aren dan langsung memalingkan wajahnya dari Aren. "Kan sudah aku bilang, aku akan menemui mu di Perancis, tapi saat baru sampai aku baru saja melihatmu habis check in, jadi aku mengikuti mu kembali untuk pulang ke Indonesia" jelas Dimas nampak cemberut.
"Tapi siapa yang nyuruh!? terlebih hubungan kita sudah berakhir Dimas!" seru Aren sambil membalikkan tubuhnya dan berkacak pinggang membelakangi Dimas.
"Tapi aku masih mencintaimu Ren" ucap Dimas sambil melingkarkan tangannya pada pinggang Aren.
Aren langsung menepis tangan Dimas. "Jangan bicarakan hal itu padaku lagi jika kau sudah bertunangan dengan orang lain" ucap Aren sambil melangkah pergi meninggalkan Dimas.
Dimas segera menarik tangan Aren. "Aku telah membatalkan pertunangan ku" ucap Dimas sambil menundukkan kepalanya.
Aren membelalakkan matanya menatap kaget Dimas. "Apa kau serius!? kalau begi--"
"Iya! aku sudah dikeluarkan dari perusahaan oleh papa, mungkin mereka juga telah mencoret namaku dalam kartu keluarga" jawab Dimas menyela ucapan Aren.
__ADS_1
"Dim--"
"Aku melakukan itu semua karena aku mencintaimu Ren! aku merasa hampa jika tidak ada kamu di sisiku" ucap Dimas dengan mata yang nampak berkaca-kaca.
Aren langsung memeluk erat Dimas. "Terima kasih, kamu telah membuktikan ketulusan cintamu padaku, tapi... maaf aku tidak ingin membuatmu sampai putus silahturahim dengan keluarga mu, setelah urusan ini selesai, kembali lah pada keluarga mu" jelas Aren sambil melepas pelukannya dari Aren.
"Jadi kamu sama sekali tidak menganggap perjuangan ku ini?" tanya Dimas memalingkan wajahnya dari Aren.
Aren merasa bersalah atas apa yang terjadi. "Kalau begitu... kita temui orang tuamu setelah sampai di Indonesia nanti, jika mereka masih tidak merestui hubungan aku denganmu, mari kita buat perjanjian bahwa kita bisa hidup tanpa harta dari keluarga mu. Dengan syarat tidak ada putus hubungan dalam keluarga. Tapi jika orang tuamu menolak, sepertinya kita memang tidak ditakdirkan untuk berjodoh" sambung Aren pada Dimas.
Dimas tercengang mendengar perkataan Aren, seulas senyum terukir indah di bibir manis Dimas dan Aren. "Baiklah!" angguk Dimas cepat.
"Ehm!" dehem seorang pramugari yang ada di toilet tadi sedang berada di sudut pintu ruangan Aren dan Dimas kini.
"Maaf menganggu waktu pacarannya tuan dan nona, tapi Manquer Riani tadi masih ingin mendengar penjelasan dari anda tuan" ucap Pramugari itu.
"Kak Riani masih ingin mendengar penjelasan mu, ayo kita kembali ke toilet" jelas Aren pada Dimas.
Dimas menganggukkan kepalanya dan mereka kembali ke toilet pria tempat tubuh wanita yang sudah tewas itu berada.
"Maaf sebelumnya Aren dan tuan Dimas, tapi bisa singkirkan urusan pribadi kalian untuk sejenak?" tanya Riani diangguki oleh Aren dan Dimas.
"Oke kita kembali pada keadaan yang terjadi kini. Apa anda benar-benar serius mengatakan bahwa hanya 3 pegawai dalam pesawat ini yang keluar masuk toilet tuan Dimas?" tanya Riani kembali diangguki oleh Dimas.
"Apa anda melihat wanita ini masuk toilet?" tanya Riani sambil melirik kan matanya pada tubuh wanita yang tidak lagi bernafas itu.
Dimas diam sejenak kemudian menganguk kan kepalanya "Mungkin, wanita yang memakai kaca mata hitam dan masker hitam tadi adalah dia" jawab Dimas nampak ragu.
"Hmm baik tuan, bisa sebutkan urutan keempat orang ini memasuki toilet?" tanya Riani kembali.
"Pertama saya melihat nona pramugari dengan lipstik berwarna merah ini masuk toilet, kedua saya melihat tuan pramugara yang memasuki toilet, dan ketiga saya melihat wanita yang sudah tidak bernafas ini masuk toilet, dan terakhir nona Pramugari dengan lipstik merah muda ini." jawab Dimas.
"Anda ingat kapan mereka keluar?" tanya Riani kembali.
"Hmmm kalau tidak salah nona pramugari lipstik merah berpapasan saat keluar dengan wanita yang sudah tidak bernafas ini saat masuk ke toilet, saya tidak memperhatikan jam, tapi sepertinya nona dengan lipstik merah menghabiskan waktu 2 menit di toilet, tapi setelah itu nona dengan lipstik merah ini kembali masuk ke toilet dan 1 menit kemudian langsung ke luar dengan wajah pucat. Tuan Pramugara menghabiskan waktu 5 menit di toilet dihitung sejak nona dengan lipstik merah kembali masuk, dan nona pramugari dengan lipstik merah muda menghabiskan waktu 6 menit di toilet dihitung dengan waktu saat nona lipstik merah masuk" jelas Dimas.
"Dia bisa menebak waktu dengan akurat kak" sahut Aren pada Riani.
"Benarkah itu tuan Dimas?" tanya Riani menyelidik diangguki oleh Dimas.
__ADS_1
"Baik lah nona-nona dan tuan, maaf jika ini menganggu privasi kalian, tapi demi kepentingan kasus ini, bisa tolong jelaskan apa yang kalian lakukan selama itu di toilet?" tanya Riani menginterogasi mereka bertiga.
Riani melangkah pelan ke arah Aren dan mulai berbisik pada Aren. Aren mendengar kan dengan baik dan serius bisikan Riani kemudian mengangguk kan kepalanya lalu berjalan ke arah mayat.