ERANGAN TAKDIR

ERANGAN TAKDIR
S2-CHAPTER 10


__ADS_3

Jika dia yang tidak menginginkan hubungan ini lagi... Aku ikhlas asal dia bisa bahagia dan terus tersenyum


Jika pada akhirnya kita memang tidak ditakdirkan untuk bersama


Maka biarlah semua waktu yang dulu kita habiskan berdua... Menjadi sejarah indah bahwa dulu kita pernah saling mencinta


Aku tidak akan memaksamu untuk melanjutkan ikatan ini, karena sesuatu yang dipaksakan tak akan berakhir menyenangkan _Carlson Darius


Albern membuka kembali matanya yang masih terasa berat karena sudah terbangun oleh alarm dari tubuhnya sendiri yang sudah terbiasa bangun pukul 07.20 tepat untuk jadwal sholat subuh di Perancis.


Albern melirik pada Carlson yang masih nampak tengah tertidur nyenyak dengan dengkurannya yang amat keras membuat Albern tidak nyaman tidur semalaman. Albern membangunkan Carlson agar bisa sholat subuh berjamaah.


Carlson membuka matanya dengan sepenuh tenaga, terlihat jelas dari lipatan keningnya dan ekspresi wajah serta mata bengkaknya itu, sepertinya saat mabuk semalaman dia menangis habis-habisan.


Baru kali ini Albern melihat penampilan berantakan dan hancur dari Carlson yang biasanya elegan, rapi, cool, dan selalu tersenyum setiap saat berjumpa dengan orang lain. Sepertinya Carlson benar-benar terpuruk sejak bertengkar dengan Pamela kemaren.


Mereka mengambil wudhu dan langsung shalat berjamaah berdua, Carlson yang menjadi imam shalat itu karena selain dari ilmu Carlson juga lebih berpengalaman menjadi imam masjid di Perancis daripada Albern yang faktanya baru masuk Islam beberapa tahun belakangan ini.


Seusai shalat Albern kembali melipat sajadahnya dan menunggu Carlson yang berdoa pada Allah sangat lama, entah apa yang sedang diminta pria 35 tahun yang sampai kini masih lajang itu... atau mungkin dia bisa disebut juga berondong tua.


Walau usia nya kini telah menginjak 35 tahun, bukan berarti selama ini Carlson tidak laku atau tidak populer dikalangan wanita-wanita, hanya saja laki-laki itu selalu ingin memilih untuk sendiri.


Setelah nampak Carlson beranjak dari duduknya, tanpa basa-basi Albern langsung menanyai maksud pesan yang dikirimkan Carlson tadi padanya "apa maksud kau bahwa pernikahan kalian dibatalkan?"


Carlson yang tadi melipat kain sarungnya menatap Albern dan menyunggingkan senyuman "itu berarti aku tidak akan jadi menikah"


"Kenapa!?"


Carlson menggelengkan kepalanya "entahlah... tiba-tiba saja karena kesalahpahaman itu Pamela meminta pernikahan kita dibatalkan"


"Kesalahpahaman?" tanya Albern dengan salah satu alisnya yang nampak naik.


Carlson menatap jam dinding di kamarnya "bukankah hari ini jadwal kamu presentasi dengan kampus Oxford Inggris? ini sudah hampir pukul 08.00 Albern"


Albern tersentak mendengar ucapan Carlson, dia baru ingat alasannya kembali dengan cepat saat di tempat perkemahan itu agar bisa menghadiri presentasi dengan tempat mengajar lamanya di Oxford University.


"Maaf Carlson... aku tidak bisa mendengar penjelasan mu dulu saat ini, setelah semuanya selesai aku akan kembali! jangan coba-coba minum alkohol!" seru Albern sambil turun cepat dari tangga.


Carlson tersenyum dengan raut matanya yang sayu menatap Albern yang turun cepat melompati tangga-tangga itu "maaf Albern... untuk saat ini aku tidak akan kembali kesini"


gumam Carlson sambil menutup kembali pintu rumahnya.


***


Hari ini masih dalam hitungan hari cuti untuk Riani, namun karena tidak ada lagi hal yang perlu dilakukannya Riani memutuskan untuk kembali bekerja dan menuju Firma Confiance sekaligus melihat bagaimana keadaan manquer Pamela sekarang setelah bertengkar dengan Carlson kemaren.


Riani naik taxi sampai ke depan gerbang firma dan melangkah masuk diiringi sapaan oleh satpam firma, Riani membalas sapaan mereka dengan sedikit basa basi tentang makanan, cemilan, dan tentang keadaan kesehatan dan keluarga satpam oleh karena itu Riani dikenal akrab oleh setiap orang yang ada di lingkup firma karena keramah tamahannya.


Mobil merah yang tidak asing lagi bagi Riani berbelok tangkas ke parkiran dengan gesit, Riani sudah tau siapa orang yang suka bawa mobil ugal-ugalan begitu.

__ADS_1


Chloe keluar dari mobil merah itu dan melambaikan tangannya dengan penuh semangat pada Riani "hai Riani, hai Sir Tom" sapa Chloe pada Riani dan satpam shif pagi yang bernama Tom itu.


Chloe berjalan cepat ke pos satpam "ini bukannya hari cuti kamu ya ni?" tanya Chole dengan ekspresi wajahnya yang nampak bingung.


Riani menyunggingkan bibirnya tersenyum pada Chloe "ada beberapa hal yang perlu aku bicarakan dengan manquer Pamela" ucap Riani.


"Owh saat hendak keluar dari apartemen tadi aku ketemu sama manquer Pamela, dia bilang gak masuk hari ini, mau istirahat sebentar di apartemen" jelas Chloe sebelum ditanya.


"Eh... kenapa?" kaget Riani.


Chloe menaikkan kedua bahunya dengan ekspresi wajah tidak tau menahu "entahlah"


Riani kembali melirik jam tangannya "baiklah, terimakasih atas infonya Chloe, kalau begitu Riani ke apartemen dulu" ucap Riani sambil menengok kiri kanan dan mencari salah seorang dari 3 orang sopir khusus Firma.


"Monsieur Elxin dan Sir Domson sedang tidak ada di Firma untuk beberapa hari ini manquer Riani, sedangkan Monsieur Jahad sedang mengantar madam Mavey ke bandara beberapa saat yang lalu" jelas satpam yang bernama Tom itu.


Riani mengangguk paham "baiklah saya naik taxi saja sir, terimakasih" ucap Riani sebelum dipotong oleh Chloe.


"Pakai mobil aku aja dulu ni" ujar Chloe sambil menyodorkan kunci mobilnya.


Riani menatap lama Chloe seperti sedang memikirkan sesuatu "ah... tidak usah, terimakasih Chloe, aku tidak ingin saat baru pertama kali mengendarai mobil kamu langsung ditilang oleh polisi karena mobil milikmu sudah jadi buronan jalanan sebab setiap saat ugal-ugalan" ledek Riani.


Chloe cengengesan mendengar penolakan Riani.


"Ya udah... Assalamualaikum" pamit Riani sambil melangkah meninggalkan pos satpam Firma Confiance itu.


"Waalaikumsalam" jawab Chloe dan Sir Tom bersamaan.


Sopir taxi itu mengangguk dan langsung menekan pedal gas mobilnya melaju ke alamat yang dilihatnya dari Hp Riani tadi.


Riani kembali tersenyum menatap apartemen tempat nya menetap pertama kali setelah datang di Perancis, ruangan apartemen yang disinggahi Riani dulu nampak kosong namun tetap bersih, Riani masih diperbolehkan tinggal di apartemen bersama Albern, namun Albern menolak dan memutuskan tinggal bersama kami di apartemen yang telah dibeli Albern. Mau tidak mau Riani harus menuruti keinginan suaminya itu.


Riani melangkah pelan ke salah satu unit apartemen yang tidak asing lagi baginya, unit yang ini termasuk salah satu yang paling sering dikunjungi Riani.


Riani mengangkat tangannya perlahan seraya menekan sebuah tombol yang ada disisi kiri pintu.


Tak mendapat tanggapan setelah 10 kali menekan tombol bel itu, Riani memutuskan berbalik dan menunggu sementara disudut pagar pembatas Apartemen.


Tak membutuhkan waktu lama seorang wanita yang ingin dijumpai Riani keluar sambil menengadahkan kepalanya ke kanan kiri atas dan bawah.


"Assalamualaikum Manquer" salam Riani.


Manquer Pamela langsung tersentak kaget "Waalaikumsalam, Riani.... "


"Boleh Riani membahas sesuatu dengan Manquer?" tanya Riani.


Manquer Pamela melipat keningnya karena heran dengan kantong matanya yang nampak begitu tebal dan hitam "baiklah" jawab manquer Pamela sambil mempersilahkan Riani masuk.


"Apa yang ingin kamu bicarakan dengan saya Riani?" tanya manquer tanpa basa basi"

__ADS_1


Riani menatap ke sekeliling sudut ruangan manquer Pamela yang nampak dipenuhi sampah-sampah tisu.


"Maaf... jika ruangan ini membuat mu tidak nyaman, bagiamana kalau kita pindah ke belakang?" saran manquer Pamela dengan suaranya yang sedari awal memang sudah serak akibat tangisan penuhnya semalaman.


Riani menggelengkan kepalanya "tidak apa Manquer, karena tempat ini nantinya akan menjadi bukti tanpa rekayasa" jawab Riani sambil tersenyum.


Manquer Pamela memiringkan kepalanya 50 derajat, nampak heran akan perkataan Riani.


Manquer Pamela beranjak dari duduknya untuk mengambilkan minum untuk Riani. Tak butuh waktu lama Manquer Pamela kembali dengan membawa 2 gelas teh panas yang masih mengeluarkan uap di atasnya.


Manquer Pamela meniup teh itu sambil menyeduhnya pelan "Ada apa dengan anda dan sir Carlson kemaren di restoran dekat bandara xxx Manquer?" tanya Riani yang membuat Manquer Pamela memuncratkan teh yang tadi diminumnya.


"Apa maksud mu Riani? hahaha mungkin kamu salah orang" elak Manquer Pamela.


"Maaf Manquer... tapi tidak mungkin Riani salah orang, jadi... kenapa kemaren manquer bertengkar dengan sir Carlson!?" tanya Riani sekali lagi dengan raut matanya yang kini nampak tajam.


Manquer Pamela kaget melihat ekspresi Riani, manquer Pamela menghela nafasnya panjang-panjang "Riani... ada hal yang bisa kamu ikut campuri dan ada hal yang tidak bisa kamu urusi karena itu memang bukan urusanmu, apa kamu ingin cuti mu dicabut saja? dan saya akan mengirimimu ke China tentang kasus penyebaran virus Corona?" tanya Manquer Pamela.


Riani langsung menggelengkan kepalanya dan diam sejenak "sebelum itu manquer... Riani memang sudah memikirkan hal ini berkali-kali apakah Riani akan menanyai kejadian yang Riani liat kemaren atau tidak, hanya saja mengingat ekspresi muak dan sedih dari wajah Manquer, Riani berpikir mungkin Riani memang harus membantu manquer menyelesaikan semua hal itu" ujar Riani sambil menatap lama foto manquer Pamela dan Carlson yang ada di atas meja.


"Tidak ada lagi yang perlu diselesaikan Riani, karena kami sudah memutuskan untuk membatalkan pernikahan" jelas manquer Pamela.


Kini Riani tak lagi bisa mengeluarkan suaranya tiba-tiba setelah mendengar ucapan manquer Pamela tadi, tubuh Riani mematung seketika, untung saja Riani masih ingat bagaimana cara bernafas.


Manquer Pamela tersenyum mendapat respon dari Riani "Riani... kamu ingat tentang apa yang pertama kali kamu katakan saat berjumpa dengan saya?" tanya Manquer Pamela sambil menatap senyum Riani.


Riani masih diam dan manquer Pamela melanjutkan penjelasannya "Bagaimana bisa seorang wanita yang kelihatan banyak pengalaman dengan pria Playboy dan sering patah hati serta mabuk-mabukan bisa menjadi pemimpin Firma ini!? itu bukan? yang dulu kamu tanyakan padaku?" tawa Manquer Pamela.


Riani tersenyum tipis mendengar ucapan manquer Pamela "saat itu saya benar-benar kaget dan langsung down menyangkut hari diri saya Riani, malah dulu saya ingin langsung menendang mu dari hadapan saya, namun sekali lagi saya tidak bisa membiarkan orang yang memiliki bakat seperti mu tersia-siakan begitu saja" jelas Manquer Pamela.


Kini Riani membuka mulutnya untuk bicara "sekali lagi maaf... atas ucapan saya waktu itu manquer"


Manquer tersenyum tipis mendapat respon dari Riani "setelah mendengar hinaan mu waktu itu, saya berusaha mengurangi minum alkohol dan membuat desain firma ini kembali formal dan menyenangkan seperti semula, karena tiap mood saya berubah, maka saya juga akan merubah desain background ruangan firma itu" senyum tipis manquer Pamela.


"Saya sudah seringkali dekat dengan banyak lelaki tampan dan pengusaha, hanya saja lagi-lagi entah kenapa cinta itu kandas ditengah jalan begitu saja, apa mungkin saya wanita sial? hahaha mungkin saja memang begitu, seringkali setelah 2 hari menjalin hubungan saya diputuskan karena dibilang tidak sesuai dengan ekspektasi mereka, terlalu tinggi bagi mereka, terlalu baik, tidak merasa cocok, berbeda keyakinan, dan banyak alasan lainnya yang membuat saya hanya mampu menyunggingkan senyum. Sampai saya bertemu dengan laki-laki yang benar-benar saya rasa serius pada saya, laki-laki yang akan menuntun saya ke jenjang pernikahan" nampak air mata jatuh perlahan dari wajah cantik manquer Pamela yang masih awet muda seperti wanita karir berusia 26 tahun walau usia aslinya sudah menginjak 32 tahun.


"Setiap keseriusan yang dulu yang nampakkan pada pasangan saya yang dulu-dulu, selalu menjadi nilai minus di mata mereka, berbeda dengan Carlson yang menyayangi saya apa adanya" jelas manquer pamela.


Riani memegang tangan manquer Pamela "Riani tidak memiliki Indra ke-7 seperti Enne yang bisa menebak masa depan orang lain, Riani bukanlah yang maha tau, tapi setidaknya bagi Riani... apa yang Riani liat dan rasakan selama ini, bahwa manquer Pamela dan sir Carlson kalian memang saling mencintai, kalau boleh Riani tau.. apa yang menjadi alasan kalian memutuskan menbatalkan pernikahan yang hendak di laksanakan 4 hari lagi?" tanya Riani.


Manquer Pamela mengalihkan pandangannya dari Riani "mungkin faktanya... aku lah yang memutuskan untuk membatalkan pernikahan itu sepihak" ucap manquer pamela.


Riani tau kondisi itu dan memilih diam.


"Aku sudah terlampau muak dan bosan menahan kecemburuan ku setiap saat melihat Carlson yang terus-terusan jalan bersama wanita-wanita cantik yang lebih muda dan lebih seksi, namun aku juga bisa memikirkan bahwa itu hanya salah seorang teman wanitanya yang juga dosen di kampus yang sama, atau murid-muridnya. Aku bisa menerima semuanya itu Riani, tapi... saat lusa kemaren aku mengunjungi kampusnya, aku secara langsung melihat Carlson dan seorang wanita berciuman di mobilnya. bagaimana bisa aku tetap melanjutkan pernikahan setelah melihat langsung hal itu!?" kesal manquer Pamela.


"Apa benar orang itu memang sir Carlson?" tanya Riani memastikan.


"Bagaimana mungkin itu bukan dia! aku melihat jelas plat mobilnya, pakaian yang dipakainya tadi pagi! mahasiswa bimbingan yang hendak dibawanya ke perusahaan untuk interview magang nya! mana mungkin aku salah Riani!?" seru Manquer Pamela yang perlahan air matanya kembali jatuh membasuh pipinya.

__ADS_1


Riani merasa bersalah karena kembali mengingat kan manquer Pamela pada hal yang tak ingin diingatnya itu.


__ADS_2