
Dalam satu perkumpulan yang sama
Kita telah saling mengenal dekat
Tapi jika pada akhirnya salah seorang diantara kita harus pergi
Maka mari bersama-sama kita buat kenangan indah... kenangan yang berbeda dari ekspetasi yang pernah kita jumpai
Karena perjumpaan adalah langkah awal dari suatu perpisahan
Terimakasih karena pernah saling melengkapi
Terimakasih atas semua waktu dan rasa yang pernah ada
Karena kamipun juga tak akan bisa menghentikan keinginan kuat mu yang sudah kau putuskan dari lama
Sekali lagi terimakasih...
Karena engkau juga orang yang membuat kami bisa berada disini
Sebelas orang yang berkumpul di meja yang sama itu saling menyantap makanan mereka.
Langkah kaki seorang wanita tua terdengar jelas menuju meja makan kesebelasan anggota firma Confiance. Wanita paruh baya itu menyunggingkan senyumnya menatap mereka.
Tak banyak yang tersentak kaget melihat wanita paruh baya itu kembali berjalan ke arah meja. Manquer Elis yang memang biasanya ramah namun tak pernah memberi hormat yang sebegitu tingginya pada orang lain Kini malah membungkukkan tubuhnya pada wanita itu, diikuti oleh madam Mavey dan Cammy yang biasanya selalu meninggi.
Begitupun dengan anggota lainnya seperti madam Acrel dan manquer Drena yang ikut memberi hormat pada wanita paruh baya tadi. sedangkan yang lainnya hanya menatap heran sambil ikut memberi hormat wanita paruh baya itu yang bahkan sama sekali tidak mereka kenal.
Wanita paruh baya yang sedang diiringi oleh seorang wanita cantik dengan pakaian suster yang dikenakanya itu tersenyum menatap mereka.
"Apa kabar madam Asila" sapa madam Acrel.
Tak sedikit yang terkejut mendengar panggilan yang dilontarkan madam Arcel pada wanita paruh baya tadi, wanita paruh baya yang bernama Asila itu lagi-lagi kembali tersenyum.
"Alhamdulillah kabarku masih baik Arcel, omong-omong sudah lama aku tidak melihatmu" ucap wanita paruh baya tadi dengan suaranya yang masih lantang walau sudah banyak keriput di kulit putihnya itu.
"Lain kali saya akan sering kembali mengunjungi anda madam Asila" jawab madam Arcel.
Wanita itu tersenyum tipis "sudahlah Arcel... saya sudah tua dan bau tanah, kamu hanya perlu memikirkan pekerjaan mu demi saya" ucap madam Asila.
"Madam... " bisik Chloe pelan sambil meletakkan sebuah kursi dibelakang wanita paruh baya itu.
"Terimakasih, kamu sangat tau saya sudah sangat renta" senyum madam Asila.
"Maaf madam, saya tidak bermaksud menyinggung" ucap Chloe pelan.
"Hahaha tidak masalah, kalau saya tidak salah ingat, apa kamu yang bernama Chloe itu?" tanya madam Asila.
Chloe menganguk dengan wajah bahagia "benar sekali madam, saya merasa tersanjung bahwa madam tau siapa saya"
"Hahaha, bagaimana bisa aku melupakan data rusak mu yang dikirimkan oleh Pamela dulu padaku" tawa madam Asila.
Chloe tau bahwa ada data tentang dirinya yang tidak baik saat sekolah dulu yang diusut langsung saat wawancara nya pertama kali di firma Confiance, Chloe hanya tertawa cengengesan mendengar ucapan Madam Asila, dan tidak hanya itu, hari ini juga pertama kali Chloe bertatap langsung dengan wanita itu yang bahkan wajahnya sendiri tak diketahui oleh Chloe sampai dengan madam Arcel menyebut nama wanita paruh baya itu.
__ADS_1
Yang lainnya hanya diam, bukan karena tidak menerima kedatangan wanita paruh baya yang menganggu waktu mereka, hanya saja banyak dari mereka yang tercengang menatap anak penasehat terbaik dari firma Confiance ini dari awal firma ini didirikan, mereka menatap kagum wanita paruh baya itu .
"Hei... bisa kalian berhenti melihat ku seperti itu? aku merasa sampai merinding merasakan tatapan kalian" ucap madam Asila pelan.
Riani dan yang lainnya tersadar dari tingkah mereka "maafkan kami madam" sahut mereka bersamaan.
"Hahaha tidak apa-apa" tawa madam Asila.
"Omong-omong apa tidak masalah jika anda pergi keluar madam?" tanya madam Mavey.
"Tidak apa-apa Mavey, demi menyaksikan pemandangan langka ini aku rela meninggalkan rumah sakit, lagian tidak ada yang perlu aku obati lagi disana, aku sudah hampir tutup usia" jelas madam Asila.
"Tolong jangan mengucapkan kata-kata seperti madam!" tegas Cammy.
"Mulutmu memang selalu tidak bisa dikontrol sama mengobrol dengan yang lebih tua ya Cammy" ledek madam Asila.
Cammy mendesis sebal mendengar gurauan wanita paruh baya itu.
Pamela yang digandeng oleh Carlson berjalan cepat ke arah mereka "Assalamualaikum madam" sapa Manquer Pamela sambil menyalami madam Asila, diikuti oleh Carlson.
"Waalaikumsalam, selamat atas pernikahan kalian" ucap madam Asila.
"Terimakasih madam, dan terimakasih telah menyempatkan hadir di acara kami" ucap manquer Pamela.
"Bagaimana mungkin aku tidak hadir ke pesta sakral ini?" canda madam Asila yang tak menduga bahwa manquer Pamela juga bisa menikah.
"Ahahaha bercanda madam sepertinya terlalu keterlaluan untuk Pamela" tawa balik manquer Pamela.
Carlson pamit menyapa teman-teman kampusnya dulu pada Pamela dan yang lainnya, karena Carlson juga tak ingin menganggu waktu me time wanita-wanita itu.
"Sebenarnya Pamela masih tak enak untuk membahasnya di acara ini madam" ucap Manquer Pamela tiba-tiba.
"Justru saya yang sebenarnya tak enak mengangu acara mu ini Pamela" ucap madam Asila.
"Kalau untuk itu tidak apa apa madam, tamu sore ini juga sudah pada pulang, dan... ada sesuatu yang ingin saya bahas hari ini juga pada kalian semua" ucap Manquer Pamela sambil menatap yang lainnya satu persatu.
"Dan saya harap... kalian tidak kecewa akan keputusan yang saya ambil ini" lanjut manquer Pamela.
"Apa itu manquer?" tanya Violette heran.
Manquer Pamela menghela nafasnya panjang-panjang "saya mengundurkan diri dari pimpinan firma Confiance"
Semua orang yang berada dalam satu meja itu terkejut dan diam seribu bahasa. Berbeda dengan Riani yang terkejut dalam artian lain, Riani hanya tidak menyangka bahwa ucapan Manquer Pamela saat itu benar adanya dan bukanlah sebuah candaan.
Manquer Pamela sudah menduga akan hal itu "Dan saya benar-benar berharap lebih bahwa madam Asila selaku penasehat dari Firma Confiance ada disini hari ini, dengan berakhirnya posisi saya sebagai pimpinan firma, dan dengan rasa sedih, lega dan berat hati saya mengundurkan diri dari jabatan saya dan saya memutuskan untuk memantau jalan firma ini, saya tidak sepenuhnya keluar, tapi saya akan melepas status saya sebagai pengacara dan ikut menjadi penasehat dari firma yang saya miliki sendiri, saya harap kalian semua bisa menerima keputusan saya" jelas manquer Pamela.
Semua orang dalam ruangan itu menatap satu sama lain "Pamela sudah berjanji pada ayahnya dulu sebelum meninggal, bahwa setelah dia menemukan jalan hidupnya yang sesungguhnya maka dia akan menjadi penasehat terbaik dari firma yang dibangun dan diperjuangkan oleh keluarganya sendiri. Teman dari ayah Pamela yang tidak lain adalah bapak saya sendiri, sudah lama menjadi penasehat firma ini, hanya saja tidak sehebat apa yang bisa dilakukan oleh ayah Pamela yang memegang kendali semuanya. Dan terlebih umur dan pikiran saya tak lagi setajam dan secermat kalian, bagaimana mungkin saya untuk tetap jadi penasehat disini?" jelas Madam Asila.
Semuanya terdiam dan menatap satu sama lain "jadi siapa yang akan menggantikan posisi mu Pamela? apa manquer Elis yang akan naik jabatan?" tanya madam Mavey pada Manquer Pamela.
"Awalnya aku berpikir seperti itu madam, hanya saja aku ingin yang memegang posisi ku saat ini yang lebih muda dan punya kompeten besar, jadi oleh karena itu mumpung kita ada disini bersama, aku ingin mendiskusikan hal itu" jelas manquer Pamela.
Mereka kembali menatap satu sama lain, dan seketika pandangan banyak tertuju pada Violette dan Riani. Violette sadar akan tatapan orang-orang padanya "maaf semuanya... sebelum nya aku hanya ingin mengatakan bahwa aku tak bisa mengambil alih posisi manquer Pamela, ada 2 orang anak kecil yang aku urus, sedangkan Iven bekerja tiap malam di rumah sakit, bagaimana pun aku ingin asuhan dan pendidikan terbaik untuk kedua anak kami, jadi aku menolak" jelas Violette terus terang.
__ADS_1
Sebenarnya Violette adalah kandidat atau orang paling tepat untuk mengisi kursi pimpinan, selain karena kerja Violette yang tak perlu lagi untuk diragukan, Violette juga adik ipar dari manquer Pamela, Violette sudah termasuk keluarga besar bagi manquer Pamela sejak dia menikah dengan Iven, adik kandung dari manquer Pamela.
Namun alasan Violette juga tidak bisa disanggah oleh anggota lainnya.
Manquer Pamela melirik ke arah Riani, diikuti oleh yang lainnya.
"Eh... maaf semua, Riani tidak bisa" ucap Riani.
"Kenapa?" tanya Manquer Pamela.
"Riani takut tidak bisa memegang tanggung jawab" jawab Riani cemas.
Manquer Pamela tersenyum tipis "itu bukan sesuatu yang perlu kamu khawatir kan Riani, jadi Riani, apa kamu ingin memimpin firma ini? menjadi panutan terpenting dalam firma? dan juga sudah menjadi tugas kamu nantinya untuk mencari satu lagi anggota baru firma yang akan menggantikan posisi mu?" tanya langsung manquer Pamela.
"Ehhhh!?" kaget Riani.
Semuanya tersenyum dengan menaruh harapan besar pada wanita yang kini duduk terheran dan seperti menjadi sasaran tembak dari semua mata yang berada di meja itu menatapnya.
Riani menarik nafas lelahnya "baiklah... Riani akan berusaha menjalankan amanah ini dengan baik" ucap Riani.
Semuanya ikut tersenyum puas mendengar jawaban Riani.
"Baiklah semua! hari ini juga... tanpa upacara pelepasan atau penyambut jabatan, saya Pamela Oswald mengundurkan diri dari posisi ketua firma, dan dengan senang hati berdasarkan kesepakatan kita bersama! Riani Putri akan menjadi pemimpin baru kita!" tegas manquer Pamela.
Di pesta pernikahan yang mereka jadikan tempat rapat itu memang sudah sepi karena para tamu undangan sudah banyak yang pulang, meja yang diisi oleh banyak orang itu kembali berisik meriah dengan tepuk tangan dan senyuman bahagia.
Selesai diskusi sementara lagi, Manquer Pamela kembali ke sisi Carlson, diikuti oleh madam Asila yang sudah terlanjur kelelahan dan dibantu oleh susternya untuk kembali ke mobil.
Riani mengambil teleponnya untuk menelpon Albern, namun sebelum Riani memulai panggilan Albern sudah ada dibelakang Riani sambil menepuk bahu Riani.
Riani kaget dan menoleh cepat kebelakang.
Albern tersenyum puas mendapat reaksi cemas istrinya itu.
"Hah... aku pikir siapa" lelah Riani.
"Selamat ketua" senyum Albern.
"Eh... kamu tau darimana!?" kaget Riani.
"R A H A S I A"
Riani cemberut mendengar jawaban Albern.
Carlson dan manquer Pamela berjalan mendekat ke arah mereka.
"Hai Albern, sepertinya waktu berduaan dengan istrimu akan semakin tipis" ledek Manquer pamela.
"Coba saja jika kamu menyuruhnya melakukan tugas banyak, akan ku renggut suamimu" ancam Albern.
"Hahaha aku tidak ada hak lagi untuk menyuruh Riani, karena semua tugas akan dikerjakan oleh Riani, dan pastinya itu akan menghabiskan waktu Riani 2 kali lipat dari biasanya" jelas manquer Pamela.
Albern kaget tidak percaya bahwa akan segitunya "Riani... bisa kamu tolak kembali posisi ketua itu?" pinta Albern cemas.
__ADS_1
Riani tertawa kecil melihat ekspresi cemas suaminya itu "tidak" jawab Riani singkat.