
Malam berganti pagi dengan cepat, bulan kembali ke posisinya setelah diputari bumi yang kini berjumpa dengan matahari.
"Ayo kak! ayo Alisya!" ajak Aisyah.
"Gak apa-apa nih Syah ninggalin kantormu?" tanya Riani.
"Hahaha gak apa-apa kok kak, lagian Aisyah tadi udah minta izin datang telat" jawab Aisyah.
Riani mengangguk paham "baiklah ayo"
Mobil yang dikendarai Aisyah membelah jalanan yang dipenuhi dengan kemacetan, Aisyah mengambil jalan timur agar cepat sampai di kantor nya mas Wawan, agen penjual rumah yang tidak lain adalah sepupu Andi.
Mobil berhenti disalah satu bangunan yang tidak terlalu besar.
"Assalamualaikum mas Wawan" sapa Aisyah.
"Waalaikumsalam, eh Aisyah dan Riani ya, mau beli rumah?" tanya mas Wawan.
"Hahaha Assalamualaikum mas Wawan, iya nih teman aku mau cari rumah" jelas Riani sambil menoleh ke Alisya yang masih sibuk dengan HP-nya.
"Waalaikumsalam Riani, teman kamu mau tipe rumah kayak apa?" tanya Mas Wawan.
Riani menyenggol tangan Alisya yang sedari tadi sibuk sama HP-nya, namun Alisya tidak menghiraukan Riani dia terus fokus pada layar HP-nya dengan tatapan tegang.
Selamat Pagi, bertemu kembali dengan saya Wulan Egiana di HOT NEWS, pagi ini kita dihampiri oleh kabar duka, Gubernur kota xx baru saja menghembuskan nafas terakhirnya di rumah sakit Hijau Asri tepat pada pukul 02.00 tadi, penyebab kematian korban masih sedang diselidiki, namun diduga korban meninggal karena karacunan sianida
Riani langsung syok mendengar berita yang muncul di layar TV mas Wawan itu, Riani kembali menoleh ke arah Alisya yang masih berdiri dengan tatapan kosong ke layar HP-nya.
"Syah! bisa kakak minta tolong ke kamu?" tanya Riani.
"Ada apa kak?" tanya Aisyah nampak bingung karena tidak tau apa-apa.
"Syah... tolong kamu saja yang urus pembelian rumah seperti yang kakak rincikan kemaren, untuk biaya tidak perlu khawatir, dan maaf kakak dan Alisya harus pergi dulu" ucap Riani cemas sambil memberhentikan salah satu taxi yang tepat waktu untuk lewat di depan jalan itu.
"Owh baik kak" jawab Aisyah yang masih kebingungan.
"Assalamualaikum" pamit Riani sambil merangkul Alisya.
"Waalaikumsalam" jawab Aisyah dan mas Wawan bersamaan.
__ADS_1
Riani langsung memberhentikan taxi yang lewat di depan kantor agen mas Wawan itu.
"Kantor polisi Jalan Danau Diah Pak" ucap Riani pada supir Taxi.
Alisya sedari tadi masih terdiam, tatapannya kini seolah nampak kosong. Wanita yang biasanya selalu menatap sinis orang lain itu kini seolah raut matanya nampak sayu.
"Apa yang kini sedang kamu pikirkan? rasa menyesal karena belum sempat balas dendam? atau rasa kasihan dan kehilangan?" tanya Riani yang melihat Alisya masih terdiam dari tadi.
Aisyah menoleh ke arah Riani "entahlah... aku sekarang hanya merasa hal ini masih terlalu cepat" jawab Alisya.
"Bagaimana pendapatmu tentang kematian beliau?" tanya Riani kembali.
Alisya menggelengkan kepalanya "aku tidak tau akan hal ini, namun pa-- maksud ku laki-laki itu punya banyak musuh selama dia masih menjabat sampai sekarang ini" jelas Alisya.
"Tapi bukanlah tahun ini jabatannya akan berakhir? jadi siapa lawannya yang mau melakukan tindakan merugikan itu?" tanya Riani menyelidik.
Alisya kembali menggelengkan kepalanya "Aku tidak tau cara main dalam politik, tapi setidaknya aku berpikir tentang ******* itu!"
"Mama tirimu?"
Alisya kembali menggelengkan kepalanya "sampai kiamat pun tak akan pernah ku akui ******* itu!"
***
"Kita tidak ada izin atau Visa, apa boleh kita masuk dan meminta untuk menyelidiki kasus ini?" tanya Alisya nampak cemas.
"Tenang saja, kita punya kartu As" jawab Riani tersenyum lebar.
"Kartu As?" heran Alisya.
"Kamu" jawab Riani sambil menunjuk Alisya.
"Eh!?" kaget Alisya.
"Dengan kamu mengatakan bahwa kamu adalah anak kandung dari beliau, mungkin para polisi akan mengizinkan kita untuk masuk" jelas Riani.
Alisya terdiam sejenak kemudian menggelengkan kepalanya "itu mustahil, walau aku anak nya pun, namun semua orang tau aku dan mak tidak ada hubungan lagi dengan pa-- maksud ku dengan laki-laki itu! terlebih kakak tau mobil itu? haha aku jamin aku tidak akan di perbolehkan untuk masuk" tawa Alisya setelah melihat mobil sport merah yang terpakirkan di kantor polisi itu.
"Jangan bilang itu mobil mama tirimu?" tanya Riani.
__ADS_1
"Sudah aku bilang bukan? aku sama sekali tidak punya mama tiri, itu mobil si *******" tegas Alisya.
Riani tersenyum tipis melihat Alisya, sepertinya Alisya sudah nampak baik-baik saja dan sudah mampu menerima kenyataan yang ada.
"Mau coba masuk?" tanya Riani.
"Eh...? bukankah sudah aku bilang tidak akan bisa?" tanya Alisya.
"Kita punya kartu nama bukan? aku pikir kita bisa memanfaatkan kartu nama itu" jelas Riani.
Alisya kembali diam sejenak kemudian mengangguk paham.
"Halo pak! bisa saya berbicara dengan pimpinan anda?" tanya Riani pada salah seorang polisi yang berjaga. Sekilas ekspresi dari wajah polisi itu nampak sedikit terkejut.
"Sebelum itu apa ada sesuatu yang penting? atau apakah adek sudah membuat janji penting dengan komandan?" tanya bapak polisi itu.
Riani menggelengkan kepalanya sambil tersenyum tipis "kebetulan orang penting yang sedang kalian selidiki kasus kematiannya itu adalah kerabat dan kenalan saya, jadi saya ingin membantu" jelas Riani.
"Kalau begitu maaf dek, beliau adalah orang penting, kami tidak bisa membiarkan adek dan teman adek masuk sembarangan begitu saja jika tidak ada izin dan bukti" jelas pak polisi itu.
"Kalau begitu kami boleh masuk dengan status sebagai pengacara pak? kebetulan saya dari firma ini" jelas Riani sambil menunjukkan kartu namanya pada pak polisi itu.
Pak polisi itu mengambil kaca matanya yang ada di atas meja dan memasangkan di wajahnya sambil menatap fokus kartu nama yang diberikan Riani.
"Wah ternyata adek dari firma Confiance yang terkenal itu ya! tapi sekali lagi mohon maaf dek, ini kasus pemimpin kota kami, ini kasus internal kami, walau adek orang dalam negri sekalipun, namun sudah jadi komitmen kami untuk meminta pengacara dalam negri yang akan menyelesaikan kasus ini" jelas Pak polisi itu sekali lagi.
"Tapi pak--"
"Maaf dek, komandan dan istri almarhum juga sudah menyewa pengacara terbaik dalam negri ini" ungkap pak polisi itu.
"Kalau boleh saya tau, namanya siapa pak?" tanya Riani penasaran.
"Hei Riani!"
Teriakan suara seorang wanita itu mengejutkan Riani, refleks Riani dan Alisya langsung menoleh kebelakang, pak polisi juga ikut nampak kaget setelah mendengar teriakan wanita itu.
///
Mavey Secioria
__ADS_1
Masih ingat dengan wanita bernama Mavey ini? iya! wanita yang akrab disapa dengan madam Mavey adalah salah seorang anggota lama firma confiance, bahkan sebelum Pamela Oswald menjadi ketua pimpinan firma, wanita yang akrab disapa dengan panggilan madam Mavey ini sudah lebih dulu bekerja dengan orang tua laki-laki Pamela Oswald.
Dia anggota firma yang juga sangat dihormati oleh anggota-anggota lainnya, dari yang muda bahkan sampai yang sepantaran.