
Ada hati yang selama ini aku jaga
Ada perasaan yang bisa membuat aku mengorbankan segalanya
Namun ada pula... perasaan yang membuat aku memilih untuk mundur, meski itu... hanya sementara saja
Aren menghempaskan tubuhnya ke kursi sambil menghela panjang nafasnya.
"Eh mana Dimas, Aren?" tanya Riani penasaran.
Aren menunjuk ke kursi disebelah kanan bagian belakang, berbanding arah dengan tempat duduk mereka.
"Tunggu ya..." ucap Riani sambil membawa tas kecilnya dan berjalan ke tempat Dimas.
"Mau tukaran tempat duduk gak?" tanya Riani sambil menyunggingkan senyumnya pada Dimas.
"Eh boleh kak!?" kaget Dimas nampak senang.
Riani menganggukkan kepalanya mengiyakan.
"Kalau begitu terima kasih ya kak!" ucap Dimas sambil mempercepat langkahnya ke arah Aren yang nampak lelah sambil menyandarkan kepalanya ke kursi pesawat dan menutup matanya.
"Aren..." panggil Dimas nampak ragu.
"Eh? kamu ngapain disini? kok kak Riani disana?" tanya Aren heran sambil melirik ke arah Riani yang duduk di kursi Dimas sedang menutupi matanya dengan kaca mata hitam dan wajahnya dengan masker berwarna hijau muda.
"Kami pindah tempat duduk, bisa kamu geser ke dalam? atau aku saja yang masuk?" tanya Dimas sambil menyunggingkan senyum manisnya pada Aren.
"Owh biar aku saja yang masuk" jawab Aren sambil bergeser dari duduknya ke sudut dekat kaca pesawat. Aren meletakkan sikunya dibagian berlebih bawah kaca pesawat, memandangi pemandangan dari balik kaca itu yang hanya ada awan-awan berwarna putih seperti kabut.
"Aren, jadi hubungan kita tetap akan baik-baik saja kan?" tanya Dimas memulai pembahasan.
"Tergantung" jawab Aren yang masih memandangi pemandangan di balik kaca pesawat itu.
"Eh?" heran Dimas.
"Ya tergantung seperti yang aku bilang tadi, kita harus membuat kesepakatan dengan orang tua mu, jika ditolak ya kita bye!" jelas Aren.
"Apa memang harus mendapatkan persetujuan dari orang tua ku? bukankah itu mustahil?" tanya Dimas khawatir.
"Hei! jangan pesimis begitu, jika kita memang ditakdirkan oleh Allah untuk berjodoh, semuanya pasti akan berjalan lancar, karena tidak akan ada artinya pernikahan tanpa restu dari kedua orang tua, kamu paham kan? dan terlebih... jika benar kita tidak di takdir kan untuk berjodoh, kita masih bisa akrab kok, dalam artian teman" sambung Aren sambil tersenyum lebar memperlihatkan deretan gigi putih nya yang rapi pada Dimas.
Wajah Dimas langsung memerah melihat Aren, Dimas memalingkan wajahnya segera agar tidak ketahuan oleh Aren.
"Cie yang malu" ledek Aren sambil tertawa kecil dan menyikut lengan Dimas.
Dimas tersenyum begitu menawan pada Aren sambil membelai lembut pipi Aren dengan sentuhan tangannya yang hangat.
Aren langsung menepis tangan Dimas "Gak muhrim! hahaha" tegas Aren sambil tertawa kecil. "Oh iya Dimas, kamu dapat uang penerbangan ke Indonesia-Perancis dan Perancis-Indonesia dari mana? gak mungkin minjem teman kan uang sebanyak itu?" tanya Aren penasaran.
"Owh itu uang tabungan aku dari kecil kok, sekarang sisa 1 juta lagi" jawab Aren sambil mengusap-usap tangannya yang terasa sakit karena ditepis dengan keras oleh Aren tadi.
"Eh? jadi kamu punya uang sebanyak itu? kenapa gak buka usaha sendiri aja sih? kenapa harus ke Perancis dengan sia-sia segala!?" bisik Aren kesal.
"Kata siapa sia-sia? tujuan aku hanya satu kok, bertemu langsung dengan mu, kamu tau aku sangat merindukanmu. Aku rela berjuang dari nol lagi demi kamu" ucap Dimas sambil menyunggingkan bibirnya tersenyum lebar pada Aren.
"Tapi Dim--"
__ADS_1
"Stt.. gak perlu dibahas lagi kan? semua nya juga udah terjadi. Kamu mau kan membantu aku berjuang dari nol?" tanya Dimas sambil menatap sayu Aren.
"Tergantung" jawab Aren mendengus sebal sambil berkacak pinggang.
"Eh!? kok gitu lagi sih?" tanya Dimas cemas.
"Kan udah aku bilang, tergantung orang tua mu restuin apa tidak, jika enggak ya kamu berjuang sendiri sama sama tunangan mu" jelas Aren.
Riani yang sedari tadi menatap mereka dari balik kaca mata hitam nya, mulai menurunkan kacamata nya sampai ke hidung "Hah... ada-ada saja ABG jaman sekarang ya" gumam Riani sambil memasang kembali kacamata nya.
Cast Back to Alisya
Alisya menatap jam di layar HP nya yang sudah menunjukkan pukul 7.30 malam.
"Tu orang katanya mau jemput, tapi kok gak datang-datang ya?" gumam Alisya sambil terus menatap ujung jalan.
Sebuah mobil sport putih mengalahi terang nya lampu jalanan kini telah berhenti tepat di depan Alisya.
"Aduh maaf Sya, tadi tolnya tumben-tumbenan macet" ucap Nanun merasa bersalah pada Alisya lalu langsung keluar dari mobilnya dan membukakan pintu untuk Alisya.
"Ayo masuk Sya" ucap Nanun diangguki oleh Alisya.
"Terima kasih ya Sya, sudah menerima tawaran aku" ucap Nanun.
"Ya sama-sama, lagian aku juga suka kok" ucap Alisya sambil terus fokus pada HP-nya.
"Eh? suka apanya?" tanya Nanun terdengar canggung.
"Suka ditraktir lah? emang apaan?" tanya Alisya kembali.
Nanun menghela nafasnya nampak lemas sekaligus pasrah.
"Kenapa? mau daftar jadi calon suami aku? tapi maaf kak... aku udah punya pacar" canda Alisya.
"Eh sejak kapan? siapa?" tanya Nanun nampak khawatir dan cemas. Matanya tak lagi fokus ke jalan untuk menyetir.
"Eh kak fokus dong! entar terjadi apa-apa!" seru Alisya cemas.
"Eh maaf" ucap Nanun.
"Kalau kakak pengen tau banget, jadi gini... kriteria cowok idaman aku tuh, tinggi, rajin, baik, Sholeh, rajin menabung, sayang sama orang tua, ganteng, pintar, mau menerima aku apa adanya, kaya raya, dan rajin bersedekah" jelas Alisya sambil menahan tawanya.
"Lah, Sya? itu kamu mau cari calon suami apa cari model? ustad? atau Milioner?" tanya Nanun.
"Hahaha bercanda kok kak, intinya laki-laki itu mau membina aku dengan baik, menerima segela kekurangan dan kelebihan aku" sambung Alisya.
Nanun diam sejenak, masih fokus menyetir.
"Jadi... kakak mau daftar?" canda Alisya.
"Mau" jawab Nanun yang langsung membuat Alisya terdiam.
"Kok jadi diam Sya?" tanya Nanun penasaran.
"Eh gak, eh maksud nya ini ada berita terbaru tentang remaja yang bunuh anak kecil" jawab Alisya terdengar mengibul.
"Masa sih!?" kaget Nanun.
__ADS_1
"Iya, tapi sekarang kayaknya gak trending lagi deh" jawab Alisya.
"Kok bisa gitu sih?" tanya Nanun.
"Entahlah, mungkin karena keseringan liat sosmed, nonton di internet, atau faktor-faktor lain apa, karena kan seseorang gak mungkin bisa ngelakuin sesuatu tanpa ada pemicu nya kan?" tanya balik Alisya.
"Hmm... iya juga sih" angguk Nanun.
Mereka adalah disebuah restoran mewah, Alisya dan Nanun langsung menginjakkan kaki mereka ke lantai ke dua restoran.
"Kamu pesan apa Sya?" tanya Nanun.
"Samaan aja sama yang kakak pesan" jawab Alisya.
"Eh, entar gak en--"
"Aku bisa makan semuanya kok, kecuali kotoran dan batu" sela Alisya.
"Owh baiklah" angguk Nanun sambil menunjuk menu pesannya pada pelayan wanita yang tengah berdiri dimeja mereka saat ini.
"Sya..." gumam Nanun.
"Ya apa kak?" tanya Alisya yang masih fokus pada HP-nya.
"Bisa simpan HP-nya sebentar? kita mau makan bukan?" tanya Nanun sambil tersenyum tipis.
"Owh baiklah" ucap Alisya sambil mengedepankan tas sandang kecilnya lalu menyimpan HP ke dalam tasnya itu.
"Kakak ad maksud lain selain mentraktir karena balas budi di agensi kemaren?" tanya Alisya.
"Banyak, tapi yang paling penting aku ingin dekat dengan kamu" jawab Nanun terus terang.
Tiba-tiba Alisya menundukkan pandangannya nampak sedih. "Maaf kak, aku gak bermaksud menyakiti kakak apa gimana, tapi... lebih baik kakak memilih wanita yang lain selain aku" ucap Alisya terdengar lirih.
"Eh.. tapi Sy--"
"Sudah kak! aku takut kakak kecewa jika tau siapa aku sebenarnya!" seru Alisya nampak menahan air matanya.
Nanun langsung tercengang, mulutnya tak mampu mengeluarkan kata-kata saat melihat Alisya hampir mengeluarkan air matanya.
"Sya... kenapa?" tanya Nanun menguatkan dirinya.
"Karena aku... Laki-laki kak" jawab Alisya.
"Ha!?" kaget Nanun heran.
"Hahaha aku bercanda doang kok, gimana akting ku? bagus bukan?" tanya Alisya sambil menahan perutnya karena tertawa habis-habisan.
Untung saja pengunjung di lantai 2 itu hanya 4 orang yang menatap heran ke arah mereka, karena duduk mereka di ruangan lantai 2 yang sangat luas itu juga jauh.
"Hah... aku sampai lupa kalau dulu itu kamu aktris Sya" keluh Nanun sambil menatap makanan yang sudah ada dihadapan mereka.
***
"Terima kasih atas waktu nya hari ini kak!" ucap Alisya sambil membungkukkan badannya.
"Tidak perlu Formal begitu Sya, kalau gitu aku juga ingin mengucapkan terima kasih kembali" jawab Nanun sambil menyunggingkan bibirnya tersenyum tipis.
__ADS_1
"Kalau begitu sampai jumpa ya kak!" seru Alisya sambil melambai kan tangannya pada Nanun dan segara masuk ke dalam rumah.
Alisya menghempas kan tubuhnya ke kasur sambil mengingat kembali kejadian di restoran, Alisya tersenyum tipis sambil menatapi langit-langit kamarnya itu. "Hahahah ekspresi kak Nanun yang syok tadi lucu banget ya, lain kali aku kerjain ah" gumam Alisya sambil beranjak dari ranjangnya dan mulai fokus di meja belajar bersama laptopnya dengan gambaran grafik-grafik itu.