
Alisya menatap langit-langit dari balik kaca mobil yang sudah berwarna jingga, bunyi mesin kendaraan terdengar jelas dengan banyak klasonan-nya yang dimana pengendara nya ingin cepat - cepat kembali ke kediaman mereka, bertemu dengan keluarga kecil mereka yang merupakan belahan jiwa mereka sendiri, atau anak kost yang ingin segera membaringkan tubuhnya di kasur sambil menyesali keuangan yang sudah menipis.
Setelah lampu yang ada dipojok atas depan jalanan itu berubah warna dari merah ke kuning lalu ke hijau, kendaraan mulai berlomba - lomba meninggalkan lampu merah yang sudah ditunggu nya sendiri tadi.
Mobil terhenti tepat disebuah cafe yang ada dipinggiran jalan dengan desain alam hijau dan tumbuhan merambat diluar kafe yang bisa menarik minat Alisya untuk masuk ke dalam cafe.
Alisya melirik sebentar jam tangannya yang sudah menunjukkan pukul 18.00 waktu Indonesia. "Sepertinya jam untuk kunjungan si ******* itu sudah tidak ada lagi, aku rehat sejenak dulu deh" gumam Alisya sambil membaca menu yang ada dimeja yang telah ditempatinya.
Setelah memilih minuman mocha latte dan memesannya pada pelayan yang lewat disebelah Alisya tadi, dari balik kaca kafe Alisya memandangi setiap kendaraan yang lewat dengan sedikit senyuman yang terpancar dari wajah lelahnya itu.
"Jadi nostalgia ya... perasaan dulu aku pernah main memilih - milih mobil sama seorang anak kecil saat papa singgah di minimarket dulu, tapi siapa ya dia?" gumam Alisya sambil menyeduh minuman yang telah dipesannya.
Alisya kembali melirik jam tangannya dan langsung keluar dari cafe setelah membayar minumannya dimeja kasir, Mobil yang dikendarai Alisya kembali membelah jalanan yang masih ramai.
Dari depan kaca mobil Alisya melihat Nadia mamanya sedang menyirami tanaman yang belum pernah diliat Alisya sebelumnya dirumah itu.
Alisya turun dari mobil dan berjalan pelan ke arah mamanya "ma... baru beli bunga ya?" tanya Alisya diangguki dengan senyuman oleh Nadia.
"Sudah selesai semuanya?" tanya Nadia diangguki Alisya.
"Kita banyak dapat persentase harta warisan ma, untuk pembagian warisan Dina aku akan menemuinya besok di Penjara" jelas Alisya.
"Jadi Sya... kamu tidak ada niatan untuk melanjutkan perusahaan papa?" tanya Nadia mama Alisya yang membuat Alisya hampir tersedak.
"Hahaha aku sudah ada pekerjaan yang menanti setelah lulus nanti ma" jawab Alisya sambil mengaruk - garuk kepalanya yang tidak gatal itu.
"Sya... mama tau kok kamu jadi pengacara bukan karena itu keinginanmu kan? walau itu termasuk salah satu cita - citamu dari kecil dulu, tapi alasan yang menguatkan kamu untuk mengambil jurusan hukum bukanlah karena ingin membalas dendam pada papamu? dengan menarik kesalahannya mencampakkan kita dimata hukum?" tanya Nadia mama Alisya.
Alisya menundukkan pandangannya sejenak dan tetap memilih untuk diam.
__ADS_1
"Mama tau kok Sya... saat hendak kuliah dulu, kamu mengambil pilihan jurusan manajemen dibagian ke-3 bukan? walau kamu yakin dengan nilai mu yang pastinya akan mulus membuatmu masuk jurusan hukum, tapi kamu masih berharap bisa masuk dalam manajemen bukan?" tanya Nadia kembali.
"Sya... mama tau Riani sudah banyak membantu kita, kamupun tak ingin mengecewakan Riani. Jika kamu menjelasi hal ini, mama yakin Riani akan paham, kamu pun tak perlu mengambil jurusan manajemen untuk kuliah, karena mama yakin dengan kemampuanmu" sambung Nadia.
"Alisya pikirkan dulu ya ma" jawab Alisya sambil melangkah masuk ke dalam rumah.
Nadia menatap punggung Alisya yang menjauh dari hadapannya itu dengan tatapan sedih sekaligus berharap.
Alisya melempar tasnya ke arah sofa yang ada di kamarnya dan langsung mengambil handuk sambil berjalan ke kamar mandi.
Selesai mandi Alisya membuka laptop yang sedari tadi ada diatas meja, sejenak menunggu laptop loading sampai hidup Alisya menatap lampu - lampu jalanan dari balik kaca jendela kamarnya "melanjutkan perusahaan papa ya?" gumam Alisya yang kini beralih ke laptopnya yang telah selesai dari proses loadingnya tadi.
"Coba ku lihat daftar kuliah besok hanya ini... sama ini..." gumam Alisya sambil mengalihkan mouse ke mata pelajaran pilihannya "jadi pukul 07.00 besok aku harus ke kampus dulu sampai pukul 10.00, karena rumah papa masih digaris polisi jadi tak akan bisa dijual, selanjutnya aku harus menghadiri rapat saham pukul 12.00, selanjutnya pengurusan pemindahan kepemilikan perusahaan ke mama, jadi aku punya waktu 2 jam sebelum rapat untuk menemui ******* itu di penjara, ok deh" gumam Alisya sambil mematikan laptopnya dan beralih ke ranjang sambil menghempaskan tubuhnya.
Alisya menatap langit - langit kamarnya dengan tatapan kosong dan langsung menutup matanya dengan lengan tangan "semuanya sudah berakhir, tapi entah kenapa aku merasa masih ada yang belum aku selesaikan" gumam Alisya yang tersentak kaget dan langsung mengambil HP-nya yang ada di atas meja sebelah laptop tadi.
"Owh iya aku baru ingat, apa produser itu nanti benar - benar akan menghubungi ku ya?" gumam Alisya sambil membuka aplikasi chat untuk menghubungi Riani.
Selesai mengirimkan pesan Alisya kembali menghempas kan tubuhnya ke atas ranjang dan kini Alisya terfokuskan pada panggilan masuk dari nomor tidak dikenal di HP-nya.
"Wah! sepertinya dia benar - benar menghubungi ku!? padahal aku cuma bercanda, tapi gak apa - apa deh" gumam Alisya sambil menekan tombol hijau yang ada dilayar HP-nya.
"Halo" sapa Alisya dibalik telepon.
"Owh halo Alisya, ini aku Nanun" ucap Nanun dibalik telpon.
Alisya menyinggingkan bibirnya tersenyum tipis "aku tidak menyangka kamu akan benar - benar menghubungi ku loh" tawa Alisya yang terdengar jelas dari balik telepon oleh Nanun.
"Eh!?" kaget Nanun.
__ADS_1
"Omong - omong, apa kamu sibuk besok malam?" tanya Nanun.
"Hmm... besok malam sepertinya tidak" jawab Alisya.
"Mau dinner denganku?" ajak Nanun.
"Ok, lokasinya chat saja ya" jawab Alisya diiyakan oleh Nanun.
Mereka terus mengobrol hal - hal kecil lainnya sepintas tugas kuliah Alisya dan pekerjaan Nanun.
***
Cast Back to Riani
Riani menyisihkan 2 stel pakaian yang dimasukkan langsung ke dalam tas.
"Mas, nanti makan malam sudah aku siapkan ya, kamu hanya perlu menghangatkan" jelas Riani pada Albern karena Riani sudah berencana untuk nanti malam menginap di apartemen Firma Confiance.
Albern menganguk mengiyakan.
"Owh ya mas... apa nanti kamu bertemu kembali dengan gadis itu?" tanya Riani sambil tertawa kecil nampak meledek.
"Owh akhirnya kamu cemburu juga?" tanya Albern.
"Hahaha coba saja kalau kamu beneran tergoda, aku bakalan mengambil kasus yang ada di luar negri" canda Riani yang mengancam Albern.
"Kalau begitu bukankah bagus? aku jadi bisa bersama gadis itu setiap saat, dan terlebih aku bisa mengajak nya masuk ke dalam apartemen dengan lebih leluasa?" tanya Albern sambil tertawa lebar meledek Riani kembali.
"Owh begitukah? hmm... jika begitu kenapa tidak kamu nikahi saja dia? kenapa harus jual mahal kemaren?" tanya Riani yang membuat Albern tersenyum karena jelas kini Riani tengah cemburu.
__ADS_1
Albern mendekatkan tubuhnya ke Riani dan langsung memeluk erat istrinya itu "karena aku hanya mencintai mu, jadi tidak mungkin jika aku bisa mencintai wanita lain lagi" bisik Albern pada Riani.
Sontak wajah Riani memerah mendengar perkataan Albern "aku juga hanya mencintaimu" ucap Riani sambil memeluk erat kembali suaminya.