
Semuanya kembali berlalu tanpa suara
Menyisakan noda yang teramat menyiksa
dan kini... mungkin inilah yang dinamakan
Perjumpaan di waktu yang tepat
Terimakasih atas takdir yang memihak pada jalan ceritaku
Aisyah menyeruput pelan minuman yang dibelikan oleh Selvy untuknya. Saat pintu cafe kembali terbuka, secara refleks Aisyah yang duduk menghadap pintu itu tak sengaja melirik orang-orang yang datang.
Namun pengunjung yang satu ini membuat Aisyah langsung berhenti menyeruput minumannya dan terpana menatap wanita dengan rambut sepanjang pinggang yang diikat kebelakang dengan blazer coklat yang dikenakannya.
Wanita itu berjalan pelan ke meja pesanan dan menunggu pesanannya bersama pengunjung lain yang ikut duduk di kursi panjang didepan meja pesanan, setelah mendapatkan menu yang dipesannya wanita itu berbalik dan kaget melihat Aisyah yang ada disana, wanita itu menyunggingkan senyuman manisnya pada Aisyah.
"Hai Syah! boleh ikut duduk disini sama teman mu?" tanya wanita tadi.
"Wah boleh banget kak" jawab Aisyah sambil tersenyum menatap wanita tadi yang tidak lain adalah Serli Aulia, sahabat Riani selama di Oxford.
Serli menyapa dan berkenalan dengan Selvy, dua orang itu sangat cepat untuk terlihat dekat.
Selvy menatap jam tangannya yang sudah menunjukkan pukul 17.39 "Maaf Syah... kak Serli, aku pamit duluan ya" ucap Serli.
Aisyah dan Serli mengangguk paham "baiklah"
"Kamu masih mau disini dulu Syah?" tanya serli.
Aisyah mengangguk mengiyakan "ada sesuatu yang ingin ku bicarakan dengan kak Serli" jawab Aisyah.
Selvy mengangguk paham "baiklah, aku duluan ya" ucap Selvy sambil melangkah pergi dan melambaikan tangannya pada mereka.
"Mau bicarain apa Syah?" tanya Serli penasaran.
"Kakak tau siapa yang disukai kak Riani?" tanya Aisyah langsung pada intinya tanpa bertele-tele.
"Lah... bukannya Sir Albern?" heran Serli.
Aisyah menggelengkan kepalanya "sebelum itu"
Serli berpikir cukup keras, menurutnya Riani hanya mencintai Albern, namun Serli kembali ingat awal pertemuannya dengan Riani, saat itu jantung Riani berbunyi sangat keras dan cepat, wajahnya tersipu merah seperti sedang jatuh cinta, tapi Serli tidak tau siapa yang baru saja dijumpai oleh Riani.
__ADS_1
"Hmmm... gak tuh" jawab Serli.
Aisyah menarik nafas lelahnya.
"Memangnya ada apa sih?" heran Serli balik bertanya.
Aisyah menggelengkan kepalanya "gak ada kok kak, Syah cuman penasaran saja" tawa tipis Aisyah yang nampak dipaksakan.
Sebagai seorang pengacara, serli pernah belajar psikologis di Indonesia setelah lulus dari Oxford, jadi dia tau bahwa tawa yang dinampakkan Aisyah saat ini hanyalah paksaan belaka, sepertinya Aisyah menanggung suatu beban berat dalam pikirannya, oleh karena itu Serli tidak mau membahas perjumpaan pertamanya dengan Riani pada Aisyah.
"Syah... kakak cuman mau memberi saran padamu, jangan pernah kamu mengusut hal yang tidak baik bagi keadaan rumah tangga mu atau bahkan rumah tangga orang lain, sebelum kamu menyesali semua itu" ucap Serli.
Aisyah tersenyum tipis pada Serli "maaf... maksud kakak apa ya?"
Serli menatap dalam Aisyah "Kamu tau Syah? dulu kakak pernah dengar suatu cerita tentang yang namanya KESALAHPAHAMAN dari teman baik kakak selama kuliah les psikologis untuk mematangkan jiwa pengacara kakak, saat itu ada seorang pria yang mengusut masa lalu istrinya, pria itu di tampar kenyataan yang amat berat setelah mendapat sebuah gelang milik sahabat nya yang juga dimiliki istrinya, gelang itu amat langka dan sangat mirip seperti punya istrinya, pria itu kembali mencari tau lebih dalam lagi tentang hubungan sahabatnya itu dengan istrinya, sampai dia menemukan titik buntu dan memilih untuk langsung menanyai istrinya itu, Jelas istrinya marah dituduh yang tidak-tidak oleh suaminya, namun suaminya itu tetap ngotot pada istrinya sampai istrinya lelah meladeni suaminya itu dan memutuskan untuk bercerai, pria itu nampak kecewa pada istrinya dan memilih untuk menemui sahabatnya kembali, dia mengotot dengan pengangan barang bukti berupa gelang itu, dia menuduh sahabatnya itu sebagai selingkuhan istrinya" Serli menghirup nafas sekejap kembali untuk mengumpulkan oksigen yang dalam.
Serli kembali melanjutkan perkataannya "istri dari sahabatnya itu malah ikut percaya akan kata kata pria itu, dan istrinya menceraikan suaminya yang tidak lain adalah sahabat pria itu, dengan seketika persahabatan yang sudah mereka jalin dari kecil buyar akibat kesalahpahaman yang dialami pria itu. Dia melempar kedua kedua gelang yang digenggamnya itu ke sungai, namun seorang bapak tua menghentikan pria itu.
"Apa yang sedang kamu lakukan nak?" tanya bapak tua itu.
Pria tadi menoleh pada bapak tua "aku ingin melempar benda sial ini!"
"Benda ini menghancurkan hidupku!" kesal pria itu.
Bapak tua itu mengerutkan keningnya "kau tau nak... bapak yang membuat gelang itu untuk 2 orang muda-mudi yang hendak mencari jimat agar bisa menyatakan cinta mereka pada orang yang masing masing mereka cintai, walau usia bapak sudah semakin tua, tapi bapak masih ingat betul, wajah bahagianya ke dua muda mudi yang berteman baik itu untuk saling mendukung mengungkapkan perasaan mereka pada orang yang mereka cintai masing-masing, setau bapak pria muda itu bukan kamu, jadi ada apa sebenarnya nak?" heran bapak tua itu.
Pria itu terperangah dan dalam seketika pandangan buyar "apa bapak serius?" tanya pria itu lirih.
Bapak tua itu mengangguk dan tersenyum.
Pria itu semakin terpuruk rapuh, dia tidak percaya bahwa apa yang dikatakan istri dan sahabatnya itu benar adanya, untuk meminta maaf pada mereka tak lagi bisa, karena pria itu tak tau lagi dimana keadaan kedua orang itu, kakinya tak sanggup lagi untuk berdiri, air matanya yang tak nampak karena tertutupi oleh air hujan yang mengalir deras.
Setelah bapak tua tadi pergi karena cuaca yang semakin dingin, Pria itu malah masih tersimpuh rapuh di tepi jembatan itu, dia menatap sungai di bawah jembatan yang mengalir deras, Pria itu langsung menaiki pagar jembatan dan terjun bebas ke sungai, Kepalanya pecah karena terbentur bebatuan di sungai, tangan kanannya terpotong karena jeratan tali berdiri dari tanaman, namun kedua gelang itu tidak bisa lepas dari tangannya, dia tetap mengenggam erat ke dua gelang itu, dan bagian tubuhnya yang lain tercerai berai karena jerambatan dari benda-benda tajam dan melilit yang ikut terbawa arus deras sungai.
Sampai akhirnya hayatnya, tak ada seorangpun yang datang untuk menemui mayatnya, dia dikubur sepihak oleh pihak kepolisian tanpa kehadiran seorangpun yang dikenalnya.
Bukankah mati mengenaskan seperti itu sangat menyiksa? hanya karena satu kesalah pahaman malam menghancurkan semuanya? walau dia pikir itu adalah bukti yang nyata, namun bisa saja itu adalah sebuah hal yang tidak pernah terpikirkan saja oleh nya" jelas Serli.
"Bagaimana keadaan istri dan sahabatnya itu sekarang?" tanya Aisyah.
"Entahlah... tidak ada yang tau bagaimana nasib mereka" jawab Serli.
__ADS_1
Aisyah diam sejenak "tapi itu hanya sebuah cerita kak, bukanlah sebuah fakta" ucap Aisyah sambil memasukkan semuanya barang-barang kedalam tas kembali.
"Kakak tau kamu seorang editor dan penerbit Syah, dan kakak juga tau bahwa dulu kamu juga seorang penulis, pasti kamu yang paham betul, bahwa ada banyak cerita yang berawal manis dengan akhiran yang tragis, begitupun sebaliknya cerita yang tragis dengan happy ending, dan tak jarang ada cerita yang di awal sampai akhirnya selalu menyayat hati, dan semua cerita itu benar-benar ditulis dari kisah nyata, walau serasa mustahil dan penuh drama, tapi memang itulah kenyataannya" jelas Serli.
Aisyah tersenyum tipis pada Serli "tapi semuanya ditambah dengan bumbu-bumbu drama yang melebih-lebihkan, maaf kak, Syah pergi dulu" pamit Aisyah sambil mempercepat langkahnya keluar dari cafe.
Baru kali ini serli melihat sikap jutek yang ditampakkan Aisyah yang biasanya selalu manis dan polos padanya.
Ternyata benar kata orang, bahwa setiap orang akan menampakkan sikap aslinya saat dia terpuruk jatuh, atau saat realita tak sesuai dengan ekspektasi nya selama ini.
Namun Serli tetap berpikir bahwa Aisyah adalah wanita cerdas yang akan berpikir ribuan kali sebelum memutuskan bertindak terhadap sesuatu yang serius.
Serli menyeruput kopinya dan kembali membuka laptopnya yang tadi sempat tertunda.
***
Selesai shalat magrib di mushalla sebelah cafe, Aisyah menatap *****-***** langit yang semakin gelap dan tepisan angin malam yang merambat menggigil kan tulang-tulang Aisyah.
Dinginnya tepian kota Jakarta pada malam hari tak menghalangi langkah Aisyah untuk melanjutkan perjalanan sampai ke halte bus.
Aisyah menatap jam ponselnya yang menunjukkan pukul 20.29, Aisyah memutuskan untuk menikmati perjalanannya sejenak sehabis turun dari bus, Aisyah melangkah pelan, namun pasti untuk sampai ke rumahnya.
Aisyah melirik rumahnya dari kejauhan, lampu rumah itu sudah hidup, pertanda bahwa Andi suaminya sudah pulang.
Rasa hati Aisyah semakin berat untuk pulang ke rumah, namun dia tak bisa lagi menunda untuk berkeliaran malam-malam begini, apalagi Aisyah sudah mengandung, walau usia kandungannya baru masuk 3 Minggu, dan Aisyah sama sekali tak memberi tau Andi dulu, karena Aisyah ingin memberi kejutan pada Andi, namun malah ditampar oleh kenyataan yang amat mencekam bagi Aisyah.
Kondisi hamil mudanya saat ini, membuat Aisyah terkadang sulit untuk mengontrol emosinya, sehingga sadar atau tidak Aisyah sering bertindak yang diluar kebiasaannya.
Aisyah melangkah pelan berjalan ke rumah itu, saat hendak membuka pintu Andi muncul dari balik pintu dengan ekspresi cemas yang tergambar jelas diwajahnya.
Andi langsung memeluk erat Aisyah "kamu dari mana saja? aku sudah menghubungi mu dari tadi, tapi tak jua kamu angkat" ucap Andi nampak lirih.
Aisyah kaget melihat Andi yang mengkhawatirkan nya, Aisyah tersenyum tipis pada Andi sambil melepas pelukan Andi "aku tadi hanya ingin menikmati waktu sendirian saja" jawab Aisyah sambil melangkah masuk ke dalam rumah.
"Assalamualaikum" ucap Aisyah.
"Waalaikumsalam" jawab Andi yang masih terus menatap Aisyah, Andi merasa bahwa Aisyah saat ini sedikit menjaga jarak darinya, tidak seperti Aisyah yang biasanya.
Namun Andi lebih memilih menghapus prasangka nya itu, mungkin ini hanya perasaannya saja, pikir Andi.
Aisyah menghempaskan tubuhnya ke kasur, sambil menatap layar hp nya yang nampak gelap "seperti lowbat" ucap Aisyah sambil kembali turun dari ranjangnya untuk charger HP.
__ADS_1