
Aku mencinta tanah airku
Namun aku juga mencintai pekerjaanku
Jadi biarlah takdir yang terus mengantarkan jalan hidupku
Karena aku percaya bahwa semuanya...
Akan indah pada waktunya
Aku kembali tanah airku.
Selesai check-in ulang dengan Aren, Riani lanjut menunggu diruang tunggu untuk penerbangan ke Indonesia.
"Udah kangen sama keluarga ya?" tanya Riani sambil tersenyum lebar pada Aren.
Aren menganguk pelan "Kangen gak kangen sih kak" jawab Aren sambil tertawa cengengesan. "Tapi sepertinya kakak ya yang paling semangat kembali ke kampung halaman" ledek Aren yang membuat Riani tersontak kaget.
"Apa kelihatan seperti itu?" tanah Riani di angguki cepat oleh Aren.
"Owh ada dipanggil tuh, ayo Ren!" ajak Riani sambil menggandeng tangan Aren.
Mereka memasuki pesawat dan menunggu penumpang lainnya yang masih dipandu oleh pramugari ke tempat duduk sesuai nomor kursi mereka. Beberapa menit kemudian pesawat mulai bergerak cepat lalu terbang membelah langit - langit dan awan - awan yang memadukan mereka untuk terlihat indah dan menawan.
Riani menatap Aren yang sedang termenung sambil memandangi awan - awan dari balik kaca pesawat.
"Tidak ada masalah kan Ren?" tanya Riani.
Aren menolehkan pandangannya ke arah Riani kemudian menggelengkan kepalanya.
"Kakak liat kamu jarang bicara ya Ren, tidak seperti Alisya yang suka ngerocos terus" ujar Riani sambil tertawa kecil.
__ADS_1
"Hahaha gak juga kok kak, ini karena gak ada topik yang mau di bahas aja, Aren sendiri juga malas buat buka topik kak, takut kakak gak nyaman aja" jelas Aren sambil tersenyum tipis pada Riani.
"Hahaha kamu gak boleh pesimis loh Ren, ada yang mau kamu tanyakan pasti tentang keadaan Alisya sekarang kan? dulu kakak gak sempat ngejawab karena banyak urusan yang harus kakak selesaikan dulu, sekarang masih ingin dengar?" tanya Riani diangguki pelan oleh Aren.
"Setelah mendengar berita kematian papanya saat itu, Alisya terdiam dengan tatapan kosong mendengar berita itu, tepatnya itu saat kami sedang berada di tempat agen jual beli rumah, kami langsung meluncur ke kantor polisi dan kebetulan juga saat itu ada pengacara yang tidak lain adalah teman kakak saat kuliah di Oxford university dulu, teman kakak di percayai sebagai pengacara kasus kematian papa Alisya yang di duga karena keracunan itu. Alisya bersikukuh ingin menyelesaikan kasus, walau awalnya kami banyak mendapat kan halangan, seperti penolakan karena kami pengacara dari luar negri, pengacara sewaan yang sudah ada, sampai penolakan dari pelaku sendiri yang tidak lain adalah Nadia, mama tiri Alisya yang tidak pernah untuk diakuinya" jelas Riani sambil menghirup udara sejenak dulu.
"Setelah itu karena faktor keberuntungan atau bisa dibilang pemaksaan dari keteguhan hati kasus sampai dengan sidang berjalan dengan lancar, Alisya memanasi mama tirinya sampai keceplosan dan merekam semua percakapan mereka itu, sebagai bukti dasar atas perbuatan Nadia. Setelah kejadian itu kakak lihat nampaknya Alisya baik - baik saja, dan bisa melupakan peristiwa dan dendamnya dengan cepat, karena bagiamanapun kasih sayang anak pada orang tuanya juga akan sama dengan kasih sayang orang tua pada anaknya, bahkan bisa dibilang dulu saat kecil Alisya dekat dengan papanya bukan?" tanya Riani yang diangguki Aren.
"Anak itu bisa kembali tersenyum dan menerima semua yang ada, bahkan mungkin rasa berdukanya yang cepat hilang itu mungkin karena faktor sudah lama tidak berjumpa dengan almarhum papanya lagi, sampai Alisya bertemu dengan mantan pacarnya itu, lelaki yang sepertinya punya kesalah pahaman dulu pada Alisya, dan--"
"Maksud kakak Randy!?" tanya Aren menyela penjelasan dari Riani.
"Eh iya" angguk Riani. "Ada apa dengan Randy?" tanya Riani heran.
"Owh tidak ada apa - apa kok kak, aku hanya kaget aja mereka ternyata bertemu kembali" jawab Aren.
Riani mengangguk paham dan kembali melanjutkan penjelasannya. "Sepertinya sudah kejadian dan pembicaraan 4 matanya dengan Randy itu Alisya juga nampak baik - baik saja. Kakak pikir Alisya tidak akan memikirkan hal - hal atau masa lalu kelam dalam hidupnya lagi, kamu tau? bahkan Alisya sampai meminta pengunduran diri dari Firma, tapi jika dibolehkan dia mau bekerja 5 bulan di Firma Confiance, kamu tau itu?" tanya Riani diangguki oleh Aren.
"Alisya pernah membahas hal itu denganku lusa kemaren" jawab Aren.
"Alisya itu gadis dengan banyak cita - cita yang ada dikepalanya kak, itu salah satu alasan kenapa Aren bisa mengagumi Alisya, tapi walau dia punya bakat dalam hal atau bidang sebagai pengacara, Aren tau... bahwa Alisya diam - diam juga menyukai bisnis dan punya list untuk ikut kuliah dengan jurusan ekonomi manajemen, jadi karena Tante Dina masuk penjara, Tante Nadia juga terkadang sering sakit - sakitan, pasti ujung - ujung nya juga Alisya yang akan meneruskan perusahaan itu, kecuali..." Jelas Aren yang tiba - tiba memberhentikan kalimat selanjutnya.
Riani mengernyitkan keningnya penasaran dengan kata selanjutnya yang akan diucapkan oleh Aren.
"Kecuali apa Ren?" tanya Riani penasaran.
"Kecuali Alisya menikah dan punya suami yang bisa dan mau melanjutkan perusahaan itu kak" sambung Aren.
"Sepertinya untuk wanita dengan tipe Alisya agak sudah ya" ucap Riani.
Aren terdiam sejenak mendengar ucapan Riani kemudian tertawa kecil "Hahaha sepertinya iya" tawa Aren terdengar renyah.
__ADS_1
"Jadi apa kamu masih mencemaskan Alisya?" tanya Riani.
"Eh? Aren tidak mencemaskan Alisya kok kak" jawab Aren ikut heran menatap Riani.
"Terus kenapa belakangan ini kakak rasa kamu sering diam?" tanya Riani menatap heran Aren.
"Hmm... mungkin karena ayah Aren baru saja masuk rumah sakit 3 hari yang lalu" ucap Aren sambil memalingkan wajahnya kembali ke jendela pesawat.
"Eh benarkah!?" kaget Riani.
"Hahaha kakak gak perlu kaget, itu cuman penyakit lamanya kambuh lagi kok, sudah itu bakal baik - baik saja kayak biasanya" jelas Aren.
"Tapi bagaimana pun kesehatan itu tetap penting loh Ren" jelas ulang Riani.
"Kak... Aren sampai lupa mengucapkan kalimat penting ini, terima kasih ya kak, berkata kakak Aren bisa ada di Firma Confiance, bagi Aren firma Confiance itu adalah firma yang sangat ingin Aren kunjungi, tempat yang selalu menjadi bayang - bayang bagi Aren untuk bermimpi bisa ada disana dan menjadi salah satu anggota disana, berkat kakak semua mimpi Aren jadi terwujud" jelas Aren.
"Hahaha tidak kok Ren, itu karena usaha kamu sendiri untuk belajar dengan giat selama ini, untuk rasa setia kawan yang kamu miliki, atas kebaikan hatimu yang menuntunmu bisa sampai disana" jawab Riani sambil memeluk Aren.
"Ehm... Manquer, apa benar kalian berdua dari firma hukum Confiance?" tanya salah seorang pramugari dengan bahasa Perancis yang fasih dan raut wajah yang nampak pucat pada Riani dan Aren.
Cast Back to Alisya
Pukul 5 pagi Alisya sudah terbangun dari tidurnya dan langsung ke kamar mandi untuk membersihkan diri lalu mengerjakan shalat subuh.
Alisya mengambil HP-nya yang ada diatas meja dan membuka aplikasi chat yang baru masuk dari Coty.
Untuk pertanyaan mu pada ku kemaren, kamu bisa menyelesaikan hal itu dengan Riani yang telah membawamu sampai ke Firma Confiance, Riani akan ke Indonesia hari ini sekaligus mengantar kepulangan Aren. Tapi apapun hasilnya nanti aku harap kamu tidak kecewa Alisya.
Alisya menatap lama pesan yang dikirim oleh Coty itu, lalu segera menggelengkan kepalanya dengan cepat dan mulai mengetik kan balasannya di atas keyboard HP-nya.
Baiklah Manquer Coty, omong - omong selamat atas jabatan anda. Apapun jawabannya nanti pasti aku akan siap menerimanya, terima kasih atas waktunya Manquer.
__ADS_1
Selesai menekan tombol Send Alisya langsung menghela panjang nafasnya sambil menghempaskan tubuh ke kasur dan menatapi langit - langit kamarnya.
"Palingan mereka akan sampai besok pagi - pagi sekali, kalau begitu aku harus segera ke kampus setelah balik dari perusahaan nanti, dan hari ini juga jadwal makan malam dengan produser Nanun itu ya? hah... ayo semangat menjalini harimu Alisya!" gumam Alisya sambil keluar dari kamarnya dan melangkah menuju dapur.