
Dentuman keras dari speaker yang meramaikan suasana ruangan diskotik itu dengan redapan persekian detik lampu-lampu yang berselang-seling dengan warna-warni, serta riuhan suara pengunjung yang bergoyang dengan panas di tempat itu.
Seorang gadis cantik itu kembali berjalan ke arah kerumunan anak muda yang memesan minuman memabukkan, dia melangkah cepat sambil bergegas segera kembali ke mejanya.
Pemandangan itu sudah biasa dia liat, melihat setiap laki-laki berhidung belang yang mencari kesempatan di dalam kesempitan, melihat banyak nya pelacur yang sedang mencari korban, serta banyaknya om-om yang ingin melampiaskan nafsu **** nya.
Gadis itu menghela nafasnya lagi-lagi dengan panjang.
"Alisya!" teriak seorang wanita pemilik diskotik.
Gadis itu menoleh ke arah sumber suara tadi.
"Kamu sudah boleh pulang, ini bayaran kamu Minggu ini" ucap wanita itu sambil menyodorkan beberapa helai lembaran uang bewarna merah.
Alisya menerima uang itu dan langsung mengganti pakaiannya untuk kembali ke rumah.
Wajah gadis itu nampak ragu untuk memasuki sebuah gubuk tua disudut desa yang menjorok ke dalam, tumbukan seng-seng yang sudah berkarat dan jerami-jerami yang sudah berlubang itu menjadi tiang kokoh gubuk tua itu.
Gadis itu memutuskan untuk mengambil langkah memasuki gubuk tua itu, dia membuka pintu yang sama sekali tidak dikunci itu perlahan, nampak seorang wanita tua sedang berbaring lesu yang melambaikan senyum sejuknya menatap gadis itu kembali.
Alisya menutup kembali pintu gubuk itu dan memutar potongan kecil kayu yang dijadikan sebagai pengunci pintu itu agar tidak terbuka saat angin kencang, karena mau bagaimana pun maling tak akan tertarik untuk memasuki gubuk yang hanya berisi seorang wanita tua dan gadis pelayan diskotik yang bahkan hampir jarang ada di rumah gubuk tua itu.
Alisya menekukkan lututnya sambil mengambil secangkir air putih untuk minum obat wanita tua itu.
"Ini mak... Alhamdulillah tadi Alisya dapat gaji dan bisa beli obat untuk Mak kembali" ucap Alisya lirih.
"Kamu tak perlu memikirkan emak nak, yang perlu kamu pikirkan saat ini hanyalah kuliahmu" jawab wanita tua itu sambil batuk-batuk.
Alisya tersenyum tipis menatap Mak nya itu dan segera beranjak ke ruangan sebelah yang hanya ditutupi secarik kain yang juga sudah berlubang dan nampak kusam.
Selesai mengganti pakaiannya Alisya bergegas dengan membawa tas lusuhnya ke ruangan yang lumayan luas untuknya belajar dan menyelesaikan semuanya tugas kuliahnya yang sudah menumpuk banyak dan selalu tugas yang dipenuhi perjuangan negosiasi penundaan tugas dengan dosennya.
Saat hendak mengayunkan sebuah pena ke kertas polos itu, Alisya kembali menghela nafas lelahnya. Alisya beranjak dari atas jerami itu dan bergegas keluar untuk membeli pena baru harga Rp1.000 an.
__ADS_1
"Mak... Alisya ke warung buk Nini dulu ya" teriak Alisya agar kedengaran dengan Mak-nya.
Alisya tak mendengar ada sahutan kembali dari Mak-nya, entah suara Mak nya tak kesampaian atau mungkin Mak Alisya sudah tertidur lelap.
Alisya mempercepat langkahnya menuju warung buk Nini yang berjarak 350 Meter dari rumahnya, yang tak tak cukup jauh bagi Alisya yang tinggal di kampung dengan sisi yang paling menjorok ke dalam.
Sesampainya di warung itu, Alisya langsung mengetok pintu rumah yang ada disebelah warung, karena bagaimana pun jam sudah menunjukkan pukul 22.49 maka tak mungkin warung kecil di desa masih buka.
Seorang wanita yang sudah berumur keluar dari rumah itu "owh Alisya... ada apa malam-malam gini Sya?" tanya wanita itu.
Alisya tersenyum tipis "sebelumnya maaf menganggu buk... pena sya habis, jadi untuk buat tugas sya perlu alat tulis buk" ucap Alisya.
"Owh begitu... tunggu sebentar ya Sya" ucap wanita itu sambil kembali ke dalam rumahnya.
Tak butuh waktu lama, wanita itu kembali ke luar dengan membawa sebuah kunci dan berjalan pelan ke warung sebelah rumahnya tadi lalu memasukkan kunci yang dibawanya ke gembok warung.
Setelah gembok itu dibuka, buk Nini langsung menarik pintu warungnya yang bahkan lebih baik dari pada gubuk Alisya.
"2 buk" jawab Alisya.
Buk Nini menyerahkan 2 buah pena seribuan pada Alisya.
Alisya mengambil uang yang ada di sakunya "ini buk... buat beli pena, sama bayar utang Minggu kemaren" jelas Alisya sambil menyodorkan 2 lembar uang bewarna merah.
"Aduh Sya, gak perlu bayar sekarang gak apa-apa kok, uang SPP kuliah kamu udah bayar emang?" tanya buk Nini.
"Hahaha tenang aja buk, udah bayar kok" elak Alisya.
"Owh baiklah, tunggu bentar ya, ibuk ambil kembaliannya dulu" ucap buk Nini.
"Memang kembalan nya berapa buk?" tanya Alisya menyahut.
Buk Nini nampak berpikir sejenak dulu "25k Sya" jawab buk Nini.
__ADS_1
"Owh kalau begitu sya ambil gula seperempat, teh 1 bungkus, dan 4 roti sama 4 mie instan ini aja deh buk" pinta Alisya.
Buk Nini mengangguk sambil memasukkan ke kantong pesanan Alisya tadi "Apa lagi sya?" tanya buk Nini.
"Hmmm... telur 2, jadi pas kan buk?" jawab Alisya.
Buk Nini mengangguk sambil menyerahkan kantong berisi barang-barang yang di minta Alisya tadi "terimakasih ya Sya" ucap buk Nini.
"Sama-sama buk, kalau begitu Alisya duluan ya buk" pamit Alisya sambil melangkah pergi meninggalkan warung itu.
Alisya kembali berjalan sambil memperhatikan sekitaran kampung nya yang nampak sangat gelap, karena tidak ada penerangan seperti lampu jalan, bahkan untuk cahaya bulan pun sudah merambat karena tertutupi oleh pepohonan yang mekar dan lebat.
Alisya kembali memasuki rumah gubuknya sambil menghidupkan kembali lampu minyak yang digunakannya tiap malam jika harus belajar, karena bagaimana pun rumah Alisya tidak memilik listrik, tiap malam hanya mengandalkan lampu minyak, dan jika minyak nya sudah habis dan tak mampu dibeli, maka Alisya dan Mak nya hanya akan menggunakan lilin.
Namun Alisya masih bersyukur ada penerangan dalam hidupnya yang bisa menemaninya begadang tiap malam.
Kertas tugas milik Alisya merebak dimana-mana, sudah 7 RKS yang diselesaikannya, tugas prodi jurusan tinggal 16 halaman lagi. Alisya bisa saja meng-copy tugas dari temannya, atau mem-print kembali tugas dari temannya dengan sedikit bumbu-bumbu berbau editan, namun sayangnya... karena keterlambatan Alisya, semua dosennya meminta tulisan tangan bukan ketikan keyboard atau copyan dari google.
Jam sudah menunjukkan pukul 03.20 Alisya menarik nafas lelahnya, lagi-lagi dia tak bisa tidur malam yang nyenyak, hanya untuk mengharapkan datangnya mimpi indah dari tidur malamnya, walau hanya mimpi, asal itu hal indah yang dirasakan oleh Alisya, maka dia akan sangat amat mensyukuri itu.
Sejatinya mimpi bisa membuatnya melupakan sejenak kesusahan hidupnya, tapi walau bagaimanapun gadis itu masih tetap mensyukuri hidupnya, dia bersyukur masih bisa makan dan minum, masih bisa hidup nyaman disebuah gubuk yang sudah tidak pantas untuk ditempati, dan terlebih dia bersyukur masih bisa kuliah dengan jurusan yang luar biasa banyak diminati orang-orang.
1 jam lebih 30 menit kemudian, Alisya mulai mengepak kembali dan menyusun satu persatu tugas yang dibuatnya, Alisya beranjak dari jerami itu dan kembali ke kamarnya.
Dengan modal buku tebal yang sudah banyak robekan dan usang, pemberian dari teman baik Alisya yang keadaan ekonominya juga tergolong pas-pasan, Alisya membuka buku itu dengan hati-hati untuk menghafal semua pasal-pasal yang ada dibuku dengan tebal bak kamus terjemahan 3 bahasa itu.
Mungkin saja buku itu memanglah kamus untuk mahasiswa jurusan hukum.
Alisya kadang tersenyum memikirkan banyaknya pasal hukum dari negaranya, tapi hukum itu tidak dijalankan oleh rakyat maupun aparat penting negara, malah hukum-hukum itu hanyalah sebuah kedok saja, sebuah hiasan saja untuk negerinya.
Pasal-pasal pun tak terlaksana dengan baik, siapa yang punya uang dan kedudukan lebih, bisa menyapu bersih pasal hukum itu dari dirinya.
Alisya menggepal erat tangannya, teringat kembali dengan sosok tua yang sudah menghancurkan hidupnya maupun hidup Mak nya, Alisya memilih jurusan hukum untuk kuliah, bukan karena itu keinginan masa kecilnya atau mungkin untuk sebuah pembuktian bahwa dia dari keluarga tak ada ini bisa menjadi luar biasa, tapi dia memiliki tujuan untuk menegakkan hukum yang lebih ambisius di negerinya agar para pecundang dan sampah negeri tidak bisa terus terbang hura-hura di luar sana.
__ADS_1