
Dimas berjalan mendekat ke arah meja makan. "Lah kok kalian udah makan duluan aja sih!?" tanya Dimas kesal.
"Siapa suruh Lo lama banget" jawab Alisya sambil menyantap makanannya.
Dimas mendesis sebal lalu duduk disebelah Riani. "Wah ini kakak yang bikinnya?" kagum Dimas sambil menyendok nasi gorengnya.
"Dibantu Alisya" Riani menyeruput minumannya setelah menjawab pertanyaan dari Dimas.
"Si Mak Lampir mana bisa masak kak" jawab Dimas gak percaya.
"Heh! Lo kok asal ngomong aja sih!? siapa yang Lo sebut Mak lampir hah!?" kesal Alisya.
"Ngotot aja Lo!" seru Dimas cuek.
Riani menatap layar HP nya yang ada di atas meja makan tiba-tiba hidup dan bunyi pesan masuk. "Aku keluar dulu ya!" ucap Riani sambil membalikkan sendok makannya dan kembali ke kamar.
"Mau kemana kak?" tanya Alisya heran diangguki oleh Dimas.
"Mau ke tempat Serli" jawab Riani sambil menyunggingkan senyum tipisnya dan melangkah pergi dari meja makan.
"Serli itu siapa Sya?" tanya Dimas heran.
"Pengen tau aja Lo" jawab Alisya langsung berdiri dari duduknya. "Dim! entar kalau ada yang mencet bel Lo langsung keluar aja ya! itu mungkin pesanan baju Lo! bayarannya tenang aja, udah gue transfer langsung, jadi Lo tinggal makai aja! udah dulu ya gue mau ambil sesuatu dulu di kamar" jelas Alisya sambil melangkah pergi dari meja makan.
"Sya! makasih ya udah mau bantu gue!" seru Dimas sambil menyunggingkan senyum tipisnya.
"Sebenarnya gue ogah sih Dim, tapi karena Lo orang yang disayangi sama sahabat gue Aren, jadi sepertinya itu bukan masalah besar, terlebih saat susah di kampus dulu Lo juga pernah bantu gue" jawab Alisya ikut membalas senyum Dimas.
Dimas terdiam di meja makan, membolak-balik nasi goreng yang ada di dalam piringnya, Tangan Dimas terhentikan setelah dia mendengar bunyi bel.
Dimas beranjak dari duduknya dan segera menuju pintu masuk.
"Halo kak, saya dari perusahaan fashion Dirle ingin mengantar paket atas nama Kak Alisya, apa benar ini alamat nya?" tanya kurir antar itu sambil tersenyum tipis.
"Iya benar kak" jawab Dimas.
"Kalau begitu tolong tanda tangani surat penerimaan ini dulu ya kak" ucap kuris itu sambil menyodorkan kertas dan pena pada Dimas.
Dimas mulai mengayunkan pena di atas kertas itu sambil menyerahkan kembali pada kurir tersebut.
"Baiklah, ini barangnya kak. Terima kasih atas pesanannya." Kurir itu melangkah pergi meninggalkan Dimas dan langsung masuk ke dalam mobil perusahaan nya yang bertuliskan fashion Dirle itu.
Dimas memperhatikan bungkusan tas kertas yang dipegangnya. "Owh bagusan juga batang yang di pesan Alisya, ya pantas juga sih... seleranya memang bukan main" gumam Dimas sambil melangkah ke kamar yang ditempatinya di dalam rumah Alisya itu.
Riani masih terfokus pada handphone yang ada digenggamnya. "Serli lama banget ya?" gumam Riani sambil memasukkan bedak di dalam tas kecil yang telah dipersiapkan nya.
__ADS_1
Riani langsung melangkah keluar dari kamar dalam rumah Alisya itu, memperhatikan sekeliling yang nampak kosong. "Sepertinya aku tidak perlu berpamitan, kayaknya mereka lagi sibuk" gumam Riani sambil melangkah ke pintu depan.
"Eh Dimas?" kaget Riani yang berpapasan dengan Dimas.
"Udah mau pergi aja kak?" tanya Dimas diangguki oleh Riani.
"Ya udah Dimas, nanti sekalian kabarin Alisya kalau kakak udah pergi ya, Assalamualaikum" salam Riani sambil tersenyum tipis pada Dimas.
"Waalaikumsalam" jawab Dimas yang memperhatikan langkah Riani keluar dari rumah. "Kakak itu cantik banget, baik lagi... kalau aku bertemu dengan kakak itu dulu sebelum dengan Aren, mungkin aku udah jatuh hati sama kak Riani" gumam Dimas nampak kagum.
"Wohhh gitu ya, entar gue lapor ke Aren dah! lagian ya... kak Riani itu udah punya suami, ganteng, tajir, baik, orang luar negri lagi hahaha" ancam Alisya tertawa puas sambil kembali ke meja makan dengan membawa laptop ditangannya.
"Eh Sya! Lo jangan lapor-lapor Aren dong! gue serius cintanya sama Aren doang, ya kalau Lo laki-laki pasti juga naksir sama kak Riani kan? orangnya baik banget, ramah, sopan juga" jelas Dimas nampak khawatir.
"Oh"
Dimas dan Alisya mematung melihat wanita yang ada dibelakang mereka kini. Suara yang sudah tidak asing lagi, nada suara yang saat kesal atau marah terdengar khas.
Alisya memalingkan wajahnya kebelakang sambil tersenyum tipis. "Aku ke sana dulu ya" ucap Alisya sambil ngacir ke meja makan.
Dimas diam tak berkutik, masih dalam posisi berdirinya. Hanya mengambil nafas tanpa sedikitpun bergerak.
"Hai Dimas. Satu hari aja ditinggal udah main jatuh hati aja yang sama orang lain?" ucap Aren sambil menepuk ringan bahu Dimas kemudian meremasnya dengan erat. Dimas melonjak karena kesakitan.
"Hah... aku balik lagi deh" ucap Aren sambil melangkah kembali ke arah pintu.
"Salah paham apalagi sih, orang kamu sendiri tadi yang bilang, aku juga dengar langsung" jawab Aren masih mencoba tenang. "Kamu putar lagi deh waktu, ketemu sama kak Riani sebelum dia menikah" tegas Aren.
"Ren... maaf" ucap Dimas menundukkan pandangan nya.
Aren menghela panjang nafasnya sambil mengelus lembut kepala Dimas. "Hahaha aku bercanda doang kok" ucap Aren sambil tertawa kecil dan berjalan ke arah Alisya yang duduk di meja makan dengan laptopnya.
Dimas langsung menarik tangan Aren dan memeluknya. "Untuk selamanya, seumur hidup, sampai maut memisahkan. Aku cintanya hanya sama kamu" Dimas melirih pelan pada Aren. Aren membalas pelukan Dimas sambil tersenyum tipis. "Aku tau kok" jawab Aren sambil melepas pelukan perlahan dari Dimas.
Alisya yang melirik ke dua kekasih itu dari tadi hanya mengernyitkan keningnya karena cemburu ada orang yang bermesraan di rumahnya.
"Kalau gitu aku ganti baju dulu ya!" ucap Dimas diangguki oleh Aren.
"Eh tunggu... jadi itu baju yang kamu kenakan sekarang adalah baju yang kemaren?" tanya Aren.
"Iya" angguk Dimas. "Kenapa?" sambung Dimas kembali.
"Oh... pantasan bau" jawab Aren pelan.
"HAHAHA HAHAHA HAHAHA! BAU! LO BAU DIMAS! HAHAHA!" tawa Alisya yang terdengar puas dan sangat keras.
__ADS_1
Wajah Dimas memerah karena malu, dengan cepat Dimas langsung berlari kembali ke kamarnya, Aren tertawa kecil melihat ekspresi dan tingkah Dimas.
Sedangkan di depan gerbang rumah Alisya, Riani masih berdiri sampai menscroll layar HP-nya dan membalas chat dari suaminya, Albern.
Sebuah mobil yang tidak asing lagi bagi Riani mulai berbelok ke arah gang masuk rumah Alisya. Mobil itu berhenti tepat di depan Riani.
"Yuk come on!" seru Serli sambil tertawa cengengesan.
Riani membuka pintu mobil dan langsung duduk di depan.
"Hehehe maaf ya, aku malam tadi ketiduran, soalnya ngantuk banget" jelas Serli yang masih tertawa cengengesan sambil menekan pedal gas mobilnya.
Mobil yang dikendarai Serli melaju cepat dijalanan yang nampak sepi itu.
"Kamu yakin nih mau minta maaf langsung sama bos ku?" tanya Serli diangguki oleh Riani.
"Iya, aku tau kok bos kamu garangnya minta ampun, pasti juga pekerjaan kamu banyak yang jadi berantakan bukan setelah kasus yang diselesaikan oleh Alisya saat itu? jadi aku sekalian yang dulu memegang posisi ketua juga mau minta maaf sama bos kamu" jelas Riani.
"Oh... jadi sekarang pimpinan firma Confiance bukan kamu lagi?" tanya Selri diangguki oleh Riani. "Siapa ketuanya sekerang?" sambung Serli.
"Coty" jawab Riani.
"Owh..." Serli mengangguk paham mendengar jawaban Riani.
"Omong-omong nanti aku mau kasih surprise sama kamu loh" ujar Serli tertawa melirik Riani.
"Surprise apa?" jawab Riani cuek.
"Kalo aku sebutin sekarang jadi gak surprise lagi dong hahaha" tawa Serli puas.
Mobil Serli terhenti tepat di sebuah bangunan mewah yang tidak lain adalah firma tempat Serli bekerja.
"Ayo!" ajak Serli diangguki oleh Riani.
Mereka melangkah masuk langsung ke ruangan pimpinan Firma itu.
"Halo selamat pagi Bos" ucap Serli setelah mengetuk pintu 3 kali dan langsung membuka pintu lalu melangkah masuk ke dalam.
"Ada apa lagi Serli?" tanya bos Serli nampak tidak suka didatangi tamu.
"Maaf mengangu waktunya bos, tapi ada seseorang yang ingin berbicara sama bos" jelas Serli.
"Bisa lain kali saja? saya lagi sibuk" jawab bos Serli.
"Tapi bos, orang ini udah jauh-jauh datang dari luar negri" jelas Serli sekali lagi.
__ADS_1
Bos Serli nampak menghela panjang nafasnya. "Baiklah, suruh dia masuk tapi saya tidak bisa lama-lama" jelas bos Serli pasrah.
Serli mengangguk cepat dan langsung memberi kode pada Riani yang menunggu di meja sekretaris untuk masuk.