
"Omong-omong mas, bagaimana bisa kamu ada dibawah?" tanya Riani penasaran.
"Hahaha aku sudah ada disana dari tadi, kamu saja yang tidak melihat" tawa Albern.
Riani diam sejenak mengingat kembali kejadian saat dia memasuki kamar, Riani langsung menarok tasnya dibalik pintu dan menghempaskan tubuhnya ke ranjang.
"Jadi... sejak kapan kamu kembali?" tanya Riani.
"Kemaren" jawab Albern sambil mendekatkan ulang wajahnya ke wajah Riani. "Mau melakukan itu sekarang?" bisik Albern yang membuat wajah Riani langsung memerah.
***
Bulan kembali hilang dari langit - langit kota Paris, kini matahari yang bersinar cerah telah menggantikan posisi bulan yang selalu hadir bergantian.
Diiringi dengan langkah Albern dari belakang Riani mulai memasuki mobil suaminya itu sambil terus menggerakkan jari-jarinya di keyboard Handphone-nya.
"Sudah kamu konfirmasi mau datang?" tanya Albern langsung diangguki oleh Riani.
"Aku tidak mengangguk waktu kerjamu kan mas?" tanya Riani nampak khawatir.
"Hahaha aku hari ini sedang tidak ada kelas, jadi tidak masalah" jawab Albern sambil mulai memutar setirnya ke kanan melewati gang untuk mulai memasuki jalan pintas.
Mobil terus melaju dengan kecepatan rata-rata, Riani masih fokus dengan HP-nya entah siapa lagi yang saat ini tengah dihubungi wanita sibuk yang satu ini.
"Sayang..." gumam Albern pelan.
Riani menoleh dengan tatapan heran kearah suaminya itu.
"Jujur... aku lebih ingin menjadi HP mu dari pada menjadi suamimu" terang Albern sambil menyunggingkan senyum tipisnya dengan tatapan mata sendu.
"Mas... kamu taukan aku sibuk bekerja? terlebih sudah banyak pekerjaanku yang tertinggal di kantor, bahkan demi menunaikan kewajibanku padamu aku sampai rela memutuskan untuk mengundurkan diri dari pimpinan firma" jelas Riani dengan intonasi yang sedikit menekan tapi masih dengan nada suara yang ringan karena Riani tidak ingin menyakiti perasaan Albern suaminya itu.
__ADS_1
Albern terpana seolah tidak percaya dengan perkataan yang dilontarkan Riani tadi.
Riani yang menyadari ekspresi Albern langsung membuang nafasnya sejenak "maaf..." gumam Riani terdengar lirih.
Albern memilih diam untuk tidak melanjutkan perkataannya begitupun dengan Riani yang tetap fokus pada HP yang ada ditangannya.
Mobil terhenti tepat disebuah rumah mewah, Riani diikuti Albern berjalan mendekat ke arah pintu masuk rumah itu.
Albern menekan bel 2 kali sampai keluar seorang wanita dengan senyuman tipisnya pada mereka berdua. "Silahkan masuk" ujar Manquer Pamela mempersilahkan Riani dan Albern.
Riani dan Albern mengangguk sambil mengikuti langkah kaki manquer Pamela ke ruang tengah.
"Maaf menganggu waktu anda manquer" ujar Riani membuka bicara.
"Hahaha tidak masalah, jadi apa kamu benar-benar telah memikirkan dengan matang keputusanmu saat itu?" tanya manquer Pamela diangguki oleh Riani.
Manquer Pamela menghela nafasnya sejenak "Riani, kamu tau bukan bahwa kamu tidak bisa seenaknya memutusakan hal itu? bukankah saat saya dan anggota lainnya menawarkan posisi itu padamu dulu kamu sudah yakin untuk menerima dan bertanggung jawab pada posisi itu?!" tanya manquer Pamela mulai sedikit tegas pada Riani.
Manquer Pamela kembali membuang nafasnya dan kini beralih menatap Albern suami Riani "Albern, bukankah kamu juga dulu menyetujui pilihan Riani?" tanya manquer Pamela menatap dalam Albern.
"Hah... saya jadi ikut merasa bersalah melihat ekspresi kalian dan mulut kalian yang dulunya suka berkoar kini memilih untuk diam" keluh Manquer Pamela "Riani! Albern! saya akui saya kecewa berat pada kalian berdua, padahal saya telah menitipkan amanah ini padamu Riani, tapi kamu malah memilih untuk mengundurkan diri, kamu pasti tau bahwa saya akan marah padamu setelah mendengar hal ini kan? kamu pasti juga tau bahwa teman-teman dan rekan-rekan mu di firma juga akan kecewa padamu bukan? saya akui Riani... kinerjamu selama ini memuaskan, bahkan kamu telah menbahssi2 gadis berbakat di firma. Saya tidak bisa menyia-nyiakan bakatmu itu begitu saja" jelas manquer Pamela sambil meneguk air putih yang ada dihadapannya.
"Manquer... maaf saya telah mengecewakan anda" gumam Riani lirih dengan ekspresi wajah yang jelas menampakkan rasa bersalahnya.
"Riani... apa kamu melakukan semua ini demi Albern?" tanya manquer Pamela kembali.
Albern tersontak kaget mendengar ucapan manquer Pamela berbeda dengan Riani yang kini memalingkan wajahnya.
"Apa keputusan saya bisa anda timang-timang lagi Manquer?" tanya Riani mengalihkan pembicaraan manquer Pamela yang barusan.
"Saya tidak bisa memaksakan kehendak saya padamu seenaknya Riani, tapi... jika benar kamu telah memutuskan untuk mengundurkan diri secara matang-matang maka saya akan memberimu kelonggaran untuk melepas jabatanmu itu" jawab Manquer Pamela sambil kembali membuang dalam nafasnya.
__ADS_1
Riani menengadahkan kepalanya kepala Manquer Pamela "apa yang harus saya lakukan manquer?!" tanya Riani nampak semangat.
"Sepertinya kamu memang berniat sekali untuk mengundurkan diri ya" keluh Manquer Pamela "saya hanya akan memberimu 2 perintah terakhir yang harus kamu lakukan sebagai ketua firma, pertama kamu harus menyelesaikan semua pekerjaanmu akhir periode bulan ini, kedua kamu harus memutusakan sendiri siapa yang pantas menggantikan posisimu tanda adanya kecemburuan sosial dan ketidaksukaan dari anggota firma lainnya, jadi kamu harus benar-benar selected Riani. Saya tidak ingin kamu asal pilih, orang itu harus benar-benar serius sebagai ketua dan menerima keputusanmu dari dirinya sendiri" jelas Manquer Pamela.
"Saya rasa kamu sudah memutuskan orangnya bukan?" sambung manquer Pamela.
Riani diam sejenak, jelas wajahnya sekarang sedang pucat untuk memikirkan siapa yang pantas menggantikan posisinya.
"Jadi... kamu belum memikirkan hal itu?" tanya kembali manquer Pamela sambil menepuk keningnya.
"Maaf Manquer.... saya tidak berpikir sejauh itu" ucap Riani nampak resah.
"Hah... baiklah Riani, saya beri kamu waktu 15 hari untuk menyelesaikan semuanya, jika tidak selesai kedua perintah saya tadi, maka mohon maaf, surat kontrakmu memegang posisi ketua tetap akan berjalan dan tidak bisa diganggu gugat, jadi yakinlah pada dirimu sendiri" jelas Manquer Pamela sambil sekali-sekali melirik ke arah Albern.
"Baik manquer!" jawab Riani lantang.
"Dan terakhir, selesaikan masalah kalian dulu, saya tidak enak merasakan suasana aneh ini dari tadi, aduh... ada apa sih sampai kalian bertengkar gini!?" tanya manquer Pamela nampak kesal.
"Kalau begitu kami pamit manquer" pamit Riani tanpa menghiraukan pertanyaan manquer Pamela lagi.
Mereka mengacuhkanku! Bathin manquer Pamela menahan rasa kesalnya.
"Sampai jumpa Pamela" ujar Albern dengan nada rendahnya.
Mereka melangkah keluar dari rumah manquer Pamela dan kembali masuk ke mobil.
"Sekarang aku antar ke firma?" tanya Albern diangguki oleh Riani yang kini nampak sedang memikirkan banyak hal dikepalanya itu.
Suasana di dalam mobil terasa sangat canggung sehingga menganggu Riani untuk berpikir jernih tentang 2 tugas terakhirnya sebagai ketua firma Confiance yang diberikan oleh manquer Pamela.
"Mas..." gumam Riani terdengar lirih pada Albern yang masih fokus menyetir.
__ADS_1