
Semerbaknya angin desa menerbangkan rambut ikal yang digerai panjang oleh Alisya, dia menutup matanya disaat angin kembali menepis cepat perkampungan itu.
Gadis itu memutuskan untuk mengikat rambutnya kebelakang walau dihantam angin kencang dengan dedaunan coklat yang berlomba-lomba ke arahnya, dia kembali melangkah dengan tas tebal yang digandengnya, berisi tugas-tugas yang diselesaikannya semalaman sampai mentari kembali menampakkan dirinya.
Perlahan percikan air mengenai wajahnya, gadis itu tersenyum tipis, walau dihatinya teramat ingin meneriakkan semua amukannya.
"Ke kampus sya?" tanya Buk Nini yang baru saja selesai membuka warungnya.
Alisya berlari secepat kilat untuk berteduh sejenak di warung buk Nini "iya buk, sya numpang berteduh dulu ya" izin Alisya.
Buk Nini mengangguk dan tersenyum.
Alisya duduk diam di bangku yang ada di warung buk Nini itu, dia meratapi dalam-dalam percikan air hujan yang turun berjatuhan dengan semakin lebat.
Alisya menghela panjang-panjang nafasnya, dia menatap jam di HP nya yang sudah menunjukkan pukul 07.45, jika ia tak segera berlari ke halte, maka bus menuju kampus tepat pukul 08.30 akan berlalu dan meninggalkannya.
Buk Nini tersenyum menatap Alisya yang nampak gelisah "Sya... kalau takut ketinggalan bus pakai payung Ibuk aja dulu, lagian Ibuk gak keluar kok, jadi gak pakai payung" ucap Buk Nini sambil menyodorkan payung nya pada Alisya.
"Wah... benar nih buk?" tanya Alisya memastikan.
Buk Nini tersenyum dan mengangguk.
Alisya langsung mengembangkan payung itu dan berterimakasih pada buk Nini sambil mempercepat larinya menuju halte bus yang memakan waktu 15 menit jika berjalan dari rumahnya.
Tepat saat Alisya sampai pintu bus baru bergeser dan terbuka lebar, mempersilahkan orang-orang yang sedari tadi mengantri untuk masuk ke dalam bus. Alisya ikut melangkah masuk ke dalam bus setelah dia kembali menguncupkan payung yang telah dipinjam kan oleh buk Nini.
Dengan memegang erat-erat gantungan-gantungan yang ada di bus untuk para penumpang yang berdiri, agar saat jatuh bus mengerem atau mengas para penumpang tidak jatuh.
Dari tepi jendela bus, Alisya kembali diam memandang embun-embun yang ada di kaca bus itu, Alisya tersenyum melihat anak-anak dengan seragam putih biru mengeluarkan nafasnya di balik kaca itu sambil menulis kan nama-nama mereka, dan tak jarang ada yang saling meledek dengan membuat gambar cinta.
Di setiap pemberhentian bus, tak sedikit orang yang turun dari bus, dan tak orang-orang baru yang memasuki bus.
Itu adalah hal biasa untuk Alisya, walau sampai pengap atau berhimpit-himpitan itu bukanlah sesuatu yang perlu ia keluhkan asal bisa sampai ke kampus dengan selamat.
Setelah bus kembali berhenti persekian kalinya, kini Alisya melangkah turun dan keluar dari bus setelah menyerahkan kartu anggota naik bus miliknya kepala petugas, petugas menggeserkan kartu milik Alisya pada sebuah benda yang bisa mengurangi limit saldo kartu milik Alisya karena tadi penuh sesak dan tidak bisa dijangkau semuanya oleh petugas.
Alisya melompat turun dari bus dan kembali menuruni jenjang halte itu, Alisya tidak mengembangkan kembali payung buk Nini karena hujan sudah berhenti.
__ADS_1
Dengan langkah kaki yang cepat, Alisya langsung berjalan menuju kampusnya yang hanya berjarak 20 meter dari halte bus.
Alisya langsung menuju ruangan dosennya untuk menyerahkan tugas, setelah semua urusan tugas menugasnya selesai, dia kembali ke kelas.
Salah seorang mahasiswi menghampiri Alisya yang masih sibuk dengan buku pasalnya.
"Sya!" panggil salah seorang mahasiswi itu.
Alisya menolehkan pandangannya pada gadis itu "ya... kenapa?" heran Alisya.
"Kamu dipanggil sama dekan Wil ke ruangannya" ucap mahasiswi itu.
Alisya menganguk paham dan segera beranjak dari kursinya "terimakasih"
Mahasiswi itu ikut menganguk.
Dengan langkah santai Alisya berjalan ke ruang dekan itu.
"Permisi pak..." ucap Alisya sambil membuka pintu perlahan.
Dekan itu menoleh dengan tatapan sedikit terkejut melihat Alisya "owh... saya tidak menyangka bahwa kamu akan masuk hari ini" ledek dekan itu pada Alisya.
"Kenapa kamu tidak menanyakan pada saya kalimat seperti apa salah saya pak? begitu?" tanya dekan.
Alisya kembali tersenyum tipis "saya tidak yakin untuk hal itu bapak berani berhadapan masalah dengan saya, saya tau penyelewengan kekuasaan yang bapak lakukan" ucap Alisya dengan tatapan sinisnya.
Dekan itu tertawa kecil "hahaha, mungkin kamu benar juga, namun kata wanita itu saya tidaklah sepenuhnya salah"
Alisya mengerutkan keningnya "wanita itu? siapa?"
"Apa kamu perlu tau urusan saya?" tanya balik pak dekan.
"Hahaha tidak juga, saya hanya perlu tau urusan wanita yang tadi bapak sebut" ucap Alisya kembali.
"Aduh Alisya... saya benar-benar heran apa yang bisa diliat wanita itu dari kamu? saya rasa bahkan kamu tidak mungkin atau bahkan mustahil bisa ada di tempat suci itu" keluh dekan.
"Tempat suci? surga?" heran Alisya.
__ADS_1
Dekan itu kembali menghela nafas lelahnya "Alisya... kamu mau wisuda secepatnya?" tanya dekan.
"Tentu" jawab Alisya "tapi apa saat ini bapak sedang menyogok saya agar tidak melaporkan penyelewengan dana uang semester untuk anak pejabat bermasalah yang bapak naikkan itu? dan kelebihan uangnya bapak simpan untuk dana pribadi? demi biaya rumah sakitnya anak bapak yang mengindap penyakit tumor?" tanya Alisya.
Dekan itu kembali menghela nafas lelahnya "darimana kamu bisa tau semua itu Alisya?" heran dekan sambil menggeleng-gelengkan kepalanya tanpa tampang bersalah.
"Bapak tidak perlu tau pak, itu urusan saya" jawab Alisya.
"Sudahlah... saya terlalu malas untuk membicarakan ini dengan kamu, kita langsung saja ke intinya, apa kamu mengenal firma confiance?" tanya dekan tadi.
Alisya mengerutkan keningnya "Firma terhormat dunia? yang bahkan jarang diketahui oleh orang-orang? firma yang di mitoskan menjunjung tinggi keadilan itu?" tanya Alisya.
Dekan mengangguk "bukan mitos, tapi memang begitulah faktanya" tegas dekan sekali lagi.
Alisya hanya menyunggingkan senyumannya "lalu ada perihal apa bapak menanyakan firma itu pada saya?"
"Kemaren salah seorang anggota firma itu, yang juga orang Indonesia datang ke kampus menanyakan kamu, apa kamu bersedia untuk bergabung dalam firma confiance?" tanya dekan tadi.
Alisya kembali mengerutkan keningnya "hahaha apa bapak sedang mempermainkan saya? mana mungkin saya bisa direkrut oleh firma itu" tawa Alisya yang masih tidak percaya.
"Tapi memang begitu adanya, bahkan saya pun tidak percaya akan hal itu, namun saya melihat nya jelas, Riani Putri, wanita hebat kebanggaan dari Indonesia masih tersenyum tipis pada saya siang kemaren dan duduk di kursi yang kamu duduki saat ini sambil mengingatkan saya untuk berhenti menggelapkan dana SPP" jelas dekan.
"Apa bapak ada buktinya?" tanya Alisya kembali.
Dekan beranjak dari duduknya dan berjalan menuju meja kerjanya sambil membuka laci meja itu dan mengeluarkan sebuah amplop berisi surat.
Dekan itu kembali berjalan ke sofa sambil menyerahkan surat yang diambilnya tadi pada Alisya "ini bukti nya, saya tidak tau apa isi surat yang ada didalam amplop ini, kamu hanya perlu membaca surat ini, setelah itu kamu hubungi nomor yang tertera di amplop surat" jelas dekan.
Alisya masih menatap heran dan memilih mengangguk dan keluar dari ruangan.
Alisya kembali menelusuri koridor untuk kembali ke kelasnya, memulai pelajaran berikutnya.
Saat hendak sampai di kelas, riuh mahasiswa dan mahasiswi di kelas itu kembali terdengar, mereka bersorak setelah berbisik-bisik lama.
Seorang gadis menghampiri Alisya yang hanya memilih duduk diam di kursinya.
"Sya! kamu tau!? Riani Putri pengacara wanita terbaik yang seringkali masuk diberi internasional itu kemaren datang ke kampus kita!" sorak bahagia gadis itu.
__ADS_1
"Kamu tidak salah liat kan Ren?" tanya Alisya memastikan pada teman baiknya itu yang juga memberinya buku pasal tebal yang kini sedang dibaca Alisya.
Gadis itu menggelengkan kepalanya dengan cepat "hahaha mana mungkin mata ku salah liat" tawanya dengan penuh percaya diri.