ERANGAN TAKDIR

ERANGAN TAKDIR
S2-CHAPTER 26


__ADS_3

Langit baru, cuaca, dan suasana yang baru kini dirasakan Alisya. Alisya mengenggam erat tas nya sambil menatap *****-***** pemandangan negara yang baru dilihatnya langsung untuk pertama kalinya.


Walau dulu bisa dibilang Alisya adalah keluarga yang cukup kaya raya, sering Travelling dari kecil ke luar kota ataupun ke luar negri, tapi baru kali ini dia merasakan langsung sensasi negri Paris itu, walau sudah banyak planning yang disusun dan dikumpulkannya, namun takdir berkata lain untuk hidupnya.


Walau biasa di manjakan dengan harta, di didik dengan harta, namun Alisya bukanlah gadis yang cenggeng, dia gadis yang mandiri, karena dia selalu menanamkan sifat-sifat itu dalam dirinya, sifat yang meyakinkan dia bahwa harta itu tidak selalu ditangannya selamanya, bisa saja detik ini dia kehilangan semua hartanya, kehilangan keluarganya, kehilangan teman-temannya, dan sejatinya semua itu sudah terbukti nyata.


Alisya dikenal dengan sikap kedermawanannya, sikap itulah yang membuat Aren gadis dari keluarga yang biasa saja itu mengidolakannya, sikap nya itulah yang membuat Aren rela mengulurkan tangannya padanya disaat titik terendah dalam hidup Alisya.


Ditinggalkan oleh orang-orang yang dia sayang, teman-teman baiknya, yang hanya sekedar memanfaatkan harta milik Alisya untuk berteman, saat hidupnya jadi hancur, dia melupakan Alisya, hilang satu persatu bagai debu yang tertiup angin.


Dibully di sekolah sudah menjadi santapan sehari-hari bagi Alisya, di lempar dengan sampah, dikurung dalam toilet sampai pagi tiba, diledek dan di olok-olokan, namun hal itu tak pernah membuatnya goyah sedikitpun karena ada Aren yang selalu bersedia disampingnya, membela nya dengan gagah berani.


Definisi motivasi dari Aren lah yang membuat Alisya bisa seperti sekarang, atau bahkan bisa kini berdiri di negri maju ini dengan kakinya sendiri.


Alisya merasakan betul, hasil indah dari kemandirian dan usaha sendiri ternyata lebih menggairahkan daripada suatu hal yang indah yang kita dapatkan tapi karena hasil orang tua.


Alisya mengkebelakangkan rambut panjangnya yang tertiup angin seraya mengikuti langkah Cammy yang berjalan di depannya.


"Mau dibantu mengangkat tas itu?" tanya Enne yang berjalan di samping Alisya.


Alisya menggelengkan kepalanya "tidak, terimakasih"

__ADS_1


Enne tersenyum ringan pada Alisya sambil ikut berjalan di belakang Cammy yang sibuk mencari restoran untuk sarapan mereka.


Selesai berjalan sekitaran 300 langkah dari turun pesawat, mereka sampai disebuah restoran cepat saja yang bertuliskan halal, karena mencari tempat halal itu lah Cammy menghabiskan waktu lama untuk berkeliling.


Setelah pesanan tiba mereka menyantap makanan itu dengan lahap, seperti orang yang sudah tidak makan selama 3 hari.


Cammy menatap gaya makan Alisya yang nampak berkelas, hal itu sudah ditanamkan pada diri Alisya sejak kecil, Cammy dan Enne tidaklah tau bagaimana cerita masa kecil dari gadis yang kini duduk bersama mereka dalam satu meja makan itu, padahal mereka kenal hanya dalam waktu 12 jam-an lalu.


Alisya melirik pada Cammy yang menatap nya heran "ini sudah menjadi kebiasaan saya dari kecil, jadi tak bisa untuk diubah walau ekonomi saya sudah berubah dratis" ucap Alisya yang menjelaskan langsung keheranan Cammy yang tidak di suarakannya.


Cammy tersentak kaget sambil menyunggingkan senyum basa-basinya pada Alisya yang sibuk menyantap tes hangatnya.


Enne tak menghiraukan mereka berdua karena memilih untuk sibuk mengurus berbeque nya.


Monsieur Jahad nampak melambaikan tangan pada mereka dari jauh, Cammy disusul oleh Enne dan Alisya berlari kecil menyusul monsieur Jahad yang sudah memarkirkan mobil di tepi jalanan aspal berwarna hitam pudar itu.


Mereka masuk ke mobil atas arahan monsieur Jahad, Cammy langsung menghempaskan tubuhnya ke mobil seraya mengubah posisi kursi mobil sedikit ke belakang agar dia bisa merilekskan otot-otot tubuhnya.


Enne yang duduk di kursi depan sibuk dengan HP nya uang yang sudah di charger dalam mobil karena sehabis dari Indonesia baterai HP milik Enne habis.


Sedangkan Alisya memilih untuk membaca buku kecil yang terselip di kursi depan mobil di hadapannya yang berisi tentang firma confiance.

__ADS_1


Cammy beringsut perlahan dari posisi duduknya untuk melihat apa yang tengah dibaca oleh gadis yang duduk disampingnya ini.


"Owh... sudah lama aku tidak melihat buku itu" ucap Cammy yang mengangetkan Alisya yang tengah fokus.


Enne dan Monsieur Jahad tidak menghiraukan obrolan yang ada dibelakang mereka, monsieur Jahad memilih fokus untuk menyetir, sedang Enne masih sibuk dengan keyboard di HP nya.


"Apa ini buku lama?" tanya Alisya.


"Hmmm... sudah cukup lama, itu buku yang pertama kali diterbitkan oleh almarhum pendiri firma untuk menjadi pegangan dan kepercayaan pada anggota baru yang masih ragu akan kualitas firma kami, karena kamu pun pasti jarang mendengar nama firma confiance bukan? firma kami adalah firma terbaik yang dicap oleh dunia, namun nyatanya kami tak mengiring opini publik disini, mungkin baru belakangan ini firma confiance sedikit diketahui orang awan, tapi kampus hukum mana lagi di masa ini yang tak mengenal firma kami, mahasiswa dan mahasiswi jurusan hukum mana lagi yang tak mengenal firma kami?" tanya Cammy yang nyatanya adalah pernyataan.


Alisya tersenyum tipis, tidak menjawab ataupun menyanggah pernyataan Cammy, karena dia salah satu mahasiswi yang tidak mengenal firma confiance.


Tak butuh waktu berjam-jam lamanya, mereka sampai di sebuah gedung kecil yang nampak bersih dan nyaman, di gedung itu tertulis kan jelas dengan tulisan kecil nama Firma Confiance.


Gedung yang sudah akrab bagi Cammy dan Enne, bahkan tempat itu sudah menjadi rumah ke dua bagi mereka setelah apartemen, karena banyaknya lembur kerja sesudah sidang ataupun penyelesaian kasus besar menjadikan mereka mau tak mau harus menginap di kantor.


Alisya menatap lama gedung yang seadanya itu, terdiri atas satu ruangan kecil untuk menyambut tamu, dan satu ruangan besar sebagai tempat bekerja seluruh anggota firma, ruangan itu tidak pernah lengkap di duduki semua kursi dan ditempati semua mejanya, karena jika satu orang telah kembali dari pekerjaan, maka satu atau mungkin 2 orang yang ada akan pergi tanpa bisa bertemu dengan orang yang baru kembali dari tugasnya.


Oleh karena itu tempat sepi yang kini mereka singgahi menjadi tampak semakin luas, Alisya melirik ke salah satu pintu di antara meja-meja kecil berisi banyak berkas penting dalam ruangan itu.


Di pintu ruangan itu tertulis jelas ketua atau jika diperusahaan bisnis maka ruangan itu sama dengan ruangan direktur utama.

__ADS_1


Di sudut menjorok kebelakang masih ada ruangan lain, seperti toilet, tempat shalat, dan tempat istirahat untuk anggota firma jika tak sempat kembali ke apartemen.


Setelah duduk cukup lama di kursi dalam ruangan besar itu, yang sedari tadi waktu kosong mereka diisi oleh Enne dengan melanjutkan tugasnya miliknya, dan Cammy yang memilih untuk terus bercakap tentang firma confiance dengan Alisya. Riani keluar dari pintu yang dilirik oleh Alisya tadi sambil menunjukkan ekspresi puasnya pada mereka.


__ADS_2