
Aku mengimpikan saat-saat itu...
Saat dimana kita saling menjaga pandangan
Saat dimana kita saling bercakap sebatas tugas dan pekerjaan
Sampai akhirnya kamu memutuskan untuk memilihku...
Pagi hari yang cerah di kota Paris itu, Riani bergegas keluar dari pintu apartemennya dengan tergesa-gesa.
"Tidak pamitan dulu denganku?" tanya Albern suami Riani yang masih memasang dasinya.
Riani menolehkan pandangannya pada Albern dan kembali masuk ke dalam apartemen, Riani membatu Albern memasang dasinya "Suamiku tercinta... tersayang... Istrimu ini mau pergi kerja dulu sebentar ya, ada urusan mendadak! Assalammualaikum!" ujar Riani sambil mencium tangan Albern dan langsung berlari keluar dari apartemen dan turun ke parkiran untuk menaiki kendaraan yang dibawa supir firma.
Albern tersenyum menatap tingkah istrinya itu dan mengulurkan tangannya mengambil jas yang ada diatas meja.
"Langsung ke restoran Lucite ya Monsieur Elxin" ucap Riani pada supir itu.
"Baik sis Riani" jawab supir yang bernama Elxin itu.
Elxin pria berumur 40 tahun yang sudah berkepala 4 itu, sudah menjadi supir firma langganan Riani sejak Riani jadi anggota tetap Firma Confiance, Riani sudah menggap monsieur Elxin sebagai saudaranya sendiri, begitupun dengan monsieur Elxin.
Mobil yang ditumpangi Riani melaju dengan lancar dan tepat berhenti di parkiran restoran Lucite, Riani segera melangkahkan kakinya masuk ke dalam restoran itu.
Di meja bernomor 204 itu duduk seorang wanita yang sebayaan dengan Riani sedang menopang dagunya dengan telapak tangan.
"Assalamualaikum" sapa Riani.
Wanita itu menoleh kearah Riani dengan tatapan yang nampak marah karena keterlambatan Riani "Waalaikumsalam, gak bisa datang lebih lambat lagi?" ledek wanita itu.
"Aduh... aku benar-benar minta maaf Violet, tadi aku dan mas Albern ketiduran" ucap Riani dengan wajahnya yang menunjukkan rasa bersalah.
Violette menghela nafas lelahnya "baiklah, mari kita bahas rencana untuk kasus di Belanda besok" ucap Violette sambil membuka laptopnya.
Riani mengangguk "baiklah, sebagai permintaan maaf biar aku yang mentraktirmu minum" ucap Riani sambil berjalan ke meja pesanan untuk membeli 2 minuman kopi.
__ADS_1
"Hei, kamu serius bakal mentraktirku?" tanya Violette mencoba meyakinkan Riani.
Riani yang sedang berjalan ke arah meja pesanan, menoleh pada Violette "iya, kenapa?" heran Riani.
"Tadi aku juga sudah memesan minuman" sambung Violette.
"Tidak apa-apa" jawab Riani sambil meneruskan langkahnya.
Riani berjalan mendekati Violette dengan 2 buah kotak minuman yang sudah berisi kopi "jadi kasus tentang apa yang membutuhkan tenaga kita di Belanda?" tanya Riani sambil menyeruput terlebih dahulu kopinya.
Violette mengeluarkan dokumen yang diberi oleh Manquer Pamela secara mendadak tadi malam padanya.
Violette belum membuka dokumen-dokumen itu sama sekali dari tadi malam, matanya fokus menatap tiap tulisan-tulisan dalam dokumen itu.
Tadi malam, Riani juga dihubungi oleh Manquer Pamela untuk berdiskusi dengan Violette tentang kasus pertama mereka berdua di Belanda.
Awalnya Riani berniat untuk menolak perintah dari manquer Pamela ke Belanda karena tak ingin jauh dari Albern, tapi walau bagaimanapun sudah tugas Riani sebagai pengacara firma Confiance untuk memikul tanggungjawab-nya sendiri, dan terlebih Riani juga telah menandatangani surat kontrak yang berisi salah satu kewajiban Riani yaitu Rela ditempatkan dimana saja jadi Riani harus memegang erat kewajibannya.
Setelah menikah dengan Albern, ini sudah ke-7 kalinya Riani harus menyelesaikan kasus yang berada diluar negri, karena itu setelah 1 tahun pernikahan mereka, Riani dan Albern juga masih belum mempunyai anak.
Violette memberi kode pada Riani agar mendekat ke arahnya, Riani mengangguk dan berpindah duduk ke kursi yang ada disebelah Violette.
"Jadi apa yang dapat kamu simpulkan dari ringkasan permasalahan ini?" tanya Violette.
"Hmmm... sepertinya kita masih membutuhkan lebih banyak penjelasan lagi tentang kasus itu di Belanda" ucap Riani diangguki oleh Violette.
Violette menatap jam tangannya yang sudah menunjukkan pukul 09.48 dan segera memasukkan kembali laptopnya ke dalam tas "aku pergi dulu ya, dokumennya sudah aku foto, jadi kamu saja yang bawa" jelas Violette sambil berdiri dari duduknya "Assalamualaikum" salam Violette.
Riani mengangguk "Waalaikumsalam"
Rianipun pergi ke kasir membayar bon tagihan minumannya dengan Violette, saat mendengar jumlah nominal yang dibayarnya membuat Riani langsung kaget.
"Benaran 87 euro (setara dengan 870.000 rupiah Indonesia) mbak?" tanya Riani pada kasir itu.
Kasir wanita itu menganguk "iya, teman kakak tadi memesan kopi sebanyak 5 kali dengan variasan rasa yang berbeda" jelas wanita kasir itu.
__ADS_1
Riani membuang nafas lelahnya sambil meratapi isi dompetnya yang kandas.
Mobil firma confiance masih terpakirkan di parkiran restoran tadi, Riani langsung menghampiri monsieur Elxin untuk diantar menuju firma.
Sebelum memasuki mobil, mata Riani terfokuskan pada seorang pria dengan 2 buah hati dan satu wanita yang menemaninya, pria itu menolehkan pandangannya kepada Riani.
Riani tersenyum menatap pria itu melambaikan tangannya pada Riani dan segera memasuki mobil diikuti oleh kedua anaknya. Ya... dia adalah Iven, lelaki yang dulu berniat melamar Riani namun ditolak karena Riani tak memiliki perasaan apapun pada Iven.
Kini lelaki itu telah menikah dengan seorang sahabat baik Riani di Firma Confiance, dia adalah Violette, orang yang ditemui Riani tadi, mereka dikaruniai 2 pasang anak-anak yang lucu dan menggemaskan.
Setelah mobil Iven menjauh dari pandangannya, Riani pun segera masuk ke dalam mobil menuju firma confiance.
Riani membalikkan dokumen-dokumen yang diberikan Violette tadi padanya, tentang rincian kasus yang akan mereka selesaikan di Belanda nanti.
"Terimakasih monsieur" ucap Riani sambil keluar dari mobil.
Monsieur Elxin tersenyum dan mengangguk pada Riani.
Kini Riani kembali melangkahkan kakinya masuk ke dalam ruangan firma confiance, nampak 2 orang wanita kembali berdebat yang tidak penting bagi Riani, itu sudah menjadi pemandangan sehari-hari untuk Riani.
Tiap hari Enne dan Chloe selalu berisik di dalam ruangan firma, namun karena mereka jugalah firma menjadi bersuara dan berwarna.
"Hai Riani!" sapa Enne yang dilirik masam oleh Chloe.
"Hy Riani! nanti siang makan bareng yuk!" ajak Chloe.
Riani menatap dengan tersenyum pada mereka "hai! maaf Chloe, kamu makan siang sama Enne aja ya, soalnya nanti aku mau makan bareng Albern" jawab Riani.
"Kagak Sudi!" seru mereka bersamaan.
Riani hanya menyunggingkan bibirnya tersenyum menatap tingkah mereka.
Madam mavey membuka pintu masuk firma dengan tergesa-gesa melangkah ke ruangan manquer Pamela.
Mereka tidak tau ada apa dengan madam Mavey dan memilih untuk bungkam terlebih dahulu.
__ADS_1
Tak butuh waktu lama, manquer Pamela dan madam mavey keluar dari ruangan dan segera menghampiri mereka.
"Enne! Chloe! kalian saya tugaskan untuk segera ke kantor polisi jalan reyar sekarang juga! ada kasus pembunuhan yang sedikit aneh, karena Violette tidak ada disini saat ini dan besok dia harus terbang ke belanda dengan Riani, maka saya percayakan kasus ini pada kalian!" jelas manquer Pamela yang membuat Chloe dan Enne segera bergegas dan langsung menuju parkiran.