
"Sudah bisa menepati janji mu?" tanya Riani pada Serli yang nampak masih syok.
"Hei apakah saat ini aku sedang mimpi?" tanya Serli.
"Iya, ini mimpi buruk mu" canda Riani sambil tertawa kecil melihat ekspresi sahabatnya itu.
Serli nampak cemberut mendengar jawaban dari Riani. Serli menghela nafasnya sejenak "hah... baiklah, ayo masuk!" ajak Serli memimpin perjalanan.
Riani dan Alisya menundukkan kepala mereka kepada pak polisi itu sebelum mengikuti langkah Serli.
Di ujung ruangan yang cukup besar dan nampak terang, ada 5 orang polisi yang berdiri bersama seorang wanita dengan ekspresi terpuruk rapuh duduk di ruangan itu.
"Halo" sapa Serli sambil menyunggingkan senyumannya pada ke-6 orang itu.
"Ah! selamat datang nona Serli! dan--" sapa pak polisi yang terhenti karena dia tidak kenal dengan Riani maupun Alisya.
"Riani dan Alisya, yang akan membantu saya menyelesaikan kasus ini" sambung Serli.
Wanita dengan wajah terpuruk rapuh tadi langsung menegakkan kepalanya setelah mendengar nama yang disebutkan Serli tadi.
Pandangan wanita paruh baya itu langsung bertatap dengan Alisya, wajahnya nampak langsung syok, Alisya mengernyitkan keningnya melihat wajah ******* itu, yang tidak lain adalah istri kedua dari papanya yang merusak segala kehidupannya sampai ke ubun-ubun.
Wanita itu merenggut salah satu polisi yang berdiri disebelahnya sambil membisikkan sesuatu ke polisi itu.
"Maaf sebelumnya nona Serli, nyonya Dina tidak menginginkan keadaan teman-teman anda disini" ucap polisi itu pada Serli setelah mendengar bisikan dari wanita itu tadi.
Serli menghela nafas lelahnya "kalau begitu sebelumnya saya ingin menanyakan alasan kenapa nyonya tidak ingin kehadiran kedua rekan saya?" tanya Serli berfokus pada wanita itu.
Wanita paruh baya itu memalingkan wajahnya dari tatapan Serli.
__ADS_1
"Benar-benar maaf nona, kami tidak bisa membiarkan ada orang lain yang bisa mengusik nyonya Dina" sambung polisi tadi.
"Sebagai klien tentu anda bisa mematuhi permintaan nyonya kami" sambung polisi tadi.
Serli melepas ikatan rambutnya sambil menyerbakkan rambut panjangnya yang telah tergerai "kalau begitu mau lihat kinerja kedua rekan saya? jika memang masih tidak diizinkan, maka maaf. Anda bisa menc--"
"Tunggu! izinkan saya yang menyelesaikan kasus ini!" seru Alisya memotong ucapan Serli tadi yang hendak ingin mengundurkan diri.
Semua polisi diruangan itu jadi nampak bingung, sedangkan Dina membelalakkan matanya karena kaget.
"Maaf nona... kalian lah yang diminta oleh nyonya untuk tidak ikut dalam kasus ini, bagiamana bisa kami menyerahkan hal ini pada nona jika nyonya sendiri yang tidak ingin kehadiran nona" jelas polisi tadi.
Tangan Alisya nampak menggepal erat dari tadi, sepertinya dia sedang menahan diri untuk hendak memukul orang yang di cap nya sebagai ******* itu.
"Owh... begitukah? anda lebih mementingkan ucapan wanita itu yang bahkan sama sekali tidak ada hubungan darah dengan pak gubernur selain sebagai wanita simpanannya!? hahaha saya meragukan kinerja pol--"
"Pak! tolong berikan kami kesempatan!" seru Riani memotong ucapan Alisya tadi.
Alisya mendehem pelan "baiklah kita lanjutkan yang tadi, perkenalkan saya Alisya Fitri, putri kandung satu-satunya dari bapak gubernur yang kalian hormati itu! dan... maaf jika keadaaan saya pastinya lebih berharga dari pada wanita yang ada dibelakang kalian itu!" tegas Alisya.
"Akhirnya kamu mengakui kamu anak almarhum?" bisik Riani.
"Hah! aku tidak akan pernah sudi untuk mengakui itu! jelas ini karena mempertahankan posisi ku saja disini!" bisik Alisya.
Semua orang yang ada diruangan itu jadi terpana kaget, berbeda dengan Dina yang langsung berdiri dari duduknya dengan wajah penuh amanah yang jelas dinampakkan nya kini.
Alisya tertawa kecil melihat wanita itu "hahaha mana wajah sayu yang amat terpuruk yang kau nampakkan tadi!? sepertinya kau cukup oh tidak! kau punya banyak tenaga untuk bisa melawanku! seperti nya kau tidak memiliki tekanan bathin setelah kematian bapak gubernur, atau malah kau yang membunuh bapak gubernur!? wahai nyonya PE. LA. CUR ?
Satu kepalan tinju hampir mendarat mengenai wajah Alisya, Alisya langsung menepis tangan Dina.
__ADS_1
"Huft... hampir saja wajah ku yang suci ini ternodai karena sentuhan iblis *******!" ujar Alisya sambil menepuk-nepuk tangannya yang tadi menepis tinju Dina.
"Hei! jaga bicaramu anak biad*b!" seru Dina.
"Sepertinya tadi aku mendengar suara amukan Dajjal... tapi dimana ya?" tanya Alisya sambil berfokus membersihkan tangannya dengan tisue basah yang baru diambilnya dari tas tadi.
Riani hanya diam tanpa menanggapi ucapan dan tindakan Alisya, berbeda dengan Serli yang sedang menahan tawanya dari tadi.
"Bapak-bapak polisi yang baik hati, pastinya kalian tau sendiri dalam hukum siapa yang lebih utama kepentingan bukan? saya anak kandung dari almarhum sendiri yang akan menyelesaikan kasus ini, jadi tolong bisa singkirkan PE. LA. CUR ini dari hadapan saya?" tanya Alisya dengan tatapan sinis yang kini dilihatkan nya jelas.
"Tapi kami tidak bisa mempercayai ucapan anda begitu saja nona" sambung seorang polisi lainnya lagi.
"Owh apa kalian tidak percaya dengan saya? hmm... maklum juga sih, saya sudah lama menghilang dari dunia lama saya, kalau begitu bagiamana kalau ditanyakan sama wanita itu saja?" tanya Alisya sambil menunjuk Dina "saya yakin dia tau segalanya, owh iya kan dia yang menghancurkan semuanya ya" sambung Alisya.
Para polisi itu menatap Dina, Dina tidak akan bisa berbohong lagi, karena tadi secara tidak langsung dia telah mengakui ucapan Alisya tadi, dari tindakannya dan amarah yang dia lontarkan pada Alisya.
Owh... jadi ini alasannya kenapa sampai membuat wanita ini marah, agar dia tidak bisa mengelak lagi dari tingkah dan perkataannya saat emosi tadi, hahaha dia wanita yang benar-benar licik Pikir Serli sambil tersenyum melihat tindakan Alisya.
Sudah jelas Dina akan mengangguk kan kepalanya mengakui posisi Alisya.
Para polisi yang ada di ruangan itu menghela panjang nafas mereka.
"Walau anda anaknya sendiri, atau bisa dibilang orang pertama yang memiliki hubungan paling penting dengan almarhum, tapi kami tidak bisa mempercayai kasus ini pada yang bukan ahlinya" jelas salah seorang polisi.
"Untuk itu bapak tenang saja, saya juga tidak akan pernah mengatakan hal ini jika saya tidak bisa melakukan apa-apa, ini kartu nama terbaru saya, dalam hitungan bulan lagi saya akan lulus dari kampus dan langsung menjadi pengacara di firma top dunia, karena itu firma luar negri, saya tidak akan bisa dipercayai begitu saja menyelesaikan kasus dalam negri ini, tapi karena status saya sebagai anak beliau, dan terlebih saya belum menjadi pengacara tetap firma, saya juga baru lepas dari masa magang saya" jelas Alisya.
Para polisi itu membelalakkan matanya nampak kaget melihat kartu nama yang ditunjukkan Alisya menunjukkan nama firma Confiance.
"Untuk penyelesaian kasus ini nanti bisa dipaparkan saja nama Serli, kalian tidak perlu mengkhawatirkannya hal lainnya lagi" sambung Riani.
__ADS_1
Serli kaget mendengar ucapan Riani "hah... jadi aku berguna sebagai kulit saja disini" gumam Serli.