ERANGAN TAKDIR

ERANGAN TAKDIR
S2-CHAPTER 45


__ADS_3

Waktu membuat ku lelah untuk terus bertahan... Rasa yang selama ini ku punya semakin menghitam sampai menghasilkan dendam yang teramat besar


Walau pada akhirnya cerita ku hanya akan jadi berantakan, menjadi dibenci oleh sebagian besar orang... sungguh aku tidak mempedulikan hal itu


Ceritaku adalah ceritaku... kau tak perlu risau atau ikut campur dalam kisahku


Karena bagaimanapun aku adalah wujud dari rasa dendam ku pada pria itu selama ini


Akan ku pastikan dendam ini terbalaskan


Langit sudah semakin berwarna gelap, dinginnya suhu kota Paris kini menyelimuti tubuh Alisya dan Violette, tapi bukan selimut yang mengamankan karena hangatnya, namun selimut yang membekukan karena saking dinginnya.


Sebuah mobil yang tak asing lagi bagi mereka berdua sudah menunggu sedari tadi dari gerbang keluar bandara, seorang pria melambaikan tangannya pada Violette dan Alisya.


"Mau singgah ke tempat lain dulu manquer?" tanya pria itu.


"Tidak sir Jahad, kita langsung kembali ke Firma saja, tidak tau nenek lampir itu akan melakukan apa jika kita terlambat" jelas Violette.


Sir Jahad tertawa kecil mendengar jawaban dari Violette "hahaha baiklah Manquer"


Mobil yang dibawa oleh sir Jahad melaju cepat menuju firma Confiance.


Alisya diikuti oleh Violette keluar dari mobil sambil terus melangkah ke pintu masuk firma.


Ruangan Firma nampak masih terang pertanda ada lebih dari satu orang yang kini ada dalam ruangan firma.


Violette dan Alisya langsung mengambil langkah cepat untuk masuk ke ruangan Riani dan singgah ke tempat lainnya dulu.


Ruangan itu nampak kosong, tapi barang-barang Riani masih berantakan di atas mejanya, pertanda Riani belum berniat untuk pulang.


Violette menghempaskan tubuhnya di sofa ruangan itu sambil membuang nafas lelahnya panjang-panjang. Alisya hanya menatapi tingkah Violette kini.


"Tidak mencari ketua?" tanya Alisya.

__ADS_1


"Kayaknya dia lagi sholat, tunggu saja sebentar lagi juga selesai" jawab Violette diangguki oleh Alisya.


Alisya ikut duduk di sebelah Violette sambil menatap lama latar dinding ruangan itu.


"Kenapa? merasa aneh dengan layarnya?" tanya Violette tepat seperti apa yang dibingungkan oleh Alisya kini.


Alisya memang pernah sempat masuk ke ruangan ketua firma itu, namun saat itu dia tidak terlalu memperhatikan background ruangan, kini Alisya baru menyadari background ruangan yang bergambar seperti pemandangan di pantai itu cukup tidak masuk akal sama sekali dengan ruangan ini, apalagi ini adalah ruangan ketua firma confiance, himpunan pengacara terbaik dunia.


"Ini desain dari ketua lama, manquer Pamela, ini bukan ide Riani dan dia pun tak ingin mengubah background ruangan ini, biarkan hal ini menjadi ciri khas dari ruangan firma confiance itu sendiri dan agar membekas di ingatan orang-orang yang pernah mampir ke sini, omong-omong aku cukup kaget kamu bagi menyadari hal ini" ucap Violette.


Alisya pun juga tidak tau kenapa bisa dia baru sadar setelah melihat hal seunik dan seaneh ini, Alisya tertawa cengengesan menanggapi pertanyaan Violette.


Tak butuh waktu lama mereka istirahat sejenak di ruangan itu sehabis melakukan aktifitas dan perjalanan yang melelahkan, Riani diikuti Coty masuk ke dalam ruangan secara bersamaan.


Riani masuk dengan tangan kosong karena baru saja selesai shalat, sedangkan Coty membawa kantong besar yang berisi banyak Snack ringan dan minuman botol pertanda dia baru balik dari mini market.


Riani diikuti Coty yang meletakkan cemilan bawaannya ke atas meja melangkah menuju sofa tempat Violette dan Alisya duduk.


Violette menggelengkan kepalanya "baru 3 menit" jawab Violette.


Riani mengangguk paham "owh..."


Riani menatap Alisya yang dari tadi memilih untuk diam "bagaimana dengan kasus pertama mu? saya dengar kamu sampai salah menduga tersangka?" tanya Riani kembali.


Alisya terperanjat kaget dan kini matanya menatap sinis Violette, Violette tertawa cengengesan pada Alisya.


Alisya menghela nafas berat nya kemudian mengangguk mengiyakan pertanyaan Riani tadi.


"Jadi apakah semuanya masih dalam kadar baik-baik saja? tidak ada seorang pun yang tau kamu salah duga kan?" tanya Riani kembali.


Alisya diam sejenak, Geyaa tau akan salah dugaannya itu karena Geyaa sendiri yang menjebaknya sampai menduga bahwa Fres adalah pelaku, namun itu tidak akan menjadi sebuah masalah besar, karena bagaimana pun otak gadis itu tidak akan kesampaian memikirkan jalan ceritanya kedepannya setelah masuk ke dalam jeruji besi itu untuk seumur hidup.


Tapi bagaimana dengan Fres? itu yang dicemaskan Alisya saat ini, polisi itu tau bahwa Alisya salah duga pada dirinya, dan suatu saat mungkin Fres akan menjadi penghambat nya untuk bekerja bersih dan banyak kebolongan dan mudah terjebak oleh sesuatu yang kurang pasti.

__ADS_1


"Tanggapan kamu cukup lama Alisya, jadi ada yang tau kesalahan mu dalam menyelesaikan kasus itu? siapa orangnya?" tanya Riani sekali lagi dengan penyusunan kata seperti mendesak.


Alisya kembali membuang nafas beratnya, karena bagaimana pun tidak ada gunanya untuk dia berbohong akan hal ini, Alisya tau suatu saat hal ini juga bakal ketahuan.


"Polisi muda itu... namanya Fres Nomard" jawab Alisya.


Violette hanya diam karena dia pun tau akan hal ini, sedangkan Riani masih dalam ekspresi dan posisi tenangnya tanpa sedikit pun kaget atau apa pun.


Ruangan itu kembali hening dalam beberapa saat, Coty dan Violette memilih untuk diam karena mereka pun terlalu malas untuk membuka mulut saat ini.


Riani membuang nafasnya perlahan "baiklah Alisya... sejauh info yang saya dapatkan tentang kamu, tentang cara kamu menyelesaikan kasus selama ini, maka saya sendiri sebagai ketua dari firma Confiance ini, kami... sebagai anggota dengan senang hati menerima kamu bergabung dalam kedua belasan anggota firma confiance" ujar Riani.


Alisya nampak cukup kaget "jadi bagaimana dengan sir Fres Nomard yang mengetahui kesalahan saya?" tanya Alisya heran.


Riani tersenyum tipis "bukankah sudah jadi kodratnya manusia itu makhluk yang dipenuhi kesalahan?" tanya Riani.


"Jadi aku benaran diterima?" tanya Alisya memastikan.


Riani kembali menganggukk kan kepalanya "tentu, dan saya juga berharap kamu bisa melakukan yang terbaik untuk firma ini" jelas Riani.


Alisya tersenyum puas, seakan dia seperti menjadi orang yang sangat bahagia, sejenak Alisya terlihat seperti orang yang tidak memiliki maksud lain untuk bergabung dalam firma Confiance, namun tetap saja lagi-lagi tekad dan pencapaian Alisya untuk bertahan hidup demi membalaskan dendam nya selama ini tidak akan hilang begitu saja.


Alisya kembali diam, dia pun tau betul bahwa Riani pasti tau alasannya mau menerima tawaran magang dari firma, namun Riani tetap memilih Alisya, pastinya ada sesuatu yang dirahasiakan oleh Riani dengan Violette belakangan ini, namun Alisya memilih untuk tidak menanggapi hal itu.


Surat tanda tangan pengesahan di sodorkan Riani pada Alisya, surat untuk kampus juga sudah diberikan Riani sebelum keberangkatan Alisya dalam 3 hari ini lagi.


"Jadi Violette bagaimana dengan yang kita bahas tadi?" tanya Riani kembali setelah menyerahkan dokumen-dokumen penting itu pada Alisya.


Violette tersenyum tipis "seperti nya kamu harus memegang perkataan mu itu Riani" jawab Violette.


"Jangan bilang gadis itu mau membantu kamu Violette?" tanya Riani memastikan.


Violette mengangguk dengan senyuman puasnya, Riani langsung kaget bahwa Alisya mau menggantikan Violette dalam sidang.

__ADS_1


__ADS_2