ERANGAN TAKDIR

ERANGAN TAKDIR
S2-CHAPTER 2


__ADS_3

Enne dan Chloe memilih untuk memakai kendaraan firma daripada kendaraan pribadi mereka sendiri, karena dalam situasi yang mendesak saat ini mereka harus berusaha terlebih dahulu mengumpulkan data dan memeriksa data yang diberikan madam mavey pada mereka.


Enne sibuk dengan laptopnya untuk mengumpulkan data kepolisian kasus pembunuhan di jalan raya itu, sedangkan chloe sibuk melihat HP-nya yang berisi rincian kasus penyebab kecelakaan yang berujung Kematian itu dari madam mavey.


Polisi mengatakan bahwa kasus itu bukanlah kecelakaan semata, tapi adalah pembunuh berencana, terlebih yang terbunuh adalah putra dari walikota daerah itu yang akan menikah besok lusa.


Kali ini walikota sendiri yang meminta tolong pada firma confiance lewat madam mavey untuk mengusut serta mengadili kasus ini, ada 2 tersangka utama dalam kasus kecelakaan dijalan raya itu.


Yang pertama adalah tunangan dari anak walikota itu sendiri, seorang gadis cantik anak dari seorang pengusaha berlian yang telah bangkrut, dan seorang lagi teman laki-laki dari anak walikota.


Mereka ditetapkan sebagai tersangka adalah karena pada saat kejadian mereka beriringan dengan mobil masing-masing.


Chloe diberi kepercayaan untuk menanyai teman laki-laki dari anak walikota yang telah meninggal itu, sedangkan Enne menanyai tunangan dari anak walikota.


Mereka memasuki ruangan interogasi yang berbeda.


Chloe melangkah ke dalam ruangan interogasi dan menarik mundur kursi ke belakang agar dia bisa duduk, Chloe menatap mantap ekspresi laki-laki itu yang nampak heran.


"Anda polisi?" tanya laki-laki itu.


Chloe menyunggingkan senyumannya pada laki-laki itu "dengan tuan Foster?" tanya Chloe diangguki oleh laki-laki yang bernama Foster itu.


"Boleh saya tau hubungan tuan dengan anak walikota yang bernama Narnad Flekse?" tanya Chloe.


"Saya teman mainnya" jawab Foster yang tengah diinterogasi oleh Chloe.


"Kalian sering main kemana?" tanya Chloe.


"Bar." Jawab Foster singkat.


Chloe menuliskan beberapa kalimat di atas buku kecil yang ada digenggaman-nya, "hmm... anda memiliki dendam dengan tuan Narnad Flekse?" tanya Chloe memastikan.


Foster memalingkan mukanya dari Chloe yang sedari tadi terus fokus menatap mata Foster "tidak" jawab Foster.


Chloe mengernyitkan keningnya "bisa anda mengatakan hal itu dengan menatap mata saya?!" tanya Chloe dengan nada suara yang sedikit ditinggikannya.


Sebenarnya Chloe menyuruh Foster menatap matanya bukanlah karena Chloe ahli dalam bidang psikologis, atau Chloe bisa mengetahui seseorang berbohong atau tidaknya dari raut mata orang itu, Chloe melakukan itu hanya untuk menggertak orang yang ditanyainya, jika sedari tadi mata Chloe dan Foster saling menatap, maka saat berbohong secara refleks Foster akan memalingkan pandangannya dari Chloe.


Chloe memanfaatkan yang namanya reaksi alami dari orang yang akan diinterogasinya, Chloe tidak memiliki yang namanya Indra ke-7 seperti Enne, namun Chloe bisa memutar otaknya untuk memanfaatkan reaksi orang-orang secara psikologis.


Saat ini Chloe sudah tau bahwa Foster sedang berbohong dan tengah memikirkan alasan lain, tapi Chloe terus menyesak Foster dengan segala hal yang akan membuat Foster secara terpaksa membuka mulutnya untuk menjelaskan dendam yang dimilikinya pada anak walikota itu.


"Tuan Foster, jika anda menjelaskan dendam apa yang anda miliki pada tuan Narnad Flekse, maka mungkin hal itu bisa membantu anda untuk lepas dari status tersangka" jelas Chloe.


Foster masih tetap diam dengan ekspresi wajahnya yang menahan amarah yang sangat kuat.


Chloe membuang nafas lelahnya "anda tidak perlu takut untuk menjelaskan hal itu pada saya tuan Foster, karena saya bukan seorang polisi" ucap Chloe yang mengejutkan Foster.


"Lalu kenapa anda bisa menginterogasi saya?" tanya Foster.


"Perkenalkan nama saya Brianna Chloe, pengacara dari firma Confiance" ujar Chloe sambil terus fokus melihat reaksi yang akan dikeluarkan Foster.


Mata Foster terbuka lebar mendengar ucapan Chloe, Chloe tau betul bahwa ada rasa lega yang terpancarkan dari wajah Foster.


"Anda benar-benar salah seorang pengacara dari Firma Confiance?" tanya Foster memastikan.


Chloe mengangguk "jadi bisa anda jelaskan tuan Foster?!" tanya Chloe dengan sedikit menekan nada bicaranya.


"Baiklah, saya percaya kepada anda nona Chloe, laki-laki Bangs*t itu telah merebut kekasih saya! dan akan menikahinya besok lusa!" kesal Foster.


"Apa maksud tuan Foster adalah tunangan dari tuan Narnad Flekse?" tanya Chloe memastikan.


"Bisa jangan panggil nama bajing*n itu di depan saya?! dia bukan hanya merebut kekasih saya! namun dia juga selalu membuat wanita-wanita yang saya dekati menjauh dari saya karena uang dan status yang dimilikinya!" kesal Foster sambil mengepal tenjunya.

__ADS_1


"Jadi karena alasan itu anda membunuhnya?" tanya Chloe terus terang.


"Saya memang dendam padanya! namun saya bukan seorang bajing*n seperti dia! jadi bagaimana mungkin saya membunuh si Bangs*t itu! walau saya akui saya sangat ingin dia hilang dari muka bumi ini hahahah" tawa Foster nampak lega setelah dia menceritakan semuanya.


Chloe menutup bukunya dan segera keluar dari ruangan interogasi itu.


Di waktu yang bersamaan saat Chloe sedang menginterogasi Foster tadi, Enne ikut menarik kursinya ke belakang dan duduk di hadapan tunangan dari anak walikota itu.


"Dengan nona Lune Vie?" tanya Enne memastikan.


Wanita itu mengangukkan kepalanya "iya saya sendiri, apa anda seorang pengacara?" tanya wanita tunangan dari anak walikota yang bernama Lune Vie itu.


"Kenapa nona bisa bertunangan dengan tuan Narnad Flekse?" tanya Enne berbasa-basi.


Line Vie terdiam karena Enne tidak menjawab pertanyaannya, walau dia sudah tau dari style yang dikenakan Enne yaitu Blazer dengan dalaman kemeja putih serta celana hitam dan rambut yang diikat rapi dibelakang, serta yang lebih menjelaskan identitas Enne adalah gantungan nama dan profesi Enne yang dikalungkan dilehernya.


Karena sadar akan penampilan dan kartu nama yang dikenakannya, Oleh karena itu Enne tak menjawab pertanyaan dari Line Vie.


"Dia melamar saya, jadi saya menerimanya" jawab Line Vie sambil memalingkan wajahnya dari Enne.


"Apa kamu menerima lamarannya atas dasar suka sama suka?" tanya Enne mencoba memastikan.


"Tentu" angguk Line Vie.


"Anda ada dendam dengan tuan Narnad Flekse?" tanya Enne kembali.


Line Vie menggelengkan kepalanya "tidak, jika saya memiliki dendam padanya, mana mungkin saya mau menikahinya" jelas Line Vie.


"Mungkin dengan cara menikahinya otomatis anda akan selalu ada disisinya dan itu akan mempermudah anda untuk membunuhnya" ujar Enne.


Line Vie mengerutkan keningnya "anda pikir saya akan melakukan hal merepotkan seperti itu?! hahahah maaf nona... saya tidak sesabar itu untuk melakukan hal yang membutuhkan waktu yang sangat lama" tawa Line Vie.


Enne meneruskan pertanyaannya sampai pada situasi dimana Line Vie tersudutkan "saya dengar perusahaan berlian milik ayah anda bangkrut karena tuan Narnad Flekse?"


Enne menyunggingkan bibir mungilnya tersenyum pada Line Vie "sebelum itu bisa anda jelaskan pertanyaan saya tadi?" ulang Enne.


Line Vie membuang nafas yang dipenuhi dengan amarahnya perlahan "bisa jangan anda ungkit hal itu kembali nona?" tanya Line Vie.


"Kenapa? bukankah jika anda menjawab pertanyaan terakhir dari saya, maka bisa saja setelah itu anda terbebas dari daftar tersangka" jelas Enne.


Line Vie kembali memalingkan wajahnya dari Enne "maaf... saya tidak bisa menjelaskan"


"Nona Line Vie..." ujar Enne.


"BANGS*T itu membuat semua pelanggan tetap ayah saya beralih ke toko berlian barunya! oleh karena itu toko berlian ayah saya jadi bangkrut dengan cepat." ujar Line Vie dengan nada suaranya yang marah besar.


Enne menganguk paham.


"Tapi tidak mungkin hanya karena alasan itu saya membunuhnya" sambung Line Vie.


Enne merasa masih banyak hal yang disembunyikan wanita itu, banyak beban dan rasa dendam yang masih terpancar jelas dari aura tubuhnya, namun Enne memilih untuk diam karena memperhatikan kondisi wanita itu yang tengah sedang dalam puncak emosi yang tidak baik.


"Baiklah nona Line Vie... saya keluar dulu" ucap Enne sambil meninggalkan ruangan itu.


Dibalik kaca ruangan Interogasi sudah ada Chloe yang menunggu data langsung yang didapat oleh Enne.


Enne mengangukkan kepalanya pada Chloe dan segera menjauh terlebih dahulu dari kantor polisi itu.


"Besok kami akan kembali kesini pak, kami pastikan akan membuka sidang besok, jadi boleh saya minta data dari tim Forensik?" tanya Chloe pada pak polisi yang berdiri bersama mereka di ruangan itu.


Polisi itu mengangguk dan bercakap-cakap sebentar dengan salah seorang wanita berbaju biru muda yang merupakan seorang tim Forensik.


Wanita itu menganguk dan berlari pelan ke suatu tempat.

__ADS_1


Tak selang beberapa lama wanita itu kembali dengan membawa sebuah map yang cukup tebal, mungkin saja dalam map itu berisi foto-foto.


Polisi yang berdiri bersama Enne dan Chloe tadi menerima dokumen dari wanita itu dan langsung menyerahkannya pada Chloe.


Chloe menerima dokumen dari pak polisi dan setelah berpamitan bersama Enne, mereka langsung meninggalkan kantor polisi.


"Restoran Cahnpika monsieur!" ucap Enne sambil menutup kembali pintu mobil yang tadi dibukanya.


"Baik nona" jawab sopir firma yang mengantar jemput mereka berdua.


Mobil melaju dengan lancar ke salah satu restoran di Perancis, yaitu restoran Cahnpika.


"Kamu tau? kalau Foster dan Line Vie itu adalah mantan pacar, bahkan mereka sudah hampir menikah" ucap Chloe.


"Benarkah?!" kaget Enne diangguki oleh Chloe.


Enne dan Chloe memerhatikan dengan teliti setiap foto-foto dalam kasus pembunuhan yang disamarkan seperti kecelakaan itu, sambil membaca penjelasan dari foto yang terselip dibagian bawah foto.


Mata Chloe tertuju pada goresan yang ada di atas bagian kaca mobil, Chloe menatap lama foto itu sambil membandingkan dengan foto kursi letak bagian belakang kepala yang dipegang oleh Enne.


Mereka tersentak kaget bersamaan "sepertinya ini akan lebih mudah" ucap Enne.


"Kita hanya perlu tau bagaimana jalan ceritanya dan siapa pembunuhnya" sambung Chloe.


"Untuk pembunuhnya aku sudah tau" ujar Enne.


"Eh serius?! siapa?" tanya Chloe.


Enne tersenyum "R A H A S I A" ucap Enne sambil mengayun-ayunkan telunjuknya.


Chloe menghela nafasnya dan kembali fokus dengan foto-foto itu.


Mobil yang mereka tumpangi berhenti tepat di restoran Cahnpika.


Enne turun dari mobil dan segera masuk ke dalam restoran untuk makan siang, walau mereka sudah telat beberapa jam untuk makan siang.


"Udah makan monsieur?" tanya Chloe.


Monsieur itu menganguk "sudah non"


Chloe menganguk paham dan menyusul langkah Enne segera untuk makan siang.


Chloe dan Enne berjalan ke meja pesanan untuk meminjam kunci salah satu ruangan di restoran itu yang bersih dan kosong untuk mereka sholat, Enne dan Chloe sudah dikenal akrab oleh pemilik dan karyawan restoran itu sehingga mereka mudah untuk saling berkomunikasi dan bebas meminjam ruangan.


Setelah mendapatkan kunci mereka langsung menuju kamar mandi untuk mengambil wudhu.


Chloe dan Enne mengeluarkan mukenah yang selalu mereka bawa didalam tas, setelah menyelesaikan sholat mereka kembali ke meja pesanan untuk memesan beberapa menu makan siang.


"Hah...." keluh Chloe.


"Ada apa?" heran Enne.


"Benar kata Riani, kita makan siang berdua lagi" ucap Chloe yang membuat Enne tertawa.


"Enne sebenarnya juga bosan liatin Chloe terus" ujar Enne.


Chloe tak ingin berdebat dengan Enne dan memilih diam.


Makanan yang mereka pesan telah datang dan tersaji tapi diatas meja, Chloe dan Enne memulai menyantap makanan mereka masing-masing.


Selesai makan mereka kembali masuk ke dalam mobil yang dikendarai supir firma.


"Mau langsung kemana non?" tanya monsieur.

__ADS_1


Enne menatap ke Chloe yang juga tengah menatap Enne.


__ADS_2