
Mentari pagi membagi sinarnya pada bumi
Memunculkan tawa cerah dari setiap orang
Mendatangkan kehangatan bagi setiap pasang makhluk hidup
Dan menerangi jalanku menuju surgamu
Beberapa belas jam kemudian akhirnya pesawat mendarat ke salah bandara yang ada di Indonesia.
"Waduh ini jam 00.00 loh kak" jelas Aren.
"Gak masalah, sebelum terbang kakak sudah WA seseorang untuk bersiap kapan saja. Kakak telepon dulu ya" ucap Riani sambil mencari dengan cepat nama orang itu yang ada di HP-nya.
"Halo Serli? bisa jemput sekarang?" tanya Riani.
"Lah sekarang? aku baru buka mata nih, aduh... berat banget, kamu naik taxi aja ya, aku bayarin" ucap Serli yang terdengar masih menguap di balik telepon.
"Eh kok gitu sih!? bukannya kamu udah janji ya? lagian mana ada taxi jam segini!" jelas Riani kesal.
"Maaf ya Riani, tapi aku ngantuk berat banget nih" ucap Serli yang suaranya mulai hilang perlahan.
"Serli... Serli... Serli!" seru Riani yang tak kunjung mendapatkan jawaban dari Serli. "Hah... ini anak kayaknya beneran ketiduran dah" gumam Riani sambil mematikan telepon.
Nelpon siapa ya? kalau Aisyah gak mungkin, dia lagi hamil, Andi apalagi... selain gak enak, aku takut ada kesalah pahaman lagi, entar Aisyah kenapa-kenapa. Keluarga Kirana juga gak mungkin, om sama tante apalagi, haduh... aku yang dekat cuman itu lagi-- Oh masih ada seorang lagi! ini penting banget! Bathin Riani yang kembali semangat mengetikan nomor di HP nya.
"Ini yakin kita bakal menunggu? padahal udah 2 taxi loh lewat, tapi keburu di ambil sama penumpang lain" bisik Dimas pada Aren.
"Udah gak apa-apa kak, liat kan kak Riani semangat gitu kayaknya, mungkin dia gak tau kali masih ada beberapa taxi yang beroperasi malam-malam begini eh udah pagi ya kayaknya" balas Aren berbisik pada Dimas.
"Halo..." sapa suara di balik telepon itu.
"Halo Sya, kamu lagi sibuk gak?" tanya Riani was-was.
"Hmm... sibuk gak sibuk sih kak, aku masih mantauin statistik perusahaan nih, kakak udah sampai di Indonesia ya? sekarang lagi dimana?" tanya Alisya dibalik telepon.
"Iya udah sampai, sekarang masih di Bandara sih, maaf menganggu Sya... tapi bisa jemput kami?" tanya Riani.
Terdengar helaan panjang nafas Alisya di seberang telepon. "Ya udah, aku sudah duga bakal begini sih. Tunggu di halte bus depan bandara saja ya kak, bye" ucap Alisya sambil mematikan telepon dan langsung bergegas keluar dari rumahnya sambil menghidupkan mesin mobil dan mulai menekan pedal gas dengan kecepatan penuh.
"Ya udah, ayo kita ke halte bus" ajak Riani pada Aren dan Dimas yang duduk termenung di teras luar.
Mereka berdua mengangguk dan mengikuti langkah Riani memimpin jalan.
"Mau aku bawakan?" tanya Dimas pada Aren yang terdengar sampai di telinga Riani.
"Gak perlu kok, aku bisa sendiri" jawab Aren terus melangkah.
Dimas langsung merebut 2 tas besar yang ada ditangan kiri dan kanan Aren.
"Eh!?" teriak Aren kaget.
__ADS_1
"Kan kamu juga udah bawa, tuh yang kamu sandang" ucap Dimas sambil cengengesan.
"Dimas, sekalian kakak juga berat nih, ini gak perlu kamu angkat kok, tinggal dorong aja" jelas Riani sambil menyodorkan kopernya pada Dimas. "Owh tapi karena jalannya gak bagus, kamu angkat ya, tolong... " ucap Riani sambil terus melangkah setelah meninggal kopernya di depan Dimas.
Aren menutup mulutnya menahan tawa "kalau gitu aku duluan ya Dimas, selamat mengangkut" ucap Aren sambil berlari kecil mengejar Riani.
Dimas mengernyitkan kening nya sambil tersenyum kaku yang jelas nampak menyeramkan "Ini gak lagi bercanda kan?" gumam Aren sambil menyandang tas Aren dengan tali panjang dan mengangguk koper Riani yang berat itu walau isinya tidaklah banyak.
Dimas melangkah tertatih membawa koper Riani dan tas-tas Aren.
Aren membalikkan tubuhnya menatap Dimas dan kembali berlari kecil menghampiri Dimas. "Aku ambil satu ya" ucap Aren sambil mengambil kembali satu tasnya yang ada ditangan kiri Dimas.
"Eh... gak perlu kok, aku masih kuat" ucap Dimas disunggingkan senyum manis oleh Aren.
15 Menit mereka menunggu, akhirnya sebuah mobil merah berhenti tepat di depan halte, karena tidak ada bus yang beroperasi tengah malam begini. Alisya menurunkan kaca spion mobilnya.
"Ayo masuk!" seru Alisya lantang, jelas sekali kelihatan kantung matanya alias mata Panda.
"Eh Alisya!?" kaget Dimas.
"Owh Lo Dim, kenapa bisa ada disini?" tanya Alisya.
"Nanti dulu reunian kalian! Dimas! tolong tarok barang-barangnya di bagasi belakang ya!" seru Riani pada Dimas.
Dimas nampak menghela nafasnya "Siap Bos ku" jawab Dimas lelah.
"Hahaha udah ganti profesi lu sekarang jadi tukang angkut ya Dim!" seru Alisya sambil tertawa puas.
Alisya mengernyitkan keningnya "Kak! Ren! ayo masuk!" ajak Alisya.
Riani dan Aren menganggukkan kepala mereka lalu masuk ke dalam mobil yang dikendarai oleh Alisya.
Dimas yang masih dibagasi belakang untuk menarok barang-barang langsung terperanjat kaget setelah merasakan gerakan dalam mobil Alisya, Dimas langsung melompat ke bagasi dan menutupnya segera.
Tuh anak sifatnya gak berubah-berubah ya! kenapa Aren bisa betah temanan sama dia! hah... Bathin Dimas sambil berusaha memperbaiki posisinya.
"Sya! serius tuh Dimas ditinggal?" tanya Aren cemas.
"Ha? kenapa Ren? bukannya kamu sudah putus juga sama dia? lagian dia anak orang kaya gitu loh, bisa langsung manggil supir pribadi buat jemput" jawab Alisya cuek.
Aren menundukkan pandangannya "Tapi gak gitu juga Sya... lagian Dimas juga udah kabur dari rumah demi aku" jawab Aren.
"Lah kok bisa?!" kaget Alisya sambil fokus menyetir.
Riani hanya diam tidak menghiraukan percakapan kedua sahabat itu, Riani merasakan ada sesuatu yang harus diambilnya di dalam koper tadi. Riani beringsut dari mobil Alisya dan menengok kebagasi belakang.
Mata Riani terbelalak kaget melihat Dimas yang duduk sambil memeluk erat kedua lututnya termenung.
Riani langsung kembali ke tempat duduknya, mengurung kan kembali niatnya untuk membuka koper.
"Dimas... membatalkan pertunangan nya dan kabur dari rumah Sya, dia bersedia dicoret namanya dari kartu keluarga dan dihapuskan hak warisnya dari perusahaan demi bisa bersama aku" jelas Aren.
__ADS_1
Alisya terdiam mendengar penjelasan Aren, dengan tangan yang masih memegang setir, mata yang fokus pada jalanan. Alisya masih berpikir bagaimana cara menyampaikan pendapatnya agar tidak menyinggung hati sahabat baiknya itu.
"Aren..." gumam Alisya.
"Ada apa Sya?" tanya Aren heran.
"Kamu mau aku balik lagi kebelakang menjemput Dimas?" tanya Alisya canggung.
"Eh.. ***--"
"Jangan! Dimas baik-baik saja kok, entar kalau kita udah sampai, dia juga sampainya samaan kok" sela Riani memutus perkataan Aren yang hendak menjawab boleh.
Dimas yang ada di dalam mobil terdiam mendengar perkataan Riani, lalu menengadahkan kepalanya ke atas, Riani tersenyum pada Dimas dalam posisi kepala yang menghadap ke kiri.
Dimas tersontak kaget mengetahui Riani menyadari keadaannya.
Aren yang heran dengan jawaban Riani tadi melirik ke belakang, melihat Riani yang senyum-senyum sendiri di bagian belakang kiri bagasi. Aren membelalakkan matanya kaget, kemudian tersenyum tipis karena menyadari tingkah Riani tadi.
"Iya Sya... gak usah deh, kita lanjut aja" jawab Aren.
"Lah? kok gitu? gak masalah nih?" tanya Alisya heran.
Aren mengangukkan kepalanya menanggapi pertanyaan Alisya. "Omong-omong Sya... gimana keadaan Tante Nadia?" tanya Aren kembali membuka obrolan diluar topik tadi.
"Alhamdulillah mama baik kok" jawab Alisya yang masih fokus menyetir.
"Kamu gak ada masalah atau beban kan?" tanya Aren.
"Hmm... "Alisya kembali diam sejenak. "Banyak sih" sambung Alisya.
Aren tersenyum tipis pada Alisya yang nampak baik-baik saja walau punya banyak masalah dan beban.
"Oh iya Ren... gimana kalo Dimas kerja diperusahaan aku aja? kayaknya mama juga gak bisa lagi di usia yang sekarang untuk totalitas diperusahaan, selagi aku kuliah, gimana kalo Dimas yang bantu-bantu mama diperusahaan?" tanya Alisya bersemangat.
"Wah bagus tuh! entar aku tanyain Dimas nya ya!" jawab Aren dengan semangat.
Mobil Alisya berhenti tepat disebuah rumah yang nampak sederhana, lampu diteras rumah dalam perkampungan itu hidup dengan terang, melebih terangnya lampu jalanan.
Aren turun dari mobil sambil berjalan pelan ke bagasi belakang.
"Mau aku bantu Ren?" susul Alisya.
"Hahaha gak usah Sya, udah ada yang bantu kok. Dari tadi duduk dibelakang bagasi" jelas Aren sambil tertawa cengengesan.
"Eh Dimas!? kok Lo bis--"
"Pas mobil Lo serasa bergetar tadi gue langsung melompat masuk, gue tadi Lo licik! tapi... terima kasih atas tawarannya ya Sya... kalo gak ada Lo gue gak tau lagu harus apa" ucap Dimas yang masih terduduk dibelakang bagasi.
"Ya udah! gak usah drama deh! ayo tolong Aren keluarin barang-barang nya!" seru Alisya.
"Siap bosQ" jawab Dimas yang langsung bersemangat kembali.
__ADS_1