
Aku tidak pernah meminta lebih hal apapun dalam hidupku... Dan sejatinya aku pun tak pernah meminta untuk seperti ini
Keyakinan yang membuatku bisa bangkit seperti sekarang
Walau badai menghadang... Rintangan di depan mata... Tapi aku tetap yakin bahwa semua akan indah pada waktunya.
Pemandangan yang cukup jarang untuk diliat orang-orang pada umumnya, banyaknya orang tua yang tertawa riang diatas kursi roda maupun kursi taman itu.
Alisya diikuti Riani berjalan mendekat ke taman yang ada di panti asuhan yang ada di gerbang belakang panti itu.
"Kak... aku ke dalam dulu ya" ucap Alisya diangguki oleh Riani.
Riani memutuskan berjalan mengitari panti asuhan itu, langkah Riani terhenti tepat di depan wanita tua yang sedang duduk dikursi roda yang ada dibawah pohon taman itu.
"Halo Nek, boleh aku duduk disini?" tanya Riani sambil menyunggingkan bibirnya tersenyum lebar.
Wanita tua itu cukup terkejut mendengar suara Riani yang tiba-tiba ada dihadapannya "boleh nak, duduk saja" jawab wanita itu.
"Nenek tidak ikut main bersama yang lainnya?" tanya Riani kembali.
Wanita tua itu menggelengkan kepalanya "nenek tidak punya cukup tenang untuk main dan bercanda seperti itu nak" jawab wanita tua itu sambil menatap sayu teman-temannya yang masih bisa tersenyum bersama.
"Nek... mau temani aku mengobrol?" tanya Riani.
"Hahaha bukankah sekarang kita sedang mengobrol nak?" tanya wanita tua itu.
Riani menyungginkan bibirnya tersenyum tipis "kalau aku boleh tau, dimana anak-anak nenek?" tanya Riani.
"Mereka sudah berkeluarga dan sibuk dengan urusannya masing-masing nak, jadi dari pada nenek merepotkan akan lebih baik nenek berada disini saja" jelas wanita tua itu.
"Tapi apakah benar itu yang nenek inginkan?" tanya Riani.
"Tentu itu yang nenek inginkan nak" jawab nenek itu.
"Nenek tak ingin bermain dan berjumpa dengan cucu-cucu nenek?" sambung Riani.
"Seperti yang nenek bilang tadi, nenek tak ada cukup tenaga untuk main nak" jawab wanita tua itu kembali.
"Setidaknya mengobrol bersama dengan anak-anak dan cucu-cucu nenek?" tanya Riani kembali.
"Hahaha kamu seperti reporter saja nak" canda wanita tua itu.
__ADS_1
Riani kembali menyungginkan bibirnya tersenyum tipis menatap wanita tua itu sudah 2 kali tertawa karenanya.
"Nek... apa anak-anak dan cucu-cucu nenek sering mengunjungi nenek?" tanya Riani.
Wanita tua itu menganggukk "setiap libur panjang pasti mereka akan menemui nenek nak" jawab wanita tua itu kembali.
Riani mengangguk paham sambil ikut menatap lansia lainnya yang sedang bercanda tawa dan bermain bersama suster-suster yang ada disana.
"Omong-omong kenapa kamu ada disini nak? ada keperluan apa?" tanya wanita tua tadi.
"Owh itu ada temanku yang hendak menjemput orangtuanya nek, karena Minggu kemaren dia harus ke luar negri, tidak ada keluarga yang bisa dimintai tolong untuk menjaga mamanya, maka mamanya di istirahat kan sebentar disini" jelas Riani.
Wanita tua itu ikut menganguk paham "sepertinya kalian teman dekat ya" ujar wanita tua itu tiba-tiba.
"Eh...?" heran Riani.
"Kamu sampai bersedia menemani teman mu itu untuk menjemput mamanya di tempat yang hanya dihuni oleh lansia ini" jelas wanita tua itu.
"Kak Riani!" ujar Alisya yang sudah berdiri dihadapan mereka bersama Nadia, mamanya Alisya.
"Owh udah Sya?" tanya Riani diangguki oleh Alisya.
"Ini temanmu itu?" tanya wanita tua tadi diangguki oleh Riani.
"Ini putri mu Nad?" tanya wanita tua itu pada mama Alisya.
"Owh iya buk..." jawab mama Alisya.
"Benar-benar cantik dan sopan ya, seperti mamanya" ujar wanita tua itu.
Mama Alisya hanya menanggapi perkataan wanita tua itu dengan tawa kecilnya.
"Baiklah nek, kalau begitu kami duluan ya" pamit Riani.
"Jaga kesehatan ya buk" sambung mama Alisya.
Wanita tua itu mengangguk mengiyakan ucapan Alisya dan Nadia sambil tersenyum tipis.
"Sekarang kita kemana?" tanya Riani sambil memasang sabuk pengamannya.
Alisya diam sejenak, dia menatap lama mamanya.
__ADS_1
"Bisa kita ke pemakaman nak Riani?" tanya mama Alisya.
"Mak!" seru Alisya.
"Baiklah Tante" jawab Riani sambil menekan pedal gas dan membawa mobil Serli itu menuju pemakaman papa Alisya yang tidak lain adalah gubernur di kota itu.
"Apa sampai saat ini kamu juga masih menyimpan dendam mu nak?" tanya mama Alisya.
Alisya hanya berdetak sebal menanggapi ucapan mamanya itu.
"Kamu tau Sya... lusa malam papa mu menemui Mak, sudah 2 kali dia meminta maaf pada Mak dan kamu" ucap mama Alisya tiba-tiba.
Alisya menatap kaget Maknya, Alisya sudah menduga bahwa lelaki itu, papanya! menemui Mak nya pada malam itu saat dimana Mak Alisya bertingkah aneh.
"Permintaan maaf pertamanya tidak Mak tanggapi, tapi malam itu di tengah hujan yang terlampau amat deras dia masih berdiri dengan kokoh di depan jendela panti, sampai dia di usir satpam panti, dimalam kedua... dan itu juga malam terakhir bagi Mak bisa berjumpa dengan papamu, sungguh ironis... saat itu tepatnya saat dia meminta maaf kembali, Mak sudah ada niat untuk memaafkannya, namun saat teringat kembali atas perlakuannya dulu mencampakkan kita dengan cara yang tidak baik, membuat mulut Mak suara untuk mengucapkan sepatakah kata saja pada dirinya, yaitu jawaban 'iya' bahwa mak telah memaafkan nya" jelas Mak Alisya.
"Syukurlah kalau bajing*n itu tidak mendengar jawaban itu langsung ditelinganya" ucap Alisya.
Mak Alisya hanya tersenyum tipis mendengar ucapan anaknya itu "apa kamu tau Sya? penyesalan terakhir dalam hidup Mak-- bukan! tapi dalam hidup mama adalah tidak mampu mengeluarkan jawaban mama langsung pada papamu saat itu, jawaban atas permintaan maafnya, seharusnya saat itu mama langsung menjawab iya, walau sekeji apapun papa dulu pada mama, pada kamu. Tapi tetap dia adalah suami mama, lebih tepatnya mantan suami mama, mama memaafkannya bukan demi dirinya atau pun demi diri mama, tapi itu untuk kamu Sya" jelas mama Alisya.
Alisya kembali terpana kaget menatap mamanya "apa maksud Mak berkata begitu!? aku sama sekali tidak membutuhkan itu! aku sama sekali tidak membutuhkan sosok papa dalam hidupku! papa ku sudah lama lenyap saat aku duduk dibangku kelas 2 SMA! orang yang disebut papa itu tidak pernah ada dalam masa-masa sulit ku! jadi cukup ma! sekuat apapun mama mengiring ku untuk memaafkan dia! aku tidak akan pernah untuk memaafkannya! aku tidak akan sudi untuk berkunjung ke pemakamannya!" kesal Alisya yang teriakannya itu mampu mengalahkan bunyi suara hujan deras yang jatuh ke bumi.
"Kak Riani... bisa turunkan aku disini?" ucap Alisya tiba-tiba, suaranya terdengar lirih, matanya merah jelas dia sedang menahan air matanya agar tidak keluar.
"Tapi Sya... ini lagi hujan, bagaimana jika kamu nanti demam dan tidak bisa untuk sidang besok?" tanya Riani.
"Sedari awal aku memang tidak ada niat untuk pergi ke pengadilan besok" jawab Alisya cuek.
"Tap--"
"Kak! tolong! aku mohon! kali ini saja... tolong biarkan aku untuk egois! tolong biarkan aku sendiri dulu!" seru Alisya yang jelas suaranya makin tidak kedengaran karena hujan yang semakin deras.
Dari balik kaca spion Riani menatap ke arah Nadia, mama Alisya. Nadia menganggukkan kepalanya pertanda dia menyetujukan permintaan Alisya tadi.
Riani langsung menepikan mobil itu, tak butuh waktu lama Alisya sudah berada diluar mobil.
"Kalian pergilah! aku akan kembali besok! tenang saja aku tau daerah ini!" seru Alisya agar suaranya kedengaran sampai di dalam mobil.
Dengan berat hati Riani menginjak kembali pedal gas mobil, mobil mewah milik Serli yang dikendarai Riani itu perlahan menghilang dari jangkauan penglihatan Alisya.
Derasnya air hujan yang jatuh menutupi air mata wanita 20 tahun itu. Tidak ada satupun lagi kendaraan yang melewati jalan yang sepi ditengah malam itu. Alisya terus melangkah pelan tanpa arah dan tujuan, saat ini pikirannya tengah kosong, di hantui fakta Kematian papanya, dan mamanya yang telah memaafkan papanya.
__ADS_1
Jika ini adalah kisah yang harus diakhir dengan happy ending, mungkin Alisya akan menerima dan bahagia jika mamanya akan memaafkan papanya, karena itu hal terindah yang diinginkan oleh Alisya agar keluarganya tetap bersatu.
Namun sedari awal, Alisya sudah menyusun kisah happy ending dengan caranya sendiri, dengan khayalan dan harapan yang akan diwujudkan dengan tangannya sendiri, namun takdir malah mempermainkan Alisya, disaat konflik dalam cerita yang telah disusunnya akan dia mulai, takdir berkata lain, tokoh di dalam ceritanya itu harus menghilang untuk waktu yang tidak akan pernah kembali.