ERANGAN TAKDIR

ERANGAN TAKDIR
S2-CHAPTER 27


__ADS_3

Riani berjalan perlahan ke arah 3 wanita cantik yang sedari tadi menunggu dia keluar dari ruangan barunya itu.


"Hai, bagaimana dengan liburan kalian di Indonesia?" tanya Riani sambil tersenyum ramah pada Cammy dan Enne.


Enne nampak cemberut berbeda dengan Cammy yang melirik kesal ke arah Riani.


Riani kembali berjalan pelan ke arah Alisya "Alisya... ayo ikut saya ke ruangan, ada beberapa hal yang perlu saya bicarakan dengan kamu" ucap Riani sambil berjalan kembali keruangannya.


Alisya menganguk mengiyakan seraya mengikuti langkah Riani, Riani duduk di kursi miliknya diikuti oleh Alisya yang duduk di kursi tepat dihadapan Riani. Suasana awalan itu cukup canggung karena Alisya memilih untuk diam seraya menunggu Riani memulai pembicaraan duluan, berbeda dengan Riani yang masih kepikiran dengan Aisyah.


Selang beberapa detik Riani kembali mengingat pekerjaan nya saat ini, tidak ada waktu untuk memikirkan Aisyah saat ini, seraya memberi penjelasan tentang magang pertama berkaitan dengan kasus yang harus diselesaikan oleh Alisya dalam Minggu ini.


Riani tidak melakukan wawancara pada Alisya terlebih dahulu, berbeda dengan apa yang dilakukan oleh Manquer Pamela saat kedatangan Riani untuk pertama kalinya di Firma.


Sambil membalikkan lembaran dokumen yang dipengangnya, Riani memberi perincian satu persatu pada Alisya.


"Apa kamu siap bertanggung jawab pada kasus ini?" tanya Riani diangguki oleh Alisya.


Riani menatap jam dinding yang ada dihadapannya sambil mengetik cepat keyboard HP nya.


Riani menyerah sebuah kunci pada Alisya yang diambilnya barusan dari dalam laci "ini kunci apartemen untuk kamu menginap selama di Perancis ini, jika terbukti hasil kerjamu memuaskan, maka dengan senang hati saya akan menyerahkan kunci ini menjadi milikmu selama menjadi anggota tetap Firma" ucap Riani sambil menyunggingkan senyum manisnya pada Alisya.


"Oh iya sya... saya lupa memberi tahumu, pembimbing sekaligus yang nanti akan menemanimu menyelesaikan perjalanan kasus adalah Violette, saya tau kamu belum mengenal dia, saya hanya akan mengingatkan kamu untuk lebih aktif dari dia, karena bagaimana pun Violette bukanlah wanita yang akan memberi jalan mudah untuk orang lain menyelesaikan kasus yang bukan atas namanya, terlebih dengan statusmu yang saat ini masih magang" jelas Riani mengingatkan.


"Apa kelebihan utama wanita yang bernama Violette itu?" tanya Alisya.


Riani tersenyum tipis mendengar pertanyaan Alisya "Analisis, mungkin dia hanya satu tingkat di bawah Sherlock Holmes" jawab Riani.


Alisya diam sejenak sambil menatap sementara berkas yang ada ditangannya "baiklah, kalau begitu apa saya sekarang harus merapikan semua hal di apartemen dulu?" tanya Alisya.


Riani menganguk "tentu, karena bagiamanapun yang di prioritaskan adalah keamanan dan kenyamanan dari dirimu dulu, kamu bisa berangkat bersama Enne ke apartemen dengan meminta monsieur Jahad untuk mengantar kalian" ujar Riani diangguki oleh Alisya.


Mereka bersamaan keluar dari ruangan, Enne yang sedari tadi sibuk dengan laptopnya melirik pada Riani yang memberi kode untuk Enne kembali ke apartemen milik anggota Firma bersama Alisya.


Enne menutup laptopnya sambil memasukkan barang-barangnya yang berserakan diatas meja ke dalam sebuah map dan memundurkan kursinya seraya berdiri dan melangkah menuju pintu keluar diikuti oleh Alisya yang telah berpamitan pada Riani dan Cammy.


"Cammy... bukanlah masih ada beberapa agenda yang perlu kamu susun?" tanya Riani menyelidik.


Cammy menghela nafas panjangnya "kamu terlalu ketat Riani" keluh Cammy yang hanya ditanggapi dengan tawa kecil oleh Riani.


Cammy langsung beranjak dari kursi yang di duduki nya tadi sambil berjalan ke arah ruangan Riani untuk mengambil data Firma yang perlu di susun dan perincian agenda untuk klien nantinya diikuti oleh Riani yang hendak harus kembali menyelesaikan tugasnya.


Setelah Cammy ke luar dari ruangan, Riani melirik 2 buah berkas yang sengaja di tarok nya di atas meja sedari tadi, di berkas itu bertuliskan nama Acrel Simone dan berkas sebelahnya bertulisan nama Aren Ghisya.


Riani membuka terlebih dahulu berkas milik Acrel Simone atau yang biasanya disapanya dengan panggilan madam Acrel, wanita yang paling tua di firma, dalam satu tahun lagi madam Acrel akan berhenti dari firma karena usianya yang sudah tepat dengan batas.


Riani membaca perincian data tentang madam Acrel Simone dari tanggal kelahirannya, kampus kuliahnya dulu, pengambilan sarjana, sampai kapan dia bergabung dalam firma Confiance.


Riani tersenyum membaca berkas data diri yang amat mengagumkan dari madam Acrel, betapa hebat prestasinya sejak sekolah dasar sampai menguasai 3 bahasa asing dengan fasih saat usia 13 tahun, terlalu disayangkan jika dia dalam waktu 10 bulan memasuki setahun ini dia harus pensiun dari firma.


Riani beralih membuka berkas tipis atas nama Aren Ghisya itu, nyatanya memang tidak ada sesuatu yang menarik perhatian dari kisah hidup gadis itu.

__ADS_1


Namun setelah Riani melihat langsung betapa dia menyayangi sahabatnya tanpa pamrih, gadis cantik yang kuat karena tak pernah mengeluh dengan semua keterbatasannya, dan Riani cukup melihat kabar yang menggiurkan dari dokumen yang dipengangnya kini.


Awalnya Riani hanya membalik dokumen gadis itu yang direkomendasikan oleh Manquer Pamela bersama beberapa dokumen mahasiswi universitas dunia lainnya, karena tidak ada semangat atau dorongan dari kisah tragis masa kecil dalam hidup nya yang bisa dijadikan pengalaman berharga, Riani memilih untuk membuka dokumen lainnya dari pada menetap pada dokumen atas nama Aren Ghisya.


Namun kali ini Riani menarik fakta yang cukup menggiurkan dari gadis itu, menguasai 4 bahasa asing, yaitu bahasa Indonesia, Inggris, Jepang, dan Perancis, dengan fasih dan juga menguasai 2 bahasa asing yang masih dalam tahap belajar yaitu bahasa Belanda dan Korea.


Tak hanya itu, juga terselip kan perjalanan mengelilingi kota-kota besar di Indonesia, sebagai juara satu lomba debat individu pembangunan Ekonomi, juara dua lomba debat internasional tentang sampah, juara umum berturut-turut dari SD sampai SMP, saat SMA dia hanya masuk dalam 3 besar karena adanya Alisya, namun menginjak kelas 3 dia kembali meraih juara umum.


Tidak hanya itu, masih banyak prestasi yang diraihnya berkaitan dengan studi umum seperti matematika dan fisika, dan lebih menggiurkan lagi, dia ternyata kandidat yang hendak dicari-cari oleh Firma hukum Darius, firma hukum terbesar di Perancis dan Inggris.


Firma hukum yang sempat di masukkan dalam kategori impian Riani sebelum memutuskan masuk Oxford university.


Riani kaget pandangannya bisa lepas dari gadis berbakat ini, namun sekarang Kouta sudah penuh untuk firma Confiance.


Riani menghela nafas panjangnya sambil menatap ragu telepon yang ada dihadapannya kini.


Riani hendak ingin menghubungi manquer Pamela untuk menanyakan apakah bisa menambah bangku di firma untuk seorang lagi, namun Riani juga paham betul bahwa sedari awal firma confiance memang hanya dibentuk untuk 12 orang saja.


Namun Riani tak ingin menyia-nyiakan bakat dan hati tulus gadis bernama Aren itu, dengan mempertimbangkan semua aspek yang ada, Riani memutuskan untuk menghubungi manquer Pamela.


"Halo Assalamualaikum... ada apa Riani?" tanya Manquer Pamela dibalik telpon.


"Waalaikumsalam" jawab Riani seraya kembali menghela nafas panjangnya "Manquer... boleh saya meminta sesuatu?" tanya Riani.


"Hmmm.... apa itu Riani?" tanya Manquer Pamela kembali.


"Apa anggota untuk firma Confiance boleh ditambah seorang lagi?" tanya Riani.


"Iya manquer, namun saya tertarik dengan satu gadis ini, dia mempunyai prestasi yang begitu menggiurkan, terlebih... dia kandidat terbaik sepanjang sejarah menurut saya" jelas Riani.


"Kekurangan nya?" tanya Manquer Pamela.


"Tidak ada sejarah kelam dalam hidupnya" jawab Riani.


"Lalu?" tanya ulang manquer Pamela.


"Motivasi kuat untuk membela keadilan mungkin nyaris tipis" jawab Riani kembali.


"Kenapa kamu mau menambah dia sebagai anggota? pasti kamu mempunyai alasan yang luar biasa bukan? jika itu keinginan kamu Riani... maka saya setuju, saya percaya pada kinerja mu, dan lagi... sekarang kamu adalah pimpinan Firma, kamu tak perlu sungkan untuk berdiskusi tentang masalah yang membebanimu dengan saya" jelas manquer Pamela.


Riani membuang nafas cemas yang sedari tadi ditahannya "terimakasih manquer" ucap Riani.


Terdengar tawa kecil manquer Pamela dibalik telpon "hahaha kamu tidak perlu berterimakasih pada saya Riani, kamu pun pasti tau bahwa saja juga tidak memiliki sejarah kelam yang bisa memotivasi saya untuk menegakkan keadilan tinggi bagi orang lain, karena semua itu tergantung hati dan pikiran pemilik tubuh sendiri" jelas manquer Pamela.


"Baik manquer, saya akan memberi keputusan lebih lanjut pada anda secepatnya" ucap Riani.


"Saya tunggu... Assalamualaikum" ucap manquer Pamela.


"Waalaikumsalam, mohon maaf menganggu waktu bersenang anda manquer" canda Riani karena mendengar samar suara desisan Carlson yang terdengar kesal.


"Hahaha, tidak apa-apa, sampai jumpa Riani" ucap manquer Pamela mengakhiri telepon.

__ADS_1


Riani tersenyum lebar setelah mendapat persetujuan dari manquer Pamela, Riani mengambil pulpennya sambil menatap jam yang sudah menunjukkan pukul 4 sore, Riani beranjak dari kursinya sambil berjalan cepat menemui monsieur Jahad yang menganggur setelah mengantar kembali Enne dan Alisya tadi.


Riani melewati meja Cammy yang masih sibuk mengejar deadline pekerjaannya, dengan senyum tipis yang dinampakkan nya sebagai basa-basi pada Cammy, Riani terus melanjutkan tujuannya tadi.


Dari balik pintu Riani memberi kode pada monsieur Jahad agar segera menyiapkan mobil.


Monsieur Jahad mengangguk melihat kode ayunan tangan 2 kali dari Riani yang berarti siapkan mobil, Riani kembali masuk dalam ruangannya sambil membawa robekan kertas berisi catatan yang telah ditulisnya dengan pena tadi dan memasukkannya ke dalam tas sandangnya.


Kali ini Riani berhenti tepat di meja Cammy tanpa melewati nya atau sekedar berbasa-basi pada Cammy.


"Hai Cammy, bagaimana menurutmu Indonesia?" tanya Riani.


"Cukup bagus, hanya saja niatku yang hendak bolos untuk liburan terhentikan karena tugas mendadak yang kamu berikan" kesal Cammy.


"Owh liburan? hahaha bukankah pengintaian?" ledek Riani.


Cammy berdesis kesal karena Riani mengetahui rencana awalnya dengan Enne "jadi ada apa ketua menanyakan hal itu pada Cammy yang cantik bak model dunia ini?" tanya Cammy dengan sejuta kesombongan halunya.


Riani hanya tertawa kecil mendengar kehaluan yang dilontarkan Cammy "kamu mau kembali ke Indonesia untuk besok? tentu saja aku akan memberi waktu 1 hari untuk menghabiskan waktu mengelilingi pulau Jawa" jelas Riani.


"Aku tau Riani, walau hanya sekali ke Indonesia namun aku paham betul, mana mungkin dalam waktu 1 hari saja aku bisa mengelilingi pulau Jawa? kamu meminta aku hanya untuk melihat di atas helikopter pemandangan indahnya pulau Jawa tanpa singgah!?" heran Cammy.


"Hahaha jika kamu mau seperti itu maka seterah, hanya saja aku benar-benar akan memberimu waktu libur untuk 1 hari dan selanjutnya kamu harus menjalankan perintah ku dengan baik" jelas Riani.


"Apa yang harus aku lakukan untuk mendapatkan libur itu?" tanya Cammy karena tau maksud tersirat Riani.


"Kamu hanya perlu menyelesaikan tugasmu malam ini" jelas Riani.


"Jika itu saja... cukup mudah" jawab Cammy.


"Baiklah, untuk tugas mu akan aku kirim dari e-mail nanti malam, pukul 2 subuh nanti kamu harus tiba di bandara, tepat saat monsieur Elxin kembali mengantar Madam Mavey kembali, kamu hanya akan melakukan penerbangan sendiri dan 3 helikopter kita dalam seminggu penuh ini nantinya akan digunakan untuk penerbangan luar negri, jadi untuk kembali ke Perancis mau tak mau kamu harus naik pesawat, tapi tenang saja aku sudah menyiapkan 2 tiket pesawat untuk kembali ke Perancis--" sebelum selesai memberi penjelasan, Cammy memotong ucapan Riani.


"2 tiket pesawat? bukankah kamu tadi hanya mengatakan aku melakukan penerbangan sendiri?" heran Cammy.


"Tujuan utama aku menawarkan mu ke Indonesia dengan embel-embel liburan adalah untuk membawa kandidat baru kita kesini, aku pikir kamu tidak cukup bodoh bukan untuk menganggap aku rela memberimu waktu libur 1 hari hanya demi menyelesaikan tugas itu dalam semalam?" jelas Riani.


Cammy terdiam sejenak sambil menelan ludahnya, Cammy sungguh menduga seperti yang ditanyakan Riani pada nya, Cammy memilih mengelakkan pertanyaan Riani "Haa!? bukankah sudah lengkap 12 dengan Alisya!?" kaget Cammy.


"Iya, hanya saja aku tidak ingin menyia-nyiakan berlian hanya demi sebuah emas" jawab Riani.


"Emasnya apa?" tanya Cammy.


"Hmmm.... aturan mungkin?" tanya balik Riani.


Riani menatap jam tangannya yang sudah lewat dari 10 menit dia berdiskusi dengan Cammy.


"Sudah dulu Cammy, aku harus segera ke bandara menemui Chloe, madam mavey, Violette, dan Coty yang sebentar lagi akan mendarat, untuk penjelasan lebih lanjut akan sekalian ku jelaskan di e-mail" ucap Riani sambil berlari kecil menuju parkiran.


Nampak monsieur Jahad yang sudah siap dengan mobilnya sedari tadi untuk mengantar Riani ke bandara, Riani langsung masuk ke mobil.


"Maaf menunggu monsieur" ucap Riani.

__ADS_1


"Hahaha tidak masalah Riani" jawab monsieur Jahad sambil menakan pedal gas mobil.


__ADS_2