
Boleh aku bertanya?
Tentang bagaimana pandanganmu saat melihatku? tentang apa yang kamu pikir dan rasakan saat melihatku
Cukup. Hanya itu saja.
Riani menoleh ke arah sebuah kamar apartemen yang sudah cukup ramai dikunjungi orang - orang.
Riani berusaha melewati satu persatu orang - orang yang berimpitan banyaknya itu dalam gang apartemen yang sempit, pandangan Riani langsung terfokuskan pada seorang pria dengan wanita berambut panjang disebelahnya dalam posisi berdiri namun tidak bergerak.
Riani melangkah masuk walau kepalanya sedikit merasa pusing akibat bisik - bisikan orang - orang yang ada dibelakangnya.
"Mas..." panggil Riani pelan.
Laki - laki yang berdiri mematung tadi menolehkan pandangannya dengan ekspresi wajah yang terkejut pada Riani.
"Sa... sayang?" gumam Albern yang masih terkejut.
"Biasa saja ekspresinya, jangan kayak orang yang kepergok selingkuh" ucap Riani sambil meletakkan telapak tangannya di mata Albern.
Riani terus melanjutkan langkahnya, dia menatap lamat - kamat tubuh pria yang tengah berbaring itu, banyak darah yang berserakan di sekitar tubuhnya, Riani tak bergidik sedikitpun, dia sudah biasa melihat pemandangan seperti ini sejak menjadi pengacara firma Confiance, apalagi pemandangan seperti ini juga pemandangan yang tidak cukup asing bagi masa kecil Riani.
Ujung pisau terlihat jelas di tubuh mayat pria yang kini berbaring. Riani bersimpuh di dekat mata itu, memperhatikan setiap inchi dari tubuh mayat.
"Hei! sudah ada yang memanggil ambulance dan polisi bukan!?" teriak Riani agar suaranya sampai ke luar.
Semua orang yang ada di dalam ruangan dan di depan pintu masuk menatap satu sama lain.
"Biar aku yang hubungi!" seru Enne yang baru datang dengan hentakan nafas yang ngos - ngosan sambil mengeluarkan HP nya dari tas kecil yang ada di sebelah kiri pinggangnya.
Riani memegang pergelangan tangan mayat itu, mengecek kebekuan tubuhnya. Tapi waktu kematian mayat mungkin agak sudah ditebak karena suhu panas dari AC yang dipancarkan. Tapi dugaan Riani adalah kematian mayat belum cukup 2 jam karena darah masih mengalir dan lantai ruangan itu terasa cukup lembab diarea bagian bawah tubuh korban, mungkin itu karena darah korban.
"Tidak ada yang menyebut mayat sama sekali kan?" tanya Riani pelan.
"Tidak" jawab Albern.
"Apa ini kamar apartemen korban?" tanya Enne sambil melangkah masuk ke ruangan setelah menelpon kantor polisi dan rumah sakit tadi.
Wanita yang ada disebelah suami Riani itu menggelengkan kepalanya "ini kamar apartemen ku" jawabnya dengan suara nya yang jelas terdengar serak walau lambat.
"Siapa nama kamu?" tanya Enne menatap wajah wanita itu.
__ADS_1
"Rasy" jawab Rasy pelan.
Enne mengangguk paham "kamu kenal orang itu Rasy?" tanya Enne sambil menunjuk tubuh mayat.
Rasy diam sejenak kemudian dia mengangguk kan kepalanya "Iya"
"Siapa?" sambung Enne.
"Dia mantan pacarku" jawab Rasy.
"Owh mantan pacar ya... " ujar Enne sambil tersenyum tipis menatap Albern. "Lalu kenapa kamu bisa bersama Sir Albern Rasy? apa dia pacar barumu?" ledek Enne yang kini berjalan pelan ke sisi mayat dan bersimpuh di depan Riani yang nampak masih berdiam di sisi mayat.
"Tidak!" seru Rasy yang masih cemas.
Enne kembali berdiri dan berjalan ke arah Rasy sambil menepuk bahunya "Sudah, kamu tidak perlu khawatir aku hanya bercanda" ucap Enne sambil terus melanjutkan langkahnya keluar.
"Apa kalian semua yang ada disini adalah penghuni apartemen ini?" tanya Enne.
Mereka semua kembali menatap satu sama lain.
Enne menghela panjang nafasnya. "Siapa pemilik apartemen ini?" tanya Enne kembali.
"Enne! ada apa ini?!" tanya seorang pria yang nampak berkeringat dengan banyak barang yang ada dalam kantong digenggamnya.
Enne mengeluarkan sebuah kunci dari tas kecilnya yang diambilnya dari pot tanaman di sebelah pintu apartemen Vank tadi. "Kau simpan lah belanjaan mu dulu, setelah itu kembali ke sini" jelas Enne diangguki oleh Vank.
"Jadi tidak ada yang mau menjawab? atau karena kalian tidak percaya padaku?" tanya Enne sambil mengambil dompet didalam tas kecilnya, Enne membuka dompet ungu miliknya lalu mengeluarkan sehelai kertas dari dompet itu. "Ini kartu namaku" ucap Enne sambil mengangkat kartu nama milihnya yang tertuliskan nama dan profesi nya.
"Apa benar anda anggota dari firma Confiance itu nona?" tanya salah seorang pria yang berdiri di depan Enne.
"Anda benar - benar anggota firma hebat itu nona?" sahut seorang wanita tua.
Enne menganguk mengiyakan.
"Apa kau salah satu dari penghuni apartemen ini?" tanya Enne pada seorang wanita yang ada disudut kiri.
Wanita itu menggelengkan kepalanya "Tidak nona, saya penjual buah yang ada didepan sana" jawab wanita itu sambil menunjuk sebuah bangunan kecil yang ada di seberang apartemen.
"Kenapa kau bisa ada disini?" tanya Enne mengernyitkan keningnya.
"Saya tadi mendengar samar - samar suara teriakan wanita nona, dan saat saya melirik ke arah apartemen ini saya melihat banyak orang berbondong-bondong ikut ke apartemen ini nona, jadi karena saya penasaran saya kesini" jelas wanita itu.
__ADS_1
"Sebelum itu apa kau melihat ada yang masuk ke apartemen ini? atau ke kamar apartemen ini?" tanya Enne.
Wanita itu diam sejenak nampak memikirkan sesuatu "pukul 10 tadi saya melihat ada orang dengan mantel hitam nona, dan beberapa menit yang lalu saya melihat 2 orang wanita-- oh mungkin wanita itu adalah nona dan teman nona yang disana" ucap wanita itu sambil mengajungkan tunjuknya pada Riani yang masih bersimpuh disisi mayat "lalu.. di arah yang berlawanan dengan waktu yang masih sama saat nona dan teman nona naik, saya melihat laki - laki itu dan Rasy" jelas wanita itu.
"Kau kenal dengan wanita bernama Rasy itu?" tanya Enne sambil menunjuk ke arah Rasy.
"Tentu nona, dia sering membeli buah saya" jawab wanita itu.
Enne menganguk paham lalu memalingkan wajahnya pada seorang pria dengan kaca mata tebal yang ada dihadapannya kini.
"Kau salah satu penghuni apartemen ini?" tanya Enne kembali.
Pria berkacamata itu menganggukkan kepalanya "Iya nona, saya berada di kamar sebelah saat mendengar teriakan nona Rasy, saat itu saya sedang menyelesaikan tugas kuliah saya" jawabnya jelas.
"Kau juga kenal dengan dia?" tanya Enne sambil menunjuk Rasy.
Pria berkacamata itu mengangukkan kepalanya "Tentu nona, dia satu kampus dengan saya walau beda fakultas, apalagi kami tetanggan jadi tidak mungkin kami tidak saling mengenal" jawab pria berkacamata itu.
Enne menganguk paham "Apa sebelum itu kau melihat ada yang mencurigakan atau mendengar sesuatu?" tanya Enne.
Pria berkacamata itu diam sejenak memikirkan sesuatu "Saya tidak melihat apa - apa nona, karena saya selalu duduk di depan komputer, tapi beberapa jam yang lalu, saya tidak ingat kapan tepatnya, tapi yang pasti saat itu saya seperti mendengar ada sesuatu yang berat terjatuh" jelas Pria berkaca mata itu.
"Enne! jadi ada apa?" tanya Vank yang telah kembali dengan tidak membawa kantong berisi makanan atau cemilan lagi.
"Ada orang meninggal" jawab Enne.
"Apa!? yang meninggal Rasy?" kaget Vank.
"Kau juga kenal wanita itu?" tanya Enne.
"Tentu, dia sering membagi salad buah buatannya padaku" jawab Vank.
"Owh begitu kah? tapi sayangnya yang meninggal bukan wanita itu" jawab Enne yang kini menatap seorang wanita yang masih memegang buku catatan ditangannya.
Karena sadar di tatap Enne wanita itu membuka bicaranya "Saya penghuni apartemen ini, saya tinggal dilantai bawah tepat dibawah kamar ini" ucapnya langsung pada Enne.
"Apa kau mendengar bunyi yang sama dengan pria ini?" tanya Enne sambil menunjuk pria berkacamata.
Wanita itu mengangguk "Saya memang mendengar sesuatu, tapi saya tidak tau pastinya itu apa, karena saat itu saya sedang di kamar mandi, saat mendengar teriakan saya langsung ke sini, tepat saat itu saya lagi diluar sedang memasang sepatu untuk ke kampus" jelas wanita itu.
"Kau tidak menyebut nama Rasy, kau tidak kenal dengannya?" tanya Enne penasaran.
__ADS_1
Wanita itu menggelengkan kepalanya "aku baru pindah sore kemaren" jawab wanita itu.
"Owh baik--" ucap Enne yang terhenti setelah dia mendengar bunyi suara ambulance dan sirene mobil polisi.