ERANGAN TAKDIR

ERANGAN TAKDIR
S2-CHAPTER 48


__ADS_3

"Mas... aku berangkat duluan ya" pamit Riani sambil menyalami tangan Albern.


Albern mencium lembut pucuk kepala Riani "belakangan ini kamu selalu tidak ada waktu berduaan dengan ku, tidakkah kamu tau aku cemburu pada pekerjaan mu? bisakah malam ini saja kamu luangkan waktu untukku?" tanya Albern.


Riani terdiam dan menghentikan langkah kakinya saat mendengar ucapan suaminya itu, Riani pun sadar bahwa dia telah lalai dari kewajibannya sebagai seorang istri, belakangan ini Riani disibukkan oleh banyak tugas yang membuatnya bahkan tidak ada waktu untuk terus di apartemen.


"Mas... maaf, malam ini aku masih ada beberapa pekerjaan kecil lagi, maaf mas... aku telah lalai dari kewajiban ku sebagai istrimu... maaf..." ucap Riani lirih sambil memeluk erat suaminya itu.


Nampak ekspresi kecewa dari wajah Albern, walau bagaimanapun Albern memang kecewa pada Riani, tapi Albern juga tak ingin egois pada istrinya itu. "Lain kali kalau ada waktu kosong jangan lupa hubungi aku" pinta Albern.


Riani menatap lama wajah Albern, dia beruntung memiliki suami yang pengertian seperti Albern, yang tau akan kepentingan dirinya.


Riani mengambil HP nya dan beralih sebentar meninggalkan Albern, beberapa menit kemudian Riani kembali ke hadapan Albern sambil menyunggingkan senyum tipisnya "Mas... malam ini ada waktu bersama ku? aku ingin menghabiskan waktu hanya berdua denganmu, tapi... untuk besok mungkin aku tidak akan kembali dulu kerumah" jelas Riani sambil memelingkan wajahnya.


"Jadi kamu harus mengorbankan waktu esokmu hanya untuk malam ini bersamaku? apa kamu sungguh tidak keberatan?" tanya Albern memastikan.


Riani menggelengkan kepalanya "aku tidak akan keberatan untuk hal itu, hanya saja jika mas memang berat hati untuk mengizinkan aku bekerja, maka aku akan mempertimbangkan akan hal itu" ucap Riani.


Albern mengelus lembut kepala Riani "jangan... suami mu ini tau betul bahwa kamu sangat menyukai pekerjaan mu bukan? terlebih kamu bekerja di lingkungan yang sangat baik dan supel, bukankah sudah jadi impian mu untuk jadi pengacara dari kecil? jadi aku tidak akan se egois itu pada istri ku" ujar Albern sambil memeluk kembali Riani.


"Mas..." gumam Riani lirih.


"Owh iya... sepertinya mas tidak ada waktu untuk malam ini, kamu bisa melanjutkan pekerjaan mu, dan besok kamu harus tidur disini ya" ucap Albern.


Riani terpana kaget mendengar ucapan Albern, lalu Riani tersenyum dan mengangguk kan kepalanya "baiklah"


Riani kembali berpamitan dan melangkah keluar dari apartemen, menemui Monsieur Domson yang telah menjemput nya.


Albern menghela panjang nafasnya sambil memukul dinding apartemen "sial! lagi-lagi waktu ku dengan istriku kembali direnggut pekerjaan lagi!" kesal Albern.


Albern beranjak dari ruangan itu dan kembali ke kamarnya, Albern menetap lama telepon genggam yang ada di hadapan nya kini "hah... mana mungkin aku akan meminta Pamela untuk mencari pengganti Riani jadi ketua, aku belakangan ini kenapa sih jadi seperti orang yang posesif!?" kesal Albern pada dirinya sendiri sambil menepuk keningnya.


Albern kaget dari lamunannya setelah mendengar dering dari teleponnya, disana tertulis kan nama Carlson Darius.


"Baru mikirin dia, eh suaminya malah nelfon" gumam Albern sambil menekan tombol hijau di HP-nya.


"Halo" ucap Albern di balik telepon.


"Albern, kamu di tugaskan dari kampus untuk peninjauan pertukaran pelajar Taiwan untuk besok, bisa?" tanya Carlson di balik telepon.


"Hah... kau tidak perlu menanyakan bisa atau tidaknya Sir, jika aku jawab tidak pun pasti esoknya aku tetap bakal ada di Taiwan bukan?" tanya Albern.


Terdengar tawa Carlson dibalik telpon pertanda ucapan Albern tadi benar adanya.


Albern menutup telpon sambil kembali menghela panjang nafasnya "jadi esok pun aku yang tidak bisa ya" gumam Albern sambil mengambil jas nya lalu turun dari apartemen.


***

__ADS_1


Terpaan angin yang terbang dengan menyerbakkan dedaunan kering melewati Alisya dan Coty, hari ini adalah jadwal sidang mereka berdua yang seharusnya antara Coty dan Violette malah menjadi Coty dan Alisya.


"Sudah paham sama rincian penjelasan sidang kita hari ini?" tanya Coty pada Alisya sebelum memasuki ruang sidang.


Alisya mengangguk yakin.


Perjalanan sidang terjadi cukup lancar, walau tidak ada saksi namun barang bukti ditemukan, karena bagaimana pun sesuatu yang spesifik tetap lah barang bukti dari pada seorang saksi.


30 menit di ruangan sidang berlaku begitu saja, Coty menghela panjang nafasnya "hah... tak aku sangka bakal semala ini, walau memang semuanya tetap berjalan baik" keluh Coty sambil menepuk bahu Alisya "kerja bagus"


Alisya tersenyum tipis di puji oleh senior nya itu, berbeda dengan Violette yang malah hanya bisa menyudutkan dan menyusahakannya.


"Mau cari makan diluar dulu?" tanya Coty.


"Eh... ini bukannya belum jam makan siang kak?" heran Alisya.


Coty tersenyum tipis mendengar ucapan Alisya "menguras otak akan menguras isi perut kita juga, mendingan kita isi dulu yuk!" ajak Coty sambil mengandeng tangan Alisya ke mobil putih miliknya.


Semua anggota firma ternyata punya mobil limited edition ya? apa aku nantinya juga bakal punya? setidaknya Porsche gitu? Pikir Alisya sambil mengikuti Coty masuk ke dalam mobil.


Mobil yang dikendarai Coty melaju cepat menuju sebuah restoran mini dengan menu seadanya, saat mencicip makanan yang telah tersaji di depan mereka Alisya nampak jadi terkejut.


Coty tersenyum tipis melihat reaksi Alisya "hahaha enak bukan? walau tampilannya sederhana rasanya amat mengunggah selera bukan?" tanya Coty.


Alisya menganggukk "aku tidak menduga rasanya akan seenak ini" jawab Alisya sambil terus menyuap makanannya.


"Setidaknya sebelum kembali ke Indonesia kamu harus menyantap makanan di sini dulu, supaya saat di Indonesia kamu jadi kebelet pengen ke sini lagi hahaha" canda Coty.


Setelah menyantap sampai habis makanan mereka, Alisya dan Coty kembali ke Firma.


Dalam perjalanan kembali ke Firma Coty membuka ulang pembicaraan dengan Alisya yang sedari tadi banyak diam.


"Aku dengar dulu kamu anak seorang gubernur? tanya Coty membuat Alisya langsung menoleh padanya.


Alisya sudah biasa ditanya beginian, jadi dia tidak akan terkejut saat tiba-tiba ada orang yang menanyakan langsung hal ini padanya, karena bagaimana pun Alisya sudah kebal terhadap sesuatu yang seperti ini.


"Iya kak, kenapa?" tanya Alisya.


Coty sedikit kaget melihat reaksi Alisya yang nampak biasa saja "aku hanya penasaran saja, jadi bagiamana dengan keadaan ibu mu saat ini?" tanya Coty mengalihkan pembicaraan.


"Aku tidak kontakan dengan mama eh maksud nya dengan Mak setelah sampai di Perancis, jadi bagaimana keadaan Mak aku tidak tau" jawab Alisya cuek.


"Kamu tidak penasaran dengan keadaan Mak mu?" tanya Coty sambil tetap fokus menyetir.


"Tidak sedikitpun, karena aku yakin Mak wanita yang kuat dan tegar, dan lagi tanpa adanya Mak mungkin aku juga tidak akan ada disini dan berbicara dengan kakak hahaha" tawa Alisya.


"Kamu benar-benar anak yang cuek ya, setidaknya setiap orang pasti punya sisi lemah nya Alisya, bisa saja Mak mu itu sudah terlalu lelah untuk bertahan hidup sampai saat ini, ditambah kamu tidak menghubungi nya lagi belakangan ini, Alisya... orang tua manapun tidak akan pernah menampakkan bahwa dia lelah pada anak-anaknya, jadi setelah pulang nanti jangan lupa kamu hubungi Mak mu, sebelum suatu hari nanti kamu menyesali hal itu, dan maaf jika ucapan ku sedikit kasar... sebelum untuk ke-2 kalinya kamu kehilangannya orang tuamu" sambung Coty.

__ADS_1


Alisya terperanjat dari duduknya, dia sungguh tidak menyangka akan mendengar kata-kata seperti itu dari orang yang baru dikenalnya semalam. Alisya pun sadar akan kondisi Mak nya belakangan ini yang tampak buruk, Alisya memalingkan wajahnya dari Coty dan terus menatap pemandangan dari balik kaca jendela.


Mobil itu terparkir rapi di parkiran firma confiance, Coty dan Alisya turun bersama dari mobil sambil melangkah memasuki ruangan firma.


Coty menyodorkan sebuah telepon genggam pada Alisya "nomor ku ini bisa menghubungi nomor internasional manapun, kamu boleh memakainya dulu, asal jangan lupa dikembalikan ya" ujar Coty sambil tertawa kecil.


Alisya beranjak dari kursi yang di duduki nya sambil melangkah keluar dari ruangan Firma.


Alisya menekan satu persatu angka di layar HP yang kini telah tersusun jadi sebuah nomor.


"Halo panti--"


"Bisa bicara dengan Ibuk Nadia kak? ini aku Alisya" ucap Alisya memotong pembicaraan dari suara wanita yang sepertinya adalah perawat di panti jompo itu.


"Owh baiklah" jawab perawat itu.


"Tunggu kak! sebelum itu apa belakangan ini ada orang yang mencurigakan datang ke panti?" tanya Alisya pada perawat itu.


"Hmm... sepertinya tidak, memangnya kenapa Alisya?" tanya perawat kembali.


"Hahaha tidak kenapa-kenapa kak, bisa berikan telepon ini pada ibuk Nadia kak?" tanya Alisya kembali.


"Baik, tunggu sebentar ya" ucap perawat itu.


Tidak cukup satu menit menunggu suara seorang wanita kini kembali terdengar di balik telpon, namun suara ini bukan suara perawat tadi, suaranya lebih terdengar keras dan terkesan ramah, yang pastinya sudah tidak asing lagi di telinga Alisya.


"Halo Assalamualaikum Sya..."


"Waalaikumsalam Ma..ak, apa kabar?" tanya Alisya.


"Alhamdulillah Mak belakangan ini sudah lebih baik, sepertinya kamu masih tidak cukup terbiasa memanggil Mak ya?" tanya Mak Alisya.


"Hahaha sudah kok Mak" jawab Alisya.


"Jika memang kamu lebih nyaman dengan panggilan mama boleh kok sya, lagian hal itu sudah lama berlalu" jelas Mak Alisya.


"Tidak usah Mak, Alisya lebih nyaman memanggil Mak, itu hanya tentang pembiasaan lagi" jawab Alisya.


"Jangan mengelakkan kenyataan Sya, bagiamana pun selama ini mama sudah 20 tahun bersamamu, mama paham betul bahwa kamu punya dendam sama papa mu, omong-omong sudah lama ya kita tidak mengobrol seperti ini" ucap Mak Alisya.


Alisya mengernyitkan keningnya, Alisya amat paham jika ada yang berbeda dengan Mak nya saat ini "Mak... jangan sebut panggilan itu lagi, karena sampai kapanpun Alisya tidak akan sudi mengucap kan panggilan itu pada bajing*n lakn*t itu!" kesal Alisya.


"Sya--"


"Sudah dulu Mak! Assalamualaikum!" kesal Alisya sambil mematikan telepon.


Alisya menghela nafas panjangnya dan kembali masuk ke ruangan, Alisya menyodorkan HP Coty tadi kembali pada pemiliknya "terimakasih"

__ADS_1


Coty tersenyum tipis sambil mengambil kembali HP di tangan Alisya "sama-sama, seperti nya kamu sedang tidak baik? ada masalah?" tanya Coty.


"Aku memang seperti ini terus, tidak perlu khawatir" jawab Alisya sambil melangkah ke ruangan Riani.


__ADS_2