
Tring... tring...
Riani menoleh ke telepon kantor yang ada disebelah laptopnya.
"Halo" sapa Riani dibalik di telpon.
"Halo Assalamualaikum Riani, ini saya Pamela, jadi bagaimana dengan status calon anggota baru kita saat ini?" tanya Manquer Pamela.
"Waalaikumsalam" Riani diam-diam kembali menghela nafas lelahnya "satu Minggu lagi akan saya kabari Manquer, anaknya gak bisa diajak nego" keluh Riani.
Terdengar dibalik telpon manquer Pamela sedang menahan tawanya yang tadi hampir kelepasan "baiklah Riani, saya tidak menyangka kamu bisa kalah dalam negosiasi" ledek Manquer Pamela.
"Hah... itu bukan sesuatu yang perlu dibahas manquer" keluh Riani.
"Hahaha baiklah Riani, semoga kamu bisa bertahan menghadapi gadis itu, Assalamualaikum" ucap manquer Pamela mengakhiri panggilan.
"Waalaikumsalam" jawab Riani sebelum telpon terputus.
Riani menghempas punggungnya ke kursi sambil menarik nafas panjang yang sangat dalam, Riani menatap jam dinding yang ada dihadapannya dan segera keluar dari ruangannya yang tidak lain adalah ruangan milik manquer Pamela dulu.
Diluar nampak Enne, Cammy, dan manquer Elis yang masih sibuk membuat laporan mereka, Riani juga belum menerima permintaan dari orang luar agar mereka bisa menyelesaikan kasus.
"Mau kemana Riani?" tanya Cammy yang sibuk memainkan HP nya.
"Bandung" jawab Riani singkat sambil terus berjalan ke arah pintu keluar.
3 orang yang ada diruangan itu menatap kaget Riani "ada apa?" tanya Riani yang sadar akan tatapan mereka.
Mereka serentak menggelengkan kepala.
Setelah nampak Riani keluar dari pintu, mereka bertiga berkumpul bersama dalam satu meja yang sama "Hey... Bandung itu salah satu kota di Indonesia kan?" tanya Cammy diangguki oleh Manquer Elis dan Enne.
"Ada urusan apa ya Riani ke Indonesia?" tanya Manquer Elis nampak heran.
Mereka berdua menatap ke Enne, mana tau Enne bisa melihat dengan Indra ke-7 miliknya, namun Enne menggeleng kepalanya, tidak tau apa-apa.
"Omong-omong bagaimana dengan anggota baru untuk mengisi kekosongan meja firma?" tanya Cammy tiba-tiba.
Mereka bertiga langsung terperantak kaget "itu dia!" seru mereka bersamaan.
Mereka langsung keluar dari ruangan tanpa mengingat tugas mereka yang sudah dikejar oleh waktu, Cammy menoleh kiri kanan namun tak melihat setitik pun batang hidung Riani, Cammy langsung menanyai Sir Tom yang kini berjadwal menjaga firma sedang duduk di pos nya sambil menyeruput secangkir kopi panas.
"Sir! Liat Riani gak?" tanya Cammy sambil memukul kan tangannya ke meja.
Sir Tom terperanjat kaget dan hampir menyemburkan kopi panasnya ke Cammy, untung saja Sir Tom refleks menelan kopinya.
"Riani baru berangkat bersama Monsieur Jahad barusan menuju bandara Cammy" jawab sir Tom.
Cammy langsung memberi kode pada Enne agar menyiapkan mobil segera.
"Terimakasih Sir Tom! dan tolong tutup saja Firma, kami tidak akan kembali malam ini!" Seru Cammy sambil segera berlari ke parkiran.
Sir Tom mengangguk paham, sambil terpana menatap heran mereka bertiga.
Enne langsung membelok tajam mobilnya dengan cepat ala pengemudi kelas atas, sedangkan Manquer Elis masih sibuk dengan laptopnya sambil menahan goncangan mobil dengan kedua kakinya.
Cammy sibuk menghubungi monsieur Elxin yang baru balik dari Kuala lumpur mengantar Chloe dan Madam Mavey yang akan menyelesaikan tugas mereka.
Manquer Elis masih mengejar deadline tugasnya agar cepat selesai segera.
__ADS_1
"Bagaimana?" tanya Enne pada Cammy.
Cammy mengacungkan jempolnya pertanda helikopter sudah beres dan tinggal lepas landas.
Manquer Elis mengangkat teleponnya yang dari tadi terus berbunyi.
"Halo dengan siapa?" tanya Manquer Elis cepat karena tadi tidak melihat nama penghubung di layar hp nya.
"Ini aku Riani manquer, apa manquer tidak menyimpan nomor hp ku?" tanya Riani dengan nada suara yang nampak sedikit kesal.
"Hahaha tidak Riani, tentu aku menyimpan nomormu, hanya saja kamu tau aku sibuk dengan beban tugas ini jadi tidak sempat membaca nama orang yang menghubungiku" jelas manquer Elis.
"Hah... baiklah Manquer, lain kali pastikan anda membaca nama pemanggil sebelum mengangkat telepon" saran Riani mengingatkan.
"Baiklah, jadi ada apa kamu menghubungi aku Riani?" tanya Manquer Elis.
"Tolong jam 2 nanti manquer tetap stand by di Firma, karena salah seorang anak dari pengusaha ternama kota xxx akan datang meminta bantuan pada firma kita, aku tidak bisa kembali ke firma saat ini karena sedang di helikopter, jadi tolong manquer menerima kasus ini" ucap Riani.
"Tapi Riani--"
"Aku percayakan padamu Manquer, terimakasih" ucap Riani memotong penolakan manquer Elis sambil langsung menutup telpon.
Manquer Elis menarik nafasnya dalam-dalam.
"Ada apa manquer?" tanya Cammy penasaran.
"Enne... tolong berhentikan mobil, dan Cammy tolong hubungi Tom agar tidak menutup firma" pinta Manquer Elis.
"Ada apa manquer?" tanya Enne sambil menepikan mobilnya.
"Saya tidak bisa ikut kalian, saya harus kembali segera ke Firma untuk menemui anak dari pengusaha kota xxx yang meminta bantuan firma kita" keluh manquer Elis.
"Jadi kenapa tidak kami antar kembali saja manquer?" tanya Enne.
Mereka menganguk paham, setelah manquer Elis turun dari mobil, Enne kembali membawa mobil dengan kecepatan yang lebih tinggi.
Sesampainya di bandara, Cammy melambaikan tangannya pada monsieur Elxin yang sedang menyandarkan tubuhnya di balik dinding yang ada disebelah helikopter yang bertulisan Firma Confiance itu.
Monsieur Elxin segera memasuki helikopter diikuti oleh Cammy dan Enne.
Helikopter berwarna biru putih itu terbang perlahan membelah udara yang tak bewarna menuju pulau Jawa.
***
Alisya duduk termenung di taman kampus sambil menatap daun-daun yang berguguran jatuh perlahan mengenai tanah. Seorang gadis dengan pakaian sederhana berlari kecil ke arah Alisya sambil melambai-lambaikan tangannya.
"Sya!" teriak gadis itu dengan nafas ngos-ngosan.
"Ada apa lagi sih Ren!?" tanya Alisya nampak kesal diganggu menenangkan dirinya.
"Ada rumor beredar bahwa salah satu mahasiswi kampus kita diajak bergabung ke firma itu" ucap Aren teman baik Alisya dikampus, atau mungkin teman Alisya satu-satunya disana yang mau berteman dengannya.
Walau Aren bukan dari keluarga yang berada, yang ekonomi keluarganya juga pas-pasan, namun Aren masih bersyukur diberi keluarga yang cukup dan baik padanya, berbeda dengan Alisya yang harus berjuang sendiri dalam hidupnya bahkan harus merawat ibu nya yang kini tengah terbaring sakit akibat depresi yang dialaminya.
Oleh karena itu, walau tidak pernah merasakan dikhianati oleh orang yang seharusnya jadi panutan, dibuang dan dicampakkan, direndahkan dan diasingkan, Aren tetap paham betul beban hidup yang ditanggung semua oleh Alisya kini.
"Menurut mu siapa ya Sya gadis beruntung itu?" tanya Aren sambil mengedepankan tas kecilnya.
Alisya diam sejenak "menurut mu... apa yang membuat semua orang menyukai firma yang bahkan hampir nihil diketahui orang-orang itu?" tanya Alisya tiba-tiba.
__ADS_1
Aren tersenyum tipis mendengar pertanyaan Alisya "Sya... kamu tau? jika seandainya aku harus menjual semua harta milik keluarga ku untuk masuk ke firma itu... bahkan sekalipun aku harus menjual satu ginjalku... maka aku ikhlas asal bisa bergabung bersama wanita-wanita hebat itu" ucap Aren.
Alisya mengerutkan keningnya mendengar ucapan Aren, sebegitunya Aren teman baiknya itu menginginkan masuk ke dalam firma Confiance.
"Tapi setidaknya... aku selalu berharap dan berdoa pada Tuhan, agar orang yang beruntung itu adalah kamu Sya, setidaknya sebagai sahabatmu... aku ingin kamu tersenyum dan hidup dengan sejahtera, aku ingin melihat senyummu sekali lagi, senyum yang selalu kamu perlihatkan padaku sewaktu masa putih abu-abu kita, senyum tulus dari wajah cantikmu itu, bukan lagi senyum pura-pura ditengah keterpurukan dirimu" ucap Aren tiba-tiba.
"Sya... kamu tau? dari dulu aku selalu ingin dekat denganmu... ingin mengenalmu lebih, gadis paling pintar, paling cantik, paling populer disekolah kita, namun lagi-lagi saat ingin mendekati mu, aku tertampar kembali oleh fakta yang cukup memilukan 'Siapa diriku!? aku tidak cocok bersanding dengan ratu disekolah ini! hidup aman saja Ren! jangan cari-cari masalah untuk terlibat dengan orang kaya! kamu hanya manusia rendah!' kata-kata itu selalu aku tanamkan dalam diriku" Aren mengentikan ucapannya tiba-tiba sambil menatap sayu daunan coklat yang terus berjatuhan diterpa angin.
"Sampai saat itu, saat dimana aku bertekad untuk bisa berbicara denganmu, aku melihatmu tertatih... air matamu jatuh perlahan dibalik pohon jambu itu, saat itu entah kenapa kaki ku melangkah dengan sendirinya menghampirimu sambil menyodorkan sebuah tisu padamu, kau menatap ku heran sambil mengambil tisu yang tadi aku sodorkan padamu, kau tersenyum padaku setelah menghapus semua jejak air matamu tadi, ucapan terimakasih mu saat itu... membuat hatiku terasa luluh, kau kembali berlari kecil kepada teman-teman mu yang kaya raya dan anak-anak dari pejabat dan pengusaha itu dengan senyum cerah yang kau perlihatkan, namun... apa kamu tau sya? senyum mu saat itu, adalah senyum penuh kebencian yang pertama kali aku liat darimu" ucap Aren kembali.
Alisya tersenyum tipis mendengar penjelasan Aren "dan setelah itu... kau kembali menemuiku, aku tak tau saat itu apa maksudmu, mungkin saja kau ingin mencari muka dengan ku, sampai aku sadar bahwa niatku menolongku dan mendekati ku itu tulus, sejak berita tentang bapakku yang di post kan ke publik menjadi riuh, aku dikata-katai oleh teman-temanku, aku dicaci, dilempar dengan kertas, sampai dikunci di dalam toilet karena scandal selingkuh dan korupsi yang dilakukan papaku, teman-temanku dulu hanya tersenyum mencibir ku, seolah aku ini tidak berguna lagi dimata mereka, tatapan mereka saat melihat ku tak lain adalah sampah, padahal semua itu bukan kesalahanku, lantas kenapa aku yang harus menanggung hinaan ini!? saat diposisi aku sudah terpuruk rapuh, kau datang menyodorkan tangan mu padaku, tersenyum menatap ku yang terpuruk rapuh, Ren... aku berpikir saat itu kau sedang meledekku, aku menepis tanganmu namun kau memelukku, aku membalasmu dengan pukulan, namun kau terus memelukku, sampai aku kelelahan dan kau berucap lirih ditelinga ku 'apa beban dan amarahmu sudah sedikit terlampiaskan?' jujur ren... saat itu aku benar-benar kaget" sambung Alisya terhenti karena air matanya yang mengalir tiba-tiba.
Aren menyerahkan selembar tisu pada Alisya, Alisya menatap Aren yang masih dengan senyum manisnya "hahaha kau kembali mengingat aku pada masa-masa itu Ren... masa-masa yang gak ingin aku ingat kembali" ucap Alisya sambil menghapus air matanya.
"Beralih pada nostalgia kita saat itu... jadi menurut mu bagaimana dengan firma confiance sya?" tanya Aren.
Alisya kembali diam sejenak "apa firma itu memang benar-benar hebat seperti yang dirumorkan? apa masih mungkin ada firma sejujur dan seadil itu di dunia ini? aku tidak yakin akan hal itu, bukankah itu hanya sekedar ambil nama saja? bukankah mereka menyogok opini publik!?" tanya Alisya.
"Jadi itu pendapat mu tentang mereka?" tanya Aren kembali.
Alisya memalingkan pandangannya dari Aren.
"Jangan bilang bahwa yang direkrut mereka kemaren itu adalah kamu Sya?" tebak Aren benar.
Alisya hanya diam tak menghiraukan ucapan sahabatnya itu.
"Apa selama ini hanya aku yang mengangapmu sahabat Sya?" tanya Aren kembali.
Kini Alisya menatap lama Aren "apa maksudmu Ren?!"
Aren tersenyum tipis "lantas... kenapa kamu tidak memberi tau ku kabar menggembirakan itu?"
"Karena aku berniat menolaknya" jawab Alisya.
Aren mengerut kan keningnya "kenapa kamu menolak mereka sya!?"
"Aku tidak ingin kesana, aku tidak mempercayai rumor baik mereka itu!" jawab Alisya.
"Apa maksudmu?!" kesal Aren.
"Ren... aku tidak percaya pada Firma itu! terlebih aku sudah cukup muak pada aturan dunia yang hanya jadi pajangan tertulis saja tanpa tindakan hukum yang nyata! dan kamu percaya firma itu benar-benar sesuai dengan rumor yang dirumorkan selama ini? bukankah mereka hanya menyelesaikan kasus orang besar sehingga orang-orang besar itu mengarahkan opini publik yang baik untuk mereka!?" jelas Alisya.
Aren kembali mengerutkan keningnya "jika aku boleh tau... apa ada sesuatu yang mereka janjikan padamu?" tanya Aren.
Alisya menelan ludahnya mendengar pernyataan Aren "tidak"
"Kamu yakin ingin menolak tawaran mereka dengan kompensasi yang menggiurkan itu?" tanya Aren memojokkan Alisya.
"Hahaha Ren... kenapa tidak kamu saja yang mengambil tawaran dari firma Confiance itu?" tanya Alisya mengalihkan pembicaraan.
"Karena kamu yang dipilih mereka!" seru Aren.
Alisya kembali terdiam mendengar nada tinggi yang dilontarkan Aren padanya.
"Sya! bukankah tujuanmu masuk hukum ini untuk mencari yang namanya keadilan!? menegakkan pasal-pasal yang telah di tetapkan oleh pemerintah!? lantas kenapa kamu menyia-nyiakan kesempatan ini? kamu bilang semua rumor tentang mereka hanyalah opini!? apa kamu telah menyaksikan langsung?! tidak!! aku yakin jawabanmu adalah tidak! kamu hanya sibuk menghabiskan harimu di ruang maksiat itu! kamu jarang masuk kampus! kerjaanmu hanya sibuk membaca buku pasal ini! tidakkah kamu melihat dunia! dimana ambisimu yang dulu!? kemana seorang Alisya yang dulu aku idolakan!? kemana perginya gadis periang itu!? kemana perginya sang penggila ilmu itu!!?" kesal Aren "dan terakhir... apa kamu sudah melupakan keinginanmu untuk balas dendam?" tanya Aren lirih di akhir kalimat.
Mata Alisya terbelalak kaget mendengar ucapan Aren.
"Aku... aku salah" ucap Alisya lirih.
__ADS_1
"Aku tau kamu lelah menjalani semua hal ini, aku tau kamu sudah muak, tapi setidaknya... gunakanlah kesempatan ini sebaik mungkin" ucap Aren sambil memegang bahu Alisya.
Alisya menggelengkan kepalanya "aku tidak bisa... aku tidak layak mendapatkan semua ini" jelas Alisya.