ERANGAN TAKDIR

ERANGAN TAKDIR
S2-CHAPTER 5


__ADS_3

Sukses...


Hanyalah kata yang berlaku untuk mereka yang tak mengeluh dalam berusaha


Kehadiran mu kini membuat ku sadar


Akan arti dari penantian panjang yang kandas dierangankan oleh takdir


Dan rasa berjuang sampai titik kesuksesan yang dicita-citakan


Riani dan Violette kini melangkah pelan memasuki sebuah gedung pencakar langit yang sangat megah dan berkesan abstrak itu.


Langkah Violette yang penuh dengan wibawa memasuki ruangan dalam gedung itu, mereka berdua telah membuat janji bertemu dengan pimpinan pengacara dalam gedung nan megah itu. Yang didepan gedung yang mereka masuki tertulis jelas Meganee Advocaat Official.


Sebagai salah satu Firma hukum terbaik di Belanda, kini Firma Meganee tengah meminta Firma Confiance membantu sidang mereka yang tidak menemukan titik jelas.


Dengan langkah mantap Violette memasuki ruangan diikuti oleh Riani yang ikut percaya diri setelah melihat sikap dan aura yang dipancarkan Violette, kedatangan mereka ke Firma itu disambut hangat oleh beberapa orang yang kini ada diruangan itu.


Seorang Pria yang jelas berdarah Belanda dari raut wajahnya, melangkahkan kaki menghampiri Riani dan Violette. Dengan sedikit basa-basi yang dilontarkannya dalam bahasa Perancis yang fasih, dia mengarahkan Riani dan Viloette kedalam sebuah ruangan yang berada di lantai paling atas.


Jelas sekali ruangan itu adalah ruangan dari pemimpin atau kepala Firma itu, nampak seorang lelaki paruh baya dengan ciri khas wajah orang Belandanya yang nampak bersih tersenyum menatap Riani dan Violette yang sudah dia nanti kedatangan mereka dari beberapa hari yang lalu.


Lelaki paruh baya itu berdiri dari duduknya pada sebuah kursi hitam yang bisa berputar 360°, dia menyalami Riani dan Violette yang membungkukkan kepala memberi hormat pada lelaki paruh baya itu.


"Halo tuan Adrima Stenede" sapa Violette diiringi oleh Enne yang ikut menyapa lelaki paru baya itu.


Lelaki paruh baru itu kembali tersenyum, menambah garis diwajahnya yang sudah keriput itu karena senyuman yang dilontarkannya "saya sudah lama menunggu kedatangan kalian" ucap lelaki itu formalitas.


Tanpa ingin mengawali setiap pertemuan singkat yang tak akan menghabiskan waktu dalam satu Minggu, basa-basi mereka elakkan sementara, atau bahkan mungkin tidak akan mereka gunakan dalam situasi ini.


Tak enak untuk memulai pembahasan tentang kasus yang dimintanya pada Firma Confiance, Riani memilih untuk membuka topik pembahasan lebih dulu, mengingat rasa tenggang rasa yang tinggi dari kliennya.


Sudah menjadi kebiasaan Riani dari dulu untuk mengetahui apa yang diinginkan oleh kliennya dari postur mimik wajah yang ditampakkannya walau tidak tersirat sedikitpun, hal itulah yang membuat Riani seringkali ditugaskan keluar negri, tapi manquer Pamela juga paham betul urusan rumah tangga Riani yang merupakan seorang istri yang harus melayani suaminya. Oleh karena itu manquer pamela tidak memasukkan banyak nama Riani dalam lift kasus luar negri.


Berbeda dengan Violette yang sedari kecil memang memiliki bakat menjadi seorang detektif, sama dengan ayah Violette yang merupakan seorang detektif kepolisian selama di Perancis, tapi beliau meninggal dunia disaat usia Violette hendak memasuki usia 16 tahun, usia yang sudah cukup dewasa untuk menerima fakta yang menimpa kehidupannya.


Sejak kematian ayahnya, wanita dengan 4 bersaudara itu semakin giat dalam belajar, sampai dia yang dulunya bercita-cita menjadi detektif kepolisian, malah memilih jurusan hukum untuk menjadi seorang pengacara. Wanita yang selalu memasang mimik wajah serius itu lebih memilih menyelidiki, menyelesaikan, dan memberi argumen tentang keputusan hukum daripada terikat untuk menyelidiki lalu menangkap.


Bakat dan Kejeniusan yang dimiliki oleh Violette lah yang mengantarkan dia sampai pada Firma Confiance, firma terhormat yang menjunjung tinggi keadilan bagi kliennya.


Mereka tidak sepenuhnya diminta untuk mengadili sidang nantinya, Riani dan Violette hanya dimintai tolong mencari titik celah kasus politik yang tidak seharusnya diberitahukan pada orang luar.


Tapi karena prinsip keadilan dan kerahasiaan dalam Firma Confiance yang sudah diakui oleh dunia, banyak orang penting dunia yang memilih mempercayakan hukum hidupnya untuk diselesaikan oleh Firma Confiance.


Seorang pengusaha andal Belanda yang hendak ikut bergabung dalam sistem politik menyangkut pemberian nasehat tentang krisis moneter maupun keuangan dari negri kincir angin itu. Dia mendukung sepihak seorang Gubernur untuk menaiki kepemimpinan monarki negri itu, hingga menimbulkan banyak konflik yang panas.

__ADS_1


Pembunuhan masal, penembakan dan pemboman beruntun bagi pendukung gubernur yang kini tengah dalam proses naik jabatan dalam dunia parlementer. Nyaris menyisakan 2/3 dari penduduk kota itu.


Konflik semakin memanas karena opini berita dan majalah terkemuka negara, membuat sistem politik negri itu hancur cepat bagai api menjalar yang sudah mengikuti jejak dari solar yang ditumpahkan.


Begitupun konflik internal yang kini muncul karena alur yang sudah ditentukan oleh seseorang petinggi penting yang tidak menginginkan sistem pemerintahan yang adil.


Adanya kehadiran anggota firma confiance ini harus dirahasiakan dari negara, sebelum memunculkan konflik adanya kedatangan orang luar yang semakin besar dari negri ini.


Beberapa kemera dimatikan dari ruangan pengadilan itu, seketat mungkin mereka menjaga keselamatan Riani dan Violette selama 24 jam ini.


Mereka terkurung dalam ruangan Firma itu dengan dibatasi pergerakan, memahami masalah yang kini mereka hadapi, akhirnya Riani dan Violette paham kenapa mereka yang dikirimkan pada kasus Internasional ini. Dari persatuan karakter mereka yang sangat bertolak belakang untuk bisa menghandle kasus ini secepatnya.


Banyak rentetan majalah dan koran-koran terbaru yang kini bertumpukan didepan Riani dan Violette, setelah membaca kilat tentang info politik yang mereka dapati kini mereka beralih pada sosial media dan berita internet sekalian fokus pada di kolom komentar yang membahas dan berkaitan dengan kasus politik berskala Nasional di negara itu kini, namun tak banyak negara luar yang tau kasus yang kini tengah menimpa negara kincir angin itu hingga menjadi Internasional.


Selama 2 hari satu malam, mereka bergadang demi mencari titik temu, diiringi dengan kenyataan yang dilontarkan pimpinan Firma Meganee itu, akhirnya Violette dan Riani jadi paham, sedari awal mereka tidak dibutuhkan dalam kasus ini, mereka menyadari bukan karena ketidakatauan negara, hanya saja pikiran banyak orang dari negri ini kini tak bisa berpikir jernih melihat rentetan kasus politik yang semakin terbuka lebar dari negri mereka.


Dibalik kaca lantai atas bangunan yang kini mereka tempati itu, Riani melihat sebuah mobil RVC hitam masuk kedalam area Firma Meganee, dari pintu kemudi mobil itu keluar seorang wanita cantik dengan pakaian perempuan mafia kelas atas sambil membuka pintu belakang mobil yang kemudian turun seorang pria dewasa usia 40-an dengan jas abu-abunya yang cukup mencolok pandangan.


Pria itu adalah orang yang sedari awal mereka nanti kehadirannya. Dia adalah pendukung sepihak Gubernur untuk menduduki kursi parlemen dan seorang penasihat politik moneter yang baru-baru ini menyelesaikan sidang tentang konflik yang menyangkut jelas dirinya. Wanita berpakaian hitam yang tadi bersamanya berdiri diluar pintu yang kini kembali ditutup rapat, pertanda wanita tadi adalah Bodyguard pribadinya yang bisa saja adalah seorang pembunuh bayaran yang dirangkap pria itu menjadi seorang Bodyguard.


Pria itu berjalan ke arah mereka, sambil bersalaman pada pimpinan besar firma Meganee itu yaitu tuan Adrima Stenede dan Riani beserta Violette.


Mereka membahas rentetan pengakhiran isu ini, menelitik dari kecerdasan dan titik celah menyelesaikan masalah yang sudah ditemukan oleh Pria itu.


"Jadi jika anda sudah menemukan penyelesaian konflik ini... bisakah kami untuk segera kembali ke Perancis tuan Her?" tanya Violette mengakhiri rentetan pembahasan mereka tadi.


Ini menyangkut isu negara secara politik, jadi tidak akan dijelaskan dengan detail, demi menghindari konflik internal dalam cerita, atau menyinggung oknum tertentu, cerita ini hanya fiksi belaka.


Deraian angin yang menerpa rambut Violette di negri kincir angin itu, tak terasa oleh Violette dan Riani bahwa mereka disini sedang mencoba membantu sebuah kasus politik negara luar. Bunyi tekanan klason mobil itu membuat mereka yang semula sedang menikmati semerbak angin negri itu harus bergegas segera masuk ke dalam mobil untuk menuju bandara.


Helikopter sudah siap di salah satu bandara khusus yang ada di Belanda, Violette dan Riani segera masuk dan memasang earphone mereka yang sudah tersambung dengan helikopter.


Dibalik kaca Helikopter terlihat jelas gumpalan awan yang berwarna putih sedang mereka lintasi dalam ketinggian di udara sekitar 32.000 kaki.


Pemandangan yang tidak asing lagi, gedung-gedung pencakar langit yang tidak bisa dilupakan oleh Riani, tanpa diduga helikopter mendarat di Jakarta, bukan di Perancis. Riani tak memahami betul keadaan saat ini, dia menanyai pilot helikopter yang menggelengkan kepalanya tentang maksud mereka mendarat di Indonesia, pilot itu hanya ditugaskan oleh Manquer Pamela.


Riani melirik ekspresi wajah Violette yang juga turut kaget, namun nampaknya Violette tidak mempermasalahkan hal ini.


"Apa kita masih harus menyelesaikan tugas lagi?" tanya Riani memecah segenap pertanyaan yang ada dikepalanya kini.


"Aku rasa tidak" jawab Violette sambil melangkah keluar dari helikopter setelah membereskan beberapa barangnya.


Riani turut turun dari helikopter dan melihat ke dalam layar HP-nya yang tidak menunjukkan tanda adanya pesan masuk.


Begitupun dengan Violette yang memilih untuk mengikuti alur yang cerita yang diberikan oleh manquer Pamela. HP Violette mati karena habis baterai, kemungkinan besar juga tak ada pesan masuk dari Manquer Pamela tentang hal ini.

__ADS_1


Violette dan Riani tak tau kemana tujuan yang akan mereka tempuh, seorang wanita berseragam pramugari menghampiri mereka berdua dan dia berbisik pada Violette.


Violette mengangguk paham "Riani... sepertinya kita diberi waktu cuma-cuma untuk liburan di Indonesia sementara waktu" ucap Violette menyampaikan apa yang dibisikkan oleh pramugari tadi.


"Kenapa pramugari tadi berbisik padamu jika hanya tentang hal itu?" heran Riani.


Violetta menaikkan bahunya pertanda dia juga tidak tau alasan pramugari itu. Walau sebenarnya hanya 50% kebenaran dari yang disampaikan pramugari itu kembali disampaikan oleh Violette pada Riani.


"Aku tidak tau apa-apa tentang Indonesia, jadi saat ini kamu pemimpinnya" ucap Violette sambil menunggu keputusan dari Riani.


Riani kembali menatap layar HP-nya yang nampak kosong karena tidak ada notif pesan masuk dari Manquer Pamela bahkan Albern juga tidak mengirimkan pesan pada Riani. Riani menengadahkan kepalanya menatap langit-langit kota Jakarta.


Riani diam sejenak sambil menutup matanya dengan posisi kepala yang masih menengadah ke langit, lalu perlahan Riani menghela nafasnya.


"Ke rumah aku dulu saja..." setelah mengatakan hal itu, Riani kembali diam sejenak seperti sedang memikirkan sesuatu. "Maksudku ke tempat Aisyah dan suaminya dulu saja" sambung Riani memilih bahasan kalimat yang lebih tepat.


Violette tersenyum mendapati reaksi dari Riani. Mereka naik Naik sampai ke statiun dan kembali menyambung perjalanan dengan taxi sampai ke kediaman lama Riani dulu. Memakan waktu sekitar 7 jam untuk sampai ke perkampungan masa kecil Riani.


Riani merasakan hawa sepi dari kampung halamannya itu, yang biasanya pintu rumah-rumah warga pada terbuka, namun kali ini malah tertutup. Riani berpikir mungkin ini kebiasaan baru mereka.


Riani dan Violette berjalan ke arah sebuah rumah bercat coklat dengan masih mengandung unsur kental jawanya. Tak ada sedikitpun suara terdengar dari balik rumah itu, begitupun dengan lampu rumah yang nampak mati, serta tirai-tirau yang diturunkan terlihat jelas dibalik kaca luar.


Mungkin orang rumah lagi diluar. Begitu pikir Riani, Riani mencoba mengetuk pintu dan mengucap salam lebih dulu. Tak ada jawaban.


"Kita ke hotal saja?" tanya Riani digelengkan oleh Violette.


Riani kembali menghela nafasnya.


"Kamu ada kunci rumah ini?" tanya Violette yang ikut digelengkan oleh Riani.


Setelah Aisyah menikah, Riani menyerahkan kunci cadangan rumah itu pada Aisyah sepenuhnya. Jadi kini didepan rumah milik orangtuanya sendiri, Riani tak lebih dari sekedar tamu yang singgah.


Violette menatap waktu Bagian Indonesia yang sudah hampir memasuki subuh. Sedari tadi mereka hanya tidur sekejap di Helikopter dan makan seadanya. Bayangkan saja bagiamana kondisi ke dua wanita ini sekarang.


Tau tidak akan berhasilpun, Riani tetap mencoba terlebih dahulu untuk membuka pintu rumahnya langsung, Riani memegangi gagang pintu dan mendorongnya kedalam.


Tak diduga--pintu rumah itu terbuka tanpa perlu adanya kunci, ruangan dalam nampak gelap tanpa ada cahaya. Bagaimana mungkin Aisyah dan Andi lupa untuk mengunci pintu rumah ini!? begitu yang ada dipikiran Riani saat ini sambil meraba-raba tempat saklar lampu didinding-dinding rumah itu.


Tanpa sengaja kaki Riani menginjak sebuah benda yang terasa aneh baginya, benda itu licin dan seperti berisi sesuatu yang ringan didalamnya. Riani menundukkan tubuhnya untuk mengambil benda itu dengan tangannya.


Sebelum sempat tangan Riani mengenai benda itu, lampu tiba-tiba langsung menyala, diikuti sorakan Selamat Ulang Tahun dari orang-orang yang ada rumah itu.


Dor!!!


Riani terkejut mendengar suara balon meletus tepat dihadapannya, lelaki itu menyunggingkan senyumnya pada Riani "Happy Birthday istriku" bisik Albern dekat pada telinga Riani.

__ADS_1


Sorakan kembali menggema dalam rumah itu, air mata Riani perlahan terjatuh, dia tak menyangka akan diberi suprise di Indonesia, bahkan Riani sendiripun tak mengingat bahwa hati ini dia tengah ulang tahun.


Aisyah berjalan mendekat ke arah Riani "Kak..." gumam Aisyah pelan dengan semerbak senyum yang terlintas diwajahnya.


__ADS_2