ERANGAN TAKDIR

ERANGAN TAKDIR
S3 - Chapter 6


__ADS_3

Semua orang yang berdiri di luar ruangan itu terheran mendengar perkataan Alisya. Bagaimana bisa dia mendepatkan bukti hanya dengan berbicara selama kurang lebih 20 menit dengan Dina!?


Alisya ikut diam menatap ekspresi diam semua orang kini.


"Hei! aku sedang serius loh!" tegas Alisya pada situasi yang dihadapinya kini.


Dina pun ikut heran menatap Alisya, bagaimana bisa dia mendapat bukti bahwa Dina pembunuhnya hanya dari obrolan panjang mereka tadi.


"Apa anda memiliki bukti dari ucapan anda tadi nak Alisya?" tanya salah seorang polisi yang ada di tempat itu.


"Hmmm... walau gak bisa dibilang bahwa ini bukti konkret sih, tapi menurut saya setelah anda mendengarnya anda akan mengetahui semuanya pak" jawab Alisya sambil menyunggingkan bibirnya tersenyum.


Mendengar? atau jangan-jangan... Bathin Riani.


Dina terperanjat kaget setelah mendengar ucapan Alisya tadi, dia baru paham kenapa Alisya sampai memancing emosinya tadi.


"Hei! jangan bilang ka--"


"Ya! aku merekam semuanya!" ujar Alisya memotong ucapan Dina tadi.


Ruangan itu sekejap jadi hening.


Dina mendesis sebal mendengar perkataan Alisya "kau pikir itu cukup jadi bukti? HAHAHA BISA SAJA AKU BERBICARA SEPERTI ITU UNTUK MEMANCINGMU SAJA" tawa Dina.


Alisya melirik ke arah pak polisi yang ada disana "menurut anda bagaimana pak?" tanya Alisya.


Polisi itu diam sejenak "baiklah, kita mulai sidang tertutup nya besok" angguk polisi itu.


Alisya mengernyitkan keningnya "sidang tertutup?"


"Tidak mungkin kita akan membuka sidang terbuka untuk kasus ini, apalagi dengan tersangkanya adalah istri beliau" jelas pak polisi.


"Kedudukan saya disini bukan lebih penting? kenapa bapak tidak mempertahankan pendapat saya!?" seru Alisya.


Polisi itu menggeleng "kami tidak bisa memberi keputusan hanya dalam satu suara, kecuali jika benar-benar ada keluarga almarhum lainnya yang meminta cara sidang ini diselesaikan" jelas pak polisi kembali.


"Pak!" seru Alisya lantang.


Riani dan Serli langsung memberhentikan Alisya untuk meneruskan protesnya nanti, jika terus dilanjutkan maka Alisya akan dijadikan pihak yang tidak akan boleh terlibat dalam kasus ini.


Alisya menghela panjang nafasnya sambil menatap sinis Dina.

__ADS_1


"Saya duluan!" pamit Alisya langsung melangkah kan kakinya meninggalkan tempat itu.


"Apa dek Alisya tidak mau melihat jasad almarhum? dan mengantar nya ke pemakaman?" tanya salah seorang polisi yang berdiri disana.


Langkah kaki Alisya terhenti, dia diam sejenak membuat ruangan itu kembali hening "tidak, aku tidak ada waktu untuk itu" jawab Alisya sambil melanjutkan langkahnya.


"Kalau begitu kami permisi dulu pak" ucap Serli ikut diangguki oleh Riani.


"Kalian juga tidak ingin ikut melihat jasad almarhum?" tanya salah seorang polisi.


Serli memalingkan wajahnya ke Riani, Riani mengedipkan kedua matanya memberi isyarat pada Serli.


"Maaf pak, sepertinya kami masih ada beberapa urusan lagi, tapi saat pemakaman nanti kami akan datang" jawab Serli.


"Kalau begitu permisi pak" sambung Riani "dan nona Dina" ucap Riani sambil menyunggingkan senyum tipisnya pada Dina.


Dina hanya memalingkan wajahnya, jelas sekali raut mukanya sekarang nampak sangat kesal dan juga dilanda kecemasan yang dalam.


Riani dan Serli ikut melangkah pergi meninggalkan ruangan itu, tanpa tau apa yang akan dilakukan Dina dan para polisi itu nantinya.


"Sudah selesai nak Alisya?" tanya pak Polisi yang ada di pintu masuk tadi.


Alisya menganguk mengiyakan sambil membalikkan tubuhnya menunggu Riani dan Serli.


" Kita ke panti sekarang?" tanya Riani langsung diangguki oleh Alisya.


Serli yang bingung dengan tujuan mereka ke panti langsung menanyakan maksudnya "hei... kalian ke panti mau ngapain?"


"Ada beberapa hal diluar kasus ini yang menjadi tujuan awal kami datang ke Indonesia, Serli... boleh aku minta tolong kamu hendel masalah disini dulu?" tanya Riani.


Serli diam sejenak "hah... baiklah, dari awal ini memang sudah tugasku" keluh Serli.


"Kalau begitu kami pergi duluan!" pamit Riani.


"Hei... jangan bilang kalian akan pergi dengan taxi dan harus bolak-balik kembali dengan Taxi?" tanya Serli.


"Owh kami mau meminjamkan mobil mahal mu?" tanya Riani.


Serli kembali menghela panjang nafasnya "ini" ucap Serli sambil menyodorkan kunci mobilnya "kamu tau apa yang akan terjadi jika mobil ku sampai lecet bukan?" tanya Serli kembali.


"Jika mobil mu nanti sampai lecet, tenang saja akan langsung ku lakban, sudah dulu ya! bye!" pamit Riani sambil melambaikan tangannya ke Serli.

__ADS_1


Alisya membungkukkan badannya ke Serli dan pak polisi tadi sambil mengikuti langkah Riani.


Riani langsung masuk ke dalam mobil Serli diikuti oleh Alisya, Riani langsung menghidupkan maps yang ada dimobil mahal Serli itu.


"Ingin menjadikan mama mu sebagai pihak ke-3?" tanya Riani sambil menekan pedal gas.


"Liat situasi yang akan terjadi dulu" jawab Alisya.


"Sebenarnya aku tidak ingin menanyakan hal ini, tapi apa kamu benar-benar tidak ingin melihat papamu untuk terakhir kalinya? sebelum jasadnya dimakamkan?" tanya Riani.


Alisya kembali terdiam "tidak" jawabnya singkat.


"Aku tau kamu masih menyayangi almarhum" ucap Riani.


"Hahaha kamu tidak tau apa-apa tentang ku kak, biarkan saja semuanya seperti ini" jelas Alisya.


"Aku memang tidak tau sepenuhnya tentang mu, tapi aku tau betul kamu masih punya rasa sayang sebagai anak pada almarhum, jika tidak bagaimana mungkin kamu mau menyelidiki dan menyelesaikan kasus ini" jelas Riani.


"Tidak ada salahnya bukan jika harus menyelesaikan kasus ini? bukankah sebagai seorang pengacara kita harus profesional?" tanya Alisya.


"Bukan itu maksudku, aku tau betul kamu tidak akan sudi untuk bercakap-cakap dalam satu ruangan yang sama dengan wanita yang merusak hubungan keluarga mu itu bukan? aku cukup yakin dengan kesabaran mu di dalam ruangan itu bersama wanita tadi" jelas Riani kembali.


"Hah... apa hanya karena itu kamu sampai menarik kesimpulan seperti ini kak?" tanya Alisya.


Riani menekan rem karena posisi mereka saat ini sedang berada di lampu merah "tidak, aku melihat itu sebagai pandangan seorang anak juga, apa kamu tidak pernah berpikir sudah berapa banyak kasus yang ku selesaikan selama ini?" tanya Riani.


"Hahaha aku cukup yakin akan kemampuan mu kak, tapi untuk yang satu ini biarkan aku yang akan menyelesaikan semuanya" jelas Alisya.


"Walau kamu tidak bisa mempercayai polisi tadi yang sepertinya jelas berpihak pada Dina?" tanya Riani.


Alisya tersenyum tipis mendengar ucapan Riani "ya, walau aku sedang dalam posisi berada di kandang harimau" jawab Alisya.


//


Acrel Simone


Anggota firma yang paling tua diantara anggota yang lainnya ini adalah seorang wanita yang tangguh dan hebat.


Tapi karena usianya yang sudah setengah abad, dia hanya bisa melakukan perjalanan ke luar kota, dan sering menyelesaikan kasus-kasus diluar kota yang bisa dibilang semuanya adalah kasus besar.


Acrel Simone yang akrab disapa dengan madam Acrel ini pernah muncul di season 2 pada pesta pernikahan Pamela Oswald dimana saat itu semua anggota firma Confiance berkumpul.

__ADS_1


Dan dalam 2 bulan lagi Madam Acrel akan pensiun sebagai pengacara dan habis kontrak dengan firma confiance.


__ADS_2