ERANGAN TAKDIR

ERANGAN TAKDIR
S2-CHAPTER 36


__ADS_3

Apa kalian tau?


Definisi suka dan cinta itu berbeda


Namun definisi suka dan sayang itu hampir lah sama


Misalnya saja kalian menyukai suatu barang pribadi milik kalian maka pasti kalian akan menyayanginya namun belum tentu kalian mencintainya, bukan?


Contohnya lagi, kalian sayang pada seseorang, mari kita anggap orang itu adalah idola kalian, rasa sayang kalian padanya itu pasti didasarkan pada sesuatu yang kalian sukai dari dirinya, namun apakah kalian mencintai idola kalian itu?


Suka dan sayang itu saling ketergantungan, namun cinta memasuki definisi semuanya


Oleh karena itulah, cinta itu hanya ditujukan pada satu orang yang menaiki rating tertinggi dari kumpulan orang yang kita suka maupun kita sayang


Cam kan itu. Suka dan Cinta itu beda.


Flashback Riani dan Andi


Terpaan angin diiringi dedaunan coklat yang perlahan berjatuhan mengikuti arah angin menemani sejuk ruangan outdoor untuk membahas kegiatan organisasi kecil di pesantren itu.


Tepukan tangan yang meriah menjadi peramai nyata ruangan yang kini dihuni hanya oleh segelintir orang.


Seorang laki-laki berjalan ke depan meja yang sudah disiapkan, dia berdiri gagah di depan semua orang, tak jarang gadis-gadis tersenyum lembut dengan wajah yang memerah menatapnya.


Langkah kaki seorang laki-laki kembali terdengar, kini laki-laki yang baru muncul itu ikut berdiri di samping laki-laki tadi dengan raut wajahnya dan postur tubuhnya yang amat tegas, berbeda dengan lelaki yang pertama berdiri tadi.


Dengan ucapan salam yang lantang mereka suarakan pada orang-orang yang kini ada di hadapan mereka, di jawab serentak oleh orang-orang yang sedari tadi duduk dihadapan mereka berdua.


Andi Ibrahim, nama yang dikenal luas oleh seluruh penghuni pesantren An-Nur itu, ketua pimpinan organisasi dakwah yang berwajah tampan dengan senyuman yang mampu memikat hati kaum hawa, perwatakannya yang sopan dan lemah lembut, didampingi oleh wakil ketua himpunan dakwah yaitu Muhammad Abra Azhka, lelaki tegas yang pintar dan penuh percaya diri, Kharisma nya amat luar biasa, dia aktif di segela bidang.


Dia lelaki itu kini berdiri di depan semua anggota dakwah, di tambah seorang wanita dengan postur tubuh yang ideal, berwajah jutek namun amat sangat cantik. Kirana Zahara... begitulah orang-orang mengenal gadis itu, sekretaris himpunan dakwah yang selalu bisa menginspirasi teman-temannya.


Hari ini mereka tengah mengadakan rapat pengorganisasian jadwal dakwah pesantren ke beberapa masjid/mushalla di saat bulan ramadhan ini.


Kirana mencatat dengan gesit setiap pembagian tugas dan pendapat anggota lainnya.

__ADS_1


Saat ketua himpunan dakwah itu menanyakan apa ada yang masih ingin memberikan pendapat, Ruangan itu nampak hening sejenak, kemudian seorang gadis dengan percaya diri berdiri sambil mengacungkan tangannya.


Andi cukup keget melihat gadis itu, Riani Putri, murid kelas 1 yang waktu itu mendapat kan juara umum ditingkatnya. Oleh karena itu Andi tau nama gadis itu.


"Silahkan Riani" ucap Andi.


Riani mengangguk "Assalamualaikum warahmatullahi wabarokatu" salam Riani di jawab oleh semua orang yang ada diruangan itu "Perkenalkan nama saya Riani Putri, murid kelas 1-A, disini saya ingin memberikan penyanggahan terhadap acara Nuzul Quran kita, saya sendiri tau betul bahwa kebersamaan kita dibulan Ramadhan ini sangat penting sekali, membaca Al-Qur'an bersama-sama sampai waktunya sahur, berbuka bersama, mengkensel seluruh penerimaan tausiah hanya demi berkumpul bersama dalam Nuzul Qur'an ini, sebelumnya maaf... apa kalian tau apa itu Nuzul Qur'an?" tanya Riani.


Semua orang diruangan itu nampak jadi hening.


"Nuzul Qur'an atau yang biasa kita artikan sebagai malam turun nya Al-Qur'an, malam yang bertepatan dengan malam Lailatul Qadar, malam yang lebih baik daripada seribu bulan!" Dengan suara lantang Riani menyerukan pendapatnya.


"Bukanlah lebih baik kita sebagai umat Islam, sama-sama dengan yang lainnya diluar sana mensyukuri hari ini? katanya malam seribu bulan, bukankah itu malam yang paling terang, hidayah turun pada orang-orang pilihan pada malam itu, apa yang diliat mereka saat itu... kita tidaklah lah tau, lantas kenapa kita hanya berkurang diri di dalam ruangan dan membaca Alquran? bukankah lebih baik kita mengajak tetangga-tetangga dan anak yatim diluar sana untuk ikut membaca Alquran dan menyaksikan malam Lailatul Qadar ini bersamaan? halaman masjid kita terbuka, seribu bulan pasti akan bisa menerangi kita dalam membaca Alquran bersama, berbagi pengalaman, Shalat sunat ramai-ramai, tausiyah panjang tentang Nuzul Qur'an ini! bukankah itu lebih indah?" tanya Riani sekali lagi.


Ruangan ini kembali hening, semuanya terdiam, sejak itulah Andi kagum pada sosok seorang Riani, dia menyukai jalan pikiran Riani yang tak bisa dibatasi, jalan pikirannya yang maju dan menyuarakan, tutur bahasanya yang mampu memikat dan menggerakkan hati orang-orang. Kepintaran tidak sebatas tentang materi saja, namun juga aspirasi dan kebersamaan, jiwa sosialnya yang begitu tinggi, benar-benat seorang gadis yang luar biasa dan penuh kompetensi.


Waktu berlalu dengan cepat, kebersamaan besar pada malam Lailatul Qadar itu terasa amat singkat dan membekas di ingatan.


Anak-anak yang berseru lantang membacakan ayat suci sambil mengelilingi rumah-rumah warga, diterangi oleh obor yang dibawa orang-orang dewasa, musik rabana dan gandang yang disuarakan oleh murid-murid pesantren An-nur dan lainnya yang meramaikan suasana malam itu sampai Sahur bersama.


Menjelang akhir Ramadhan, mereka kembali rapat, memperkirakan santriwan-santriwati yang akan kembali ke rumah sesudah ujian akhir kelas, atau yang masih tetap di asrama.


Riani yang sedari tadi hanya memilih diam saat rapat, walau biasanya dia adalah orang yang paling cerewet membahas hasil rapat, ketiga inti itu kini tengah menatap heran gadis itu.


Riani menghela napasnya panjang-panjang, seperti orang yang sudah tidak memiliki semangat kehidupan lagi.


Dia demam setelah hujan-hujanan pulang dari pasar untuk membeli bahan-bahan masak untuk sahur dan berbuka, Riani memilih untuk ikut menghadiri rapat daripada tiduran saja di kamar asrama.


Namun kini kepalanya terasa amat berat, perlahan pandangan Riani memudar, Kirana, Andi, dan Abra cemas akan Riani yang tubuhnya nampak gemulai.


Brak!


Riani pingsan saat itu juga, para gadis-gadis sudah beranjak dari awal rapat berakhir tadi, Kirana tidak akan bisa mengangkat Riani sendirian di kamarnya.


Andi dan Abra juga merasa tidak enak hati, bukan bukanlah muhrim yang bisa bersentuhan.

__ADS_1


"Biar aku yang membawa nya ke kamar asrama!" seru Andi nampak cemas.


"Tapi--" ucap Abra yang langsung di potong oleh Andi.


"Kita tidak bisa membiarkan Riani begini terus, ini demi dirinya jadi tidak ada batasan muhrim apa tidaknya dulu" ujar Andi sambil membopong tubuh Riani segera ke kamar asramanya.


Andi ditemani Abra langsung keluar, karena laki-laki tidak boleh masuk ke asrama perempuan, hukumnya sangatlah fatal, bahkan mungkin mereka bisa dikeluarkan dari sana jika masih berani berlama-lama di asrama perempuan itu.


Esok harinya kondisi Riani nampak sudah mendingan dari sebelumnya pulih, dia beraktifitas seperti biasa, sampai ujian akhir semester dilaksanan di detik-detik terakhir puasa ramadhan itu, lagi-lagi Riani mendapatkan peringkat umum walau dengan situasinya yang saat itu tengah sakit.


Kekaguman Andi pada Riani mencapai puncaknya, Andi tersenyum menatap Riani dari kejauhan, Abra sadar akan sikap sahabatnya itu.


"Kamu menyukai Riani?" tanya Abra diangguki oleh Andi.


Seperti di sembar petir, Abra kaget tidak percaya bahwa sahabatnya itu kini sedang jatuh cinta, tapi Abra salah paham, Andi bukan jatuh cinta pada Riani, dia hanya menyukai dan kagum pada diri seorang Riani, gadis mandiri yang sangat pintar dan baik hati, tidak lebih... hanya itu saja.


2 tahun setelah itu, sampailah pada hari kelulusan mereka, Riani Putri adalah murid satu-satunya yang paling banyak menerima tawaran mahasiswi undangan.


Kekaguman Andi padanya tetaplah bertahan, walau cinta dalam diam Riani selama ini pada Andi masih masih menjadi cerita indah dalam diri mereka masing-masing, Cinta Riani yang berlabuh saat pertama kali melihat senyuman Andi yang begitu menyilaukan, wajahnya yang tampan masih membekas di hati Riani sampai hari kelulusan itu tiba.


Kekaguman Andi pada Riani dan cinta Riani pada Andi tetaplah dalam diam, mereka berbisik dalam doa, tentang kesehatan dan kebahagiaan masing-masing.


Perpisahan akhir setelah kelulusan tiba adalah saat Abra menyatakan cinta pada Kirana, itu adalah perbincangan singkat terakhir Andi dan Riani di pesantren itu, tempat rasa mereka mulai berlabuh.


Keraguan Riani untuk memilih universitas atau tetap di kampung halamannya itu karena rasa cintanya yang ingin ia utarakan, dia tak berharap lebih, hanya saja dia ingin Andi tau akan rasanya.


Namun lagi-lagi Riani memilih untuk diam, mungkin dengan diam dia akan menemukan sesuatu yang tak terduga indahnya nanti.


Sampai kedatangan Abra di rumah keluarga Kirana untuk meminang sahabat Riani itu, Kirana Zahara.


Kedatangan Andi yang tiba-tiba menjadi pelengkap untuk Abra, ditambah kedatangan Aisyah adik Riani saat akhir acara juga menjadi bumbu pelengkap untuk keluarga Aisyah.


Namun tidak hanya sebatas itu, Andi jatuh cinta pada pandangan pertama dengan Aisyah, begitupun dengan Aisyah yang terpana akan pria yang ada disebelah pria yang hendak melamar kakak sepupunya itu.


Entah apa alasannya, tapi perlu kita tau, cinta itu datang tanpa alasan namun akan selalu berakhir dengan alasan untuk saling bersama dan membahagiakan.

__ADS_1


Andi memberanikan diri meminta nomor Aisyah, sampai mereka sering berbalas sapa dibalik telepon genggam. Rasa yang dinamakan cinta itu masih di pendam dalam diam, sebelum mereka sampai pada pelaminan.


Tapi bagiamana dengan perasaan Riani saat tau akan hal itu? Riani memilih untuk tetap diam selamanya, bukankah rasa cinta paling besar itu adalah saat rela untuk mengikhlaskannya dengan yang lain? walau orang itu adalah orang yang paling kita sayangi sendiri?


__ADS_2