
Krek...
Riani langsung menoleh ke arah pintu karena mendengar suara pintu yang terbuka.
"Ada apa Alisya?" tanya Riani sambil tersenyum tipis melihat Alisya.
Tanpa disuruh terlebih dahulu Alisya langsung duduk di kursi depan Riani "kak... bisa aku kembali ke Indonesia sekarang?" tanya Alisya langsung.
Riani diam sejenak kemudian tertawa kecil "ada masalah apa sampai kamu ingin segera balik ke Indonesia? bukankah waktu mu disini 2 hari? tidak kah kamu ingin liburan sebentar?" tanya Riani kembali.
Alisya langsung menggelengkan kepalanya "maaf kak... tidak bisa, aku harus kembali malam ini juga!" tegas Alisya.
"Tapi Alisya... tiket pesawat untukmu hanya bisa dipakai lusa, dan jadwal magang mu itu adalah jadwal tersingkat dalam dunia magang yang pernah ada, jadi mungkin setelah kamu menjelaskan alasanmu aku bisa mempertimbangkan nya" jelas Riani di selimuti rasa penasaran.
"Sepertinya bajing*n itu menemuiku Mak ku!" jawab Alisya.
Riani mengernyitkan keningnya "maksud mu dengan ******** itu apakah papa mu?" tanya Riani mencoba memastikan.
"Dia bukan papa ku, dan sampai kapan pun aku tidak akan pernah menganggap dia bagian dari hidupku!" kesal Alisya.
"Jadi kalau kamu kembali ke Indonesia sekarang apa yang akan kamu lakukan?" tanya Riani.
Alisya mengepalkan erat tangannya "apa lagi kalau bukan meninju wajahnya yang memuakkan itu tepat di hadapan Pelacurnya!" seru Alisya.
"Kamu tidak takut akan di laporkan kekerasan dan penyerangan berencana terhadap gubernur?" tanya Riani.
Alisya menggeleng cepat "karena sejatinya tidak ada yang perlu aku takutkan"
Riani menghela panjang nafasnya "maaf Alisya, bagaimana pun kamu harus menunggu 2 hari lagi, percayakan saja semua hal ini pada Allah SWT dan Mak mu.
"Tapi kak--"
"Aku masih banyak pekerjaan Alisya, aku akan menjamin semuanya baik-baik saja" jelas Riani memotong ucapan Alisya.
Alisya berdesis sebal mendengar jawaban dari Riani, dengan ekspresi wajah yang nampak masih kesal Alisya melangkah keluar dari ruangan Riani "maaf menganggu waktu mu kak" ucap Alisya sambil menutup pintu.
"Hah... apa sebenarnya yang ada di pikiran gadis itu sekarang?" gumam Riani sambil menggelengkan-gelengkan kepalanya dan kembali fokus pada laptopnya.
***
Hari semakin gelap, Coty dan Alisya juga sudah kembali ke apartemen, Riani bergegas keluar dari ruangan sambil melambaikan tangannya pada satpam yang berjaga malam pertanda ruangan Firma saat ini telah kosong.
__ADS_1
Riani menatap jam di layar HP nya yang sudah menunjukan pukul 11 malam lebih 45 menit, dengan langkah terseret Riani berjalan ke parkiran menemui Albern yang sudah menunggunya sedari tadi.
"Assalamualaikum, udah lama nunggu mas?" tanya Riani berbasa-basi.
Albern tersenyum tipis menanggapi istrinya itu "Waalaikumsalam, tidak terlalu lama kok"
Riani menganggukkan kepalanya dan masuk ke dalam mobil, suasana malam itu cukup damai dan tenang namun juga membawa keheningan di dalam mobil.
"Mas..." panggil Riani.
Albern melirik ke arah Riani "apa sayang?" tanya Albern.
"Tumben Mas diam aja? ada masalah? atau ada sesuatu yang berat mau mas omongin?" tanya Riani yang tau betul akan semua ekspresi yang dinampakkan Albern.
"Hahaha kamu tau mas banget ya, jadi udah cinta nih sama mas?" tanya Albern sambil tertawa kecil.
"Sudah, bagaimana mungkin aku tidak akan mencintai laki-laki sebaik dan sehebat mas? jadi ada apa?" tanya Riani sekali lagi.
Albern tersenyum tipis menanggapi istrinya itu "maaf... janji kita esok malam sepertinya tidak akan bisa mas tepati" jawab Albern.
"Kenapa?" tanya Riani.
Riani menghela nafas lelahnya "gak masalah kok mas, kita bisa melakukan banyak hal di lain waktu, hah... aku pikir tadi ada apaan" ujar Riani sambil menyandarkan punggungnya di kursi mobil.
Ternyata hanya aku yang paling mengharapkan malam besok Bathin Albern sambil tersenyum tipis.
"Mas tau? Aku sudah sangat menantikan momen kencan kita esok malam, tapi jika mas memang harus melaksanakan pekerjaan mas, maka itu harus lebih di dahulukan bukan, setelah pulang dari luar negeri nanti mau kencan ke taman bersama ku?" tanya Riani.
Albern membelalakkan matanya karena kaget, dia sungguh salah sangka pada Riani, tidak seharusnya Albern berpikiran buruk pada Istri nya itu.
Albern tersenyum puas dan mengangguk cepat "tentu"
Setelah sampai di apartemen Riani langsung mengganti pakaian dan menghempaskan tubuhnya ke kasur, berbeda dengan Albern yang langsung menuju kamar mandi. Riani memicingkan matanya sambil memikirkan permintaan Alisya tadi.
Riani mengangkat tangan kanannya lalu menggepalkan nya sambil menatap langit-langit kamar "harapan, perwujudan, dan pembalasan!" gumam Riani sambil langsung menghempaskan tangannya kembali.
"Sayang... bisa tolong ambilkan baju kaos mas yang kemaren?" tanya Albern setelah selesai mandi sambil bergeser-geser mencari pakaiannya yang dia pun tak tau dimana letaknya.
Albern tak kunjung mendapatkan respon dari Riani, Albern berjalan ke arah kasur dan menatap wajah Riani yang tengah tertidur pulas "aku beruntung memiliki mu" gumam Albern sambil mengelus lembut rambut Riani dan menciuminya.
Albern kembali beringsut dari ranjang dan mengobrak-abrik kembali lemari di kamarnya.
__ADS_1
***
Mentari pagi mulai menampakkan sinarnya, dengan nafas masih ngos-ngosan karena habis jogging dengan Albern suaminya, Riani menatap warung makan yang ada di seberang jalan.
"Mau kesana?" tanya Albern.
Riani tersenyum dan langsung mengangguk kan ucapan Albern, sudah jadi kebiasaan kedua pasangan itu untuk selalu lari pagi setiap hari Minggu, walaupun mereka tiap hari di tuntut oleh pekerjaan.
Riani menyantap makanan itu dengan lahap, berbeda dengan Albern yang memilih melihat istrinya makan dari pada memakan sendiri makanan yang ada dihadapannya.
"Kenapa gak di makan Mas?" tanya Riani.
"Mas udah kenyang liat kamu" jawab Albern sambil tersenyum tipis.
"Owh kalau gitu biar aku habisin yang punya mas" ucap Riani sambil menjulurkan tangannya ke piring Albern.
Albern langsung menghentikan tangan Riani "biar aku saja yang habiskan, aku tidak ingin Istri ku nanti kekenyangan dan malas gerak" ucap Albern sambil menyuap makanannya.
"Bilang saja mas lapar, gak usah berbelit-belit padaku" ucap Riani sambil tertawa kecil menanggapi suaminya itu.
Selesai makan mereka duduk sebenar menurunkan makanan mereka tadi dan langsung kembali ke apartemen.
Albern sibuk dengan data-data di laptopnya sedangkan Riani sibuk mempersiapkan baju-baju yang akan digunakan Albern selama kunjungan pemeriksaan mahasiswa-mahasiswi di luar negri nanti.
"Sudah semua nih mas" ucap Riani sambil mengunci koper yang akan dibawa Albern selama 5 hari nanti.
Albern beranjak dari duduknya dan langsung menciumi kening Riani "terimakasih sayang... kalau gitu mas berangkat dulu, tapi sebelum itu bisa minta sesuatu?" tanya Albern sambil menyunggingkan senyum liciknya.
Riani sadar akan permintaan Albern yang satu ini dan langsung menciumi bibir suaminya itu, Albern melingkarkan tangannya ke pinggang Riani dan ikut terbawa arus kenikmatan itu.
Selang beberapa detik Riani melepaskan tubuhnya dari Albern "sudah berangkat sana" ucap Riani sambil menciumi tangan Albern.
"Ngusir nih?" tanya Albern.
"Iya" angguk Riani sambil menyunggingkan bibirnya tertawa kecil.
"Kalau begitu suami mu ini pergi dulu ya sayang... jaga diri baik-baik Assalamualaikum" pamit Albern.
Riani mengangguk dan ikut membalas senyuman Albern "Waalaikumsalam"
Selesai melihat suaminya pergi dengan taxi, Riani langsung bergegas dan bersiap-siap menuju apartemen firma.
__ADS_1