
Definisi hati yang mencakup semua bahasa
Takdir yang tak akan bisa dielakkan
Jodoh yang tidak bisa kita palingkan perihal pilihan-Nya yang terbaik untuk kita
Dan C.I.N.T.A kata dengan sejuta definisi berbeda yang membuat kita sampai gila
Itu bukan lagi perihal hati, apalagi takdir
Namun itu perihal kenapa? dan apa?
Riani menggeser duduknya dekat dari Albern dan menatap lembut suaminya itu "Sejujurnya aku ingin hal ini tetap menjadi sebuah misteri, atau rasa yang hanya diketahui segelintir orang disekitarku, sejatinya... aku tidak ingin kamu tersakiti" ucap Riani.
Albern menelan ludahnya mendengar pernyataan Riani tadi, apa maksud Riani sebenarnya?
"Kamu tau sayang? hati ini... sejatinya tak pernah mencintai lebih seseorang, sampai aku menemukannya... seorang laki-laki yang kuat iman dan ibadahnya, yang mencintai Tuhannya lebih dari apapun, yang senyumannya mampu menenangkan perasaan seseorang, dan yang pastinya seorang laki-laki yang sampai kini tak pernah mencintaiku lebih dari sekedar teman saja"
Albern hanya diam mendengarkan penjelasan Riani, dan menunggu penjelasan berikutnya.
"Entah hati yang salah berlabuh... atau diriku yang terlampau luluh karena senyuman dan ibadahnya, aku mencintainya dengan dalam, mendoakannya dalam diam, dan mengimpikannya dalam batas yang diwajarkan, namun takdir tak memilihku, atau mungkin kini takdir sedang mempermainkan diriku, aku tak ingin berprasangka buruk, apalagi memikirkan hal-hal yang hanya akan berpengaruh buruk pada diriku, aku mengikhlaskannya, walau hati ini terasa sakit, namun aku meridhoi-nya, aku menerima dengan positif semua itu"
"Aku tau..." gumam Albern sambil memeluk Riani.
Riani terpana menatap Albern "apa maksudmu?"
Albern tersenyum pada Riani "jika kamu tak sanggup untuk menjelaskannya, tidak apa-apa"
Riani menggelengkan kepalanya "bukan... aku ingin tidak ada rahasia diantara kita, dan aku ingin kamu tau perasaanku yang sebenarnya"
Albern kembali menatap lama Riani yang penuh dengan ekspresi pasrah dari wajahnya "baiklah, aku akan mendengar dengan baik"
"Selang beberapa bulan sejak kepergian ku atau mungkin sejak kita tak lagi bertemu, setelah kembali ke Indonesia, nyatanya firasat burukku menjadi kenyataan, ramalan teman ku itu benar, aku tak bisa bersamanya dan terlebih aku ditampar oleh kenyataan yang amat berat, dia menyukai adikku... keluarga ku satu-satunya, jadi saat itu aku terbutakan, pikiran ku kosong, aku harus apa?"
Albern menghela nafas lelahnya, ternyata dugaan Albern tentang Riani dan Andi selama ini benar, namun lagi-lagi Albern memilih untuk diam, bukan karena dia tak mau untuk bicaranya, hanya saja Albern tak ingin menambah kekacauan suasana hati Riani istrinya itu.
__ADS_1
Deraian angin ditempat perkemahan itu mengilukan tulang-tulang lemah yang terkena, ditambah panasnya matahari dibumi perkemahan itu membuat cuaca serasa tepat membakar lemak-lemak tubuh yang hinggap bagi orang-orang yang ingin membakar kalorinya.
"Aku tau maksud mu tadi adalah kamu sudah tau tentang perasanku dulu pada Andi kan?" tanya Riani.
Albern hanya diam seraya menyeruput kembali kopinya "lalu bagaimana dengan perasaanmu padanya saat ini?" tanya Albern.
Riani menggelengkan kepalanya "entahlah... mungkin kini aku hanya menganggap Andi sebatas teman atau adik ipar saja, karena kini aku sedang belajar untuk lebih mencintaimu"
Wajah tersipu malu mendengar ucapan Riani "ja... jadi apa alasanmu menerima ajakanku menikah dulu?" tanya Albern.
Riani menyunggingkan senyumannya pada Albern "bukanlah dulu aku pernah bilang padamu? bahwa tak akan ada satu orang wanita pun yang berani menolak pesonamu?"
"Apa karena itu? bukankah kamu bilang kamu membenciku?" heran Albern.
Riani tertawa pelan "mungkin itu adalah salah satu caramu untuk menarik perhatian ku bukan?" ledek Riani.
Albern mengangguk dan tersenyum mekar "sekali lagi, alasanmu yang sebenarnya apa? sayangku?" tanya Albern.
"Dari kecil-- bukan, tapi dari remaja aku sudah bertekad akan menerima laki-laki yang berani untuk langsung melamarku tanpa mengajak aku bermaksiat ke jalan yang namanya pacaran, dan terlebih aku merasa paling beruntung bahwa yang melamarku saat itu adalah kamu, sir Albern hahaha, apa kamu tau? saat itu hatiku entah kenapa bahagia dan heran kamu memilihku untuk menjadi nyonya Albern" Riani tertawa puas saat menjelaskan hal itu.
"Riani... tolong jadikan aku sebagai laki-laki satu-satunya dihatimu" ucap Albern.
Riani menatap lama Albern dengan senyuman manisnya "tentu"
***
Riani menatap layar hp nya untuk memastikan jam saat ini, tiba-tiba layar hp Riani memunculkan foto seorang wanita cantik dengan laki-laki yang ada disebelah wanita itu, didepan foto itu bertuliskan Kirana sahabat terbaik Riani selama ini.
Riani menekan tombol berwarna hijau disebelah kiri layar hp nya.
"Assalamualaikum Riani" sapa Kirana dibalik telpon.
"Waalaikumsalam, ada apa na? tumben nelpon?" heran Riani.
"Hahaha gak ada apa-apa sih, aku kangen dengar suara mu aja" tawa Kirana.
__ADS_1
Riani mendesis mendengar gurauan sahabatnya itu "gimana kabar keponakan-keponakan ku disana?" tanya Riani.
"Alhamdulillah baik kok, ah... udah dulu ya ni, mas Abra udah pulang nih, byeee" pamit Kirana.
"Iya... iya" ucap Riani.
"Owh iya ni... maaf aku telat ngucapinnya ya, dan gak bisa datang saat perayaan ulang tahun kamu, intinya selamat ulang tahun Riani, semoga jadi istri yang lebih baik lagi untuk Albern, diberi momongan secepatnya dan tetap jadi Riani yang ku kenal hebat"
"Gak apa-apa kok, makasih ya ucapan dan doanya, omong-omong kamu anggap aku pengisi waktu bosan aja nih? ya udah deh Assalamualaikum"
"Hahaha Waalaikumsalam nyonya Albern" ledek Kirana sambil langsung memutus telpon sebelum Riani melontarkan kembali kata-katanya pada Kirana.
***
Kirana dan Abra
"Habis nelpon siapa? kok kayak seneng gitu?" tanya Abra sambil meletak tasnya di atas meja.
Kirana mengenggam kembali HP-nya "habis nelpon Riani" jawab Kirana diangguki oleh Abra.
"Ngomong-ngomong soal Riani, aku ingat kembali waktu dimana saat itu Andi menatap lama Riani dengan tatapan penuh pesona melihat Riani dari kejauhan, setelah itu Andi sering curhat padaku tentang perasannya pada Riani" jelas Abra sambil menggendong buah hatinya yang sedang bermain mobil-mobilan.
Kirana tercengang, Hp yang digenggamnya tadi terjatuh ke lantai, seakan Kirana tak tau apa yang dirasakannya saat ini, entah rasa kaget atau tidak percaya pada apa yang baru saja dilontarkan oleh Abra.
Melihat ekspresi istrinya itu Abra jadi terheran "kenapa?"
Kirana masih terdiam mematung, ternyata faktanya selama ini cinta sahabatnya itu terbalaskan, namun kenapa Andi tidak pernah menampakkan perasaannya pada Riani? kenapa selama ini Andi tak pernah menyatakan cintanya kembali pada Riani? dan kenapa harus Aisyah yang dipilih Andi untuk menjadi istrinya? bukankah sejatinya Andi hanya menguras dalam perasaan Riani selama ini? dengan menikahi adik Riani sendiri? Apa yang sebenarnya ada dipikiran Andi?
Begitu banyak pertanyaan yang kini terkumpul di pikiran Kirana, dia tak tau harus berbuat apa, karena kini ke dua insan itu telah memiliki ikatan yang sah dengan pasangannya masing-masing.
Abra mencoba menyadarkan Kirana dari lamunannya.
"Ada apa Kirana?" tanya Abra sambil memegang pundak Kirana.
Kirana menatap dalam-dalam wajah Abra "lantas kenapa Andi melamar Aisyah jika dia mencintai Riani?"
__ADS_1
Abra diam sejenak sambil melirik buah hatinya yang kembali bermain mobil-mobilan.