
Riani langsung mengambil HP-nya yang ada di atas meja. Dengan cepat Riani mengetikkan sebuah nama di menu kontaknya.
"Halo" sapa orang yang dihubungi Riani dibalik telepon itu.
"Enne! tolong hubungi Vank secepatnya! apa Rasy ada dirumah!? jika tidak suruh dia mencari Rasy disekitaran apartemen secepatnya!" seru Riani dengan nada suara yang jelas cemas.
"Eh ada apa mema--"
Tut...
Riani langsung mematikan teleponnya sebelum Enne melontarkan pertanyaan.
Di kamar Apartemen Enne.
Enne terdiam sejenak, menatap layar HP nya dengan ekspresi bingung. "Ada apa ya? ya udah deh Enne hubungi Vank dulu" gumam Enne sambil mulai mencari nomor Vank dan menyampaikan apa yang disuruh Riani tadi.
Kembali ke apartemen Riani.
Riani bergegas kembali ke dapur sambil menyandang tas kecilnya. "Bisa dihubungi mas?!" tanya Riani cemas pada Albern yang sedari tadi beringsut kiri - kanan sambil terus menatap layar HP nya.
Albern menoleh ke arah Riani dan menggeleng kan kepalanya.
"Ayo Mas!" ajak Riani sambil melangkah kembali ke pintu depan.
Albern mengambil kunci mobilnya yang ada di atas meja dan langsung mengejar Riani.
Riani dan Albern memasang cepat sabuk pengaman, Albern mulai fokus menyetir sedangkan Riani kembali menghubungi Enne.
"Apa sudah dikabari?" tanya Riani kembali pada Enne di telpon.
"Sudah, tapi Vank bilang dia sedang di kafe bersama temannya. Terlebih dia ada acara minum bersama, jadi pulang besok pagi" jawab Enne.
Riani menghela panjang nafasnya.
"Kamu sekarang dimana?" tanya Riani kembali.
"Apartemen firma" jawab Enne.
"Bisa kembali kembali ke tempat tadi sekarang?" tanya Riani.
"Apartemen tempat Vank?" tanya Enne diiyakan oleh Riani.
"Baiklah!" jawab Enne cepat sambil menutup telepon dan langsung mengambil kadigannya yang ada di atas meja.
"Eh kak Enne, mau kemana?" tanya Aren yang sedang mengangkat jemurannya.
"Sepertinya akan ada suatu kasus" jawab Enne sambil berlari segera menuju mobilnya.
"Eh!?" kaget Aren menatap heran Enne yang melambaikan tangan padanya.
__ADS_1
"Oh jarak apartemen milik Firma Confiance dan apartemen nya Rasy tidak terlalu jauh ya" ucap Albern diangguki oleh Riani.
Wajah Riani jelas nampak cemas, dia tidak sampai memikirkan tempat untuk Rasy pulang setelah kamar apartemennya di beri garis polisi, dari percakapan nya dengan Riani tadi Rasy seperti nya juga tidak memiliki teman, apalagi dia bilang sudah tidak ada pacar simpanan. Yang terakhir adalah ucapan maafnya pada Riani tadi yang terasa sedikit aneh. Riani tidak menduga bahwa itu adalah ucapan terakhir dari Rasy.
Rasy menggigit jarinya tanpa sadar karena merasa bersalah tidak menanggapi ucapan dan keadaan Rasy dengan benar.
"Sudahlah, jangan cemas seperti itu. Kepanikan mu tidak akan merubah segalanya sayang, berdoa saja bahwa Rasy tidak akan melakukan apa - apa" ucap Albern mencoba menenangkan Riani.
"Tapi mas! bagaimana jika Rasy sampai melakukan hal gila!" tegas Riani.
30 menit kemudian Riani langsung melompat keluar dari mobil, sampai membuat Albern cemas pada Riani.
Riani langsung berlari kecil ke arah mobil Enne yang terpakir kan di depan warung buah di seberang apartemen itu.
"Enne!" sorak Riani.
Enne menoleh ke arah Riani dengan masih memakan apel yang ada ditangannya "Owh udah datang" ucap Enne sambil kembali mengunyah apelnya.
"Rasy mana!?" tanya Riani cemas.
"Owh... kak Riani. Ada apa?" tanya Rasy yang tiba - tiba keluar dari dalam warung.
Riani terpana kaget menatap Rasy lalu langsung memeluk erat Rasy.
"Kamu tidak apa - apa!? kamu tidak melakukan apa - apa kan!?" tanya Riani membuat Rasy terpana heran.
"Owh... atau jangan - jangan kakak berpikir yang tidak - tidak ya?" tebak Rasy. "Hahaha kak, aku gak sebodoh itu sampai mau melakukan hal gila atau bunuh diri, jika mau bunuh diri sudah aku lakukan dari dulu kak, hal ini tidak akan membuat aku terpuruk begitu saja. Kakak sudah dengar cerita hidupku dulu kan? lagian tadi aku bilang nya 'Pamit' kak, bukan 'Selamat tinggal' hahaha" tawa Rasy puas.
Untuk pertama kalinya Riani melihat tawa renyah dari gadis itu.
"Owh syukurlah" ujar Riani bernafas lega.
"Padahal tadi Enne mikirnya ada kasus loh Riani, ternyata gak ada. Tapi apel sini enak loh" ucap Enne yang kehadirannya seperti tidak dihiraukan.
"Oh nona pengacara yang satu lagi" ucap seorang wanita yang menjadi saksi tadi. Pemilik warung buah itu yang baru keluar dari dalam rumahnya.
"Oh halo kak" sapa Riani pada wanita itu.
"Kakak Gres ini membolehkan aku untuk menginap disini dulu kak, sampai aku menemukan apartemen baru, aku gak mungkin lagi kayaknya mau tinggal di apartemen sana, aku juga mau fokus kuliah dan akan membatu kakak Gres di warung buah ini agar dapat jajan hehe" jelas Rasy sambil tertawa cengengesan.
Riani kembali bernafas lega sambil menatap Albern yang tersenyum padanya.
Enne berdiri dari duduknya "Kakak Gres, bungkin Enne apelnya 1 kilo ya, tambah pear 1 kilo, dan jeruknya 1 kilo juga" ucap Enne sambil mengeluarkan beberapa lembar uang didalam dompet nya.
"Kalau begitu Enne balik dulu ya!" ujar Enne yang telah menerima pesanannya dan langsung melangkah kembali ke mobilnya.
"Yakin mau dimakan sendiri tuh kak?" sahut Rasy.
"Enne lapar hahaha" tawa Enne yang lanjut melangkah ke mobil.
__ADS_1
"Terima kasih sudah mau membantu ya Enne!" seru Riani diangguki oleh Enne.
Mobil yang dikendarai Enne nampak menjauh dari pandangan mereka semua.
"Kalau begitu saya pamit dulu kak, Rasy kakak juga pamit dulu ya" ucap Riani diangguki oleh Rasy dan pemilik warung buah itu.
"Kak, saya juga mau buahnya seperti pesanan nona tadi" ucap Albern tiba - tiba pada pemilik warung buah.
Wanita itu mengangukkan kepalanya dan menyodorkan pesanan Albern.
"Yakin habis mas?" tanya Riani heran.
Albern mengangukkan kepalanya "karena kamu mau ke Indonesia, jadi tidak ada yang memasak untukku" jawab Albern sambil membayar belanjaannya.
"Kakak mau ke Indonesia? Indonesia itu sebuah negara kan?" tanya Rasy.
Riani menganguk kan kepalanya "Iya, kakak asli orang Indonesia juga" jawab Riani.
"Wah benarkah, pantasan wajah kakak nampak asing hehehe" tawa Rasy yang sepertinya sudah baik - baik saja.
Riani tersenyum tipis pada Rasy dan langsung mengikuti langkah Albern, suaminya. Mereka langsung masuk ke mobil untuk kembali ke apartemen.
"Ternyata kamu perhatian banget sama orang lain ya hahaha" ledek Albern yang masih fokus menyetir.
Riani cemberut menatap Albern "Yah orang aku nya cemas jika dia mau ngapa - ngapain"
Albern tertawa kecil mendengar ucapan istrinya itu.
Apartemen Firma Confiance
"Udah selesai kasusnya kak?" tanya Aren yang kini duduk membaca buku diluar apartemen.
Enne menggelengkan kepalanya "Tidak ada kasus ternyata" keluh Enne sambil membawa kantong - kantong berisi buahnya.
"Owh..." angguk Aren menatap Enne yang nampaknya merasa berat dengan barang bawaannya.
"Mau Aren bantu kak?" tanya Aren diangguki cepat oleh Enne.
"Ambil aja Ren berapa yang kamu mau" ucap Enne setelah menarok belanjaannya di atas meja.
"Eh gak usah kak, masih ada cemilan di kulkas, lagian aku besok juga harus balik ke Indonesia jadi takut gak kemakan buahnya entar malah busuk" jawab Aren diangguki oleh Riani.
"Owh gitu... makasih ya Ren" ucap Enne diangguki Aren yang telah melangkah keluar.
"Jangan lupa kalau udah balik dari Indonesia, oleh - oleh untuk Enne ya" sahur Enne.
"Hahahah ok kak" jawab Aren melanjutkan langkahnya keluar dari apartemen Enne.
"Kayaknya Enne baru kali ini ngobrol sama Aren ya?" gumam Enne sambil memasukkan buah - buatannya ke dalam kulkas.
__ADS_1