ERANGAN TAKDIR

ERANGAN TAKDIR
S3 - Chapter 9


__ADS_3

Apapun yang terjadi


Tetaplah lalui semuanya dengan sepenuh hati


Karena perjuangan kau telah sejauh ini


Jadi janganlah mati begitu saja


3 orang berdiri didepan pemakaman yang baru itu, hujan sudah berhenti menyisakan hawa basah yang lembab. Suara hentakan kaki itu membuat ke-3 orang yang duduk disekitar pemakaman itu menolehkan kepalanya.


Alisya melambaikan senyumnya pada ke-3 orang yang berada disana.


Nadia mamanya Alisya langsung menghampiri anaknya itu "terimakasih" ucap Nadia lirih.


"Mama tidak perlu mengucapkan terimakasih padaku" ucap Alisya sambil berjalan mendekat ke arah tanah pemakaman itu.


Alisya duduk dengan menghimpit kakinya "Sekarang kau sudah berada di dalam tanah? ingat apa yang dulu kau lakukan padaku dan mama? kau ingat tau bagaimana nasib pelacurmu itu kini? puas? menyesal? rasa apa yang kini tengah kau rasakan? aku tau kau mendengar ku, hanya saja aku tidak membutuhkan jawaban darimu. Hahahah tapi sayangnya entah kenapa aku tidak bisa membencimu saat ini, kau... kau yang dulu merawat ku, membesarkan ku, kau yang dulu membuat masa anak-anakku menyenangkan, kau yang membuat aku bisa jadi setegar ini. Aku... aku tak tau harus berkata apa, tapi terimakasih dan maaf-- maaf aku pernah menyimpan rasa benci dan dendam yang amat besar padamu... Papa. Sejatinya aku pun telah memaafkan mu, aku janji... aku akan menyelesaikan sidang untuk esok dengan baik, owh iya satu lagi... kau tau setelah kau mencampakkan diriku dan mama, aku jadi tau siapa yang tetap bertahan padaku dengan tulus, kau ingat--" Alisya mengambil udara sejenak karena nafasnya terputus sebab menahan tangis.


"Temanku waktu SMA dulu, aku tidak terlalu dekat dengannya, namun saat aku dibully tepat pada kasus korupsi yang kamu lakukan itu, dia yang selalu ada untukku, menemani ku dengan senyuman indahnya, kau tau? bahkan anak laki-laki yang dulu kau banggakan, kau sanjung-sanjung, ya... aku tau kau jelas tau siapa dia, dia pacarku pa... laki-laki yang menghormati mu dan mama, dan apa yang dilakukannya dulu padaku setelah kasusmu? dia pergi, tanpa sepatah katapun, dan lucunya lagi saat aku bertemu dengannya kembali, kau tau apa yang dia katakan? salah paham hahaha sungguh naif bukan? dan pa... kau tau 2 orang wanita yang ada di pemakaman mu kini? mereka yang membuat aku bisa masuk dalam kasusmu pa, mereka pengacara-pengacara yang hebat yang pernah aku temui, kau harus berterimakasih pada mereka pa. Hmm sudahlah dulu ya pa, banyak hal yang masih harus aku lakukan, kalau begitu aku pamit dulu" ucap Alisya sambil berdiri dari posisinya tadi dan langsung meninggalkan pemakaman itu.


Saat dilangkah ke-3 nya Alisya membalikkan tubuhnya kembali "kak Serli... terimakasih banyak, dan mohon bantuannya untuk sidang besok, kak Riani... tolong bawa mama bersamamu dulu, aku masih ingin sendiri, dan terimakasih juga atas segalanya, aku tidak tau jika tidak ada kalian, maka bagaimana nasib ku saat ini, ma... Alisya pergi dulu sampai jumpa"


Tak ada yang mau mengentikan langkah Alisya, karena bagaimana pun mereka tau bahwa saat ini Alisya sedang dalam kondisi yang memang butuh keheningan untuk saat ini.


"Udah jangan mayun gitu dong... balik yuk!" ajak Serli mencarikan suasana yang tadi hampa itu.


Riani dan Nadia menganggukkkan kepalanya.


"Ni... malam ini aku numpang nginap dirumah kamu ya hehehe" ucap Serli.


"Iya, aku kabarin Aisyah dulu ya nyiapin makan malam untuk kita bertiga" jawab Riani sambil mengeluarkan HP nya dari dalam tas.

__ADS_1


"Maaf merepotkan kalian ya" ucap Nadia.


"Hahaha tidak apa-apa kok Tante" jawab Riani dan Serli bersamaan.


***


Alisya langsung menghempaskan tubuhnya di atas ranjang setelah bebersih tadi di kamar hotel, Alisya menatap lama langit-langit kamar hotel itu sambil menghela panjang nafasnya.


Tring... tring


"Owh handphone ku" gumam Alisya sambil menjangkau handphone yang ada di atas meja sebelah ranjang.


Alisya menyinggingkan bibirnya tersenyum tipis melihat nama yang ada dilayar hp nya itu.


"Halo Ren, apa kabar?" sapa Alisya dibalik telpon.


"Owh halo Sya, kamu... baik-baik saja kan?" tanya Aren dengan nada suaranya yang jelas terdengar canggung.


"Hmmm gak... soalnya aku baru baca berita di Indo tadi bahwa pa--"


"Papa aku meninggal keracunan?" tanya Alisya memotong ucapan Aren.


"Eh!? tadi kamu panggil papa?" tanya Aren nampak kaget.


"Hahaha kok kamu kaget gitu sih?" tawa Alisya.


"Gak! ini benaran kamu kan sya?" tanya Aren.


"Hahaha kamu ngomong apa sih? udah jelas lah aku Alisya, aku hanya mikir Ren... keknya percuma dan buang-buang tenaga saja jika tujuan hidupku hanya untuk balas dendam bahkan pada orang yang gak mungkin bakal hidup lagi, jadi aku memutuskan melupakan semuanya dan memaafkan keluarga ku sendiri, karena bagiamanapun aku yang sekarang ini tidak lepas dari kasih sayang papa dari kecil juga" jelas Alisya.


"Hah... syukurlah kamu dapat hidayah sya" ucap Aren lega.

__ADS_1


"Eh... omong-omong magang mu gimana?" tanya Alisya.


"Hahaha itu... aku dapat kasus penculikan, huhuhu sya... kasusnya lagi buntu karena gak ada barang bukti, aku harus menyelidiki lebih lama lagi" keluh Aren.


"Hahaha semangat ya Ren... tapi pembimbing kamu siapa?" tanya Alisya.


"Kak Cammy" jawab Aren.


"Owh dia" angguk Alisya.


"Udah dulu ya Sya... aku dipanggil sama kak Cammy nih, yang kuat ya. Sampai jumpa di Anyer Minggu depan" ucap Aren langsung memutus telpon.


Mood Alisya nampak sudah lebih baik setelah bercakap dengan sahabatnya itu, mata Alisya berfokus pada sebuah jas berwarna merah yang tergantung dibalik pintu hotel itu.


"Jasnya udah kering sih, tapi gak mungkin dong gak aku cuci. Hah.... mau keluar tapi lagi pake piyama hotel, oh iya service room aja, sekalian laundry baju aku sama jas dia" gumam Alisya sambil mengambil telepon khusus hotel.


***


Sebelum mentari mulai muncul, Alisya sudah selesai mandi dan saat hendak mengambil bajunya yang sudah selesai di laundry Alisya jadi terdiam dengan tatapan kosong.


"Gawat! masa aku sidang pakai baju ini!?" gumam Alisya dengan wajahnya yang seketika langsung pucat.


Alisya mendengar bunyi suara bel kamarnya dan langsung bergegas menuju pintu.


"Hai! butuh inikan!" seru Serli sambil menyodorkan seragam putih hitam dengan blazer hitam dan sepatu hitam.


Alisya menghela panjang nafasnya "hah... terimakasih kak! ayo masuk dulu! omong-omong kakak tau aku nginap di hotel ini darimana?" tanya Alisya sambil mengenakan seragam yang dibawa Serli.


"Ini udah zaman kriminal, kita bisa tau lokasi seseorang dengan melacak posisi HP nya hahaha" tawa Serli.


"Owh" ucap Alisya yang menanggapi perkataan Serli dengan satu kata saja.

__ADS_1


__ADS_2