ERANGAN TAKDIR

ERANGAN TAKDIR
S2-CHAPTER 18


__ADS_3

"Wah tentu saja boleh, kalau boleh saya tau ada hal apa manquer?" tanya dekan itu.


"Hahahah... bapak tidak perlu memanggil saya manquer, panggil saja saya Riani" ucap Riani diangguki oleh dekan itu.


"Jadi begini bapak... saya diberi kepercayaan untuk merekrut anggota baru untuk firma confiance, karena ada salah seorang dari anggota kami yang telah keluar, dan saat membaca data-data mahasiswi terbaik belahan dunia, mata saya terhenti pada seorang gadis dari kampus ini" ucap Riani.


Dekan itu nampak terkejut mendengar ucapan Riani "wah! benarkah ada mahasiswi kami yang menarik perhatian dari firma terbaik dunia!? yang bahkan keberadaan firma itu sendiri bisa dianggap sebuah mitos dan jarang diketahui orang awam" sanjung dekan itu.


Riani kembali tersenyum "tentu pak, setiap orang punya kepribadian dan keunikannya masing-masing" jawab Riani.


"Siapa gadis yang beruntung itu Riani?" tanya Dekan itu penasaran.


"Alisya Fitri" jawab Riani.


Dekan itu kaget tak percaya, kacamata yang dari tadi berdiri dengan kokohnya yang menopang hidung mancung nya itu seketika merosot turun sampai ke bibirnya.


"Hahaha saya sudah menduga ekspresi anda akan seperti itu pak" tawa Riani.


"Atas dasar apa Riani malah memilih gadis itu? padahal lebih banyak yang terbaik dari dirinya di kampus ini" ucap Dekan tadi.


Riani menggelengkan kepalanya "yang terbaik dari dirinya pasti lah banyak, namun yang seperti dirinya itu tidak lah ada" ucap Riani.


Dekan itu diam sejenak "apa anda memang benar-benar serius, apa dari dirinya yang bisa membuat anda tertarik?" tanya dekan tadi.


"Itu rahasia kami pak, tak mungkin kami akan memberi tahukan rahasia kami begitu saja, jadi... boleh saya menemuinya?" tanya Riani.


"Hah... saya tak menduga mendapat berita yang bahkan lebih buruk dari perpindahan ibu kota ke Kalimantan, atau mungkin saja lebih baik dari ibuk Menteri yang kembali menyingkirkan kapal asing yang hendak mencuri hasil alam Indonesia kembali, atau bisa saja lebih baik dari dicap nya orang hutan sebagai orang kota nantinya di Kalimantan" ucap pasrah dekan itu.


Riani sedikit tertawa mendengar keluhan atau mungkin saja ledekan dari dekan itu tentang negeri mereka sendiri.

__ADS_1


Dekan itu bergeser mengambil sebuah kotak kardus yang berisi berkas-berkas mahasiswi jurusan hukum.


Sebuah dokumen yang lumayan tebal di letakkan dekan tadi ke atas meja "ini beberapa data kecil tentang anak itu" ucap Dekan.


Riani tak kaget sedikitpun melihat dokumen bertumpuk tentang mahasiswi itu yang sudah menginjak semester ke 6 nya sebagai mahasiswi hukum di kampusnya.


Riani membuka lembaran dokumen itu satu persatu dengan teliti dan cepat, Riani tersenyum lebar membaca tentang semua rincian peristiwa maupun data diri tentang gadis yang bernama Alisya Fitri itu.


Dekan masih nampak heran pada Riani, tentang apa yang bisa dibanggakan dari mahasiswi nya itu.


Riani menutup kembali dokumen yang dipegangnya tadi tanpa sempat membaca hal menarik dari gadis itu semuanya.


"Baiklah pak bisa saya bertemu dengan gadis itu sekarang?" tanya Riani kembali.


"Saya menduga kamu tidak terlalu berharap hari ini Riani, menurut mu apa mungkin gadis itu masuk kelas hari ini?" tanya dekan nampak pasrah.


"Saya tau kamu wanita yang sangat sibuk, kamu tau Riani? berjumpa dengan mu saja bagaikan keberuntungan sekali seumur hidup bagi saya yang sudah amat tua ini, saya lebih bersyukur bisa bertemu dengan mu langsung daripada bertemu dengan bintang-bintang Bollywood" ucap dekan itu.


"Hahaha anda tidak perlu memuji saya sebegitunya pak, saya tidak akan mengajak Anda untuk ke Perancis" tawa Riani.


Dekan itu ikut tertawa mendengar ucapan Riani "Hahaha tidak salah bahwa kamu adalah pengacara terhebat Riani, bahkan maksud tersirat saya memuji kamu saja dengan mudahnya kamu tebak" tawa dekan itu.


"Baiklah kalau begitu pak, saya harap esok bapak memberitahu pada Alisya bahwa saya datang kesini, dan tolong segera beritahu dia untuk secepatnya menghubungi saya" ucap Riani.


"Saya tak menjamin besok dia akan datang kesini Riani" jawab dekan.


"Tidak apa pak, jika dia datang maka tolong beritahu dia" ujar Riani.


"Saya juga tak yakin dia mau menghubungi kamu" jawab dekan.

__ADS_1


"Hahaha saya juga tidak yakin dia mau menghubungi saya pak, maka dari itu saya sudah menyiapkan antisipasi jika dia menolak saya untuk dihubungi, tolong pak sekalian beri surat ini pada dia, dan jangan sekali-kali bapak membuka isisnya" ujar Riani sambil menyodorkan surat itu.


"Hahaha kamu segitunya tidak mempercayai saya?" tawa dekan itu.


"Tentu saya tidak akan dengan mudah nya percaya pada Anda pak, dan jangan sekali-kali anda mencoba menghubungi nomor saya pak hahahah" tawa Riani dengan nada mengancam pada dekan itu.


"Hahaha kalau dugaan saya benar, kamu sepertinya tidak hanya mengusut identitas tentang gadis itu, namun juga tentang saya ya?" tebak dekan itu.


Riani tersenyum tipis "tentu pak, mana mungkin saya menyerahkan informasi berharga ini pada sembarang orang, pastinya saya tau semua tindakan busuk bapak di universitas ini hahaha" tawa Riani kembali.


"Bagaimana jika saya mencoba membuka surat ini?" tanya dekan itu mencoba mengancam balik Riani.


"Jika begitu... akan saya jamin hidup semua keluarga anda akan jadi terancam, satu lipatan saja yang berubah dari amplop surat itu nantinya ada, maka satu keluarga anda akan mengalami kejadian terburuk terlebih dulu, dan jika ada robekan dari pelengket map itu setitik saja, maka akan saya jamin semua tindakan buruk anda disini terbongkar" jelas Riani sambil tersenyum pada dekan itu.


"Lantas bagaimana jika saya membuka paksa dengan cepat semua surat ini dan mempublikasikan nya ke massa?" ancam balik dekan.


"Itu tidak akan terjadi pak, karena saya tau bapak melakukan semua kebusukan itu demi keluarga bapak, dan tak mungkin waktu 20 tahun yang bapak habiskan harus bapak hentikan bahkan sampai bapak rusak hanya karena hal ini" jelas balik Riani.


Dekan itu tersenyum sayu "bagaimana bisa kamu mengetahui semuanya?"


"Tentu saja saya tau, seperti yang bapak bilang barusan, bahwa saya adalah wanita yang hebat bahkan menjadi orang yang bapak syukuri saat berjumpa dengan saya daripada bintang Hollywood" balik kata Riani.


Dekan itu tertawa kembali "saya benar-benar menyesal sampai berkata seperti itu"


"Baiklah pak, saya pergi dulu... saya yakin apa yang bapak lakukan itu sejatinya memang tidaklah salah, namun setidaknya tolong berhentilah melakukan hal itu" ucap Riani sambil melangkah pergi meninggalkan ruangan.


Dekan itu tersenyum tipis menatap Riani, dia sejatinya memang lah salah karena mempersalah gunakan kekuasannya demi harta dunia.


Riani kembali menaiki taxi untuk sampai di bandara, selepas sampai di bandara Riani langsung menaiki helikopter yang sudah siap untuk membawanya kembali ke Perancis.

__ADS_1


__ADS_2