ERANGAN TAKDIR

ERANGAN TAKDIR
S3 - Chapter 13


__ADS_3

Ada banyak rasa yang seringkali hanya meninggal kekecewaan dan sakit hati yang amat parah lagi menyesakkan


Ada berjuta rasa yang pernah ada, singgah, lantas pergi begitu saja tanpa meninggalkan sepatah katapun


Ada banyak tawa yang dulu terukir indah dibalik setiap senyuman yang kini hanya menyisakan kenangan


Ada pula banyak tangis yang pernah ada lalu kini hanya sebuah sejarah kelam antara kau dan aku yang tak pernah berujung menjadi kita


"Terimakasih sudah menolong saya waktu itu kak" ucap Alisya sambil membungkukkan badannya pada Andi.


"Tidak masalah" jawab Andi.


"Omong-omong kita belum sempat berkenalan kak, perkenalkan nama saya Alisya dan ini mama saya Nadia" jelas Alisya sambil menunjuk mamanya.


"Saya Andi suami dari Aisyah" jawab Andi singkat.


Alisya yang menyadari bahwa kini Aisyah tengah dibakar api cemburu memutuskan untuk segera mengangkat kakinya dari rumah itu.


"Baiklah kak, terimakasih kak Aisyah dan kak Andi, kami permisi dulu. Assalamualaikum" salam Alisya sambil memeluk Riani.


Nadia ikut berpamitan dan mereka langsung pergi ke rumah yang telah diberikan kuncinya oleh Riani tadi, sesuai kesepakatan dalam surat perjanjian dulu.


Alisya menghela panjang nafasnya "semua sudah berlalu ya ma, aku banyak dapat pengalaman dari setiap kisah, ujian, dan sejarah ini" ujar Alisya pada mamanya sambil menyandarkan tubuhnya ke kursi taxi.


Nadia tersenyum tipis mendengar perkataan anaknya itu "mama bangga sama kamu Sya, kamu anak yang kuat, yang tidak pernah melupakan jasa orangtua walau dengan apa yang pernah dia lakukan padamu dimasa lalu dulu, Sya... sebelum malam kematiannya waktu itu, papamu meminta mama dan kamu kembali ke rumahnya, ke dalam pelukannya. Mama tidak bisa begitu saja menerimanya, karena mama tau kamu sangat membenci papa, namun siapa sangka esoknya dia meregang nyawanya" jelas mama yang membuat Alisya memeluk erat mamanya.


"Terimakasih ma" bisik Alisya dalam pelukannya.


Taxi terus melaju meninggalkan jalanan tol yang tadi lenggang, kini taxi tengah memasuki sebuah komplek perumahan dengan banyak tanaman hijau ditepi jalan, sesuai dengan namanya, kompleks hijau asri.

__ADS_1


Alisya dan Nadia ternganga menatap rumah sederhana yang sesuai dengan sketsa yang dibuat mamanya dulu, rumah dengan banyak tanaman besar dan bunga-bunga disekitarnya, udara yang sejuk di sekeliling rumah itu sangat pas untuk Nadia yang mengindap asma. Apalagi rumah ini pas untuk mereka yang hanya akan tinggal berdua.


"Dia memiliki selera yang bagus" gumam Alisya sambil menyunggingkan bibirnya tersenyum tipis.


***


Pria yang sudah tua dengan kacamata tebal berbingkai hitam yang dikenakannya itu melempar dokumen yang ada ditangannya tadi ke atas meja.


"Kamu tau kesalahan kamu Serli!?" bentaknya dengan postur yang tegas.


Serli menganguk mengiyakan ucapan bos pimpinannya itu.


"Hah! padahal saya mempercayai kamu menanggani kasus kecil yang bisa tambah membesarkan namamu Serli, saya tidak menyangka kamu sebodoh ini sampai bekerjasama dengan firma luar negri itu!" kesal pimpinan Serli.


"Tapi pak, walau saya tidak bekerjasama dengan anggota firma itu, maka tawaran permintaan pengacara kita akan tetap ditolak Pak, bagaimana pun posisi mereka sebagai pengacara terbaik dunia dan salah seorang anggotanya yang tidak lain adalah kerabat dari klien sendiri pasti akan tetap jadi prioritas pak! kita beruntung diajak bekerjasama dan tetap kasus ini berjalan lancar atas nama firma kita!" jelas Serli menegaskan.


Pimpinan Serli itu diam sejenak sambil menghela panjang nafasnya "Hah... baiklah, penjelasanmu cukup masuk akal, tapi kenapa kamu tidak mengonfirmasi pada saya!?" bentak pimpinan Serli.


Pimpinan Serli itu kembali menghela panjang nafasnya "baiklah Serli, saya tau saya akan selalu kalah dalam berdebat denganmu, ingat! kali ini saya maafkan, tapi tidak untuk lain kali!"


"Lain kali itu tidak akan pernah terjadi pak, kalau begitu saya izin pamit dulu" ucap Serli dan berbalik pergi meninggalkan pimpinannya itu.


Serli menghempaskan punggungnya di kursi kerjanya sambil menatap tumpukan dokumen yang ada di atas mejanya. Serli membuang pelan nafasnya dan kembali menghirup oksigen baru "kapan aku nikah kalau pekerjaan banyak gini" gumam Serli sambil mengambil pena dan mulai membaca sambil menandatangani dokumen yang ada di atas mejanya itu.


***


Riani mengepak barangnya dan langsung memberhentikan taxi yang tepat lewat didepannya.


Setelah memberitahukan lokasi tujuannya pada sopir taxi itu Riani langsung menghempaskan punggungnya sambil menatap pemandangan luar dari balik kaca mobil.

__ADS_1


Hampir saja suhu dinginnya AC mobil, suasana jalanan yang tenang, dan pemandangan malam yang merefleksikan diri membuat Riani tertidur, untung Riani segera membuka matanya.


Taxi berhenti disalah satu unit apartemen yang nampak cukup mewah, Riani langsung memasuki apartemen setelah membayar ongkos Taxi, kamar apartemen Riani nampak sepi, sepertinya Albern masih belum pulang ke apartemen dari tugas peninjauan mahasiswa pertukaran pelajarnya, mungkin karena Riani tidak ada dirumah Albern memilih untuk menginap dirumah temannya atau di kampus.


Riani langsung menghempaskan tubuhnya ke kasur sambil menghela panjang nafasnya "Hah... besok pagi harus langsung ke firma, tugas dan tugas lagi" gumam Riani lelah sambil memandangi langit-langit kamarnya.


"Kalau begitu jadi ibu rumah tangga saja dan selalu bersamaku 24 jam"


Riani tersentak kaget, wajahnya tiba-tiba pucat setelah mendengar suara tadi.


Ya Allah, suara siapa itu? Bathin Riani sambil menengok kebawah kasurnya dengan was-was.


"Mas Albern!?" kaget Riani setelah melihat wajah dari orang yang berbicara tadi.


"Hahaha kok kamu kayak liat hantu gitu sih, orang dibawah sini gantengnya minta ampun" ujar Albern suami Riani sambil melompat ke ranjang dan memeluk istrinya.


"Selamat datang kembali sayang" bisik Albern pada Riani.


Hampir saja refleks Riani untuk mendorong Albern menjauh darinya terjadi, Riani segera menghentikan tangannya dengan membalas erat pelukan Albern "aku pulang" bisik Riani lirih.


Albern menyungginkan senyum tipisnya "kalau kamu lelah, istirahatlah sejenak, aku tidak ingin melihatmu kesusahan dan berjuang keras sendirian, bagilah suka dan duka mu padaku, bukankah itu adalah kewajiban ku sebagai suamimu?" tanya Albern lirih pada Riani.


"Mas... maaf aku belum bisa sepenuhnya menjalankan tugas dan kewajiban ku sebagai istrimu, aku... berniat mengundurkan diri dari jabatan ku sebagai ketua firma, aku ingin menghabiskan banyak waktuku dengan suami ku yang sangat aku cintai" ucap Riani sambil mengenggam erat tangan Albern.


"Apa itu adalah keinginan dari lubuk hatimu yang paling dalam?" tanya Albern mencoba meyakinkan Riani.


Riani menganggukkan kepalanya "aku tidak bisa bertanggungjawab sepenuhnya sebagai ketua, jadi aku akan membicarakan tentang hal ini pada Manquer Pamela besok" jelas Riani.


"Kalau begitu aku akan menemani menemui Pamela" terang Albern.

__ADS_1


Riani tersontak kaget mendengar ucapan Albern dan menyungginkan senyumannya pada Albern "terimakasih"


__ADS_2