
Riani merasa ada seseorang yang berdiri disampingnya, lalu perlahan Riani menolehkan kepalanya dan langsung syok melihat ada tubuh tanpa kepala yang sedang menunduk dibalik celah pohon itu. Riani terpekik melihat tubuh itu. Tiba-tiba dengan cepat dari balik daunan yang lebat dari pohon tadi menongol sebuah kepala dari tubuh tadi.
Riani menghela nafasnya "hah... aku pikir setan kesiangan dari mana" ucap Riani.
Albern tertawa melihat ekspresi lega dari wajah istrinya itu "hahaha orang kamu dipanggil gak nengok, aku pikir kamu lagi nguntitin orang bercinta, eh nyatanya..."
"Ya udah ayo pulang!" ujar Riani sambil menarik segera tangan Albern naik mobil.
"Udah gak tahan lagi ya?" canda Albern.
"Apanya?" heran Riani.
"Aku" jawab Albern.
Riani menaikkan satu alisnya menatap Albern "kenapa?"
"Gak" jawab Albern singkat karena malas meladeni Riani yang pura-pura tidak tau apa maksudnya.
Riani tertawa pelan melihat ekspresi lesu Albern setelah mendapat tanggapan dari Riani tadi.
Setelah sampai di apartemen Riani langsung membuka layar laptopnya, sedangkan Albern berjalan ke arah kulkas untuk mengambil makanan yang dibelinya di restoran tadi.
"Udah makan siang?" tanya Albern pada Riani.
Riani menggelengkan kepalanya sambil fokus menatap layar laptop.
"Ini" ucap Albern sambil menyodorkan makanan yang dibelinya tadi.
"Wah cake lemon!?" kaget Riani yang nampak bahagia.
Albern tersenyum menatap Istrinya yang sedang senang itu, Albern merasa beruntung tidak jadi membeli makanan panas direstoran tadi dan memilih untuk membeli cake.
Riani membelah 2 cake itu dan memberi belahan yang satu nya pada Albern, Riani membuka mulutnya dan mengunyah perlahan cake itu.
"Ada pekerjaan lagi?" tanya Albern pada Riani.
Riani menggelengkan kepalanya "aku hanya mencek kegiatan firma dalam beberapa Minggu ke depan nanti" ucap Riani sambil terus menscroll layar laptopnya setelah dibaca.
***
Manquer Pamela nampak kesal menunggu Riani yang tak kunjung balik dari toilet. Saat tiba di taman Carlson langsung melihat manquer Pamela sedang menjilati es krim coklatnya.
Dengan dentuman nafas yang bergerak cepat, Carlson berjalan perlahan ke arah manquer Pamela "Assalamualaikum" ucap Carlson mengangetkan manquer Pamela.
__ADS_1
Bukan ucapan salah itu yang mengangetkan Manquer Pamela, namun suara yang saat ini sedang masih tidak ingin didengarnya itu.
"Waalaikumsalam, ada apa?" tanya Manquer Pamela pada Carlson.
"Tolong beri aku kesempatan untuk menjelaskan sekali lagi, aku benar-benar tak bisa berpikir jernih dan tidak bisa merasa hidup berarti tanpa kamu" ucap Carlson sambil menundukkan tubuhnya.
"Dari mana kamu tau aku ada disini?" tanya Manquer Pamela menghiraukan perkataan Carlson.
"Tolong... beri aku kesempatan menjelaskan" ucap Carlson lirih.
Manquer Pamela menghela nafas lelahnya "baiklah... 2 menit"
Carlson langsung mengangguk cepat "apa yang kamu liat itu benar-benar salah, aku hanya membantu mahasiswi ku untuk memasang sabuk pengaman, karena saat itu tangan mahasiswi ku sedang patah tulang, jadi dia sulit untuk menggenakan satu tangannya, mungkin saat itu kamu melihat kami seperti sedang ciuman, namun nyatanya aku hanya mengambil tali sabuk yang berada disudut kursi, jika kamu tidak percaya mari kita temui mahasiswi ku itu" jelas Albern.
Manquer Pamela kembali menghela nafas lelahnya "aku tau... dan maaf telah berpikiran buruk padamu"
"Be... benarkah!?" kaget Carlson "Jadi pernikahan kita tidak jadi dibatalkan bukan?"
Manquer Pamela mengangguk "tapi... kamu harus jujur, dari mana kamu tau aku ada disini?"
"Owh itu... dari Albern, kemaren dia melihat kita bertengkar di restoran xxx, dan malam kemaren dalam keadaan mabuk karena kamu memutuskan membatalkan pernikahan, tanpa sadar aku mengirim pesan itu pada Albern" jelas Carlson.
"Mereka benar-benar suka ikut campur urusan orang, tapi... terimakasih" gumam Manquer Pamela.
"Owh tidak ada apa-apa" ucap manquer Pamela sambil menatap lama wajah Carlson.
"Kamu menangis dari kemaren?" tanya Manquer Pamela mengangetkan Carlson.
"Ah.. tidak, bukannya kamu yang menangis dari kemaren, sampai matamu bengkak dan hitam begini, padahal 3 hari lagi upacara pernikahan kita" elak Carlson.
"Kamu sedang mengalihkan pembicaraan?" ledek Manquer Pamela.
Carlson tersenyum "intinya kita benar-benar satu hati"
"Siapa?" ledek Manquer Pamela.
"Aku dan kamu" senyum Carlson.
"Tapi ingat... lain kali jika aku melihat mu berduaan dengan mesra bersama wanita cantik lagi, maka akan ku basmi habis orang-orang dengan nama Carlson Darius" ancam Manquer Pamela sambil menahan tawanya.
"Aku hanya akan bermesraan dengan mu, untuk saat ini dan selamanya" ucap Carlson sambil mengelus lembut kepala Manquer Pamela.
Manquer Pamela tersenyum menatap Carlson "aku berharap aku adalah tempat persinggahan terakhir dari hati mu" ucap Manquer Pamela.
__ADS_1
"Tentu" jawab Carlson.
***
4 hari telah berlalu sejak kejadian itu, kini di dalam pesta yang dihadiri banyak orang penting dan orang-orang yang tak asing lagi wajahnya bagi Riani dan Albern telah berkumpul dalam satu pesta itu.
LE MARIAGE DE PAMELA OSWALD ET CARLSON DARIUS, tulisan itu terpampang jelas di gerbang masuk hotel mewah itu, diatas pelaminan ada sepasang kekasih atau pengantin yang tengah menyambut hangat para tamu yang datang.
Albern mengenggam tangan Riani menuju tempat ke dua pasangan pengantin itu.
Mereka saling bersalaman dan berpelukan "semoga jadi pasangan yang samawa Manquer Pamela" ucap Riani.
"Terimakasih Riani" jawab Manquer Pamela sambil memeluk erat Riani "sekali lagi terimakasih atas bantuan dan nasihat mu saat itu" bisik manquer Pamela.
Riani tersenyum sambil perlahan melepas pelukan manquer Pamela karena masih banyaknya tamu yang mengantri untuk bersalaman dengan kedua pengantin.
Albern menatap jam tangannya "mau kembali sekarang?" tanya Riani pada suaminya itu yang saat kini harus segera balik ke kampus.
Albern mengangguk "kamu masih mau disini?" tanya Albern.
"Jika kamu mengizinkan, maka aku masih ingin disini" pinta Riani.
Albern tersenyum lembut pada Riani "baiklah, nanti aku akan menjemputmu kembali" ucap Albern sambil mencium pucuk kepala Riani.
Riani mengangguk bahagia "terimakasih"
Albern kembali tersenyum "Assalamualaikum"
"Waalaikumsalam" jawab Riani sambil menatap lama punggung Albern yang menjauh dari pandangannya.
Setelah tidak melihat keberadaan Albern lagi, Riani membalikkan tubuhnya dan berjalan pelan ke tempat teman-teman firma nya yang berkumpul dalam satu meja yang sama.
"Riani!" teriak Enne sambil melambaikan tangannya ke arah Riani.
Enne benar-benar orang yang tidak sadar akan posisi dimana dia berada sekarang, kini semua mata yang ada dalam ruangan itu tertuju pada Enne. Chloe menahan tawa melihat ekspresi malu yang ditampakkan Enne, semua orang yang ada di meja itu ikut tertawa.
"Sepertinya sebentar lagi kamu akan menjadi selebritis" ledek Coty.
Enne cemberut mendengar ucapan Coty.
Riani menarik kursi kosong yang ada di meja itu sedikit kebelakang agar dia bisa masuk dan duduk "tidak bisakah kebiasaan tidak mengenal tempat mu itu diubah Enne? aku sudah terlalu sering menanggung malu seperti ini" ujar Riani nampak lelah.
Enne kembali cemberut mendengar ucapan Riani.
__ADS_1