ERANGAN TAKDIR

ERANGAN TAKDIR
S2-CHAPTER 39


__ADS_3

Sambil menarik kembali oksigen dalam-dalam dan perlahan melepaskannya, ekspresi tengang Geyaa kini menjadi sedikit berkurang.


"Aku bersimpuh seolah mata ini mau keluar melihat pemandangan itu, kami sudah janjian ketemu di toko kain itu, tapi Crania sudah duluan mengantar ajalnya pada si pembunuh berantai, dan lebih lucunya lagi... hahaha di layar handphone-nya yang sebelumnya mati tertuliskan Gey... aku sudah tidak sanggup lagi menahan orang ini, tapi setidaknya untuk terakhir kalinya, aku ingin kamu tau... bahwa aku berterimakasih banyak, karena kamulah orang satu-satunya yang mau berteman dengan ku, yang tidak menjauhi ku karena penyakit ku, Gey... aku mengetikkan ini dengan cepat supaya pria ini tidak melihatku, dia masih sibuk dengan teleponnya sambil memegang pisau berceceran darahku... jangan merasa bersalah karena kamu datang terlambat Gey... kamu harus berjanji untuk kuat dalam setiap urusanmu. Begitulah" jelas Geyaa sambil menatap lama foto yang ada di atas mejanya kini.


Alisya diam, dia kaget akan beberapa kata yang tadi di lontarkan oleh Geyaa "Geyaa... boleh aku liat pesan terakhir Crania itu?" tanya Alisya.


Geyaa diam sejenak lalu menganguk "baiklah, lagian pesannya sudah terkirim dan tersimpan dalam HP ku" jelas Geyaa sambil menjangkau HP nya yang berada di ujung kasur lalu menyerahkan ke Alisya.


Alisya menatap lama layar HP milik Geyaa dengan tatapan matanya yang amat tajam, pesan itu sama dengan yang diucapkan Geyaa tadi, walau aslinya disini banyak typo yang bertebaran, namun tetap mudah untuk dipahami bahasanya yang salah, Alisya mengetikkan nomor nya di HP Geyaa lalu mengirim ulang pesan itu ke nomornya.


"Terimakasih Geyaa... karena mu aku menemukan sesuatu yang hebat, sebelum kembali ke Firma, tolong temani aku ke makam Crania, aku ingin berterima kasih langsung padanya, kali ini aku tidak bisa mendengar kan lebih lanjut penjelasan mu, tapi lusa, pekan depan, ataupun beberapa waktu, hari, Minggu, bulan, atau tahun kemudian, aku janji akan mendengar semua keluhan dan curhatan mu nantinya, karena aku tau mahasiswa psikologis seperti mu pasti butuh tempat curhat" jelas Alisya lalu pergi meninggalkan kost-an Geyaa.


Alisya berhenti sejenak dan membalikkan tubuhnya lagi kebelakang "tapi dengan satu syarat, saat aku kesini aku harap ruangan ini sudah nampak lebih rapi" jelas Alisya lalu kembali meneruskan perjalanannya.


Geyaa diam sejenak, dia kini sedang mencerna penjelasan dari Alisya, Geyaa menoleh sekelilingnya "apa benar ini sangat berantakan?" gumam nya lalu tersenyum tipis "aku tunggu kedatangan mu kak" gumam Geyaa sambil merapikan barang-barang nya yang berserakan bak tumpukan sampah itu


Gadis yang menunjukkan jalan minimarket tadi kembali menengok keluar dari balik kaca kost-annya "owh... sudah balik? omong-omong tuh kakak mau ngapain ya? kok bertamu malam-malam gini? lagian wajahnya terasa sangat asing, hmm... orang luar negri kali ya? mau ditanyain ke tetangga sebelah kami tak kenal dekat, tau dia kerja juga karena liat kemaren di minimarket" gumam gadis itu lalu kembali fokus ke laptopnya.


Kini Alisya sudah ada di dalam taxi, dia mengeluarkan dokumen yang ada di tas-nya, tujuan selanjutnya adalah rumah wanita bertopi hitam, tidak cukup jauh dari kost-an nya Geyaa.


Alisya sampai di sebuah apartemen yang nampak mewah, dia melangkah masuk ke dalam apartemen namun tidak bisa karena dia tidak memiliki kartu penghuni untuk membuka pintu, untungnya ada seorang pria mabuk membuka pintu apartemen dengan kartunya tepat setelah beberapa detik Alisya datang, Alisya ikut masuk setelah pria mabuk itu melangkah masuk.

__ADS_1


Alisya menaiki lift menuju lantai 17, setelah sampai dia mencari kamar apartemen nomor 107 yang tepat ada di tengah-tengah sudut kiri.


Alisya menatap jam di layar HP nya "fuh... sungguh jam yang tidak tepat untuk bertamu, tapi aku harus cepat menyelesaikan hal ini, walau mungkin tidak ada lagi yang perlu aku tanyakan pada wanita ini, tapi mungkin aku bisa menemukan sesuatu yang menarik" gumam Alisya sambil menekan bel pintu.


Baru 2 kali memencet bel, pintu apartemen terbuka lebar, wanita itu menengok kepalanya sedikit keluar dari pintu "owh... Anda gadis yang mengintrogasi waktu itu ya?" tanya wanita itu.


Alisya menghela nafasnya Lagi-lagi dia mabuk, emang gak pernah kapok ya Bathin Alisya.


"Boleh saya masuk manquer? ada beberapa hal yang ingin saya tanyakan" jelas Alisya.


Wanita itu diam sejenak "hahaha baiklah, tapi setelah bertanya-tanya, tolong temani saya minum sampai pagi" ucap wanita itu.


Ruangan itu cukup rapi dari pada ruangan yang sebelumnya di datangi Alisya, sungguh berbanding amat terbalik, dengan langkah terseret Alisya mengikuti wanita itu duduk menuju sofa empuknya.


"Manquer... Anda benar-benar tidak kapok ya, sudah jelas akibat mabuk semalam anda jadi tersangka, namun kini anda masih dalam pengawasan malah memilih untuk mabuk lagi" ucap Alisya.


Wanita itu tertawa cukup lebar, wajah cantiknya tanpa riasan itu cukup mengirikan Alisya, dia lebih cantik natural dari pada ber make up tebal, namun mungkin karena sifatnya ini dia sering ditinggal oleh laki-laki, begitulah pikir Alisya.


"Bisa kita mulai cakap-cakap nya?" tanya wanita itu kembali.


Alisya sadar dari lamunannya "apa ada sesuatu mengganjal yang anda liat saat itu manquer?" tanya Alisya.

__ADS_1


Wanita mabuk itu diam sejenak, beberapa saat kemudian dengan tiba-tiba ekspresi wajahnya berubah dratis "saya tidak tau apa ini penting atau tidak, saya juga lupa mengatakannya saat diruangan interogasi kemaren, namun saat itu di kuku mayat saya sekilas melihat sesuatu seperti kulit yang terkoyak, anda tau sendiri dari dokumen tentang saya bahwa saya adalah dulunya kuliah kedokteran, kini saja saya memilih untuk bekerja kantoran karena harus melanjutkan perusahaan papa, tapi bisa jadi saya salah liat saat itu" ucap wanita itu.


Alisya diam sejenak, dia memang tidak tau banyak tentang pelajaran kedokteran, namun satu yang masih belum ada ditangan Alisya saat ini, yaitu bukti atau data tubuh korban dari tim forensik yang belum di dapatkannya, atau mungkin saja ada di Viollete kini.


"Ada hal lain manquer?" tanya Alisya kembali.


Wanita itu kembali diam "saya pikir tidak, namun ada satu hal yang mengganjal di kepala saya "jika salah seorang dari kami adalah pembunuh, lantas kenapa gak ada percikan darah di tubuh kami? bukankah kami juga sudah diperiksa secara fisik?" tanya wanita itu.


Alisya juga tau akan hal itu "mungkin ada cara lain yang dilakukan oleh pelaku" jawab Alisya.


Wanita itu kembali diam "jika pelaku memakai mantel, bukankah seharusnya kelihatan? bahwa mantel itu ditemukan di dekat lokasi atau di tubuh pelaku? tapi tidak ada bukan? dan terlebih barang pelaku hanya sebuah pisau yang kemungkinan digunakan untuk mencekam korban yang tertinggal di lokasi" jelas wanita itu kembali.


Mantel... tubuh pelaku? hmm.... oh mungkin itu! ingat Alisya.


"Anda tidak perlu terlalu memikirkan hal itu manquer, di sidang nanti saya dan rekan saya akan memberi penjelasan terkait kasus dan sudah pasti bahwa anda akan kami undang dalam sidang, jadi sebelum itu jangan mabuk-mabukan dulu, saya tidak akan membawa orang mabuk dalam sidang saya" jelas Alisya.


Wanita itu kembali cengengesan "hahaha baiklah nona pengacara, tapi anda harus menemani saya setelah sidang untuk minum-minum" ucap wanita itu.


"Saya tidak menjamin akan menemani anda dalam melakukan hal itu manquer" jawab Alisya sambil menyunggingkan senyum tipisnya seraya keluar dari apartemen.


Semua bukti sudah cukup untuk ditujukan pada pelaku yang sudah jadi kecurigaan besar oleh Alisya dari awal, selanjutkan dia hanya perlu mengumpulkan alasan dari pelaku, jadi harus ada 2 orang lagi yang perlu di temui nya, tapi mungkin itu untuk nanti, Alisya harus segera kembali ke hotel dulu, menanyakan langsung pada detektif terbaik firma Confiance tentang apa yang telah di dapatnya selama di hotel dan dekat tempat kejadian itu.

__ADS_1


__ADS_2