
Hati-hati saat membaca chapter ini, di chapter ini akan ada banyak hal yang bisa membuat anda naik pitam, jadi tolong dibaca dengan bijak. Keep Reading ya Readers.
Dina kembali ke rumahnya dari pada harus bertengkar dengan Alisya nantinya.
"Jangan!" tegas Alisya pada polisi yang hendak mengantar Dina kembali.
"Kenapa nona?" tanya pak Polisi.
Alisya menyungginkan bibirnya tersenyum tipis "dia pembunuh nya, jadi jangan biarkan dia pergi begitu saja" jelas Alisya.
"Hah!?"
Keheranan para polisi itu terpekikkan dengan lantang, berbeda dengan Riani dan Serli yang memilih diam tanpa mengeluarkan ekspresi apa-apa.
"Heh! jangan karena Lo benci sama gue, Lo jadi nuduh-nuduk gue kayak gitu ya! gak ngaca Lo sama diri Lo sendiri yang di tendang dari rumah sama mama Lo waktu itu hah!?" kesal Dina yang sudah nampak tingkah aslinya.
Jackpot! kepancing! Bathin Alisya. "Maaf maksud anda apaan ya mbak? bukannya semuanya karena anda? kok ngegas gitu sih?" tanya Alisya.
Sumpah! nih anak benar-benar ngeselin! minta dibanting juga nih! Pikir Riani dan Serli bersamaan
Dina terdiam sejenak "cih! kalau benar gue pelakunya mana buktinya! hah!?" seru Dina sambil memelototkan matanya.
"Tenang mbak... Jangan nyolot gitu dong entar matanya keluar loh" tegas Alisya dengan wajah serius.
Dina mendesis sebal diperlakukan tidak layak oleh Alisya, namun dalam posisi nya saat ini dia tidak bisa melawan seperti yang dulu dilakukannya.
Alisya beranjak dari posisinya, dia duduk di kursi yang tadi diduduki oleh Dina, sambil mengangkat satu kaki kirinya Alisya sibuk merapikan rambutnya.
"Dia ngapain lagi sih?" bisik Serli pada Riani.
__ADS_1
Riani mengangkat kedua bahunya karena juga tidak paham dengan apa yang sedang dilakukan Alisya.
"Nona Ali--"
"Pak! bisa saya berbicara 4 mata dengan dia?" tanya Alisya sambil mengajungkan jari telunjuk nya pada Dina.
"Owh baiklah" angguk pak polisi nampak pasrah akan kelakukan Alisya.
"Kalau begitu mohon maaf.. semuanya silahkan keluar!" seru Alisya.
Semua polisi beserta Serli dan Riani yang tadi ada diruangan itu kini keluar, tinggal Alisya dan Dina yang ada di ruangan.
Alisya beranjak kembali dari duduknya "pernah merasakan siksaan ibu tiri gak?" tanya Alisya sambil mendekatkan bibirnya ke telinga Dina.
"Hei! Lo jangan berani macam-macam sama gue ya!" seru Dina.
"Eh!? apa sih! kok nyolot lagi deh! gue tuh cuman mau Lo merasakan rasanya dulu jadi gue! dicampakkan oleh orang yang disayang demi orang lain yang gak ada otaknya! di injak-injak sama binatang lacur! dikata-katai dan dimaki-maki begitu saja!" seru Alisya dengan lantang sambil mendekatkan wajahnya pada Dina.
"Lo tenang aja! dia bukan papa gue lagi kok! gue gak bakal sudi punya seorang bapak yang nafsunya birahinya setinggi itu, tapi sayang seleranya rendah! masa iya dia bisa tergoda sama PE. LA. CUR yang gak ada apa-apa ini hahaha" tawa Alisya nampak puas.
"Hei! lo jangan berani ngehina-hina gue kayak gitu ya! asal Lo tau! bagiamana pun gue ini masih mama tiri Lo!" seru Dina.
"Mama tiri? elo? HAHAHA gak salah dengar tuh gue!? seraya ya... gadis secantik dan sepintar gue gak bakal mungkin punya mama tiri apalagi perlacur kek elo!" tegas Alisya sambil menyerbakkan rambutnya dengan tangan seperti yang dilakukan serli tadi.
"Lo jangan mancing-mancing emosi gue ya!" kesal Dina.
"Mancing? lo ikan? omong-omong gue gak ada bawa pancingan kok, jadi yang gue pancing apaan coba?" tanya Alisya.
"Woi anj*ng! lo mau mati!?" ujar Dina sambil meregang kerah baju Alisya.
__ADS_1
"Gak tuh! gue sadar dosa gue masih banyak kok, terlebih gue gak mau mati ditangan orang yang kotor luar dalam kayak Lo! tau gak itu NAJIS banget!" jawab Alisya sambil menyunggingkan bibirnya tersenyum tipis.
Dina kembali melepas kerah baju Alisya "asal Lo tau ya! gak bakal ada gunanya Lo mancing-mancing gue kayak gini! lo mau harta warisan? hahaha gak bakal bisa Lo dapetin! semua harta warisan ditangan gue! atas nama gue! rumah sama tanah bokap Lo yang ada di Gianyar itu milik gue! tabungan pribadinya yang bertotal 3 Miliar itu milik gue! mall yang ada di jalan besar itu semuanya milik gue! lo paham!? jadi gak bakal ada gunanya juga Lo mancing gue sampai bisa ngakuin bahwa gue yang bunuh bokap Lo! gue yang memberi sianida langsung ke mulutnya! lo gak bakal bisa nemuin bukti apapun! sianida itu langsung gue masukkan ke obat tidur yang diminum bokap Lo itu!" jelas Dina.
"Lah.. kenapa lo memberitahu kan hal itu ke gue?" tanya Alisya nampak bingung.
"Biar Lo tau bahwa gue dari awal Nerima lamaran si tua Bangka itu hanya demi HARTA hahahah" tawa Dina puas.
"Lo gak takut gue bakal beberin semuanya?" tanya Alisya.
"Takut? hahaha gue gak salah dengar tuh? gak ada yang perlu gue takutin karena Lo gak ada bukti untuk hal itu sama sekali" jelas Dina.
"Memang beda ya orang berpendidikan sama tidak, Lo tau gak? jika waktu masuknya obat di tubuh almarhum diperiksa, dan waktu obat itu mengalir perkiraannya sama dengan sianida, maka itu sudah menjadi bukti tersirat yang cukup jelas" jelas Alisya.
"Tapi bagaimana bisa hal itu mengarah pada gue? hahaha walau pun waktunya sama tetap tidak akan ada bukti yang membebani ke gue! mau cari sidik jari? hahaha mana mungkin sidik jari gue bakal tetap ada di obat yang udah lenyap itu!" jelas Dina nampak puas.
"Sidang jari Lo memang sudah jelas gak bakal ada kok, lagian gue gak butuh harta Almarhum! gue bisa kaya dengan cara gue sendiri!" tegas Alisya.
"Hahaha jangan sok Muna deh loh! gak ada orang di dunia ini yang gak suka sama duit! Lo tau!? gue udah nunggu waktu pas selama ini agar bisa membunuh dia dan melihatnya lenyap dari dunia ini, supaya gue bisa menguasai semua hartanya!" jelas Dina.
"Oh gue B aja tuh" jawab Alisya cuek.
"Hahaha gue yakin Lo pasti dendam banget kan!? kelihatan jelas dari wajah Lo tau gak! sekedar info nih! yang mancing dia buat nyerain mama Lo tuh gue hahaha!" jelas Dina.
Ni orang mudah banget buka aibnya sendiri, di pancing dikit aja aku manennya jadi banyak. Bathin Alisya.
"Owh... kalo untuk hal itu tenang saja, omong-omong gue udah sumpek kelamaan satu ruangan sama lo nih, keluar yuk!" ajak Alisya sambil melangkah kan kakinya meninggalkan ruangan itu.
Dina terpana heran mendengar jawaban Alisya tadi, dia ikut melangkah keluar sambil memasang ekspresi palsu dari wajahnya kembali.
__ADS_1
"Hai semuanya! aku udah dapat bukti nih!" seru Alisya tiba-tiba.