
Dedaunan kembali berjatuhan, menghinggapi rambut panjang tergerai milik Alisya, pohon besar yang berdiri teguh di depan apartemen itu, menjadi pemandangan terunik di kawasan sekitaran apartemen milik Firma Confiance yang bahkan tidak ada satupun tanaman besar menghiasi selain pohon tua ini yang daunnya semakin lenggang karena terus jatuh perlahan diterpa angin kencang.
Dengan langkah kaki cepat namun beraturan, Viollete menuruni tangga menuju lantai bawah sambil melambaikan tangannya pada Alisya yang sudah menunggu dari tadi.
"Ayo!" ajak Viollete sambil memasuki mobil milik Enne yang sudah dipinjamnya terlebih dahulu.
Pagi buta tadi Enne sudah terbang ke kota Le Havre untuk urusan pekerjaan bersama manquer Drena yang sudah selesai mengambil cutinya, walau planning awal adalah dengan Viollete, namun karena Viollete diberi tugas untuk menyelesaikan kasus bersama Alisya, akhirnya diganti dengan manquer Drena.
Mobil Enne yang dikendarai oleh Violette membelah jalanan sampai memasuki tol menuju firma.
Perjalanan berlangsung lancar tanpa adanya kendala ataupun kemacetan, waktu cepat berlalu sampai tak terasa mobil sudah terparkirkan rapi di bangunan sederhana itu.
Dengan langkah kaki terseret Alisya dan Viollete memasuki ruangan firma untuk memulai pembahasan sidang pertama mereka berdua, yang akan menentukan nasib Alisya untuk kedepannya.
Walau tidak pernah ada kandidat yang ditolak setelah urusan magangnya di firma confiance di tolak, namun mungkin untuk kondisi Alisya saat ini tidak ada yang bisa menebak.
Selang beberapa menit sejak kedatangan Alisya dan Viollete, Riani masuk ke ruangan dengan kantong matanya yang tebal dan dilumuri oleh warna hitam, bedak yang dikenakannya tetap tak mampu menutupi mata pandanya itu.
Riani tersenyum tipis menatap Alisya dan Viollete yang sedang memperiksa meja kerjanya.
File untuk kasus telah dikirimkan oleh Riani ke e-mail Alisya dan Violette malam kemaren, Violette tak berhak ikut mencari penyelesaian dalam kasus rentet ini, dia hanya perlu mengawasi pergerakan Alisya, namun melihat sikap Viollete yang ambisius dan tak tahan dengan kasus, bisa saja dia mengambil alih semua tugas Alisya hingga mengurangi nilai Alisya dan itu akan mempengaruhi kesempatan Alisya untuk bergabung dalam firma.
Oleh karena itu, Alisya harus lebih ekstra untuk memecahkan kasus itu dengan otaknya.
Pembunuhan Berantai La Rochelle, Jan Ru X
Tulisan tebal diawal layar laptopnya setelah mengklik dokumen yang dikirim Riani semalam membelalakkan mata Viollete sambil menyunggingkan bibirnya tersenyum, jika ke detektif-an Violette sudah meronta-ronta untuk segera keluar setelah membaca bagian pertama dari baris kalimat itu.
Viollete melirik ekspresi wajah Alisya yang hanya diam, tak ada rasa senang, bahagia, sedih, takut, cemas, ataupun kecewa yang dia tampakkan.
Entah Alisya yang tidak memahami betul tentang kasus yang dihadapinya, atau malah dia sudah mencerna kasus ini dari semalaman suntuk sampai membuat mata gadis ini yang biasanya selalu menatap tajam kini nampak sayu.
"Hei... bagaimana menurut mu?" tanya Viollete ingin mengetahui pendapat Alisya mengenai kasus ini.
"Yang aku pikirkan saat ini hanyalah rasa heran kenapa untuk tugas magang saja firma ini sampai harus memberikan kasus pembunuhan ini? bukankah itu malah menganggu mental untuk menyelesaikan nya?" heran Alisya sambil menarik nafas panjangnya.
"Jadi apa mental mu terpengaruh?" tanya Viollete.
Alisya menggelengkan kepalanya "tidak, sejatinya dari awal mental ku sudah tak ada lagi" jawab Alisya cuek.
__ADS_1
Violette tertawa kecil menanggapi perkataan Alisya "bukankah mental mu cukup kuat untuk balas dendam? lantas kenapa kau bilang tidak ada?" tanya Violette kembali.
Alisya hanya diam tak menanggapi pertanyaan yang dilontarkan oleh Viollete, sambil menyeruput kopi panas yang dibuat oleh Viollete untuk dirinya sendiri tadi.
"Hei itu kopiku!" kesal Violette.
"Bukankah kita rekan?" tanya Alisya sambil meletakkan kembali kopi itu setelah diseruput nya.
"Lalu? apa hubungannya?" heran Viollete.
"Rekan itu harus saling berbagi" jawab Alisya.
Viollete berdetak sebal menanggapi pernyataan gadis itu.
"Omong-omong kasus apa yang diselesaikan kak Riani saat pertama kali disini? atau tepatnya kasus apa yang diselesaikan nya saat magangnya disini?" tanya Alisya yang malah tidak memikirkan kasusnya sendiri.
"Hmmm... seingat ku dia juga menghadapi kasus yang sama denganmu, pembunuhan berantai" jawab Violette.
"Pendamping nya?" tanya Alisya.
"Enne" jawab Viollete dengan cepat, seperti sedang dalam kuis cerdas cermat "tapi.. setauku... Enne hanya menemani dalam sidang, hanya sebagai penutup di akhir sidang, bagian pembukaan sampai penjelasan diambil alih oleh Riani, karena saat itu Enne juga baru kembali dari Le Mans, hanya Enne yang bisa dimintai oleh Manquer Pamela untuk menemani sidang Riani" jelas Viollete yang juga mengetahui cerita itu dari manquer Pamela.
"Jadi bagaimana kasus itu?" tanya Alisya kembali.
"Hmm... yang cukup mengejutkan bagi ku adalah Riani berhasil menyelesaikan kasus yang sudah jadi misteri go internasional itu dalam waktu yang cukup dekat, sekitaran w hari sejak dia menerima rentetan dokumen kepolisian tentang kasus ini, ditambah dengan modal parfum saja diam berhasil memberi bukti yang cukup untuk pengadilan dan kepolisian" jelas Viollete.
"Modal parfum?" heran Alisya.
"Sebagai barang yang bisa membuktikan pelaku pembunuhan itu yang tidak lain adalah anggota keluarga dari para korban sendiri" jawab Violette.
Alisya diam sejenak, mencerna penjelasan dari Violette kemudian mengangguk paham "kasus lainnya?" tanya Alisya kembali.
Violette berpikir sejenak tentang kasus yang mungkin menarik untuk diceritakan "oh iya... ada satu kasus, di Indonesia!" ujar Violette dengan nada yang cukup tinggi.
Alisya menunjukkan ekspresi penasaran nya pada Viollete.
"Kalo tidak salah... itu tentang harta warisan, salah seorang keluarga mereka yang berada diluar negri meninggalkan harta warisan yang nominalnya sangatlah banyak, namun ada satu hal yang menjadi pemberat masalah itu, sebuah ikatan yang tetap ada namun tak lagi dianggap, sama seperti kisahmu" jelas Viollete sambil melirik ke arah Alisya dengan tatapan meledek.
"Aku lupa nama wanita itu, lupa dia tinggal di negara mana, dan lupa nama-nama keluarganya, karena itu juga bukan sesuatu yang harus ku ingat jelas" ucap Viollete sambil meneruskan kembali omongannya "Keluarga kecil itu terdiri dari 5 orang, ada ayah, ibu, dan 3 anak mereka. Nah jadi 3 bersaudara ini yang saat itu terikat dalam kasus Riani sebagai saksi atau subjek dari kasus harta warisan tersebut"
__ADS_1
Viollete kembali menyusun udara dalam kerongkongan dan hidungnya agar memperjelas suara yang keluar dari mulutnya "seingatku saat itu anak pertama mereka yang melarikan diri keluar negri adalah yang meninggal dan meninggalkan banyak warisan itu tanpa pewaris, dia mempercayakan kami dalam surat wasiat yang dikirim oleh sekretaris nya untuk menghubungi 2 adiknya yang ada di Indonesia, kedua saudara itu membenci kakaknya sebab, kakaknya adalah penyebab kematian ke dua orang tua mereka, ibu mereka meninggalkan di dalam sumur karena tidak diberi pertolongan dengan cepat, saat itu kakak mereka melihat langsung ibu mereka masuk ke dalam sumur, dia memilih lari karena takut, jadi tidak ada pertolongan pertama yang masuk, selang beberapa Minggu sesudah itu ayah mereka ikut meninggal karena hujan panas mencari anak pertamanya yang hilang entah kemana, akhirnya dia tepar dan meninggal" jelas Viollete sambil mengambil kembali oksigen yang tak nampak oleh mata.
"Hal itulah yang membuat saudara nya, anak ke-2 dari keluarga itu membenci kakaknya, dengan suara keras lagi kasar dia menampar kelam kisah Riani, Riani membalas balik tamparan itu dengan kisahnya sendiri, kisah pilu yang disaksikan oleh kedua matanya sendiri, hidup tanpa kasih sayang sedari kecil yang mampu menguatkan Riani hingga menjadi pribadi yang seperti sekarang, kita kembali ke cerita keluarga kecil itu, sesudah itu saudara mereka yang merupakan anak kedua terdiam, merasa bersalah pada Riani, Riani terus meyakinkan dia sampai hati dia benar-benar luluh, intinya kasus itu tidak akan bisa menjadi baik jika tidak diselesaikan dengan kesabaran, kita tidak boleh hanya mengandalkan logika saja, jika kita ambil penilaian dari segi akuntansi, maka logika dan emosional dalam menghadapi sesuatu harus lah balance (seimbang)" jelas Violette.
Alisya mengangguk paham sambil kembali mencerna dan membayangkan kisah Riani itu.
"Sudah selesai bergosip?" tanya Riani yang tiba-tiba sudah menopang dagunya dibelakang kursi yang di duduki oleh Alisya.
Alisya dan Viollete tersentak kaget, refleks mereka beranjak dari duduknya.
Riani tertawa puas melihat reaksi mereka "aku meminta kalian bukan untuk meneliti kisahku, atau bahkan bernostalgia dalam kisah aku" ucap Riani sambil melirik pada Alisya "ada yang cukup buruk, pembunuhan di jalan itu kembali terjadi, padahal kedua tersangka utama sudah ditahan saat itu, jadi bukan mereka yang harus kalian pikirkan atau selidiki saat ini, kali ini kita tidak bisa mempercayai dokumen dari kepolisian itu sepenuhnya, jadi aku sudah menyiapkan Helikopter untuk kalian berdua terbang kesana" jelas Riani.
Viollete dan Alisya mengangguk paham sambil berlari kecil ke luar menuju parkiran untuk mengambil mobil dan menuju bandara.
Sir Domson sudah menunggu kedatangan mereka di Bandara, dengan langkah cepat Viollete meloncat ke atas helikopter diikuti oleh Alisya.
Helikopter langsung terbang membelah awan-awan yang bergerak perlahan karena mengikuti perputaran bumi, jadi bukan awan lah yang sejatinya bergerak, tapi bumi yang berputar perlahan dari porosnya.
Kurang lebih selang waktu 3 jam Helikopter mendarat tepat di salah satu bandara kota
La Rochelle setelah menginformasikan izin pendaratan.
Dengan bermodalkan kartu nama dan telepon genggam, Alisya menghubungi pihak yang memberi pekerjaan ini agar menyiapkan mobil untuk mengantar mereka segera.
Mobil klien sudah terpakir jelas di parkiran bandara, seorang pria dewasa melambaikan tangannya pada Alisya dan Violette.
Mereka langsung menuju jalan Jan Ru X, tempat terjadinya pembunuhan berantai.
Alisya berlarian kecil mengitari gang di jalanan itu, ada 13 gang kecil yang hanya bisa dilewati pejalan kaki dengan postur tubuh yang normal atau tidak obesitas, ditambah 5 gang besar yang bisa dilewati oleh 1 mobil, total yang ada 18.
Dengan nafas yang masih ngos-ngosan Aisyah menaikkan tiga jarinya dari kelingking sampai jari tengah pada Viollete.
"8?" tanya Violette.
Alisya masih belum kuat untuk bersuara karena nafasnya yang terputus-putus akibat berlarian mengitari, menyelidiki, sambil menghitung gang yang harus dilewatinya.
"3?" tanya Violette yang kembali digelengkan oleh Alisya "hmmm 30? 18?" tanya Viollete yang kini diangguki oleh Alisya. Untuk memastikan jawaban sesungguhnya dari 2 angka yang disebutnya tadi, Violette kembali bertanya "18?" diangguki cepat oleh Alisya yang masih ngos-ngosan sambil memegangi lutut kanannya sebagai penopang tubuhnya agar tidak jatuh karena kecapekan.
Memang sudah menjadi tugas Alisya untuk menyelidiki tidak gang, karena Viollete sifatnya hanya mengawasi, bukan bertindak serta dalam pemecahan kasus, kecuali ambil muka dipengadilan.
__ADS_1