
Acha menatap Alaska malas bukan apa-apa kejadian kemarin membuat dia kembali mempertanyakan cintanya "Ada apa? udah puas kemarin pelukan sama mantannya? kenapa nyariin gw? Febby nyampakin Lo lagi?"
"Gw mau minta maaf, gw khilaf kemarin" Alaska memelas di hadapan Acha.
"Gak usah bawa-bawa khilaf deh, Lo ngelakuin itu sadar, Lo gak mabok kok"
Alaska bertingkah imut di depan Acha berharap maafnya, dia sudah searching di google cara membujuk pacar yang sedang marah dan ini salah satu caranya walaupun ah sudahlah Alaska tidak ingin harga dirinya yang lebih tinggi dari pada langit runtuh di hadapan para readers.
"Maafin gw em" dia menyatukan tangannya matanya berkedip dengan cepat.
"Lo ngapain sih" Acha tertawa cekikikan dia mengusap rambut Alaska hingga berantakan.
"Maaf"
"Utu-utu tayangnya Acha tapi janji jangan ngulangin lagi, kali ini gw bisa maafin Lo tapi enggak untuk nanti saat Lo ngelakuin hal sama"
"Janji" Alaska menautkan jari kelingkingnya pada jari Acha berjanji seperti anak kecil.
"Gw kangen Lo" Ujar Acha memeluk Alaska.
__ADS_1
"Gw juga kangen Lo"
"Gw lebih kangen sama Lo"
"Gw lebih-lebih-lebih kangen sama Lo pokoknya gak mau tau gw" akhirnya Acha mengalah dari pada dia harus menggunakan kata lebih banyak lagi.
"Yaileh mentang-mentang udah baikan yah dunia serasa milik Lo pada" ujar Diki meneguk segelas air putih.
"Gak Lo gak Febby ada aja yang ganggu" gerutu Acha.
"Kalo Lo gak mau di ganggu di kamar sana, pintunya jangan lupa dikunci" ejek Diki.
"Jangan lah nanti kalau hadir Alaska junior gimana?"
Diki menghampiri Acha membisikkan sesuatu di telinganya "Hati-hati Cha sedari tadi Lo di incar sama Mak lampir"
"Sial mereka kembali akur" Febby meninggalkan mereka dengan marah, setelah selesai makan kedunya berkumpul bersama yang lain di ruang tamu. Acha duduk bersebelahan dengan Febby yang sedari tadi matanya tak lepas memandangi Alaska, Acha meletakkan kepalanya di dada Alaska seperti biasa Alaska akan memeluknya dan mencium rambutnya beberapa kali, Febby yang melihat itu makin marah lah udah Alaska dan Acha baikan sekarang mereka sedang menabur kemesraan di dekatnya.
"Eh Lo pada nyium sesuatu yang kebakaran gak?" tanya Devan.
__ADS_1
"Eh Iyah gila baunya nyengat banget"
"Bau apa sih Iva gak denger apa-apa"
"Bukan denger tapi nyium goblok banget Lo" Arthur menatap Iva kesal, dia benci dengan perempuan yang menyebutkan namanya saat sedang berbicara.
"Wah wah ini campuran dik, ada kecemburuan,rasa ingin memiliki nya lagi, iri hati, dengki" Devan berperan sebagai dukun dadakan.
"Dari mana anda tau Kun?" tanya Diki.
"Saya tau segalanya anak jelek, saya juga tau sekarang anda memakai s*m*ak berwarna hitam dan memiliki lubang di bagian depan" sebelum Diki ngamuk Devan mengambil langkah seribu jangan lupakan suara tawanya yang membengkak kan telinga siapapun yang mendengarnya.
"Setan jangan lari Lo" alih-alih mengejarnya Diki tidak bergerak dari duduknya dia terlalu malas tapi bagaimana devan bisa tau kalau dia sedang memakai ****** warna hitam, apa jangan-jangan Devan Diki segera berhenti membayangkan yang tidak-tidak.
Alaska meninggalkan mereka setelah Acha meminta tolong mengambilkan sesuatu di kamarnya.
"Iya lah nyesel secara Alaska selama pacaran sama dia di jadikan ATM berjalan sama dia, ninggalin Alaska demi om-om kaya alih-alih ingin hidup seperti orang kaya yang sudah memiliki istri dan seorang anak perempuan malah langsung di depak setelah ketahuan sama istri sahnya, gak ada harga dirinya banget Lo sebagai perempuan" Acha berbicara sangat enteng tidak memikirkan perasaan rivalnya itu.
__ADS_1
.