Fake Smile Bad Girl

Fake Smile Bad Girl
Trauma nya kembali.


__ADS_3

"Tuhan aku tidak kuat lagi hiks hiks"


Acha mencengkram kuat setir motornya untuk mengurangi rasa sakitnya, keringat dingin mengucur di seluruh tubuhnya, Acha rindu Daddy .Sesaat kemudian dia sampai di depan markas, kakinya lemas, Acha tidak punya tenaga untuk sekedar berlari kedalam, dirinya tidak mampu menahan sepeda motor yang di bawanya, Acha jatuh di timpa badan motornya, Acha menangis tersedu-sedu bukan karena dia terjatuh, karena rasa sakitnya tak kunjung mereda bahkan semakin menjadi-jadi, dia tidak memperdulikan lutut dan tangan terluka karena terkena kerikil saat dia jatuh.


"Daddy sakit hiks, Dede sakit dad, kenapa Daddy tega ninggalin Dede hiks hiks, Acha bukan pembunuh, Acha bukan pembunuh hiks "


Didalam markas


Alaska tengah memainkan handphone nya, beberapa kali dia mengumpat karena selalu ada yang menelfon nya menganggu kesenangannya.


"Shit" umpatan untuk kesekian kalinya.


"Lo yah" kesal Adam ke orang di sampingnya itu.


"Kenapa sih Lo?" tanya Deren yang mulai tidak tahan dengan Alaska.

__ADS_1


"Tu cewek gak ada bosan-bosannya ganggu gw" kesal Alaska.


"Muka mayat yah" tawa Yudha memenuhi ruangan, mereka menyebut Bianca dengan muka mayat memang mukanya putih bener, beda sama leher dan tangannya.


"Dia sebenernya cantik kalo dandannya gak menor kayak gitu, apalagi bodinya err" jawab Dio membayangkan body seksi Bianca.


"Em buta mata Lo, kek dia Lo bilang cantik, apa jangan-jangan Lo suka sama dia" Ledek Billy.


"Ya gak lah, ya kali gw suka dia" jawab Dio


"Apa Lo masih suka sama Feby?"


Alaska pernah menjalani kasih dengan Feby, kakak kelas tingkat nya, Alaska sangat menyukainya, gadis pemalu itu bisa meluluhkan hati Alaska yang terkenal dingin dengan perempuan.


Malam itu Alaska dan teman-temannya menyiapkan kejutan untuk Feby, karena hari itu adalah hari anniversary mereka yang ke tiga tahun, Alaska menyiapkan kejutan itu dengan sangat baik, lilin yang mereka tata di sepanjang kolam juga sudah siap, kelopak mawar merah berbentuk hati yang sangat besar juga sudah mereka siapkan. menit demi menit berganti, sosok yang Alaska tunggu tidak kunjung menapakkan batang hidungnya, sampai larut malam dia menantinya, menantinya orang yang sangat di cintainya, dia percaya kekasihnya itu akan datang.

__ADS_1


Lilin yang mereka siapkan tadi mulai habis dan kelopak mawar mulai berterbangan di bawa angin. Alaska harus menelan pil pahit dalam hidupnya, kekasihnya pergi tidak ada yang tau dia kemana, dia seperti hilang di telan bumi, gadis itu berhasil meluluhkan lantahkan hatinya, hingga saat ini belum ada yang mengetahui keberadaannya, Alaska masih berharap suatu saat nanti dia muncul lagi, dan mungkin hatinya bukan untuknya lagi, setidaknya dia tau kalau Feby baik-baik saja.


Brakk


Mereka semua terkejut dengan suara yang terdengar dari luar, mereka memeriksa apa yang terjadi di luar. Mereka menemukan Acha yang menangis tersedu-sedu, tubuhnya tertimpa motor yang di bawanya, Alaska menghampiri sosok yang tengah menangis itu, dia memeluknya erat, sebagian dari mereka membantu mengangkat motornya.


"Dede bukan pembunuh, Dede bukan pembunuh hiks hiks" Acha menangis di dada Alaska, tangannya mencengkram dadanya untuk mengurangi rasa sakitnya.


"Ka Acha dak kuat lagi" racaunya, Alaska segera menggendong Acha kedalam, dia meletakkan nya di sofa, Acha masih memeluk tubuhnya.


"Carikan obat di tasnya" perintah Alaska.


Billy dengan sigap mencari obat yang Alaska maksud.


Acha meminum obat yang Alaska beri, rasa sakitnya mulai berkurang, nafasnya perlahan-lahan sudah teratur, Acha tidur di pelukan Alaska.

__ADS_1


__ADS_2