
"Gw jadi kasian sama Acha" celetuk Alaska.
"Kenapa?" tanya Angkasa.
"Gw gak menemukan arti kekeluargaan, kasih sayang di keluarga Lo" Jawab Alaska lalu pergi ke depan rumah menunggu kepulangan Acha.
"Sebenernya gw pengen nyari dia, tapi gw gak tau seluk-beluk kota Berlin bisa-bisa gw yang kesasar" Ujar Alaska kepada dirinya sendiri.
"Orang yang punya segalanya belum tentu hidup bahagia, orang yang cantik bisa saja anak broken home"
"Orang yang menjadi pegangan nya juga membohongi nya, ibunya menghina, mengatakan kalau melahirkan adalah sebuah kutukan, apa gak hancur hati anak itu" Alaska mengingat senyum yang selalu ada di wajah Acha.
"Beruntung gw dan kak Anin mempunyai orang tua yang bisa menyayangi kita tanpa membeda-bedakan satu dengan yang lainnya"
"Kok gw bisa punya empati ke dia?" Alaska memukul kepalanya sendiri. Saat Alaska tengah memarahi dirinya sendiri, ada sebuah taksi yang berhenti di depan rumah Omanya Acha. Acha keluar dari taksi tersebut, penampilan nya sedikit berantakan, matanya merah dan sembab.
"Lo dari mana?" tanya Alaska.
"Nyari udara segar" Acha tersenyum, senyum yang sedikit memaksa.
__ADS_1
"Dari tadi Lo di cariin Angkasa, lain kali kalau mau kemana-mana pamit biar gak bikin orang khawatir" Ujar Alaska mengomeli Acha.
"Lo khawatir sama gw?" Acha menaik turun kan alisnya menggoda Alaska.
"Kepedean lo, gw ogah peduli sama Lo, Lo mati aja gak ada yang peduli" Alaska merutuki kebodohannya, mau gimana lagi ya gak mungkin lah dia narik ucapannya tadi, bisa besar kepala dia.
Acha terdiam mendengar ucapan Alaska, benar katanya dia mati saja tidak akan ada yang menangis kepergiannya.
Angkasa langsung keluar saat mendengar suara Acha, saat Angkasa ingin memeluknya Acha menghindari.
"Dek dari mana?" tanya Angkasa. Bukannya menjawab Acha malah melangkahkan kakinya ke dalam menuju kamarnya.
Ceklek, Acha memasuki kamarnya dia melihat Sandra tengah berbincang-bincang dengan Ellen.
"Cha dari mana?" tanya Ellen.
"Nyari udara segar" Acha membuka lemarinya mengambil piyama lalu memasuki kamar mandinya, dia berendam cukup lama menikmati wewangian dari lilin aromaterapi yang berada di pinggir Beat up. Setelah merasa cukup Acha langsung keluar dari kamar mandi, Sandra dan Ellen masih asik berbincang. Acha menaiki kasurnya lalu tidur membelakangi mereka.
🌺🌺🌺
__ADS_1
Acha terbangun jam 07.00 malam karena perutnya kelaparan dia tidak melihat Ellen dan Sandra berada di kamarnya. Acha langsung bergegas menuju dapur.
"Tumben sepi" ujar Acha tidak mendengar suara dari teman-temannya.
Saat dia melewati meja makan ternyata teman-temannya sedang makan malam bersama tanpa dirinya, Acha kesal bukan main pada saat itu. Kursi tempat makan Acha biasanya juga sudah terisi oleh Ellen.
"Masih pulang, kirain udah malu untuk pulang" ejek Lin Yi.
"Dek maaf gak ngebangunin kamu, soalnya kamu tidurnya nyenyak banget" ujar Angkasa.
"Komm, lass uns essen, Oma, hol das Essen" (Ayo makan nak, Oma ambilkan makanannya yah) ujar Oma.
"Nein, Acha will auswärts essen" (Gak usah Acha mau makan di luar) Acha meninggalkan meja makan dengan marah, air matanya menetes, dia langsung pergi ke kamarnya mengambil tas, jaket dan kunci mobilnya sebelum nya Acha sudah berganti pakaian.
Acha melewati mereka begitu saja, Angkasa segera mengejarnya, dia memegang tangan Acha.
"Lepas" Acha berusaha menarik tangannya dari genggaman Angkasa.
Vote nya jangan lupa yah kakak cantik 🤗❤️
__ADS_1