
"Lo tenang aja, sebaiknya Lo fokus sama kesembuhan Lo, Acha bakal balek ke Melbourne setelah Lo keluar dari rumah sakit"
"Thanks bro"
Aiken menyusul Acha yang sudah pergi 15 menit yang lalu, Aiken mencari Acha ke taman yang sering Acha datangi, namun nihil tidak ada tanda-tanda keberadaan Acha di sana, Aiken berlari keliling rumah sakit, namun hasilnya tetap sama, sebenarnya kemana kekasihnya itu.
Aiken mengistirahatkan kakinya yang lelah, dia duduk di ruang tunggu, di depannya ada seorang ibu yang tengah menggendong anaknya sedangkan sang ayah beberapa kali memberikan ciuman kepada buah hatinya, hingga membuat sang anak menangis karena terus di ganggu, melihat pemandangan itu membuat hati Aiken menghangat, dia seperti melihat dirinya dan Acha disana.
Aiken menyesal, seharusnya dia tidak bersikap seperti tadi, dia menyakiti hati perempuan yang dia cintai, berkali-kali Aiken menelfon Acha namun handphonenya selalu berada di luar jangkauan.
"Dia tidak mungkin berada di mension sekarang, bisa jadi dia berada di rumah sahabatnya" Aiken langsung berlari menuju ruangan Alaska. Aiken memintanya alamat rumah Sandra padanya, setelah mendapatkan alamat dia langsung berlari keluar rumah sakit, dia tidak menghiraukan pertanyaan Alaska.
Pagi itu kota Jakarta di guyur oleh derasnya hujan disertai angin kencang, beruntung Aiken segera mendapatkan taksi, yah taksi yang sama yang di tumpangi Acha tadi, Aiken menyerahkan kertas yang berisi alamat rumah Sandra kepada sopir taksi.
"Ke alamat itu yah pak" ujar Aiken, taksi segera menembus derasnya hujan.
"Tadi ada seorang gadis baik yang juga ke pergi alamat itu"
__ADS_1
"Gadis baik? bapak tau namanya?"
"Bapak tidak sempat bertanya, yang jelas gadis itu menangis di sepanjang perjalanan tadi, tangisannya benar-benar menyayat hati siapapun yang mendengarnya" ujar bapak tersebut sembari fokus menyetir.
"Apa gadis yang di ceritakan sopir itu Acha, apa Acha menangis? apa aku yang menyebabkan Acha menangis?" batin Aiken, Aiken semakin gelisah, dia ingin cepat-cepat bertemu Acha.
"Pak lebih cepat lagi" perintah Aiken, 30 menit kemudian Aiken sampai di kediaman Sandra, Aiken membayar ongkos taksi lalu berlari ke rumah Sandra.
"Tok tok"
Sandra yang lagi berada di dapur, langsung pergi ke arah pintu yang di ketuk tadi, Sandra menemukan Aiken yang bajunya basah kuyup berada di depan rumahnya.
"Apa Acha ada disini?" tanya Aiken, tubuhnya menggigil karena kedinginan, Sandra mempersilahkan dia masuk.
"Lo duduk dulu, gw mau panggil Acha dulu" Sandra langsung pergi ke kamarnya.
"Lo ada tamu?" tanya Acha yang asik tiduran.
__ADS_1
"Keluar dulu, ada yang nyariin Lo"
"Siapa?"
"Mangkanya Lo keluar dulu biar tau" Acha menuruti perintah Sandra, memang siapa yang mencarinya sampai kesini, fikir Acha.
"Honey" panggil Aiken.
"Ngapain Lo kesini? tanya Acha masih kesal mengingat sikap Aiken tadi.
Aiken menepuk-nepuk kursi di sampingnya "duduk dulu"
Acha duduk di depan Aiken, sedikit menjauh darinya "To the point aja deh Lo ngapain kesini?"
"Aku minta maaf honey, aku nyesel sudah bersikap seperti tadi" Aiken menunduk dalam-dalam tidak berani menatap mata Acha.
Sandra membawakan coklat panas dan handuk untuk Aiken "Keringkan dulu rambut Lo biar gak sakit"
__ADS_1
"Lo tau, gw itu cintanya sama Lo dan Alaska itu cuma masa lalu gw, tapi Lo gak ngerti-ngerti kayaknya, Lo itu sebenarnya goblok, tolol atau bodoh sih, Lo tau dengan sikap Lo kayak tadi Lo itu sebenarnya ngasih kesempatan Alaska untuk masuk ke kehidupan gw lagi seperti dulu, Lo mau itu terjadi? LO MAU DIA KEMBALI NYAKITIN GW LAGI?" bentak Acha tak tahan lagi dengan sikapnya.