
"Lakukan tugas Lo sekarang juga" perintah Angkasa, Fero menampar Bianca.
"Plak"
"Jangan sakiti Putri ku, ampun tuan ini salah saya, jangan bawa-bawa putri saya" Regan berjalan ke arah Angkasa berlutut di kakinya.
"Plak" Fero menampar kembali pipi Bianca, hingga tubuh Bianca mundur beberapa langkah karena tamparan Fero.
"Tolong ampuni saya tuang" Regan tetap berada di bawah kaki Angkasa karena tidak mendapat jawaban dari Angkasa Regan berjalan dengan gontai ke Acha.
"Siapapun yang berani menyakiti Acha dan membuat dia menangis, saya tidak akan segan-segan mematahkan leher orang itu" Angkasa kembali duduk di singgasana Regan kembali menyaksikan pertunjukan yang Fero buat.
Acha berjalan ke arah Bianca yang sudah tak berdaya, pipinya memar di kanan dan kirinya mulutnya robek persis seperti Acha yang di tampar oleh bokapnya.
"Bukannya sudah gw kasih tau, hidup lo akan berubah mulai hari ini, lo yang mulai duluan permainan nya jadi gw yang akan mengakhiri semuanya" Acha mencengkeram kuat dagu Bianca sehingga menimbulkan bercak kebiruan.
"Lo tau gak? tangan gw gatel pengen Jambak rambut Lo terus gue bentur-benturin kepala lo ke dinding sampai lo pingsan, gw juga pengen matahin tangan sama kaki lo tapi karena gw baik gw gak bakal ngelakuin itu, harusnya Lo bersyukur punya temen kayak gw" Acha menendang tulang keringnya membuat Bianca mengadu kesakitan.
Sebelum mereka pergi dari sana, Angkasa menginjak kaki Regan kuat dan menendang dadanya hingga menimbulkan sesak nafas.
"Bawa mereka kerumah sakit, jangan sampai siswa tau apa yang terjadi di dalam" Acha memberikan perintah kepada pak Narno.
Pak Narno gugup menjawab pertanyaan Acha juga di tatap membunuh oleh Angkasa.
__ADS_1
"Nak kamu baik-baik saja?" tanya pak Regan menghampiri Bianca dengan susah payah.
"Sakit pa" Bianca menangis di pelukan papanya.
"Suatu saat nanti akan aku balas mereka semua" tekad Regan dalam hatinya.
Setelah itu pak Narno membawa keduanya ke rumah sakit sesuai permintaan Acha tanpa di ketahui oleh siswa.
Acha dan Sandra pergi menuju kelas hari ini mereka akan membolos saja jangan lupakan dua sosok laki-laki yang berada di samping mereka berdua.
Angkasa dan Fero juga ikut memasuki kelas 11 IPA 1 suasana kelas yang awalnya berisik seperti di hutan mendadak sunyi senyap aura mengintimidasi di rasakan oleh seluruh kelas saat sosok Angkasa yang notabene pemilik SMA Angkasa memasuki kelas mereka.
"Bang kita mau kemana?" tanya Acha pergi menuju meja nya mengambil tasnya.
"Demon west yang lainnya ada di kantin" Fero berbicara dengan wajah datar persis seperti bos nya.
Yang perempuan terpana melihat sosok Fero dan Angkasa, mereka tidak pernah melihat Angkasa dari dekat seperti sekarang ini.
"Yok" mereka keluar kelas Angkasa memeluk pundak Acha dengan posesif sedangkan Sandra dan Fero tengah diam-diam di belakang.
"Jadi Acha adiknya Angkasa" ujar ayu.
"Kenapa gw baru sadar kalau wajah Acha mirip dengan Angkasa" ucap Siska.
__ADS_1
Mereka tiba di kantin, Fero juga ikut nimbrung bersama mereka.
"Kok udah sampai aja bang, bukannya ke Swiss 7 hari?" tanya Adam.
"Lo tau dari mana, perasaan gw gak ngasih tau Lo tentang berapa hari Angkasa disana" ujar Acha heran.
"Ellen yang ngasih tau" Diki berbicara enteng, Angkasa dan Alaska sudah menatanya dengan tatapan ingin membunuhnya. Diki memukul mulutnya berulang kali.
"Lama-lama bisa mati gw karena mulut gw ini"
"Ellen?" tanya Acha penasaran.
Acha dan Alaska.
Sandra dan Fero.
Ellen dan Angkasa.
__ADS_1