
"Tidak apa-apa, jangan terlalu di fikirkan anggap saja Lo gak pernah denger ungkapan hati gw" Billy mengusap punggung Acha berusaha menenangkan nya.
"Maaf"
"Seenggaknya gw tau saat ini Lo baik-baik aja, jadi gw gak perlu khawatir Lo setiap saat"
Acha melepaskan pelukannya, netranya menatap Billy dalam-dalam, dia masih tidak menyangka laki-laki di depannya kini adalah orang yang selama ini dia rindukan, orang yang tidak tau keberadaan nya dimana selama ini.
"Siapapun yang jadi pasangan Lo nantinya, gw yakin perempuan itu sangat beruntung memiliki Lo, sudah ganteng, baik, pinter lagi" ujar Acha tertawa sumbang.
"Gw berharap Lo yang jadi takdir gw" batin Billy, Billy menikmati tawa Acha yang terdengar merdu malam ini.
Dia sangat menikmati waktu berduaan dengan Acha, dia berharap waktu berhenti saja untuk sementara waktu.
Udara semakin dingin, keduanya telah selesai berbicara, Billy menarik tangan Acha mengajaknya masuk kembali.
Acha dan Angkasa pergi meninggalkan rumah Billy pukul 08.30, keduanya sampai di Mensionnya pukul 09.00 malam.
Acha turun dari mobil di susul Angkasa, Acha menemukan Sandra tengah berbincang-bincang dengan Oma Opa nya.
"Abang langsung ke kamar yah, masih ada beberapa pekerjaan yang harus Abang selesaikan" Angkasa pamit menuju kamarnya.
"Gimana makan malamnya?" tanya Sandra.
__ADS_1
"Gw ganti baju dulu deh, gerah banget" Acha menyusul Angkasa, dia juga pergi menuju kamarnya, mencuci mukanya lalu mengganti bajunya. Lalu dia turun menuju ruang tamu dimana keluarga nya berada.
"Gimana makan malamnya?" kini Omo yang bertanya.
"Lancar-lancar aja Oma, eh Lo tau gak san tadi Billy ngungkapin perasaannya" Acha mencomot anggur yang berada di depannya.
"Bener kan dugaan gw, dari awal gw udah yakin kalau Billy diam-diam nyimpen perasaan sama Lo"
"Lo jadi dukun aja deh,cocok kayaknya sama Lo" ejek Acha.
"Udah lah, gak usah bahas dukun-dukun, terus Lo jawab gimana?" tanya Sandra.
"Gibah di kamar aja yok, biar makin enak" keduanya pergi ke kamar dengan bergandengan tangan, sebelumnya mereka sudah pamit kepada Oma Opa.
"Semoga ma"
Mereka mengambil posisi paling nyaman untuk bercerita, Acha duduk di meja riasnya sedangkan Sandra mengistirahatkan tubuh nya di kasur empuk.
"Terus Lo jawab gimana?" tanya Sandra semakin penasaran.
"Ya gw tolak lah, ya kali gw nerima dia sedangkan posisi gw saat ini sudah pacaran dengan Alaska" jawab Acha, tangannya sibuk memakai skincare sebelum tidur.
"Iyah juga sih, tapi kalau di lihat-lihat Billy ganteng juga sih Cha, ya walaupun gak seganteng Alaska"
__ADS_1
"Lo tau sendiri kan san, gimana perjuangan gw sama Alaska, gila berasa gak ada harga dirinya gw di mata Alaska" Acha kembali mengingat hinaan Alaska kepada dirinya.
"Lo juga gak tau diri, udah di perlakukan seperti itu masih belum nyerah juga" Sandra meledak Acha.
"Ya gimana yah namanya gw cinta sama dia, gw gak bakal lepaskan dia apapun yang terjadi meskipun suatu saat nanti mantannya kembali ke kehidupan dia lagi, gw bakal buat Alaska cinta sama gw" tekad Acha memukul dadanya pelan.
"Terserah Lo lah" Sandra membetulkan selimut nya lalu memejamkan matanya.
Acha mengirim pesan pada Alaska, dia menceritakan semuanya kecuali ungkapan hati Billy, lama Acha menunggu tetap tidak ada balasan dari pujaan hatinya.
"Apa dia sudah tidur?" tanya Acha pada dirinya sendiri, lalu dia menyusul Sandra yang sudah tertidur.
Acha dan Billy picture.
Alaska dan Febby picture.
Oma Opa picture.
__ADS_1