
Dokter menggelengkan kepalanya, menandakan Acha sudah di panggil yang maha kuasa.
Dokter berjalan keluar menghampiri keluarga Acha dan memberitahu kabar yang menyakitkan bagi mereka.
"Wie ist der Zustand?" (Bagaimana kondisinya?)" tanya Angkasa antusias saat melihat dokter keluar ruangan.
"Entschuldigung, Sir, Acha ist tot. Bitte lassen Sie ihn sein" (Maaf pak Acha sudah meninggal, tolong ikhlas kan dia)
Mereka menangis histeris, tidak mungkin Acha meninggalkan mereka semua dengan luka yang begitu dalam.
"Es ist nicht so, dass ich gesagt hätte, tu alles, um meine Schwester in Sicherheit zu bringen, riskiere dein Leben, wenn nötig" (Bukannya sudah saya katakan, lakukan apa saja untuk menyelamatkan adik saya, korban kan nyawa kalian jika di perlukan) Angkasa mencengkeram baju dokter, matanya terdapat kilatan amarah dan kesedihan.
"Entschuldigung, Sir Angkasa, das haben wir versucht. am besten, aber Gott bestimmt das Leben und den Tod einer Person, nicht des medizinischen Personals" (Maaf pak Angkasa kami sudah berusaha yang terbaik, namun semua sudah rencana Tuhan, hidup mati seseorang tergantung tuhan bukan para tenaga medis).
Angkasa dan yang lainnya masuk ke ruang rawat Acha, Angkasa bersimpuh di lantai dia kehilangan pertama satu-satunya di hidupnya, ini semua karena ulahnya.
__ADS_1
Para tenaga medis yang awalnya ingin melepaskan alat-alat yang terpasang di tubuh Acha mendadak terhenti karena ucapan Angkasa.
"Wenn Sie es wagen, Ihre Werkzeuge abzunehmen, werde ich Ihnen den Hals brechen" (Kalau kalian berani melepaskan alat-alat itu, akan aku patahkan leher kalian) teriak Angkasa.
"Dek maafin Abang, Abang jahat ya sama Adek sampai Adek ninggalin Abang seperti ini" Angkasa memeluk tubuh Acha.
"Cha tolong bangun Cha, kita belum sempat melakukan apa yang kita janjikan dulu" ujar Sandra menggenggam tangan Acha erat.
"Kenapa Lo ninggalin kita, bukannya Lo sudah janji kalau Lo bakal nunggu gw cinta sama Lo, kenapa Lo berhenti sekarang, saat gw sudah mulai perlahan-lahan menyukai Lo" ujar Alaska menatap Acha lekat.
Angkasa tidak sanggup jika harus melihat Acha seperti ini, dia penyebab nya, Angkasa sudah tidak mempunyai penyemangat hidup sekarang, satu-satunya alasan dia menjalani kehidupan selama ini adalah Acha, namun dia sudah pergi meninggalkan nya meninggalkan dunia fana ini. Angkasa melangkah kaki nya keluar, air matanya tidak henti-hentinya menetes.
Saat ini Angkasa rapuh, dia benar-benar tidak akan sanggup menjalani kehidupan nya tanpa Acha.
"Ka tolong kejar Angkasa, temani dia gw takut dia bakal ngelakuin hal-hal aneh nantinya" Ujar Ellen.
__ADS_1
Alaska mengejar Angkasa yang sudah pergi menuju parkiran.
"Time of death at 12.00 noon" suster mencatat waktu kematian Acha.
Sandra dan Ellen menangisi kepergian Acha, Sandra terus menggenggam tangan Acha
Monitor kembali berdetak, suster yang melihat Acha kembali terbangun segera berlari memanggil dokter.
"Cha terimakasih sudah mau bertahan" Sandra mencium pipi Acha senang.
Mereka menunggu di luar, membiarkan dokter memeriksa keadaan Acha, Sandra menelfon Alaska memberi tahu kalau Acha baik-baik saja.
"Tolong bilangan ke Angkasa kalau Acha sudah kembali dari kematian"
Alaska tersenyum senang mendengar Acha tidak meninggalkan nya.
__ADS_1
Dia segera menyusul Angkasa yang sudah pergi lebih dulu, Alaska mempercepat laju motor yang di pinjam tadi untuk mengejar Angkasa.